Cinta Agusd Si Kucing Tampan

Cinta Agusd Si Kucing Tampan
105. ID Card


"Apa? Aku harus jadi asisten pribadi Jeremy?" gerutu Archi di dalam hatinya. "Bisa gaswat nih. Tapi gimana pun aku perlu pekerjaan ini. Ya Allah lindungi hambamu ini selalu." doa Archi di dalam hatinya.


"Aku bahkan sudah menaruh meja khusus untukmu!" tunjukkan kepada sebuah disisi ruang berseberangan dengan mejanya.


"Apa saya nggak bisa kerja dibagian yang memang sesuai keahlian saya Pak?" tanya Archi dengan suara lemah.


"Saat ini nggak ada bagian yang kosong di perusahaan. Hanya bagian ini yang belum terisi, bila kamu keberatan dengan posisi ini, mungkin kamu bisa menunggu sampai ada bagian lain yang kosong." kata Jeremy tersenyum penuh makna.


"Heuh...bisa banget ngeles nya ni orang." batin Archi.


"Jadi bagaimana? Mau terima posisi ini atau tidak? Aku harus mulai bekerja." ujar Jeremy mengangkat alis tebalnya.


"Baik pak, saya terima pekerjaan ini." jawab Archi.


Senyum misterius dibentuk Jeremy.


"Keputusan yang bagus Archi. Asisten Manager itu pekerjaan yang bagus." kata Jeremy tersenyum puas.


"Ayo kita mulai bekerja." sambungnya seraya berdiri.


Archi duduk di meja kerjanya. Membuka laptop yang telah disediakan dan menyalakannya.


"Harus sabar. Ini hanya sebentar. Setelah aku bisa melacak keberadaan Agust di perusahaan ini sebelumnya, aku akan segera berhenti bekerja." kata Archi di dalam hatinya.


Maniknya mengintip dari balik bulu matanya. Dia bisa melihat Jeremy tengah duduk bersandar di kursinya, maniknyanyang berkilat memendang Archi, memegang setiap ujung ballpoint dengan kedua tangannya, dan bibirnya menyunggingkan senyum yang sulit diartikan.


"Hadeuuuh...kalau bisa aku kerja dibawah meja aja nih. Risih banget ditatap begitu sama Jeremy." kata Archi di dalam hatinya dan terus menundukkan kepalanya.


Tok...tok....


Pintu terketuk dari luar.


"Masuk!" sahut Jeremy.


"Permisi Pak." Sekretaris Jeremy berjalan masuk ke dalam ruangan.


"Ya, Maia."


"Saya mau menyerahkan jadwal dan beberapa pekerjaan yang harus Archi kerjakan."


"Silahkan,"


Dengan perlahan Sekretaris Jeremy yang bernama Maia itu menjelaskan kepada Archi mengenai pekerjaan yang harus Archi kerjakan dan menyerahkan seluruh jadwal Jeremy yang telah dijadwalkan.


"Oh..., bisa dimengerti Archi?" tanya Maia.


"Bisa. Terimakasih,"


"Sama-sama. Kalau ada yang belum kamu mengerti, tanya saja sama saya ya."


"Iya. Baik." jawab Archi.


"Aku keluar dulu. Permisi Pak Jeremy."


"Ya Maia." jawab Jeremy di depan laptopnya.


Di jadwal hari ini, Jeremy harus menghadiri rapat di luar. Sebagai asisten mau tidak mau Archi harus ikut dengan Jeremy. Saat di lobi kantor, Jeremy tengah berbicara dengan manager dari bagian lain. Saat tengah mencatat bagian penting pembicaraan mereka untuk rapat kali ini, Archi melihat ayahnya yang berwajah serius bahkan lebih terlihat marah berjalan bersama rekan kerjanya memasuki gedung kantor.


"Ayah!" gumamnya. Archi berjalan kebalik punggung Jeremy. Tubuhnya yang berbanding terbalik dengan Jeremy yang tinggi, besar dapat tertutupi dengan baik hingga ayahnya tidak menyadari keberadaannya di sana.


Jeremy dan manager satunya menoleh, memandang Archi dengan pandangan heran. Archi tersenyum malu dan kembali ke sisi Jeremy.


"Kamu kenapa sembunyi?" tanya Jeremy saat berjalan keluar kantor.


"Nggak kenapa-kenapa." jawab Archi nyengir.


Mobil yang dibawa valet parking datang ke pelataran kantor. Jeremy mengambil alih mobil dan melajukan mobilnya saat Archi telah siap duduk disisinya.


Selesai meeting, Jeremy membelokan mobilnya ke sebuah restoran.


