Cinta Agusd Si Kucing Tampan

Cinta Agusd Si Kucing Tampan
74. Begitu Nyata


"Terimakasih!" ucap Archi lalu memeluk Ridwan. "Aku mencintaimu Ridwan." ungkap Archi dalam pelukan Ridwan.


Agust tertegun menatap nanar keduanya, "Archi...!" Agust merasakan ada yang patah di hatinya.


Dengan cepat dia terbangun dari mimpinya. Agust mendengar suara alarm bernada anggota BTS menyebutkan untuk bangun dalam bahasa Korea dari handphone Archi. Sementara si empunya masih tertidur nyenyak, tidak terganggu dengan suara alarmnya.


Archi terlalu mengantuk karena semalaman kurang tidur. Agust bangkit dari tempat tidur.


"Mimpiku jelek banget." keluh Agust berjalan ke kamar mandi untuk mandi.


Setelah mandi dan mengambil wudhu Agust melaksanakan shalat Shubuh karena adzan baru selesai berkumandang.


Archi terbangun dari tidurnya.


"Cepet banget sih... Udah harus bangun lagi aja!" ocehnya dengan mata terpejam duduk di tempat tidur.


"Punggung kamu udah mendingan?" tanya Archi sudah benar-benar sadar dari mata sepetnya.


"Udah." Agust tertunduk, nggak berani menatap archi setelah mimpinya semalam.


"Kalau masih sakit, istirahat aja di rumah. Jangan dulu kerja." pesan Archi merasa khawatir.


"Iya Archi." jawab Agust.


Pukul 07.30. Agust berjalan ke depan komplek untuk bekerja. Dalam perjalanannya dia masih kepikiran mimpi buruknya semalam. Mimpi yang bahkan lebih buruk dari mimpi bertemu hantu menurut Agust.


Agust buru-buru mengambil handphone-nya dan membuka aplikasi browser. Dia mengetik, bila mimpi pasangan minum dari tangan orang lain.


Tidak ada artikel yang membahas itu secara spesifik namun dia membaca sebuah artikel dengan judul, bila bermimpi pasangan bersama orang lain. Dia membuka dan membaca artikel itu dengan seksama.


Bisa juga kamu bermimpi hal tersebut karena merasa khawatir dengan kebahagiaan kamu dengan pasangan.


Namun jangan khawatir mungkin itu hanyalah sebuah rasa bersalah terhadap pasangan yang terbawa ke dalam mimpi.


"Hufh..., mudah-mudahan aja memang bukan berarti apa-apa." gumam Agust.


...****************...


Archi datang ke kantor. Dan pernyataan cintanya kepada Ridwan kemarin menjadi buah bibir di kalangan karyawan. Isi perselingkuhan mereka pun menyeruak hingga membuat kehebohan.


"Aku tahu kamu salah satu pemilik perusahaan ini, tetapi tetap saja kamu harus menjaga etika kerja." tegur CEO perusahaan kepada Ridwan di dalam ruang kerjanya.


"Ini sungguh contoh yang tidak patut dilakukan oleh atasan seperti kita." kata CEO bernama Harnes itu.


"Tetapi aku sama Archi memang nggak memiliki hubungan apa-apa. Dan aku yakin Archi berbicara seperti itu juga nggak sungguh-sungguh. Dia hanya emosi karena disudutkan oleh Welin." Ridwan melakukan pembelaannya.


"Tetap saja, itu sekarang sudah menyebar dan yang mereka percayai." kata CEO.


"Untuk mencegah keadaan semakin buruk aku meminta kepadamu untuk menjaga jarak dengan Archi." pinta Harnes.


"Nggak. Aku nggak bisa kalau disuruh jaga jarak dengan dia." tampik Ridwan.


"Kalau begini kalian bener selingkuh?" tuding CEO.


"Kami cuman teman. Aku bisa jamin. Tetapi aku nggak bisa kalau harus jaga jarak sama dia." jawab Ridwan.


"Hufh...terserah bagaimana dirimu saja. Tetapi aku harap masalah ini nggak akan mengganggu kinerja kerja dalam lingkup kepemimpinan mu. Dan kamu harus tetap bisa menjaga tetap kondusif."


"Aku usahakan." kata Ridwan lalu pamit pergi kembali ke ruangannya.


Di meja kerjanya.


"Aku harusnya bisa jaga mulutku. Aku tahu aku emosi tetapi nggak seharusnya aku ngomong gitu." kata Archi dalam tangisnya dipelukan Icha.


"Tetapi sebenarnya yang kamu omongin itu benar? Kamu mencintai Pak Ridwan?" tanya Susan.


