Cinta Agusd Si Kucing Tampan

Cinta Agusd Si Kucing Tampan
21. AGUST D


Archi sampai ke rumah setelah pulang bekerja. Seperti biasa sebelum menuju kamarnya dia akan menengok ke dapur untuk melihat menu makan malamnya.


"Wah..., makan malamnya lezat!" gumamnya dengan wajah mupeng menatap ayam woku di piring saji. "Ini adalah makanan favorit aku," ucapnya riang menuju ke lantai dua.


Archi membuka pintu kamar dan melihat Agust tengah duduk di meja belajar. Dia tampak serius dengan pulpen dan kertas di meja.


"Kamu lagi apa?" tanya Archi mengejutkan Agust yang sedang konsentrasi.


"Eu...!" Dengan cepat Agust menyembunyikan kertas di saku trainingnya. "Nggak, aku nggak ngapa-ngapain," dalihnya terlihat gugup.


"Kamu udah makan malam?" tanya Archi berjalan menuju lemarinya.


"Belum, aku menunggu kamu," jawab Agust.


"Ya udah. Aku mandi dulu, ya," pamit Archi membawa baju dan handuknya keluar kamar.


Selesai mandi Archi kembali ke kamar. Saat menggantung handuknya di sandaran kursi dia melihat paperbag berisi kemeja yang dia beli semalan.


"Aku lupa soal ini," pikir Archi memegang paperbag-nya. "Apa aku jadi memberikan ini untuk Agust? Tapi..., ini dibayar oleh Ridwan dan Ridwan tahu nya ini untuk Ayah.... Terus aku lebih baik kasih ini buat siapa?" bimbangnya sambil garuk-garuk tengkuknya yang tidak gatal.


"Aku beli ini untuk Agust, tapi kalau aku kasih ke Agust aku merasa bersalah sama Ridwan. Tapi aku memang beli untuk Agust . . Haduuuh...kok jadi serba salah begini?"


Archi membawa paperbag nya ke lantai bawah. Agust terlihat bercanda sama Kenji. Melihat mereka sampai tidak bisa membedakan yang mana anak umur 6 tahun, karena keduanya terlihat seperti seumuran. Saking sama-sama menggemaskannya mereka.


"Ini ayah!" Archi memberikan paperbagnya kepada Ayah.


"Ternyata itu untuk Ayah," batin Agust sedikit kecewa karena dia pikir Archi membeli untuknya.


"Wah...apa ini Archi?" tanya Ayah mengeluarkan kemeja dari dalam paperbag. "Kamu membelikan ini untuk ayah?" tanya Ayah.


"Ridwan yang membelikannya," jawab Archi kemudian duduk di kursi sebelah Agust.


"Ridwan yang Manager HRD mu itu kan?" tanya Kakak.


"Iya," jawab Archi malas.


"Sayang banget ya," ucap Kakak miris. "Padahal yang suka sama dia aja sekelas Manager tapi ternyata malah berjodohnya sama....," Kakak berhenti bicara dan memandang remeh ke arah Agust.


"yang nggak jelas asal usulnya, pengangguran pula," sambungnya.


"Levi....!" Tegur Ayah dengan wajah marahnya. Agust seolah tidak mendengar kata-kata Kakak tetapi perubahan emosi tetap terlihat di wajahnya. Dia tidak seceria sebelumnya saat bermain dengan Kenji.


"Iya, Ayah. Maaf!" jawab Kakak.


"Padahal aku kan bicara kenyataan. Archi memang nggak beruntung soal jodohnya ini," kata hati Kakak ngedumel.


"Hari Sabtu ini Ayah dan Ibu akan menginap di rumah nenek. Apa kalian mau ikut?" tanya Ibu mengambilkan nasi untuk masing-masing anggota keluarga.


"Aku nggak bisa Ibu, aku ada siaran jam 10 malam hari Sabtu. Breaking news live. Dan paginya siaran jam enam," jelas Kakak menolak secara halus.


"Kalian?" Ibu memandang Archi dan Agust bergantian. Agust bantu memandang Archi membuat Archi merasa terintimidasi oleh pandangan mereka.


Matanya membesar, "Aku...," tunjuknya sendiri. "Aku libur kan hari Minggu doang, jadi kayanya aku mau istirahat aja di rumah sebelum besok kerja lagi, bolehkan, Bu?"


"Ya sudah kalau gitu." Ibu menyetujui namun juga terdengar kesal. "Maunya tuh kalian ikut biar Kakek, Nenek bisa mengenal Agust juga," jawab Ibu.


"Mungkin lain kali Bu," ujar Ayah membesarkan hati Ibu. "Saat ada liburan panjang lagi,"


"Iya yah," jawab Ibu pasrah bergabung dengan yang lain untuk makan malam di meja.


"Ini buatan si Agust juga bu?" tanya Kakak menyendok bihun tumis kecap ke dalam piringnya.


"Iya, itu namanya japchae. Dia juga yang buat. Pakai bihun Korea asli," jawab Ibu. "Ibu yang minta buatkan. Ibu bilang, kamu bisa buat japchae? Dia bingung Japchae apaan? Ibu liatin gambarnya dia baru tau," kisah Ibu.


"Dia bilang bakal coba dulu, Ibu pikir nggak bakal bisa, tahunya dia juga tau bikinnya," tambah Ibu.


"Dia kok bisa masakan Korea? Dia kan amnesia?" tanya Kakak.


"Orang yang amnesia nggak melupakan semua hal tentang dia," jawab Ayah.


"Iya, bahkan ada yang amnesia tetapi tiba-tiba dia jadi bisa bahasa asing karena amnesia," dukung Ibu menimpali.