"Ini sudah jam makan siang. Kita makan dulu ya." kata Jeremy setelah memarkiran mobilnya.


"Baik Pak." jawab Archi.


"Kalau diluar kantor dan bukan urusan kerjaan jangan panggil Pak, Archi. Kakak aja ya." kata Jeremy tersenyum. Archi hanya mengangguk.


Mereka pun keluar dari dalam mobil dan memasuki restoran.


Archi yang melihat Kakaknya berubah panik, sebelum kakaknya menyadari keberadaannya dengan sengaja Archi menjatuhkan sendoknya.


Archi merunduk ke bawah meja dan memperhatikan kaki kakaknya yang terus berjalan menuju pintu.


Karena posisi Jeremy yang membelakangi, Kakak yang sedang asyik mengobrol tidak menyadari bahwa Jeremy berada di situ.


Setelah melihat kakak dan kawannya keluar dari pintu Archi kembali menegakkan wajahnya.


"Kamu kenapa?" tanya Jeremy menyipitkan mata. "Mengambil sendok kok lama banget?" tanya Jeremy.


"Kakak nggak tahu ada Kak Levi tadi. Kalau dia melihatku bersama kakak, dia pasti bakal salah paham." kata Archi.


"Ya kan tinggal bilang kamu bekerja untukku." sahut Jeremy


"Seperti yang nggak kenal kak Levi aja. Dia kan cemburuan." timpal Archi.


"Lagian dunia sesempit ini ya. Bisa-bisanya bertemu kakak di sini." batin Archi.


Senin sampai jumat berlalu. Namun nggak ada yang seorang pun di rumah yang tahu Archi bekerja di Genilab farma bahkan mereka pun nggak tahu kalau Archi sudah pindah bekerja.


Berbeda dengan di tempat sebelumnya, di Genilab, hari Sabtu termasuk hari libur. Jadi hari ini, Archi tidak berangkat bekerja.


"Kamu nggak kerja Archi?" tanya Ibu saat tengah sarapan.


"Libur bu."


"Tumben?" sahut Agust melongo menatap Archi.


"Iya."


Agust menatap curiga.


Selesai sarapan, Agust pergi ke kamar untuk mengambil handphone-nya yang tertinggal sebelum berangkat kerja. Saat itu tanpa sengaja Agust melihat ID card yang sedikit mengintip dari dalam tas Archi.


Dengan rasa penasaran Agust menarik ID card berwarna hijau dengan sedikit putih itu.


"Genilab Farma, Archila." Agust membaca tulisan yang tertera di kartu yang terdapat foto Archi di tengah-tengah nya.


"Archi, kerja di Genilab?" gumam Agust terperangah. "Dia nggak cerita kalau dia kerja disitu." sesal Agust yang merasa dibohongi Archi.


"Nanti aku bahas. Sekarang aku sudah terlambat bekerja." kata Agust lagi bergegas turun ke bawah.


Sepanjang hari berkali-kali Archi mendengar handphone-nya terus berdering karena Jeremy yang selalu mencari kesempatan menghubungi Archi dengan alasan pekerjaan.


Sampai Agust pulang bekerja, Agust melihat handphone Archi yang di silent menyala. Satu nama tertulis di sana, Jeremy.


"Jeremy? Ngapain Jeremy menghubungi Archi."


Sreett...


Archi merebut handphone-nya dengan segera dari tangan Agust. Membuat Agust terkesiap.


"Ngapain Jeremy menghubungimu?" tanya Agust.


"Mungkin dia mau bertanya tentang kakak." kilah Archi me rejected panggilannya.


"Kamu lagi menyembunyikan sesuatu dari aku ya?" terka Agust.


"Nggak. Menyembunyikan apa."


"Jangan bohong Archi. Aku paling nggak suka dibohongi. Aku mau kamu jujur!" cecar Agust memaksa.


"Aku nggak menyembunyikan apapun Agust." dalih Archi lagi, membalikkan badan. Tidak berani menatap Agust.


Agust menarik Archi untuk berhadapan dengannya. "Jawab jujur sambil menatap mataku." perintahnya memasang wajah serius.


Archi mengerjapkan matanya tak beraturan. Dia nampak gugup dan gemetar. Sengatan dari sorot mata Agust membuatnya takut.


"Aku nggak menyembunyikan apapun darimu Agust." jawab Archi menahan getaran suaranya sambil menatap Agust agar tak ketahuan berbohong.


Agust merogoh saku celananya, "Lalu ini apa?" dia menunjukkan ID card yang dia ambil dari tas Archi.


Archi terperangah melihat Id Card nya berada di tangan Agust sekarang. Bagaimana itu bisa ada ditangan Agust? Pikirnya.


...~ bersambung ~...