
Agust mendengus pasrah melihat penantian-nya serasa sia-sia.
Agust mendekati Archi. Menggoyangkan tubuhnya untuk membangunkan Archi.
"Archi bangun! Ini kwetiau nya."
Archi mengintip dari matanya yang sedikit terbuka.
"Pura-pura tidur ya kamu!" desis Agust menarik selimut Archi. Archi menahannya sekuat tenaga.
"Hajimaaa!!!" pekik Archi.
"Eh...itu kata-kataku!" sergah Agust. Bersamaan dengan tarik-tarikan selimut, manik Agust menangkap sesuatu dibalik selimut. Matanya berbinar dibuatnya. Meski hanya terlihat sekilas.
"Udah persiapan ternyata." ujarnya semangat melihat gaun ungu yang digunakan Archi.
"Diam...aku malu!" kata Archi dengan wajah merahnya yang tertunduk sambil mengeratkan selimut ditubuhnya.
"Gasss!!!" Agust menyelinap segera kedalam selimut Archi.
"Aguuusttt!"
"Mmphhh!!!" Agust meraup bibir Archi dengan bibirnya agar Archi berhenti menjerit.
Kaos Agust telah terlepas dari tubuhnya. Dia berada di atas Archi yang telah memanas. Pandangan masa lalu muncul. Situasi familiar, masih mengenakan kemejanya dia berada di atas Irene. Saat kenangan itu terputar, kepalanya seperti terhantam benda keras.
Agust menguatkan dirinya, menyelarasakan apa yang ada dalam pandangan dan dunia nyatanya bersama Archi. Dia ingin melihat apa yang dia lakukan bersama Irene saat itu.
Agust semakin mendekati leher Archi, mulutnya terbuka siap mencumbuu di sana. Pandangannya menunjukkan hal berbeda. Agust dalam bayangannya bangkit berdiri. Melempar kimono yang ditanggalkan Irene sebelumnya, kepada Irene di atas tempat tidur.
"Keluar dari kamarku!" usir Agust dalam bayangannya dengan nada suaranya yang dingin dan acuh. Pandangan itu terputus. Seperti panggilan video yang tidak lagi mendapatkan sinyal.
Agust tersenyum senang, dia semakin bersemangat untuk menyetuubuhi Archi karena pikirannya yang merasa bersalah kini telah merasa lega.
Beberapa jam kemudian...
"Kamu mau bikin aku sakit pinggang ya?" sarkas Archi yang tanpa pakaian memegang pinggangnya yang terasa sakit.
Tersangkanya hanya tersenyum lebar ditengah keletihannya setelah menggenjot beberapa lama.
"Kayaknya kamu senang banget?" tanya Archi sambil memakai gaunnya lagi memperhatikan ekpresi Agust.
"Seneng lah... ternyata aku belum sampai ngapa-ngapain sama Irene. Kamu gadis pertama yang aku masuki Archi." pikirnya sangat bahagia. "Aku nggak perlu merasa bersalah lagi. Dan itu menandakan hubungan Yoongi dan Irene, tidak seromantis itu. Aku jadi tenang." pikir Agust lagi.
Setelah membersihkan diri bersama di kamar mandi secara diam-diam dan tersembunyi. Agust dan Archi kembali ke kamar.
"Kwetiau nya jadi dingin gara-gara kamu." kata Archi mengambil bungkusan di atas meja makan.
"Mau aku angetin dulu?" tanya Agust.
"Apanya?" tanya Archi yang masih gagal fokus.
"Kamu kan udah aku angetin tadi. Masa mau diangetin lagi sih?" timpal Agust.
"Ih..."
"Ya lagian segala nanya. Ya kwetiau nya atuh yang aku angetin."
"Nggak usah deh. Nggak apa-apa dingin. Daripada nanti ketahuan orang rumah."
"Kwetiau nya takut diminta?"
"Bukan Agust, ketahuan kita abis ngapa-ngapain."
"Oh."
"Suapin!" pinta Archi bernada manja khas anak-anak.
"Alamak...manja banget sih sekarang tuh." Agust membukakan bungkusan kwetiau dan mulai menyuapi Archi. Bergantian menyuapi dirinya sendiri.
Setelah kenyang makan, Agust dan Archi pergi tidur.
"Kasur kecil ini ada hikmahnya juga. Jadi kita tidur selalu bisa merapatkan diri." gumam Agust sambil memeluk Archi erat.
"Nyari kesempatan aja, kamu mah!" sahut Archi, memejamkan matanya.
"Iya dong. Kan anget begini." Mereka pun tidur bersama hingga alarm mengusik tidur mereka.
"Baru juga aku tidur. Udah bunyi aja sih alarmnya." gerutu Archi mematikan alarm di handphonenya.
"Aguuusttt!! bangun!" Archi menggoyang kan tubuh Agust.
"Kenapa cinta?"
"Bangun, udah subuh." kata Archi menarik tangan Agust.
"Masih ngantuk sayang. Badanku remuk ini." kata Agust mengeluh.
