
Tiba-tiba lampu kamar menyala. Mengalihkan pikiran Agust. Dia menolehkan kepalanya ke dalam. Ke tempat Irene berdiri, di dekat pintu yang tertutup, di sebelah saklar lampu.
Agust memasukan kembali kepalanya dan berbalik menghadap Irene. Dia menatap penuh selidik kepada Irene yang tertunduk sedih.
"Agust!" suara Irene lirih seraya menegakkan kepalanya.
Agust merasakan perasaannya mulai tidak enak. Dia memasang mode waspada, berjaga-jaga dengan segala yang mungkin terjadi.
"Agust, aku ingin bicara denganmu." kata Irene berjalan mendekat.
Agust bergeser ke samping perlahan.
"Jangan seperti itu! Aku nggak akan berbuat hal aneh kepadamu. Aku hanya ingin bicara denganmu," kata Irene mulai menangis.
"Kalau hanya ingin bicara kenapa harus seperti ini?" tanya Agust.
"Karena kamu pasti akan menolak kalau aku bilang langsung. Aku ingin bicara dengan tenang, berdua denganmu."
"Kalau begitu bicaralah. Ini sudah malam. Akan menimbulkan omongan kalau aku berada di sini. Apalagi aku sudah beristri. Kasihan istriku menunggu di rumah!" cerocos Agust D dengan nada rappernya.
"Bahaya kalau aku digrebek juga di sini. Aku bisa menikah sama Archi karena itu, tetapi aku bersyukur. Kalau ini harus terulang, aku akan mengutuk diriku menjadi kucing selamanya." pikir Agust.
"Agust, semua tentangmu selalu mengingat-kan aku dengan mantan tunanganku. Apalagi kamu yang selalu ada untukku saat sedang kesulitan. Aku selalu merasa takdirku adalah dirimu saat pertama kali melihatmu di restoran ku," kata Irene.
"Agust..., aku ingin memilikimu. Aku mencintaimu!" sambung Irene terisak.
"Maaf Nona, anda sebaiknya meneliti perasaan anda dulu. Anda nggak mencintai saya, anda hanya terobsesi kepada saya." jawab Agust.
"Karena bayang-bayang tunangan anda yang anda bentuk dalam pikiran anda kepada saya." sambung Agust.
"Nggak Agust...aku benar-benar mencintai kamu." Irene berlari memeluk Agust.
Sementara itu di dalam mobil Ridwan.
"Sebentar ya Chi, aku mau beli minum dulu." Ridwan memberhentikan mobilnya di tepi jalan. Di depan sebuah minimarket berwarna merah biru.
"Iya Pak."
"Kamu mau ikut turun?" tanya Ridwan.
"Aku tunggu di mobil aja." jawab Archi.
"Ya sudah. Mau nitip sesuatu?" tanya Ridwan.
"Minum aja Pak."
"Oke!"
Ridwan kembali dengan dua cup coffe, kantung kain berisi air mineral yang ada manis-manisnya, dan beberapa bungkus roti. Ridwan tahu kalau Archi adalah penggemar roti apalagi roti dengan isian atau toping daging dan sosis.
Tukang parkir yang mengekor Ridwan masuk mobil meminta jatah. Lewat jendela Ridwan memberikan uang parkir dan sebuah roti.
"Saya numpang ngopi dulu." kata Ridwan memberitahu tukang parkir bahwa dia belum akan pergi dari sana.
"Oh iya, Kak. Santai aja!" jawab tukang parkir lalu pergi ke pengunjung lainnya.
Ridwan menutup kaca mobilnya.
"Ini!" Ridwan memberi satu cup coffe untuk Archi.
"Aku ngantuk. Takut merem di jalan." kata Ridwan menyeruput kopinya.
"Iya," Archi menengok jam di display dashboard mobil yang menunjukkan angka 21.30 lalu menyesap kopinya.
"Lapar," kata Ridwan membukakan plastik roti untuk Archi.
"Terimakasih." Wangi roti yang dipanggang bersama daging dan saos menjadikan aroma nikmat yang selalu bisa menggugah selera Archi.
Bahkan untuk hal seperti ini saja, Ridwan masih mengingatnya.
"Masih dong. Kadang kalau rindu kamu aku beli roti daging bisa sedikit mengobati rinduku." jawab Ridwan membuat Archi jadi salah tingkah.
"Apa kamu mau makan dulu sebelum pulang?" tanya Ridwan sambil mengunyah roti.
"Yah nggak apa-apa kalau kamu mau langsung pulang." timpal Ridwan.
"Pasti minta makan ditemenin suamimu ya." kata Ridwan masih tersenyum.
