
"Jangan berteriak, kalau nggak mau dapat masalah," ancam Ridwan dengan suara lirih. Matanya menatap tajam ke mata Archi. Membuat Archi bergidik takut. Jantungnya mulai memompa darah dengan kecepatan penuh.
Archi menggelengkan kepalanya. Suaranya yang tertahan dibawah tangan Ridwan bergetar.
"Jangan takut Archi. Aku nggak akan apa-apain kamu kok. Aku cuman mau ngomong sama kamu." kata Ridwan lirih melepaskan bungkamannya.
Archi yang merasa sesak bisa bernapas lega meskipun napasnya masih terasa berat untuk saat ini.
"Kalau kamu nggak apa-apain aku, kenapa kamu sampai berbuat sejauh ini?" tanya Archi dengan napas tersendat-sendat.
"Pelankan suaramu!" pinta Ridwan berbisik. "Nanti orang diluar bisa mendengar kita," sambungnya.
"Aku begini agar kamu mau bicara denganku. Sedari tadi kamu menghindar berbicara dengan ku." gerutu Ridwan.
"Archi, jangan marah lagi sama aku. Aku mohon!" dia memasang puppy eyes nya. Membuat Archi terpaku dan wajahnya berubah memerah.
"Aku semalam terlalu emosi jadi bicara ngawur. Kamu mau kan maafin aku?" tanyanya dengan suara lembut.
"Loh kok...!" seseorang di luar mencoba membuka pintu kamar mandi.
Ridwan menaruh telunjuknya di bibir Archi agar tidak bersuara.
"Pintunya rusak ya? Kok nggak bisa dibuka?" kata wanita itu lalu terdengar berjalan pergi.
"Ayolah Archi...aku mohon!" bujuk Ridwan lagi setelah wanita diluar pergi.
"Kalau nggak, kita akan bisa lebih lama lagi di sini. Apa kamu mau begitu?" tanya Ridwan.
"Ini namanya pemaksaan!" sungut Archi.
Ridwan tertawa puas.
"Apapun menurutmu, asal kita bisa berteman lagi," sahutnya.
"Baiklah. Aku memaafkan kamu untuk Kali ini dan jangan ulangi lagi." Archi menerima permintaan maaf Ridwan dengan syarat tegas.
"Iya Archi. Janji!" jawab Ridwan tersenyum.
"Dan jangan pernah memberikan aku hadiah lagi apalagi yang mahal!" tambah Archi memberikan syaratnya lagi.
"Iya, kalau traktir makan dengan yang lain tapi boleh ya?" Ridwan terdengar meminta keringanan dari syarat Archi.
"Iya," jawab Archi.
"Oke, deal!" Ridwan tersenyum lebar.
"Terus sampai kapan kamu mau menahanku seperti ini?" tanya Archi.
"Oh iya," Ridwan memundurkan tubuhnya. Memberikan ruang untuk Archi.
"Aku mau keluar," pamit Archi membuka kunci pintu kamar mandinya dan bergegas pergi meninggalkan kamar mandi.
Ridwan tersenyum penuh makna di dalam kamar mandi wanita. Hingga seorang wanita memasuki kamar mandinya.
"Manager!" pekiknya.
"Duh...saya salah masuk kamar mandi, ya? Maaf ya!" ucap Ridwan berpura-pura.
"Maaf...!" ucapnya lagi sebelum keluar dari kamar mandi wanita.
"Pak Ridwan aneh sekali. Jangan-jangan dia habis berbuat mesum? Ih takut!" pikir wanita itu lalu masuk ke dalam bilik kamar mandi.
"Aku itu paling nggak bisa bertengkar denganmu Archi. Apalagi sampai kita harus berhenti berteman. Hanya berada di dekatmu sudah membuatku bahagia." batin Ridwan terdengar riang berjalan kembali ke ruangannya.
"Entah kenapa, hatiku merasa lega setelah aku berbaikan dengan Ridwan." batin Archi. Dia tersenyum sendiri di meja.
Andini yang memperhatikan wajah Ridwan yang sudah berseri lewat di depan meja Archi, dan Archi yang juga terlihat bahagia, menjadi curiga.
"Mereka berdua terlihat senang. Nggak kaya tadi. Apa jangan-jangan mereka udah baikan, ya?" pikir Andini.
"Kadang aneh juga ngelihat Archi. Dia ini punya suami, tetapi kalau dia dengan Ridwan dia terlihat bahagia. Memang sih, Archi dari dulu udah suka sama Ridwan. Tapi...., akh udahlah! Kenapa aku jadi pusing mikirin nya." tukas batin Andini tidak mau ambil pusing.
...****************...
Di Irene's pizza.....
Agust berjongkok di depan resto sambil mengetik pesan untuk Archi di aplikasi pengirima pesan.
