
"Eh...ada mantan calon adik ipar....ups.... keceplosan!" kata Kakak dengan mata membesar sambil menutup mulutnya dengan tangan. Membuat semuanya menjadi canggung.
"Agust nya kemana Archi? Kok nggak ada?" tanya Ayah menaruh bawaannya di sofa.
"Agustnya harus kerja Ayah. Bosnya nelpon tadi." jawab Archi.
"Kasian Agust. Dia pasti sedih harus ninggalin kamu kerja." jawab Ibu.
"Oh iya, Pak Ridwan. Terimakasih ya sudah banyak menolong Archi kemarin. Kalau nggak ada Pak Ridwan nggak tahu bagaimana nasib Archi sekarang," ungkap Ibu dengan nada sedih.
"Iya Bu. Jangan panggil Pak bu, Ridwan saja." ralat Ridwan.
"Oh nggak apa-apa manggil Ridwan aja. Kan Pak Ridwan atasan Archi." kata Ibu.
"Nggak apa-apa bu, toh saya juga kan teman Archi." jawab Ridwan.
"Oh begitu. Ya sudah."
"Kalian sudah makan?" tanya Ayah kepada Archi dan Ridwan.
"Belum." jawab Archi sambil nyengir.
Ridwan melongo melihat ke arah Archi.
"Kamu kan baru sarapan." tunjuk Ridwan ke nampan yang dibawanya, berbisik ditelinga Archi.
"Nggak denger perut aku bunyi. Makanan rumah sakit hambar nggak ada rasanya." jawab Archi.
"Nggak apa-apa Ridwan. Baru bangun sakit jadi mamayu*," sahut Ibu membuat wajah Archi bersemu merah.
*Mamayu kata dalam bahasa sunda yang memiliki arti hasrat /keinginan yang besar untuk makan dalam porsi banyak sehabis bangun dari sakit.
"Ya udah ayah delivery online aja." Ayah pun memesan di aplikasi ojek online di handphone-nya.
Kemudian ayah menerima panggilan masuk.
"Kenapa yah?" tanya Ibu saat ayah kembali dari menerima panggilan telepon.
"Ada panggilan mendadak dari pabrik. Ada rapat mendadak." jawab Ayah.
"Hari Minggu gini masih aja suruh kerja," keluh Ibu merengut.
"Yah mau bagaimana lagi. Tuntutan pekerjaan. Tapi ayah bingung ini, nanti kalian pulangnya gimana?"
"Ada saya Om. Nanti saya aja yang antar pulang." usul Ridwan.
"Oh... Nggak merepotkan?"
"Nggak kok."
"Ya udah. Syukurlah kalau begitu. Ayah berangkat dulu ya. Nanti tinggal ambil aja orderan makanan nya. Udah ayah bayar pakai uang elektronik." kata Ayah.
"Iya ayah."
"Kenji mana?" tanya Archi kepada Ibu.
"Dititip nenek sama kakek."
"Ke rumah nenek?"
"Iyalah, masa nenekmu ke rumah."
Sementara itu di sofa,
"Padahal aku setujunya Archi nikah sama kamu loh," kata kakak tengah mengobrol sama Ridwan. Ridwan hanya mangut-mangut sambil tersenyum.
"Kamu sih kalah cepat menyatakan cintanya sama Archi." sambung kakak.
"Kakak, aku denger loh." timpal Archi melirik sinis. Kakak cengengesan bersama Ridwan.
"Nanti aku juga masih punya kesempatan Kak," bisik Ridwan dengan yakin.
"Oh ya?" tanya kakak antusias sekali. Ridwan mangangguk yakin sambil tersenyum.
Kemudian, Archi sudah diizinkan untuk pulang. Ibu pun menyiapkan kepulangan Archi.
"Nggak usah pakai kursi roda lah. Aku bisa jalan sendiri kok," tolak Archi dengan kesal.
"Pakai. Kamu kan masih lemah," jawab Ibu.
"Ya ampun," dengus Archi.
"Apa mau aku gendong aja, kalau nggak mau pakai kursi roda?" tawar Ridwan.
Archi bisa merasakan wajahnya memerah kini. Akhirnya dia pun mengalah dan menaiki kursi rodanya dengan didorong oleh Ridwan ke mobilnya.
Dalam perjalanan pulang, di depan komplek perumahan Archi. Agust melihat mobil Ridwan melintas membawa serta keluarganya.
"Itu Archi sudah pulang," gumam Agust. Namun mereka yang di mobil tidak menyadari Agust melihat mereka.
"Lagi-lagi pria itu yang ada dalam keluargaku. Bagaimana dia dipuja-puja telah menjadi pahlawan dalam hidup Archi." bisik Agust murung mengingat kejadian saat semalam.
Flashback On
"Iya untung ada Pak Ridwan yang langsung nyebur kolam buat nyelamatin kamu," kata Ibu sambil menceritakan yang terjadi kepada Archi yang lupa akan kejadian tadi.
