Cinta Agusd Si Kucing Tampan

Cinta Agusd Si Kucing Tampan
107. Yeppeo


"Itu karena aku ayah!" tiba-tiba suara Agust terdengar dibalik punggung Archi. Archi menoleh perlahan dengan wajah terkejut.


Lewat ekspresinya Archi menyuruh Agust untuk diam dan berhenti untuk berkata jujur.


"Ayah tahu kan aku amnesia. Dan satu-satunya ingatan yang dapat aku ingat tentang masa laluku adalah di pabrik itu. Karena itu Archi mencoba mencari tahu ke sana." tak peduli dengan perintah Archi yang tanpa kata, Agust tetap mengatakan yang sebenarnya.


"Ya ampun, kalian ini. Jadi itu alasannya Archi bertanya tentang orang yang mirip kamu di pabrik ayah?" tanya Ayah dan dijawab anggukan oleh Agust.


"Ayah kan sudah bilang, nggak ada yang mirip kamu di pabrik sejak dulu, kenapa kalian masih ngenyel untuk mencari tahu."


"Kantor dan pabrik itu sangat besar Ayah. Ada ribuan karyawan dan nggak mungkin ayah bisa mengenal semua karyawan di sana, kan? Belum lagi banyak karyawan yang berhenti dan masuk. Tetapi perusahaan pasti punya data semua karyawan." jelas Archi.


"Ayah sering berkeliling untuk mengawasi jalannya produksi, ayah banyak bertemu karyawan di sana. Dan ayah juga sudah bilang, wajah Agust itu khas berbeda dengan orang Indonesia nggak mungkin itu nggak menarik perhatian." timpal Ayah.


"Tetapi ya sudah, kalau kamu mau memastikannya sendiri. Silahkan saja. Kamu sudah terlanjur bekerja di sana. Tetapi tetap berhati-hati kepada Jeremy." pesan Ayah Yang akhirnya pasrah dengan keinginan keras Archi.


"Terimakasih Ayah. Iya Ayah. Aku akan berhati-hati terhadap Jeremy."


Agust dan Archi saling memandang dengan senyum cerah mereka karena mendapat restu ayah untuk bekerja di sana. Misi pencarian identitas Agust pun dilanjutkan.


Archi dan Agust pergi ke kamar mereka.


"Kenapa kamu mengatakan yang sejujurnya kepada ayah?" tanya Archi ingin tahu.


"Kita nggak seharusnya menyembunyikan ini dari Ayah. Dia juga perlu tahu. Lagipula ini agar ayah nggak marah lagi sama kamu. Kamu tahu sendiri kan ayah itu orang yang keras. Sekuat apapun kamu ingin membohonginya, dia bisa lebih keras mencecar kita untuk berkata jujur." jelas Agust.


"Iya sih." jawab Archi setuju.


"Tetapi syukur deh Ayah mengizinkan aku bekerja." sambung Archi.


"Ya karena dia tahu maksud kita nggak jelek. Tetapi aku mohon, seperti pesan Ayah kamu harus bisa menjaga diri dari Jeremy."


"Iya. Kamu bantu doa saja." kata Archi tersenyum.


"Pasti," jawab Agust.


Keesokan harinya, di kantor Genilab Farma.


"Ka Maia. Boleh aku bertanya sesuatu?" tanya Archi kepada sekretaris Jeremy.


"Ya. Tanya apa Archi? Katakan saja." sahutnya dengan ramah.


"Aku ingin tahu, apa kita bisa mengakses data base karyawan."


"Data base karyawan ya. Kalau itu, di perusahaan ini, data itu hanya bisa diakses dari komputer Pak Jeremy, coba saja kamu memintanya untuk membukakannya. Memangnya untuk apa?"


"Ah...bukan untuk apa-apa. Aku hanya ingin tahu saja." jawab Archi.


"Oh gitu. Kalau selama ini, bila ada yang membutuhkan data itu kami harus meminta izin Pak Jeremy untuk dapat mengaksesnya."


"Gitu ya. Baiklah. Terimakasih infonya Ka Maia."


"Iya. sama-sama Archi!"


"Kenapa data itu hanya Jeremy yang bisa membukanya. Bukankah itu akan merepotkan?" pikir Archi.


"Lalu sekarang bagaimana caranya aku bisa mengakses data itu." tambah pikirannya.


Ketika tengah bekerja,


"Pak Jeremy, anda dipanggil Tuan Nicholas di ruangannya." kata Maia.


"Oh baik. Aku ke sana sekarang." jawab Jeremy lalu berdiri seraya mengumpulkan dokumen yang akan dia bawa.


"Archi aku harus menemui ayahku dulu, berjagalah di sini bila ada yang membutuhkan aku." pesan Jeremy.


"Jadi Tuan Nicholas itu Ayahnya Kak Jeremy ya?" batin.


"Iya Pak." jawab Archi memandang Jeremy keluar dari pintu ruangannya.


"Sial, kenapa harus pakai sandi segala. Apa sandinya, ya." pikir Archi.