"Aku juga nggak ngerti saat aku dihadapkan dengan bahan masakan, otakku bekerja menggerakan tanganku dengan sendirinya," tambah Agust menjelaskan yang terjadi padanya ketika dia harus memasak.


"Mungkin dulu kamu ahli memasak jadi itu sampai tersimpan di ingatan implisitmu," jelas Ayah.


"Hem... Padahal Aku lihat wajahnya, aku pikir dia ChinDo, ternyata dia Korea," ungkap Kakak.


"Kenapa? Maksud Ayah kan dari wajahnya saja terlihat dia Korea. Walau agak mirip-mirip tetap Korea dan China agak berbeda," sambung Ayah.


"Oh..., kami pikir Ayah memang tahu pasti dia Korea," jawab Kakak.


"Darimana Ayah bisa tahu pasti dia Korea," sahut Ayah melanjutkan menyuap nasi dan lauk ke mulut.


...****************...


Beberapa hari kemudian . . .


Minggu yang indah bagi Archi. Setelah shalat shubuh Archi kembali rebahan dan menarik selimutnya. Hari ini nggak ada ayah yang akan meminta anak-anaknya berkumpul di meja makan tepat pukul tujuh. Archi bisa bebas menentukan sendiri kapan mau mulai sarapan.


"Archi...!" panggilan seseorang masuk ke alam bawah sadarnya.


Di mimpinya Archi sedang menikmati konser tunggal Agust D. Rap sang rapper tiba-tiba berubah menjadi panggilan namanya. Archi tertegun, melongo menatap panggung.


"Archi...! Bangun...!" Agust menarik lengan Archi agar dia mau bangun.


"Aduuuh....ganggu aja!" gerutu Archi kesal sambil terduduk dengan terpaksa. Matanya masih terlalu berat untuk di buka.


"Bangun...! Sarapan," kata suara itu. Archi membuka mata dan melihat Agust sebagai Agust D.


"Agust D....!" jeritnya girang lalu melompat memeluk Agust. "Yoongi Marry Me...!" pekiknya menyebut nama asli sang rapper dalam slogan terkenal itu.


"Kamu udah nikah!" jawab Agust memaksa melepaskan pelukan Archi yang terlalu kencang. Jeritan Archi berhenti dan dia terdiam, merasa aneh.


Masih melingkarkan tangannya di leher Agust, Archi mendorong tubuhnya ke belakang untuk melihat wajah pria yang dia peluk.


"Agust...," kejut Archi melepaskan pelukannya dan merasa sangat malu. "Ngapain sih kamu?" tanya Archi kembali naik ke tempat tidur.


"Ngapain tidur lagi? Ayo sarapan!" ajak Agust memegang lengan Archi.


Archi melongok jam di mejanya, "Ini baru jam 7," keluh Archi merasa jengkel. "Ayah kan nggak ada. Ini kesempatan aku buat bangun siang di hari Minggu,"


"Ayah berpesan untuk makan tepat waktu," terang Agust.


"Ya ampun..., ayah juga nggak bakal tahu kalau kita sarapannya siang. Udah ya, aku mau balik tidur,"


"Terserahlah...!" jawab Agust keluar dari kamar Archi.


Sekitar pukul sebelas pagi,


"Permisi Paket!" seru sebuah suara dari luar pagar.


Archi setengah berlari menuruni tangga dan melihat Agust tengah tertidur di atas sofa panjang di ruang keluarga.


"Dia tidur, dasar kucing!" ejeknya melewati Agust dan keluar rumah untuk mengambil paket yang datang.


"Terimakasih Pak!" ungkap Archi kepada tukang paket.


"Akhirnya datang juga!" kata Archi memandangi paket yang dia pesan. "Aku sampai lupa pernah memesan ini," katanya lagi sambil masuk ke dalam rumah.


"Siapa?" tanya Agust dengan mata setengah terbuka.


"Tukang paket," jawab Archi tanpa berhenti berjalan dan naik ke lantai dua.


Di kamarnya . . .


"Apa ini untuk Agust saja ya?" pikirnya memandangi oversized shirt official merch konser Agust D, berwarna dark grey dengan label D-Day di ujung saku kirinya yang dia amparkan di atas tempat tidurnya.


"Itung-itung untuk mengganti kemeja yang tidak jadi aku beri untuknya," tambahnya lalu membawa oversized shirt dan kaos putih yang juga official merch rapper kesayangannya ke lantai bawah.


"Dia nggak ada," gumam Archi melihat sofa yang tadi ditiduri Agust sudah kosong tanpa penghuni. "Apa dia berubah jadi kucing lagi, ya?" ia menoleh kiri dan kanan mencari sosok Agust.


Archi berjalan menuju dapur dan berharap bisa menemukan dia di sana. Namun hampa, ruangan itu pun tanpa penghuni. Dia keluar dari dapur dan mulai mencari ke kamar mandi atas dan bawah, hasilnya nihil. Dia pun keluar rumah melalui pintu depan namun tidak ada juga.


"Agust... Dimana kamu?" tanya Archi mulai panik dan kembali ke dalam rumah.


"Agust...!" panggilnya sekali lagi namun tetap tidak mendapat jawaban. "Kalau dia berubah pasti ada bajunya yang tertinggal." Archi membungkuk dan melihat kolong-kolong meja, mungkin menemukan baju Agust di sana dan dia tetap tidak menemukan apa-apa.


Archi melanjutkan pencarian ke halaman belakang.


"Agust... Ya ampun...dimana sih dia?" bulir-bulir air berkilau di matanya yang frustasi.


...****************...