"Tapi aku lapar sekarang. Kita cari restoran dulu aja." jawab Archi membuat Ridwan terkesiap, melunturkan senyumnya.
Ridwan menatap Archi yang terlihat biasa saja sambil memakan roti dan meminum kopinya.
"Baiklah. Kalau itu mau kamu." jawab Ridwan.
Mobil melaju ke sebuah restoran tidak jauh dari sana. Ridwan memarkirkan mobilnya di tempat parkir restoran.
"Boleh aku bertanya sesuatu?" tanya Ridwan.
Archi mengerucutkan bibir mungilnya dengan mulut penuh roti. Membuatnya tampak menggemaskan di mata Ridwan.
"Tanya apa? Bilang aja!" jawab Archi kesulitan bicara dengan mulut penuh. Dengan susah payah dia menelan rotinya dengan bantuan air kopi.
"Aku ingin tahu sesuatu, tetapi kamu jangan marah. Aku hanya ingin tahu dan nggak bermaksud yang lain."
"Ya udah tanya aja."
"Seandainya, waktu itu kamu nggak dijodohkan dengan suami kamu yang sekarang, apa kamu akan menerima cintaku bila aku mengungkapkannya?" tanya Ridwan menatap lekat wajah Archi. Menyelidik ekpresi yang akan Archi tunjukkan saat menjawab.
"Tolong jawab jujur. Jangan bohong, apalagi merasa nggak enak. Hanya jawab kemungkinan yang terjadi." sambung Ridwan.
"Jujur ya, aku pasti menerima kamu kalau kamu menyatakan cinta kepadaku saat itu. Karena itu yang sangat aku harapkan saat itu." jawab Archi
"Benarkah?" Archi mengangguk.
"Tetapi ya, benang merah kita nggak tersambung. Dan aku menikah dengan orang lain." sahut Archi.
Ridwan menarik tangan kanan Archi, dia meyuruk memeluk Archi membuat Archi terkejut.
"Aku akan melakukan segala kebaikan agar aku bisa meminta, di kehidupanku selanjutnya aku bisa berjodoh denganmu Archi. Kamu nggak pernah tahu, betapa aku mencintaimu." kata Ridwan menitikan beberapa tetes air mata yang selama ini tertahan.
Archi bisa merasakan ada yang hancur di dalam hatinya saat ini. Walau dia tahu tidak seharusnya demikian karena statusnya sekarang. Namun dia tidak bisa memungkiri perasaan sedihnya. Kenyataan yang sungguh berbeda dengan angannya dulu.
Dia pernah mencintai Ridwan dan memimpikan Ridwan menjadi cinta terakhirnya untuk selamanya. Kenyataannya arus kehidupan membawanya ke arah lain yang tak pernah dia sangka-sangka.
Dia menemukan tambatan hatinya secara tidak sengaja. Archi sangat terharu dan tersentuh mengetahui begitu besarnya cinta Ridwan bahkan sampai saat ini. Akan tetapi baginya Ridwan telah berlalu walau tetap ada rasa sedih ketika harus terpaksa melepas perasaan itu Tapi kini dia ikhlas dengan kenyataan dan menerima Agust sebagai suaminya.
Di rumah Irene perdebatan sengit masih terasa diantara Irene yang mempertahankan pendiriannya tentang cintanya kepada Agust dan menginginkan Agust bersamanya. Sementara Agust dengan tegas terus menolaknya.
"Agust..."
"Sadarlah Nona Irene. Saya berbuat baik hanya karena rasa kemanusian, dan jujur karena anda adalah atasan saya. Walau anda mengatakan, saya seperti tunangan anda, saya tetaplah orang lain. Saya adalah seorang suami dari istri saya dan saya sangat mencintai istri saya. Saya tidak bisa membalas perasaan anda." tandas Agust.
"Tapi Agust!"
"Sudahlah Nona. Selama ini saya menghormati anda karena anda adalah atasan saya. Bila mulai hari ini anda sakit hati kepada saya dan ingin memecat saya, lakukanlah." sela Agust.
Dengan perasaan kesal Agust melangkah keluar dari kamar Irene. Irene menangis sejadi-jadinya.
"Agust...dengarkan aku dulu!" tangis Irene duduk bersimpuh.
"Tetapi bukan hanya sifat pelindungmu yang mirip dengan tunangan aku. Tetapi dirimu memang betul-betul seperti dirinya!"
sebuah foto jatuh dari atas tempat tidur, tertiup angin kencang yang berasal dari luar. Meluncur dan terjatuh ke hadapan Irene. Menampilkan seorang pria, berjas....
...~ bersambung ~...