"Mungkin tanggal lahir Jeremy..., salah. Tanggal lahir Kak Levi..., salah juga. Haduuh..., aku harus cari tahu password nya dulu." kata Archi dengan perasaan sedih kembali ke meja kerjanya.


"Kira-kira apa ya password nya?" pikir Archi lagi.


Ceklek....


Pintu terbuka,


"Chi...sini!" panggil Jeremy sambil berjalan menuju mejanya. "Coba kamu cek dan revisi laporan ini. Kata Pak Nicholas itu banyak yang salah." suruh Jeremy saat Archi sudah berdiri di belakang kursi kerjanya.


Jeremy membuka layar laptopnya yang terkunci dan dilindungi password. Harap-harap cemas, Archi berharap bisa melihat dan mengingat password yang Jeremy ketikan. Dengan gerakan cepat Jeremy mengetikan kata sandi di kotak yang tersedia.


"Apa? Nggak salah? Dia menggunakan itu sebagai password?" batin Archi terkejut melihat setiap huruf dan angka yang bisa dia tangkap dari ketikan Jeremy.


"Tetapi apa mungkin dia menggunakan password itu untuk data base itu? Nanti biar aku coba." pikir Archi.


Jeremy beralih membuka file dari laporan yang harus Archi cek.


"Coba kamu lihat yang ini, kata Pak Nicholas ini ada kekeliruan." tunjuknya. Archi membungkuk di sisi Jeremy, dan melihat dengan seksama ke layar laptop yang memuat tulisan dengan huruf yang kecil. Karena sesungguhnya mata Archi sedikit rabun hingga dia harus melihat sesuatu dari jarak dekat untuk bisa melihatnya.


Jeremy yang duduk dikursi memandangi wajah Archi yang tengah fokus dengan layar laptop.


"Yeppeo..." batinnya menyunggingkan senyum. Perlahan, berpura-pura melihat laptop, dia mendekatkan wajahnya ke wajah Archi. Dia bersiap untuk bisa mencium pipi Archi sebelum akhirnya,


Ceklek...


Pintu terbuka, "Jeremy, ikut ayah!" panggil Tuan Nicholas yang segera keluar lagi dari ruangan Jeremy.


"Itu Tuan Nicholas?" kata Archi yang bisa melihat wajah Tuan Nicholas walau sekilas.


"Huh...sial. Mengganggu saja!" umpat batin Jeremy seraya berdiri dengan kesal.


"Aku akan kembali Archi. Coba kamu cek dulu itu." kata Jeremy merengut.


"Baik Pak!" jawab Archi.


Hati Archi terkekeh, "Xixixi...kesempatan lagi." Archi duduk di kursi Jeremy.


Lalu dia membuka data base karyawan di laptop Jeremy. Dengan ingatannya dia akan mengetikan kata sandi.


"Ada-ada saja. Hanya untuk urusan seperti itu saja dia harus memanggilku!" gerutu Jeremy yang sudah kembali dengan wajah kesal.


Cepat-cepat Archi menutup data base karyawan dan beralih dengan file laporan lagi. Jeremy tersenyum saat menangkap basah Archi duduk di kursinya.


"Nggak apa-apa, duduk saja. Aku akan berdiri di sini. Coba kamu betulin yang aku jelaskan ini ya." kata Jeremy berdiri disebelah kursi yang Archi duduki. Sedikit membungkuk menjelaskan detail laporan yang salah.


"Aku sudah tahu password nya tapi semua sia-sia. Sekarang aku masih harus menunggu memiliki kesempatan lagi." kata Archi di hatinya.


Setelah jam makan siang, Archi akan kembali ke ruangan Jeremy. Dari kejauhan dia melihat Ayahnya dengan wajah masam, memasuki ruangan Tuan Nicholas. Archi sangat hafal perubahan ekspresi wajah Ayahnya. Bila wajah itu yang terlihat, tandanya Ayahnya sedang kesal dan juga marah. Tetapi kenapa dia marah harus masuk ke dalam ruangan ayahnya Jeremy? Pikir Archi.


Di dalam ruangan Tuan Nicholas.


"Handoko Syarif Tjahya." sambut Tuan Nicholas dengan senyuman ramah, saat Ayah memasuki ruangannya. Namun ekspresi ayah tak berubah. Tak ada balasan senyum.


"Silahkan duduk!" Tuan Nicholas mempersilahkan, menunjuk sofa kulit berwarna putih di ruangannya.


"Ada perlu apa anda memanggil saya lagi? Saya sudah mengikuti keinginan anda untuk mengganti bahan baku obat seperti yang anda minta, meskipun itu melanggar aturan Depkes." ketus Ayah setelah duduk.


"Tenang, aku tidak ingin membicarakan masalah kerjaan saat ini." jawab Tuan Nicholas memasang senyum angkuh seraya duduk bersandar di sofa.


Ayah menyipitkan mata di balik kacamatanya, "Lalu? Untuk apa?" tanya Ayah curiga.


...~ bersambung ~...