Archi menggeleng. "Aku cuman emosi kesal sama Welin. Menuduh orang macam-macam." jawab Archi.


Ridwan yang baru datang mendengarkan itu semua. Bukannya marah dia malah menyunggingkan senyumnya.


"Sudah aku duga. Tapi kenapa aku nggak merasa kecewa?" pikirnya.


Welin berdiri. "Iya benar. Sebelumnya saya ingin meminta maaf. Karena kekacauan ini datang dari saya. Saya yang menyudutkan Archi dan memancing Archi hingga dia emosi dan berkata begitu. Saya bisa pastikan kalau nggak ada hubungan apa-apa antara mereka." kata Welin mengejutkan Archi dan yang lain.


"Kesambet apa tuh dakjal ngomong begitu?" inner Susan.


Yang sesungguhnya terjadi,


"Sebelumnya saya mau mengingatkan," ucap Ridwan duduk disebuah restoran, disebrang Welin terduduk sambil menundukkan wajahnya.


"Kamu bisa terlepas dari hukuman karena Archi, karena permintaan Archi. Bila bukan karena Archi saya tidak segan untuk memecat kamu." ujar Ridwan bernada serius menatap tajam kepada Welin.


"Dan saya masih menyimpan rekaman cctv pendorongan kamu, rekam medik, bukti visum Archi setelah pendorongan kamu. Kamu bukan hanya bisa saya pecat, tetapi saya masih bisa menuntut kamu ke pengadilan. Apa kamu mau itu saja yang terjadi?" tanya Ridwan dengan sinis.


"Nggak Pak, jangan!" sergah Welin langsung dengan wajah ketakutan.


"Saya nggak tahu kenapa masalah ini terjadi. Tetapi saya ingin masalah ini besok akan selesai. Saya nggak suka sesuatu yang berlarut." kata Ridwan lagi.


"Baik, Pak." jawab Welin.


Kembali ke saat sekarang.


"Jadi masalah ini sudah selesai ya. Dan jangan ada yang diributkan lagi!"


Irene's Pizza . .


"Jaga resto. Aku mau membeli beberapa kebutuhan resto bersama Agust." kata Irene kepada Vita.


"Iya Nona." Vita memandang keluar, melihat Irene memasuki mobilnya dimana Agust yang berada di balik kemudi..


"Hem...semoga Agust kuat cintanya sama istrinya. Kasian istrinya, Agustnya dipepet terus sama Nona Irene." kata Vita kepada rekan kerjanya.


"Mungkin dia kesepian ditinggal tunangannya jadi pas ketemu yang cocok menurut dia, nggak peduli cowoknya udah punya istri, dipepet terus." sahut rekan Vita.


Di dalam mobil yang melaju . . .


"Agust, kita makan dulu ya. Di resto itu," tunjuk Irene kesebuah restoran bertemakan clasic.


"Tapi Nona,"


"Saya lapar Agust. Belum makan dari pagi." sela Irene segera.


"Baik Nona."


Mau nggak mau Agust menuruti keinginan Irene. Di dalam restoran, sambil menunggu pesanan mereka datang.


"Saya dan tunangan saya sering makan di sini. Melihat kamu yang sering menolong saya, saya jadi seperti mendapatkan kembali tunangan saya. Dia pun sangat baik selalu mau menolong saya."


Agust hanya mengangguk. "Dia pasti pria yang beruntung mendapatkan Nona." jawab Agust sekedar formalitas.


"Ah, nggak. Saya yang beruntung mendapatkan dia." jawab Irene.


Ketika mereka tengah makan, ponsel Agust bergetar. Agust kira itu datang dari Archi. Agust melihat sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal. Berisi sebuah video .


"Pesan dari siapa ini?" batin Agust. Membuka pesannya dengan penasaran.


Irene memandangnya dengan rasa ingin tahu.


Agust memasang airpods di telinganya,


"Seenggaknya kalau kamu nggak suka sama Ridwan, kamu kan bisa sekedar nolongin biar buka jalan buat gua!" sungut Welin nggak mau kalah.


"Kamu nggak mau nolongin, sebenarnya karena kamu cinta dan nggak mau Ridwan dimiliki orang lain kan?" teriak Welin di wajah Archi.


"Iya! Emang gua cinta sama Ridwan. Kenapa?" sahut Archi melotot ke arah Welin.


"Archi!" mata Agust terbelalak mendengarkan-nya. Jantungnya bergemuruh. Rasa sakit dan patah seperti dimimpinya kini terasa begitu nyata. Bahkan terlalu nyata.


...~ bersambung ~...