
Shubuh pun tiba. Di gelarlah sejadah ketika adzan berkumandang. Tangis bahagia mengalir saat Agust menengadahkan tangannya mengucap syukur dia dapat kembali bersama istrinya.
Pagi hari saat pergantian shift jaga. Suster-suster saling berbisik ke temannya dan mencuri pandang ke arah Agust.
"Sepertinya kamu jadi famous." goda Archi setelah para suster itu pergi.
"Jadi famous?" dengan mata one linenya Agust menyipit.
"Iya, kamu nggak dengar tadi Suster-suster tadi misah misuh muji ketampanan kamu?"
"Oh...haha...memang aku tampan ya?" tanya Agust merendah.
"Ya memang kamu tampan."
Ceklek....
"Alhamdulillah, kalian sudah berbaikan." ucap Ayah saat memasuki ruang perawatan.
"Alhamdulillah ayah." jawab Archi dan Agust bersamaan sambil saling menatap dengan wajah memerah dan tersenyum kecil karena ke Khilafah an mereka semalam.
"Katanya hari ini Archi sudah boleh pulang. Setelah ayah mengurus administrasi nya kita langsung pulang. Di rumah ada kakek dan nenek. Kebetulan ada kakek jadi kake dan ayah bisa jadi saksi proses rujuk kalian." kata Ayah.
"Ingat! Kalian belum rujuk, jangan terlalu dekat! Belum halal!" kata Ayah memperingatkan dengan tegas sambil mengacungkan telunjuknya dan menyorot mengancam.
Archi dan Agust menunduk malu.
"Iya Ayah." jawab Agust gemetar.
"Ayah mau urus administrasi dulu. Persiapkan untuk pulang Agust." suruh Ayah.
"Siap Ayah." jawab Agust semangat.
Di luar kamar perawatan, "Haah...anak muda zaman sekarang!" geleng ayah seperti mengetahui gelagat anaknya.
Setelah administrasi rumah sakit selesai diurus, mereka pun pulang ke rumah. Sesampainya di rumah...
"Nenek, Kakek!" Archi dan Agust mencium tangan keduanya yang sedang duduk di sofa ruang tamu. Archi duduk bermanja di sisi neneknya. Dengan senang hati neneknya merangkul cucu perempuannya.
Setelah berbincang dan menceritakan yang terjadi kepada Kakek dan Nenek, akad rujuk pun dibacakan Agust, hingga kembalilah Archi dan Agust dalam ikatan suami istri yang sah. Dengan bahagianya Agust memeluk Archi.
"Nah sekarang baru boleh, pegang-pegang lagi." sindir ayah sambil terkekeh. Agust dan Archi menunduk malu.
"Kamu jangan ucap pisah lagi Agust. Suami jangan sembarangan ngucap pisah. Jika sudah tiga kali jatuh talak kalian nggak bisa rujuk sebelum Archi menikah lagi sama pria lain." jelas Ayah.
"Archi nikah lagi?" dalam pikirannya dia melihat Ridwan dalam beskap pengantin tersenyum bahagia bersama Archi.
Dia menggeleng...
"Nggak...nggak boleh!" gumamnya.
"Kamu kenapa?" tanya Archi.
"Nggak kenapa-kenapa."
Di sofa Ayah tampak resah dengan handphone nya yang terus menyala karena panggilan masuk. Hingga akhirnya dengan kesal,
"Sebentar!" pamit ayah lalu ke luar rumah.
"Halo...!" jawab Ayah melengking.
"Saya kan masih cuti. Izin resmi loh itu." geram ayah kepada si penelepon yang sepertinya orang dari pabrik dia bekerja.
"Iya tahu, cuman anak saya masih sakit. Besok juga saya sudah kembali bekerja." nada suara ayah tetap tinggi. Tidak tenang seperti biasanya. Ayah begitu bila hanya dia sedang emosi yang tak tertahankan.
"Ya sudah...ya sudah... Katakan saya ke sana selepas dzuhur!" tutup Ayah dengan kasar menutup panggilannya.
"Astagfirullah! aku jadi emosi banget." kata Ayah menggeleng dan masuk ke dalam rumah.
"Ayah harus ke pabrik dulu." kata Ayah terlihat muram.
"Handoko masih kerja di pabrik obat itu?" tanya Kakek.
"Masih Kek." jawab Ibu.
"Ayah kamu kerja di pabrik obat?" bisik Agust ke telinga Archi. Archi menoleh ke arah Agust dan melongo memandangnya.
