Cinta Agusd Si Kucing Tampan

Cinta Agusd Si Kucing Tampan
57. Air mata Archi


"Pagi!" sapa Ridwan dengan wajah berserinya dengan sekantung besar berisi kotak-kotak kardus makanan.


"Pagi!" sapa seluruh karyawannya.


"Yang belum sarapan, atau sarapannya kurang boleh ambil nasi kotak ini ya!" suruhnya menaruh plastik kotak makannya di atas meja Archi.


"Wah...asyik...makanan gratis!!!" seru para karyawan berhamburan menyerbu meja Archi.


"Satu-satu...nggak boleh double biar kebagian semua. Kalau ada sisa baru boleh ngambil lagi," pesannya berdiri di sebelah Archi yang duduk tidak antusias dengan pengambilan nasi kotak.


"Ini nasi uduk terenak di dekat kantor kita loh!" seru Ridwan mencoba membuat Archi tertarik. Namun Archi hanya diam.


Mereka yang sedang mengambil nasi kotak ikut memperhatikan Archi dan tingkah atasannya di sebelahnya.


"Iiih...ini ambil!" geram Ridwan mengambil nasi kotaknya dan menaruh di hadapan Archi.


"Nanti kehabisan!" ujar Ridwan lagi.


"Ya biarin Pak. Aku udah sarapan." jawab Archi.


"Nggak boleh. Kalau kamu nggak ngambil kotaknya, kotak di yang lain aku suruh kembalikan," ancam Ridwan.


"Yah...jangan atuh Pak!" sesal yang lain jadi murung.


Mau nggak mau Archi mengambil jatah kotak makannya.


"Gitu kan bagus!" sahut Ridwan tersenyum dan berjalan ke ruangannya.


Sesaat sebelum masuk ke ruangannya Ridwan mengedipkan mata ke arah Archi yang sedang menatapnya.


Archi terkesiap dan bergidik geli.


"Kalau aku nggak nikah sama Agust, mungkin sekarang aku udah jadian sama Ridwan. Tapi takdir berkehendak lain dan Agust yang jadi jodohku. Mau nggak mau harus aku jalanin," batin Archi.


Jam makan siang....


"Kamu masih bertengkar dengan suamimu?" tanya Ridwan yang duduk besebrangan dengan Archi.


Archi menjawab dengan anggukan.


"Pantas, kamu masih nggak bersemangat gitu." sahut Andini.


"Tapi aku heran kamu bilang kamu menikah tanpa cinta tapi kamu seperti itu saat bertengkar sama dia?" timpal Susan ceplas ceplos.


"Namanya tinggal serumah kalau lagi berantem memangnya enak? Jangankan serumah kalau aku sama kamu lagi bertengkar rasanya juga nggak enak kan?" sungut Archi.


"Iya tau nih Susan," bela Icha.


"Ya aku kan cuman heran aja. Kali aja sekarang ini Archi udah mulai cinta sama suaminya. Bagus kan kalau begitu?" celoteh Susan lagi.


Andini dan Icha menatap ke arah Ridwan yang berubah ketika Susan mengatakan itu.


"Kalian bertengkar soal apa sih?" tanya Susan lagi.


"Rahasia lah. Masa aku buka-buka sama kalian." jawab Archi menunduk malu.


"Kita kan teman. Ah...,aku tahu. Laki kamu nagih malam pertama tapi kamunya nggak mau ya?" tanya Susan asal tebak.


"Emang iya Chi?" cecar Ridwan yang tiba-tiba memekik dan memajukan wajahnya ke hadapan Archi.


"Ma-maaf," ucap Ridwan menunduk, malu sendiri.


"Nggak ada yang kaya gitu." jawab Archi.


"Terus?"


"Dia marah waktu aku ungkit kita nikah tanpa cinta," jawab Archi.


"Ya Allah Archi...iya sih kalau begitu kasian suami kamu. Wajar kalau dia marah." kata Icha.


"Tau nih si Archi, kadang-kadang ngomongnya nggak di filter kaya si Susan." sambung Andini.


"Astagfirullah..., kok jadi nyambungnya ke aku sih?" timpal Susan yang merasa ter-zalimi.


Sementara itu di rumah Archi.


Ayah, Agust, Ibu, dan Kenji sedang makan siang bersama.


"Kamu masih bertengkar dengan Archi, Agust?" tanya Ibu melihat Agust enggan makan.


