Cinta Agusd Si Kucing Tampan

Cinta Agusd Si Kucing Tampan
116. Penjenguk Misterius


"Archi mengatakan kalau dia menikah dengan Agust karena dijodohkan oleh Ayah. Kalau boleh aku tahu, darimana ayah bisa mengenal Agust?" tanya Ridwan dengan tatapan menyelidik.


"Dia adalah anak sahabatku. Sahabat terbaikku. Ada apa kamu ingin tahu asal usul Agust dari mana?" tanya ayah curiga.


"Akh...nggak. Aku hanya ingin tahu." jawab Ridwan.


Ayah mengangguk, "Apa ada lagi yang ingin kamu tanyakan?"


"Nggak ada ayah. Hanya itu. Terimakasih ayah. Aku pamit." Ridwan pun pergi setelah mencium tangan ayah dan mengucapkan salam.


Ayah kembali ke dalam kamar Archi. Wajahnya menunjukkan kesedihan saat dia harus melihat Archi. Hatinya begitu hancur harus mendapati kenyataan kondisi putrinya yang semakin terpuruk.


Gelap menyelimuti, malam pun tiba. Sementara Ayah mengantar ibu pulang, Agust berjaga bersama kakak.


"Agust...temani kakak beli kopi dulu yuk sebentar."


"Tapi Kak, Archi!" sahut Agust keberatan.


"Nggak apa-apa, Archi kan lagi tidur. Ayo." Agust dan Kakak pun pergi ke cafeteria di lantai dasar rumah sakit.


Saat itu sepasang kaki menggunakan sepatu kets berwarna putih dengan sedikit hitam melangkah ke depan pintu kamar Archi. Menggunakan longcoat hitam dan topi baseball hitam. Perlahan dia membuka pintu dan masuk ke dalam kamar. Di dekat tempat tidur Archi dia membuka topi baseball yang menutupi separuh wajahnya.


"Archi" panggilnya duduk di kursi kayu sebelah tempat tidur. "Maafkan aku Archi. Kamu merasa aku bohongi, tetapi aku nggak bermaksud buruk. Aku hanya ingin bisa dekat denganmu sebagai Ridwan, bukan cucu dari Tuan Ludwig." kata Ridwan.


Ting...


Sebuah notifikasi pesan masuk berbunyi, Ridwan melihat pesan itu dan bergegas keluar kamar.


Setelah kembali ke kamar, tak lama kakak pun pamit pulang. Dari kamar Archi kakak menuju ke dekat pintu darurat.


"Terimakasih ya Kak, sudah membantuku untuk dapat menemui Archi." kata Ridwan.


"Iya jangan khawatir. Aku senang bisa membantumu." jawab Kakak.


"Kenapa kakak nggak membenci ku seperti yang lain?" tanya Ridwan.


"Karena aku merasa yang jahat adalah Jeremy. Bukan dirimu. Kenapa aku harus melampiaskan kebencian kepadamu juga kan." sahut kakak.


"Terimakasih ya Kak."


"Sama-sama"


Esok hari, saat istirahat bekerja, Ridwan duduk semeja dengan Susan dan kawan-kawan. Mereka saling diam. Susan yang biasanya paling cerewet pun seolah kehilangan kata-katanya untuk dikeluarkan.


"Apa Archi bercerita sesuatu kepada kalian? Aku di sini hanya untuk mengetahui itu. Setelah itu bila kalian ingin aku pergi, maka aku akan pergi."


"Apa yang mau anda dengar? Bahkan Archi nggak berbicara sama sekali." jawab Susan.


"Bila Pak Ridwan mau tahu tentang apakah Archi bercerita tentang kenyataan kalau Pak Ridwan itu adik Jeremy, iya kami tahu itu. Tetapi bukan Archi mengatakannya tetapi keluarganya."


"Kami nggak nyangka kalau Pak Ridwan bisa menyembunyikan hal sebesar itu." sindir Andini.


"Saat Jeremy akan melecehkan Archi pertama kali, Pak Ridwan pun nggak mengatakan apapun."


"Dan ternyata waktu itu anda tiba-tiba pergi karena ingin menemui Jeremy, kan?"


"Maafkan aku karena telah menyembunyikan itu dari kalian semua. Tetapi kalian pun nggak tahu alasanku menyembunyikan itu. Aku menyembunyikan itu bukan untuk berniat buruk. Aku hanya nggak ingin orang-orang tahu kalau aku adalah bagian dari keluarga Selim. Karena buatku itu hal paling buruk dalam hidupku."


"Aku sampai harus merubah namaku untuk menyingkarkan segala hal yang melekat dengan keluargaku."


"Tetapi anda bekerja di anak grup perusahaan keluarga anda."


"Itu hanya karena Archi bekerja di sini. Aku akan ikut kemanapun Archi pergi."


"Bukannya dia terdengar sama dengan Jeremy yang begitu mengejar-ngejar Archi?" bisik Susan kepada Andini.


"Benar juga. Sepertinya itu bawaan gen keluarganya." terka Andini.


"Tetapi Ridwan nggak segila Jeremy."


"Mudah-mudahan."


Sore hari, sepulang bekerja.


"Hai Ridwan!" sapa Irene saat Ridwan menghampiri meja konter. "Habis mengantar pulang gebetan kamu ya?" goda Irene.


"Nggak kok Kak. Gebetan aku lagi di rumah sakit. Dia baru saja kena musibah." jawab Ridwan berwajah muram.