"Kamu baru tahu, setelah kita beberapa bulan nikah?" tanya Archi berbisik juga.
"Hadeuuuh!!!"
"Jabatan ayah termasuk penting di sana. Dia itu kepala bagian apa ya namanya? Intinya dia itu yang harus memastikan semua bahan produksi yang digunakan sesuai, juga untuk mengembangkan obat dan perawatan baru di sana." jawab Archi meski dia juga kurang paham dengan pekerjaan ayahnya yang sebenarnya sebagai ahli biokimia di sana.
"Sebenarnya ayah juga dulunya seorang Profesor di Universitas Negeri ternama di sini. Tetapi dia udah nggak ngajar lagi." kata Archi lagi.
"Ayahmu orang hebat ya. Aku jadi minder." jawab Agust.
"Jangankan kamu. Aku anak sambungnya lebih minder. Di antara kakak, aku lebih payah. Nggak pinter, nggak ada keahlian khusus. Sepertinya karena Kenji anak kandungnya, dia yang mewarisi kepintaran ayah. Sepertinya nanti Kenji yang mengikuti jejak ayahnya."
"Iya, Kenji memang kelihatan sangat pintar di usianya yang sekarang."
"Ya kan. Aku malas kalau ngomongin itu. kenapa? Karena sepertinya iq ku paling rendah di rumah ini."
"Nggak apalah, mungkin karena itu juga kamu jadi mau dinikahin paksa sama aku." jawab Agust merangkul Archi.
Plaaakkkk
Paha Agust terkena tepukan pedas Archi. Ibu dan semua yang berada di sana memandang ke arah mereka.
"Ouch...sakit Archi!" ringis Agust.
"Hehe...ada nyamuk tadi di paha Agust!" Archi nyengir. "Nyamuk Afrika!" ketus Archi diwajah Agust.
"Lihat aja nanti, aku tunjukkan nyamuk Afrika sebenarnya. Habis kamu di sedot nyamuknya." bisik Agust.
"Diem!" Archi mencubit pinggang Agust membuat Agust kembali meringis.
"Ya ampun kalian ini, sudah berbaikan tetap aja kaya kucing sama guk guk. Ribut terus!" tegur Ibu.
Agust dan Archi menunduk malu.
"Hahaha...kelakuan mereka berdua memang menggemaskan." kata nenek tertawa puas.
"Nenek nggak sabar gendong cicit dari Archi sama Agust. Pasti menggemaskan juga." tambah Nenek.
"Aaaaa.....nggak....jangan ngomongin itu lagi!" pekik Archi frustasi sambil buru-buru berdiri dan melangkah cepat ke kamarnya.
Ibu tertawa dengan ulah anaknya.
"Loh kenapa Archi?" tanya Nenek bingung.
"Dia trauma kalau ngomingin itu." jawab Ibu masih terkekeh.
"Wah kenapa? Kamu gigit Archi, Agust?" tanya Kakek membuat Agust seperti kepiting rebus.
"Hahaha...bukan seperti itu kakek." jawab Ibu
"Lalu kenapa?" tanya Kakek bertambah bingung.
"Entahlah, tetapi hanya mereka berdua yang tahu." jawab Ibu.
Kemudian di kamar Archi....
Agust termenung di meja belajar sementara Archi memakan mie cup instan di atas tempat tidurnya sambil membaca novel online.
"Pabrik Obat..." gumam Agust dengan pandangan kosong menatap meja belajar.
Alam bawah sadarnya tertarik...kesebuah dimensi, layar cembung dengan sisi buram ditepinya memperlihatkan langkah kaki seseorang dengan sepatu pantopel hitam menaiki tangga sebuah gedung. Di belakangnya terdapat dua pasang kaki lainnya mengiringinya berjalan.
Samar-samar dia mendengar sebuah percakapan,
"Dengan itu kita akan mengukuhkan perusahaan farmasi kita sebagai perusahaan terbesar di negara ini." ucap seseorang dengan suaranya yang ambisius.
"Heuuu!!!!" Agust terkesiap saat terlempar kembali ke alam sadarnya.
"Kamu kenapa?" tanya Archi dengan mie menggantung di mulutnya.
Agust menoleh dengan mata bulat membesar, wajahnya tegang dan kaku.
"Petunjuk lain dari masa laluku." ucapnya lirih.
"Benarkah? Apa itu?" tanya Archi penasaran.
...~ bersambung ~...