Agust yang menunduk, mengangkat wajahnya melihat ke arah Ibu.


"I-iya Ibu mertua," jawab Agust malu.


"Wajarlah suami istri bertengkar asal jangan melewati batas. Kita sebagai suami juga harus tahu batasan kita ketika istri kita melakukan kesalahan," tambah Ayah.


"Iya Ayah."


"Dan yang harus kalian ingat, bertengkar tidak boleh lebih dari tiga hari. Haram bagi seorang muslim mendiamkan saudaranya lebih dari tiga hari. Apalagi kalian kan suami istri. Ingat itu ya."


"Suami istri? Kita saja hanya bagaikan orang asing yang dipersatukan secara terpaksa. Setidaknya itu keyakinan yang Archi pegang." sahut batin Agust jadi sedih.


"Bila masih bisa dibicarakan, bicarakan dulu baik-baik," pesan Ayah.


"I-iya ayah."


Sepulang Archi dari bekerja....


"Apa aku harus meminta maaf sama Agust? Apa dia mau memaafkan aku?" tanya Archi sambil mengambil baju ganti di lemari.


Agust melirik ke arah Archi. Perasaannya bimbang untuk meminta maaf duluan.


Archi berbalik dan berjalan melewati Agust yang duduk di atas tempat tidur.


Setelah Archi selesai mandi,


"Agust...ada yang mau aku omongin," kata Archi.


"Ngomong aja," jawab Agust dingin.


"Maafin aku karena udah ngomong kaya kemarin. Aku nggak sengaja kelepasan karena hari itu aku lagi capek banget. Ngedenger kamu ngomong gitu, aku jadi emosi juga."


"Cuman mau ngomong itu?" tanya Agust ketus.


"Maksudmu?"


"Iya, aku maafin. Maafin aku juga udah mancing emosi kamu hari itu," ucap Agust.


"Iya. Tapi kamu jangan kaya gini dong."


"Kaya gini gimana?"


"Iya itu, ketus begitu sama aku." jawab Archi.


"Aku mau kita kayak biasa lagi." sambung Archi.


Agust menghela napas sambil membuang mukanya.


"Aku berharap bisa segera mengingat banyak tentang memori masa laluku. Aku mau cepat menemukan masa laluku, agar aku nggak lagi membebani kamu dengan pernikahan palsu ini," jelas Agust.


"Kok kamu ngomong gitu lagi?"


"Aku cuman nggak mau melewati batasku dalam hubungan ini. Aku dan kamu terikat cuman karena tujuan mencari masa laluku. Dan itu yang lebih baik buat kita,"


"Agust!" Archi memegang lengan Agust hampir menangis.


"Kamu bilang, kamu memaafkan aku. Tapi sikap kamu masih kaya gini." isak tangis mulai terdengar dari nada suara Archi meski air matanya belum turun.


"Aku kan udah bilang, yang aku omongin waktu itu nggak sengaja. Aku nggak benar-benar mau ngomong kaya gitu," Archi menunduk dan air matanya mengalir di pipinya.


Agust bergeming membelakangi Archi walaupun dia tahu Archi menangis.


"Maaf, tetapi aku merasa saling menjaga jarak antara kita itu lebih baik dan akan memudahkan kita dalam menjalani ini sampai aku menemukan masa laluku," jawab Agust berjalan menuju pintu membuat pegangan tangan Archi terlepas.


Meninggalkan Archi menangis di tempatnya.


"Agust!" panggil Archi lirih.


Keesokan harinya . . .


Selepas makan siang. Ridwan meninggalkan kantor karena ada urusan keluarga. Dengan mobilnya dia berkendara menuju ke suatu tempat. Dari wajahnya terlihat kekhawatiran.


Mobil hitam itu memasuki gerbang besar sebuah rumah besar. Rumah yang besarnya menyerupai istana Buckingham - Inggris. Dia pun keluar dari dalam mobilnya yang terparkir di depan istana. Dengan langkah panjang dia melangkah memasuki rumah besar itu.


Sekitar satu jam kemudian....


Ridwan memasuki sebuah ruangan besar dengan sofa besar berwarna abu. Di sana duduk seorang pria tinggi tengah memainkan handphone-nya. Atensi nya teralihkan tatkala Ridwan masuk.


"Kamu pulang juga. Katanya nggak akan kembali ke rumah ini?" ucap pria itu sinis.



...~ bersambung ~...