"Musibah? Duduklah!" suruh Irene lalu ikut duduk di meja yang sama dengan Ridwan.


"Musibah apa?" tanya Irene.


"Ya ampun...si Jeremy menculik anak gadis orang. Nggak nyangka dia akan berbuat gila seperti itu." ujar Ridwan sangat terkejut.


"Yah...itulah Jeremy. Dia sekarang jadi buronan polisi."


"Kalian itu sama sih. Bila menginginkan sesuatu harus saja, harus sampai dapat."


"Kenapa menyamakan aku dengan Jeremy? Aku nggak segila Jeremy."


"Permisi," Vita menyajikan beberapa hidangan dan minuman untuk Ridwan.


"Terimakasih," jawab Ridwan. Lalu vita pun pergi.


"Ya tetap saja ada persamaan antara kalian berdua, nggak deh, kalian bertiga. Cucu cucu Tuan Ludwig selalu seperti itu."


"Ngomong-ngomong soal cucu Kakek Ludwig. Kamu pasti akan terkejut kalau aku mengatakan, suami gebetan aku itu, mirip sekali dengan Kak Yoongi."


"Benarkah?" Irene mengernyitkan wajah. Menerka-nerka apakah dia sedang memikirkan orang yang sama. "Siapa nama gebetan dan suaminya?"


"Gebetan aku Archi dan suaminya Agust."


"Sudah aku duga." Irene mundur, menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi.


"Maksudmu."


"Aku sudah bertemu Agust duluan dibanding kamu. Aku juga menyadari mereka mirip. Dan dia juga bekerja di sini.


"Benarkah? Terus kenapa kamu nggak cerita kepadaku?" protes Ridwan.


"Untuk apa? Dia kan hanya mirip."


"Kamu yakin mereka bukan orang yang sama?"


"Aku mengenal keduanya lebih dekat. Agust pun bekerja di sini jadi sedikit banyak aku tahu sifatnya. Mereka berdua sangat berbeda. Awalnya aku pun terkejut mereka mirip, namun setelah dia bekerja di sini aku tahu mereka dua orang yang berbeda."


Ridwan terdiam, namun wajahnya tidak bisa menyembunyikan ekspresi keraguannya.


Irene tertawa konyol, "Apa yang kamu harapkan? Yoongi bangkit dari kuburnya dan hidup lagi? Begitu?"


"Nggak juga sih."


"Sama seperti mu, kadang aku juga berharap Agust adalah Yoongi. Tetapi aku selalu mencoba rasional." batin Irene.


"Konsultasi selanjutnya aku jadwalkan." kata seorang Dokter Psikiater yang datang mengunjungi Archi di kamar.


"Pesan saya seperti itu. Tetap satukan Archi dan suaminya dalam satu kamar. Pisahkan saja tempat tidurnya. Ini untuk membuat Archi merasa bahwa Agust ini suaminya bukan ancaman baginya. Bila dipisahkan, dikhawatirkan Archi semakin sulit menerima Agust. Suaminya?" Dokter menoleh ke arah ayah dan Agust.


"Yang itu suaminya!" tunjuk Ibu kepada Agust.


"Yang sabar menghadapi Archi ya. Mungkin awalnya dia akan mengamuk dan sulit dengan kehadiran suaminya, tetapi perlahan seiring berjalan nya waktu dia akan ingat kembali kepada suaminya."


"Apa semua korban pelecehan mengalami seperti Archi Dok?"


"Respon korban pasca trauma itu berbeda setiap orangnya bu. Ada mungkin yang dapat mudah menerima dan cepat untuk bangkit dan ada juga yang sulit menerima itu. Semua tidak tentu. Tetapi jangan khawatir, ketika hati dan pikiran Archi sudah bisa menerima keadaannya, dia akan kembali pulih. Hanya perlu waktu."


"Baiklah kalau begitu. Terimakasih ya Dok!"


"Iya sama-sama. Nanti akan aku berikan jadwal konsultasi nya ya bu."


"Baik Dok!" Dokter pun keluar dari ruangan perawatan Archi.


"Malam ini ayah nggak menemani kamu dulu ya Agust. Ayah harus mengantar pulang Ibu lalu besok harus kembali bekerja."


"Iya Ayah, nggak apa-apa. Aku akan menjaga Archi dengan baik." sahut Agust.


Malam harinya....


Archi sudah tertidur. Dengan setia Agust menemani Archi di samping tempat tidurnya. Duduk di kursi kayu seraya menggenggam jemari Archi. Hanya saat Archi tidur Agust memiliki kesempatan untuk mendekati Archi.


"Archi ini pasti berat untukmu. Seandainya aku bisa, aku ingin mengambil rasa sakitmu, biar aku yang menanggungnya. Aku sangat merindukan Archiku." Agust memegang pipi Archi dengan lembut. Dan tangannya memegang tangan Archi yang ditempelkan ke pipinya sendiri.


Tok...tok...


"Permisi! Tuan Agust, ada beberapa administrasi yang harus diselesaikan di ruang administrasi." kata suster memberi tahu.


"Oh...saya kesana." jawab Agust lalu berdiri dari duduknya.


Dia melangkah keluar menuju lift. Di depan kamar Archi, seorang pria dengan long coat hitam, topi baseball biru tua yang menutupi separuh wajahnya, menoleh kiri kanan memastikan kondisi sekitar aman. Dengan perlahan dia membuka pintu kamar dan menuju tempat tidur Archi.


...~ bersambung ~...