
Di rumah Archi....
"Archi nginep di hotel berdua sama Agust. Mereka pasti mau bulan madu, ya Yah," kata Ibu sambil menaruh pakaian yang telah rapih di dalam lemari. Sementara ayah tengah duduk berlunjur di atas tempat tidur.
"Apalagi cuacanya mendukung gini. Hujan nggak berhenti berhenti. Bagus deh, Ibu mau cepat momong cucu soalnya," sambung Ibu duduk disebelah Ayah.
"Hahaha...Si Ibu ini. Bisa saja," seloroh Ayah merangkul Ibu.
"Abis teman-teman yang seumuran sama Ibu, sudah punya cucu semua. Ibu doang yang belum," keluh Ibu dengan wajah merengut.
"Ya kita doakan saja," jawab Ayah. "Kalau kita juga bikin anak lagi malam ini gimana, Bu?" goda Ayah memberi kode.
"Ih si Ayah genit."
"Genit gimana? Genitnya sama istri sendiri kok. Kan cuacanya mendukung," kata Ayah menowel pinggang ibu sambil mengedip-ngedipkan mata.
Kembali ke Hotel tempat Archi dan Agust menginap....
Agust berdiri. Berhadapan dengan Archi. Archi membeku, tubuhnya serasa jadi jelly. Jantung Archi kembali berdetak cepat. Kupu-kupu menari diperutnya. Hawa panas memenuhi wajahnya. Apakah ini saat yang ditunggu itu? Pikirnya harap-harap cemas.
Agust mendekatkan wajahnya ke wajah Archi.
Inilah saatnya Archi mempraktekkan apa yang telah dia baca dari novel. Untuk pertama kalinya Archi
Archi memejamkan matanya dengan mulut sedikit terbuka. Bersiap menerima ciuman dari Agust.
Lama menunggu dia merasakan jemari Agust berada di sudut mulutnya.
"Sudah!" seru Agust mengambil sisa makanan yang tertinggal di sudut mulut Archi.
"A..pa?" Archi membuka matanya lebar-lebar. Melongo menatap Agust yang dengan santainya duduk kembali di sofa dan melanjutkan menontonnya.
"Aku pikir dia akan menciumku." batin Archi, dia masih melongo namun Agust tidak menyadarinya.
Archi pun tidak yakin kalau Agust tahu keinginannya untuk dicium olehnya.
Dreeett....dreeewttt...
Handphone Archi di atas nakas bergetar tanda notifikasi masuk. Meski Archi masih shok, dan putus harapan karena tidak mendapatkan seperti yang dia bayangkan. Buah manis berganti pil pahit.
Archi bergegas mengambil handphone dan melihat notifikasi pesan masuk. Pesan dari Kang Ojol di aplikasi ojek online berwarna hijau.
^^^"Saya antar kemana Ka?"^^^
Tulis Kang Ojol di kotak pesan yang ada di aplikasi.
^^^^^^"Antar ke depan pintu kamar, bisa kan Ka?"^^^^^^
Jawab Archi.
^^^^^^"Coba saya tanya satpamnya dulu, ya Ka."^^^^^^
Jawab Kang ojol lagi. Setelah menunggu sekian lama. Pesan lain datang.
^^^"Katanya nanti sama pihak hotel di antar ke kamar Kakak. Paketnya sudah saya titip di security."^^^
Kata Kang Ojol.
^^^"Oke, Kak. Terimakasih ya. Saya ada kasih tip. Mohon diterima ya ka. Maaf ga bs kasih banyak."^^^
Balas Archi.
Di tempat Kang ojol.
"Widih.... Ini yang bener aja ngasih tipnya!" seru kang ojol melihat nominal tip yang ada di rincian pesanan. "Gedean tip nya ini sama ongkirnya. Terimakasih Ka..." kata Kang ojol merasa sangat senang dan bersyukur.
Kita harus menghargai jasa kang ojol yang terkadang walau hujan masih mau mengantarkan pesanan kita sampai tujuan.
Kembali ke kamar Hotel....
Bel pintu kamar Archi berbunyi. Terburu-buru Archi menuju pintu. Ketika membuka pintu dia melihat paperbag dengan nama toko baju di depannya sudah berada di depan pintu.
"Nyampe juga," kata Archi sambil mengambil paperbagnya dan membawa ke dalam. Archi mengecek pesanannya terlebih dahulu. Serasa semua sudah lengkap dia ke kamar mandi untuk berpakaian.
Setelah berpakaian.
"Agust, aku keluar dulu ya. Aku mau membelikan baju untukmu," kata Archi mengambil sling bagnya.
"Tapi di luar kan masih hujan, Archi."
"Nggak apa-apa. Aku bisa pakai payung. Lagipula aku beli yang ada di sekitaran sini aja kok,"
"Daripada aku harus melihatmu semalaman dengan terlilit handuk begitu doang. Menggoda iman," sahut hati Archi.
"Oh iya..., Jangan bukakan pintu untuk sembarangan orang," tambahnya memasukan setengah badannya ke dalam.