"Dan naasnya, lift yang membawamu juga rusak dan kalian terkurung di lift sejam lebih. Pak Ridwan berusaha tetap menghangatkan tubuh kamu sambil menekan pihak tekhnisi agar cepat membetulkan liftnya.
"Ibu nggak bisa bayangkan kalau kamu nggak cepat ditolong. Untung Ridwan sigap jadi mencegah hal buruk terjadi kepadamu,"
"Apalah artinya diriku. Aku bahkan ngga bisa jadi apa-apa untukmu Archi. Hanya keberuntungan yang menjadikan aku berstatuskan suami mu. Namun nggak ada yang bisa dibanggakan dariku. Berbeda dengan Ridwan," pikir Agust merasa berkecil hati.
"Aku hanya orang asing tanpa masa lalu yang tiba-tiba memasuki hidupmu," murungnya.
"Agust!" Irene menepuk pundak Agust.
"Ayo, jalan lagi!" ajaknya yang baru membeli sesuatu di minimarket dekat situ.
"Kamu kenapa melamun?" tanya Irene.
"Kok kaya sedih gitu?" tanyanya lagi.
"Nggak apa-apa kok Nona. Aku baik-baik saja." jawab Agust.
Malam harinya saat Agust pulang kerja.
"Kamu udah pulang kerja Agust?" tanya Archi yang sedang duduk di atas tempat tidurnya.
"Udah Archi." jawab Agust duduk di tepi tempat tidur dengan lesu.
"Kamu kenapa? Kok lesu gitu?"
"Cuman kecapean kerja aja kok. Sama sedih nggak bisa nemenin kamu yang lagi sakit," ujar Agust.
"Iya nggak apa-apa kok Agust. Aku ngerti kok. Jangan dipikirin ya." jawab Archi.
"Kamu pulang jam berapa tadi?" tanya Agust pura-pura nggak tahu.
"Sore tadi," jawab Archi.
"Sebaiknya aku nggak cerita kalau kita pulang sama Ridwan, nanti Agust tambah kecewa dengarnya," pikir Archi.
Senin, di kantor....
"Kamu udah kerja Archi?" tanya Susan saat melihat Archi datang.
"Iya. Aku udah sehat kok." jawab Archi seraya duduk dikursinya.
"Kita khawatir banget tahu sama keadaan kamu pas abis tenggelam." kata Andini.
"Iya. Habis tenggelam, mau ke klinik liftnya segala rusak lagi." sambung Icha.
"Untung ada Pak Ridwan yang sigap nolongin kamu," sahut Susan.
"Iya. Aku sangat berterimakasih kepada Pak Ridwan."
"Tapi kayanya dia belum datang." jawab Susan menengok ke pintu ruangan Ridwan.
"Pagi semua!" sapa Pak Ridwan yang baru datang.
"Pagi Pak!" sahut semua.
"Archi kamu udah masuk kerja?" tanya Ridwan nampak terkejut.
"Udah pak."
"Udah sehat?" tanya Ridwan lagi.
"Alhamdulillah udah. Terimakasih ya pak atas semua bantuan dan pertolongan yang udah pak Ridwan berikan sama saya."
"Nggak usah sungkan. Saya seneng kok bisa bantu kamu. Padahal saya kan sudah bilang kemarin kalau masih sakit hari ini nggak usah kerja dulu."jawab Ridwan tersenyum bangga.
"Saya sudah nggak apa-apa kok." jawab Archi.
"Oh ya Syukurlah. O iya, Welin. Ikut saya ke ruangan!" suruh Ridwan dengan ketus.
"Baik Pak!" jawab Welin lemah seraya menunduk.
"Kenapa?" bisik Archi kepada Andini.
"Dia ketahuan jadi orang yang ngedorong kamu ke kolam. Mau dikasusin kayanya," jawab Andini dengan berbisik juga.
"Biar tahu rasa tuh orang. Udah bigos rese lagi. Mau mencelakakan kamu," kata Susan.
Di ruangan Ridwan.
"Apa benar kamu yang ngedorong Archi ke kolam?" tanya Ridwan.
"Nggak sengaja kok pak. Saya lagi bercanda sama yang lain eh malah kedorong Archinya." kilah Welin.
"Tapi yang saya lihat dari CCTV nggak kaya gitu. Kamu sengaja ngedorong Archi." balas Ridwan dengan yakin.
"Itu..."
"Udah ngaku aja. Kamu sengaja dorong Archi kan?" cecar Ridwan mulai emosi.
"Iya Pak. Tapi niat saya kan bercanda. Saya nggak tahu kalau Archi nggak bisa berenang." jawab Welin ketakutan.
"Mau Archi bisa berenang atau nggak, tetap aja bahaya bercanda seperti itu!" bentak Ridwan.
"I-iya Pak. Ma-maaf!"
"Kalau Archi nggak ketolong waktu itu gimana coba. Kamu bisa dituntut atas pembunuhan berencana. Sekarang juga kamu bisa saya tuntut."
"Jangan pak. Saya mohon jangan!" pinta Welin menangis.
...~ bersambung ~...