Cinta Agusd Si Kucing Tampan

Cinta Agusd Si Kucing Tampan
53. Tempat dihati


Selesai di kamar mandi, Archi memapah Agust kembali ke tempat tidur.


"Aku jadi nggak bisa kerja deh!" kata Agust. Duduk bersandar di atas tempat tidur.


"Yah...mau bagaimana lagi," jawab Archi.


"Kalau aku sembuh posisiku sudah diganti orang bagaimana?" tanya Agust.


"Ya kamu nggak bisa kerja lagi," sahut Archi.


"Padahal aku udah senang bisa kerja."


"Kamu jualan di rumah aja, bagaimana?" tanya Archi.


"Aku yang modalin. Aku kan ada tabungan," usul Archi.


"Tapi kan itu uang kamu,"


"Ya memangnya kenapa. Toh dipakai usaha, uangnya berputar," jawab Archi.


"Ya sudah kalau begitu," Agust menatap Archi dengan perasaan haru.


Esok paginya....


Di apartemennya, Ridwan terperanjat bangun dari tidurnya. Nafasnya yang berat tersengal-sengal. Keringat membasahi tubuhnya yang shirtless.


"Gara-gara semalam, aku jadi mimpi yang nggak-nggak sama Archi," katanya menjatuhkan diri kebelakang untuk berbaring kembali.


"Hah...ini malah bikin aku tambah pengen cepet mendapatkan Archi. Archi itu punya sek apple yang kuat, dia bisa bikin cowok yang melihatnya bergairah walau tanpa dia bersikap seductive. Tetapi kenapa suaminya nggak pernah mau menyentuh dia ya? Apa jangan-jangan suami nya....,"


"Hufh....! Padahal cuman mimpi kenapa rasanya capek beneran."


...****************...


Di rumah sakit, Archi mengurus Agust dengan baik. Entah karena memang sedang sakit atau memanfaatkan situasi tetapi Agust menjadi lebih manja dari biasanya. Segalanya maunya dilayani oleh Archi.


"Kamu kan bisa sendiri!" pekik Archi merasa kesal.


"Aku kan lagi sakit, nggak lihat tanganku di gips," kata Agust ngerengek bagaikan balita.


"Lebih-lebih dari Kenji ya kamu," kata Archi.


"Ya nggak apa-apa kan, Chi. Namanya juga lagi sakit," kata Ayah sambil mengecek smartphone nya.


"Iya Ayah." jawab Archi.


"Ayah besok kerja ya. Nggak bisa nemenin kamu lagi,"


"Iya nggak apa-apa Ayah. Mudah-mudahan besok lusa Agust udah boleh pulang soalnya aku udah harus masuk kerja."


"Kamu nggak bisa libur lebih lama?" tanya Agust terdengar meraguk. Ayah menahan tawa geli mendengarnya.


"Ya bisa aja, tapi mau ngapain juga aku libur lebih lama."


"Aku kan lagi sakit," sahut Agust buru-buru.


Archi menepuk dahinya.


"Ya ampun...kayanya pas kecelakaan kepala kamu terbentur ya, jadi manja begitu," sungut Archi.


Agust nyengir kuda.


"Memang kenapa sih Archi. Dia kan suami kamu wajar kalau dia mau dimanja istrinya," sahut Ayah membela Agust.


Archi menampakan wajah jijiknya membuat ayah dan Agust kompak tertawa kecil.


Sore hari teman-teman Archi dan Ridwan datang untuk menjenguk namun ternyata Agust sedang menjalani pemeriksaan rontgen dan CT Scan.


"Perasaan aku belum jadi jadi ketemua suaminya Archi. Sudah beberapa chapter aku lalui pasti gagal ketemu," pikir Ridwan disela mengobrol dengan tiga teman Archi.


"Tante, Om, kita mau pulang ya. Titip salam aja untuk Archi sama Mas Agust." pamit Icha setelah sekian lama menunggu namun Agust dan Archi belum juga kembali dari pemeriksaannya.


"Oh, iya. Mohon maaf ya jadi g bisa ketemu Archi sama Agust,"


"Iya nggak apa-apa, Tante." sahut Susan.


Mereka pun pamit pulang.


"Kalian nggak ada punya foto suami Archi?" tanya Ridwan saat mereka sedang dalam perjalanan menuju ke lobi rumah sakit.


"Nggak ada Pak."


"Di sosial media Archi juga nggak ada?" tanya Ridwan.


"Nggak ada Pak."