Tanpa dia tahu, seseorang tidak jauh di sana menyadari keberadaannya dan sedang memperhatikan dirinya. Seorang pria, tinggi, dan tampan.
"Itu kan Archi..., sedang apa dia di sini?" tanya hati Pria tersebut. Dia sedang bersama dua temannya baru saja keluar dari kamar lain.
"Dia sepertinya sama seseorang di kamarnya. Tetapi siapa?" pikirnya diliputi rasa penasaran.
"Apa pacarnya?" tambahnya lagi.
"Kalian duluan aja ya ke bawah. Nanti aku nyusul," katanya kepada dua kawan prianya.
"Oke, jangan lama-lama. Meetingnya bakal mulai sebentar lagi,"
"Siap!" jawabnya.
Saat kedua temannya yang sama-sama mengenakan kemeja dan jas rapih sepertinya beranjak ke lift, dia berjalan ke kamar dimana dia melihat Archi keluar dari sana.
"Kita lihat siapa yang bersamamu di dalam kamar hotel?" gumamnya saat hampir sampai di depan kamar Archi.
Tangan bertato pria itu memencet tombol bel pintu. Namun tidak ada yang keluar. Dia pun memencet sekali lagi,
Di dalam kamar, Agust nampak panik sekaligus bingung.
"Siapa ya itu?" gumamnya takut. "Apa itu Archi? Aku buka apa jangan ya?" tanya Agust lagi menimbang pilihannya.
Bel kembali berbunyi, Agust semakin panik. Keringat dingin mulai bercucuran, badannya pun gemetaran.
"Mungkin itu Archi. Aku buka dulu aja pintunya," bisik Agust. Memberanikan diri, berjalan ke arah pintu. Tangannya siap menarik gagang pintu sebelum akhirnya dia mendengar,
"Ridwan!" Suara Archi dari depan pintu kamar. Agust terdiam sejenak di balik pintu.
"Lagi ngapain kamu?" tanya Archi tersenyum dipaksakan.
"Oh Archi!" Ridwan terhenyak kaget. "Aku mau ke kamar kawanku." jawabnya pura-pura.
"Kayanya kamu salah kamar deh, ini kamar aku." jawab Archi sambil mengunci pintu dari luar.
"Wah..., temanku salah ngasih nomor kamar kayanya." jawabnya terkekeh menutupi bohongnya.
"Kamu kok nyewa kamar di sini? Rumah kamu juga kan dekat dari sini?" tanya Ridwan yang penasaran.
"Oh itu, tadi kan hujan deras banget aku takut kalau pulang jadi aku putuskan menginap di sini," jawab Archi.
"Kamu sama seseorang?" tanya Ridwan menujuk ke arah kamar.
"Iya..., bukan maksudku aku sama kucing peliharaan aku di sini," jawab Archi buru-buru meralat jawabannya.
"Kuu-cing?" Ridwan mengeja ucapannya. Dia sedikit terkejut dan merasa tidak habis fikri mendengarnya.
"Iya, ini kan hotel yang pet friendly. Makanya aku ke sini. Tadi aku lagi ajak kucing aku, tapi ujannya deres banget jadinya neduh deh di sini," jelas Archi, jelas-jelas berbohong.
"Oh iya juga." sahut Ridwan mengangguk percaya.
"Agak laen sih emang. Neduh di hotel. Sama kucing pula...," sahut hati Ridwan.
"Hufffh...percaya juga ni orang. Hampir aja." inner Archi bernapas lega.
"Jadi, tadi dia ngelongok ke dalam ngomong sama kucingnya juga? Gebetan gua emang beda kelakuannya!" tambahnya sambil terkekeh.
"Aku mau ke bawah. Membeli sesuatu," kata Archi mencoba pamit.
"Oh...aku juga mau mencari kawanku di bawah. Yuk kita sama-sama ke bawah," ajak Ridwan.
"Nggak jadi ke kamar temanmu?" tanya Archi sambik berjalan bersama.
"Nggak, nanti juga ketemu di bawah. Aku ada rapat mendadak dengan klien,"
"Oh gitu," mereka memasuki lift.
Di lift yang sepi dan hanya mereka berdua membuat suasana tiba-tiba menjadi canggung. Dinginnya cuaca di luar ditambah pendingin udara di dalam lift dan juga kedekatan mereka, membuat seolah atmosfer diantara mereka berubah terisi arus antisipasi yang meluap.
Ridwan menengok sedikit ke arah Archi. Matanya berkilat oleh sesuatu dalam pikirannya. Berhasil membuat Archi bergidik takut. Archi bergeser menjauh.
"Archi!" panggilnya. Tiba-tiba Ridwan bergerak maju, menghimpit Archi diantara dirinya dan dinding lift.
"Pak....anda mau apa?" tanya Archi suaranya tercekat oleh rasa takut. Napas Archi berubah seiring jantungnya yang berpacu.
Apakah yang akan dilakukan Ridwan kepada Archi? Apakah dia hanya akan mengambilkan sisa dimsum yang tertinggal seperti yang Agust lakukan?
...****************...