^^^"Kamu sudah jalan pulang belum Archi?"^^^
Pesan yang di kirimkan Agust. Tanpa agust sadari, Irene berdiri di belakangnya di balik dinding kaca restoran, ikut membaca pesan yang dikirimkan Agust.
^^^"Lagi di bis nih . . Sebentar lagi sampai,"^^^
Balasan pesan dari Archi sampai dengan cepat.
Balas Agust.
^^^^^^"Oke 👍"^^^^^^
Setelah mengintip Agust berkirim pesan, Irene pergi ke ruangannya.
Tidak lama kemudian. Pintu masuk resto terbuka, Irene dengan tas sling bag nya berjalan keluar.
"Agust!" panggil Irene. Agust berdiri.
"Iya Nona Irene?" sahut Agust.
"Kamu belum pulang?" tanya Irene berbasa basi semata.
"Sebentar lagi,"
"Oh, kamu bisa antar aku pulang nggak ya?" tanya Irene.
"Eu...gimana ya?" Agust pun bingung harus menjawab apa. Dia ingin menolak karena ingin pulang dengan Archi tapi dia juga tidak enak bila harus menolak permintaan atasannya yang sudah baik menerima dia bekerja.
"Dari sini ke rumah Nona Irene kan dekat. Palingan hanya sebentar sudah bisa sampai. Mungkin aku bisa kembali ke sini sebelum Archi turun dari bus," pikir Agust.
"Iya Nona, bisa," jawab Agust pada akhirnya.
Agust pun mengantar Irene pulang menggunakan motor resto.
Saat Agust baru keluar komplek ruko, Archi turun dari bis dan melihat Agust yang membonceng Irene di belakangnya.
"Agust!" bisiknya lirih dengan perasaan kecewa.
"Katanya mau pulang bareng, tapi dia malah sama wanita itu lagi," gumam Archi.
Archi menunggu di depan ruko resto berharap Agust akan segera datang.
^^^"Aku udah depan ruko, Gust!"^^^
Archi mengirimkan pesannya dan berharap dengan itu Agust bisa mempercepat apapun urusannya sekarang.
Sepuluh menit berlalu namun Agust belum juga datang ataupun membalas pesan darinya.
Sementara itu yang saat ini yang dilakukan Agust adalah menunggu Irene mengambil baju yang dia laundry di dekat situ.
"Lama, ya!" gumam Agust mengeluh.
"Archi pasti udah turun dari bus sekarang," pikirnya melihat handphone-nya yang mati karena kehabisan batre.
Lima menit kemudian Irene keluar dari tempat laundry.
"Maaf ya lama," ucap Irene membawa sekantung besar pakaiannya yang sudah rapih di laundry.
Agust turun dari motor dan membantu Irene membawakan kantung laundry nya.
"Aku biasanya nyuci sendiri tapi kemarin aku sangat sibuk jadi belum sempat nyuci," kata Irene menerangkan.
Agust hanya tersenyum kecil menanggapi-nya. Ada sedikit perasaan jengkel dalam hatinya karena membuatnya harus menunggu lama padahal dia ada janji dengan Archi.
Sekembalinya Agust dari mengantar Irene. Archi sudah tidak ada di tempatnya. Dia sudah berjalan sendiri pulang ke rumahnya.
Malam harinya..
"Maaf ya, tadi kita nggak jadi pulang bareng." ucap Agust dengan sangat menyesal.
"Tadi bos aku minta anterin pulang. Yaa mau nggak mau aku anterin dulu. Aku pikir bakal sebentar, taunya lama karena dia ke laundry dulu," jelas Agust.
"Iya, nggak apa-apa kok. Aku ngerti," jawab Archi masih bisa tersenyum. Padahal di dalam hatinya dia ngedumel kesal.
"Bisa-bisanya bosnya minta anter pulang pake acara ke laundry segala!" kesal Archi di dalam hati.
...****************...
Keesokan harinya ....
Sejak pagi Archi merasa feelingnya sedikit tidak baik. Ada perasaan resah yang tidak dia mengerti alasannya. Namun sebisa mungkin Archi tidak mempedulikan perasaannya itu dan mengalihkan dengan bekerja.
Terutama saat istirahat, saat dia, tiga sahabat dan Ridwan menghabiskan waktu istirahatnya dengan ngobrol dan makan di kantin.
Tidak ada pikiran jelek dalam hati Archi. Dan dia merasa itu hanya perasaan biasa sampai sebuah kabar diterimanya.
Ibunya menelepon Archi di jam 3 sore. Suara ibu panik dan terselip isak tangis. Archi melonjak dari duduknya, berdiri dengan tubuhnya yang gemetar hebat dan degup jantung berdetak cepat. Matanya membulat sempurna dan bibir yang bergetar terasa kelu.
Andini, Susan dan Icha memandang ke arah Archi dengan penuh tanda tanya.
...****************...