"Ciee..., penasaran ya Pak sama rivalnya?" tanya Susan bergurau.


"Akh...nggak. Cuman mau lihat aja," jawab Ridwan malu-malu.


Keesokan harinya....


"Permisi...!" suara lembut seorang wanita memasuki ruang perawatan Agust.


Archi menoleh, ia terpesona, menatap kagum akan kecantikan wanita itu.


"MasyaAllah .... Bidadari dari mana ini?" tanya hati Archi dengan matanya yang belum berkedip.


"Nona Irene!" sapa Agust membuyarkan lamunan Archi.


"Oh...jadi ini bosnya Agust. Wanita yang kemarin-kemarin aku lihat dari jauh. Ternyata aslinya secantik ini. Jangan-jangan...." Archi menatap sinis yang curiga kepada Agust.


Irene berjalan memasuki kamar,


"Silahkan Nona," sambut Archi bersikap sopan kepada Irene.


"Terimakasih!" sahut Irene tersenyum manis.


"Ini istri saya Nona, Archi!" Agust memperkenalkan Archi. Archi tersenyum lebar sambil menjabat tangan Irene.


"Oh...salam kenal!" ucap Irene.


"Jadi ini istrinya," ucap julid hati Irene.


"Biasa aja. Harusnya Agust bisa punya istri yang lebih dari ini," sambungnya.


"Ini, buah untuk Agust!" kata Irene memberikan sekantong buah kepada Archi.


"Oh...terimakasih!" jawab Archi.


"Duduk, Nona!" kata Archi menarik kursi di sisi tempat tidur Agust.


"Terimakasih." jawab Irene lalu duduk di kursi.


"Keluarga Tuan Agust," seorang suster memasuki ruangan.


"Iya Sus!" jawab Archi.


"Tuan Agust sudah boleh pulang. Sebelum pulang mohon diurus dulu administrasi nya di bawah ya Bu," kata suster itu.


"Oh ok." jawab Archi.


"Agust...aku ke bawah dulu ya," kata Archi.


"Iya Archi."


"Nona, saya permisi dulu," kata Archi.


"Oh iya," sahut Irene.


Archi pun ke ruangan administrasi meninggalkan Irene berduaan dengan Agust.


"Hufh...ayah sudah masuk kerja, jadi aku yang harus mengurus administrasi. Biasanya kan ayah yang melakukan ini," gerutu Archi di hatinya.


"Mana aku jadi harus meninggalkan Agust berduan sama cewek itu lagi," tambahnya sudah sampai di ruangan administrasi.


Di kamar Agust....


"Tuan Agust...makan siangnya," seorang suster membawakan nampan makanan untuk Agust.


"Di makan Agust makanannya," kata Irene mempersilahkan.


"Nanti saja, menunggu Archi. Tanganku sakit, tidak leluasa bergerak, aku akan meminta disuapin," jawab Agust.


"Oh begitu. Biar aku suapin aja ya," Irene menawarkan diri.


"Nggak usah Nona, biar nanti Archi saja." jawab Agust.


"Nggak apa-apa, biar aku yang menyuapi kamu." Irene duduk di tepi tempat tidur Agust sambil memangku nampan makanannya.


Mau tidak mau Agust disuapin Irene.


"Makan yang banyak biar kamu cepat sembuh dan bisa bekerja lagi," kata Irene.


"Apa aku masih bisa bekerja?" tanya Agust sangat ingin tahu.


"Tentu, kenapa nggak," jawab Irene.


"Aku kan bisa lama dalam masa penyembuhannya," kata Agust.


"Bukan masalah. Tempat mu akan selalu ada, aku pastikan itu." kata Irene.


"Syukur Alhamdulillah!" ucap Agust sangat senang.


"Ya udah, ini A lagi!" Irene menyodorkan sendok makananan ke depan mulut Agust.


Dengan hati panas, Archi berdiri di balik tembok luar memperhatikan mereka.


"Aku suka banget perkedel," kata Irene.


"Oh Nona suka ya, sini aku suapin," kata Agust mengambil perkedelnya dan menyuapi Irene dengan itu.


"Euuughhh...awas ya Gust...Berani-beraninya kamu suap-suapan di depan mataku!" geram Archi mengepalkan jemarinya.


"Aku balas nanti kau ya!" sambungnya.


Agust dan Irene bertukar senyuman manis mereka.


"Nggak mungkin aku memecat kamu Agust. Jangankan direstoku, bahkan aku sudah menyiapkan tempat di hatiku untukmu," kata hati Irene.


...~ bersambung ~...