"Memangnya kamu doang. Aku juga tau. Tapi kita kan harus kerja." sahut Archi manyun.
"Kamu mandi duluan aja. Aku nanti abis kamu." jawab Agust kembali rebahan.
"Ih...dasar." Archi dengan kesal pergi ke kamar mandi.
Kemudian....
Siang hari di kantor...
Agust sedang membicarakan tentang perusahaan bersama Tuan Ludwig di ruangannya. Ketika pembicaraan mengenai perkembangan dan yang terjadi diperusahaan selesai.
"Tuan, boleh saya bertanya sesuatu?" tanya Agust memberanikan diri.
"Tanya apa?" tanya Tuan Ludwig membetulkan kacamata minusnya yang sedikit miring.
"Ini bukan soal perusahaan. Tetapi, ada yang ingin saya tahu tentang Yoongi."
"Yoongi cucuku?" tanya Tuan Ludwig memastikan.
"Iya Tuan. Saya dengar Yoongi dan Irene itu telah bertunangan. Apa itu benar?" tanya Agust.
"Iya, mereka memang telah bertunangan. Sayangnya takdir berkata lain dan memisahkan mereka selamanya." jawab Tuan Ludwig dengan pandangan menerawang.
"Mereka sangat mencintai ya?"
"Hahaha...!" Tuan Ludwig tertawa. Respon yang membuat Agust sedikit terkejut. "Maaf..maaf tetapi pertanyaanmu menggelitikku." Tuan Ludwig diam sejenak.
"Sesungguhnya aku nggak begitu yakin tentang itu. Hanya saja mereka bertunangan karena aku yang menyuruhnya. Dari yang aku lihat sepertinya Irene mencintai Yoongi." jawab Tuan Ludwig dari perspektif dirinya.
"Tetapi Yoongi, aku nggak tahu tentang hatinya. Selain dia itu sedikit cuek, Yoongi sedikit tertutup mengenai perasaannya. Namun yang lebih aku baca Yoongi hanya sebatas menganggap Irene sahabat masa kecilnya. Mereka memang akrab sejak masih kecil, karena itu aku menjodohkan mereka." Tuan Ludwig masih bercerita.
"Selain karena itu, Irene itu sebatang kara. Sejak orang tua nya, sahabat ayah Yoongi, itu meninggal, Irene, kami yang mengurusnya. Dia tidak memiliki keluarga lain. Mungkin itu yang membuat Yoongi merasa kasihan dan prihatin terhadap Irene. Hingga dia begitu menjaga Irene." Cerita Tuan Ludwig pun selesai.
Mendengar kisah Tuan Ludwig mengenai Irene yang menyedihkan membuat hati Agust sedikit tersentuh. Rasa iba pun muncul untuk Irene. Mungkin itu perasaan yang sama yang Yoongi rasakan.
"Ngomong-ngomong, kenapa kamu ingin tahu tentang hal itu."
"Ah...itu...Maaf bukan aku ingin mengadu atau menjelekkan Irene, hanya saja dia terlihat begitu terobsesi kepadaku karena aku mirip Yoongi. Jadi aku begitu ingin tahu, bagaimana hubungan mereka terdahulu."
"Aku mengerti. Ini sulit dimengerti mungkin Irene belum bisa melepaskan Yoongi. Jadi saat dia melihat kamu yang begitu mirip Yoongi, dia jadi bersikap seperti itu. Atas nama Irene saya meminta maaf."
"Saya nggak masalah. Hanya saja saya menjaga perasaan Archi. Saya nggak mau dia jadi salah paham." jawab Agust.
"Iya benar. Archi. Bila kamu mau aku akan memindah bagian Irene?"
"Oh...nggak usah Tuan. Jangan." sergah Agust.
Sedikit kurang setelah mendengar cerita Tuan Ludwig, sikap Agust kepada Irene sedikit melunak. Kini dia lebih mencoba mengerti perasaan Irene. Meski tetap memberi jarak, namun Agust sudah mulai menaruh perhatian kepada Irene.
"Iya nggak apa-apa Irene. Itu bukan masalah." jawab Agust sangat ramah ketika Irene tanpa sengaja menumpahkan minumannya di meja saat istirahat.
Agust membantu Irene, mengelap meja dengan tissue. Archi dan kawan-kawan nya menatap nanar ke arah mereka. Hanya Ridwan yang menahankan senyummya.
Melihat hal itu jelas memantik api cemburu di hati Archi. Dia merasakan perubahan sikap Agust kepada Irene dan membuatnya jadi salah paham. Mencoba tetap positif Archi tidak mengungkit dan membahas kecurigaannya kepada Agust. Dan lebih memendam perasaannya yang terasa nyeri.
Malam semakin larut. Sementara Archi tak bisa tidur di dalam kamar karena resah dengan hubungan Agust dan Irene. Di apartemennya, Ridwan pun tidak bisa tidur. Dia masih memperhatikan video yang dia dapat.
"Kalau ini menunjukkan, Yoongi belum meninggal dan ada kemungkinan Yoongi itu Agust. Dan Agust itu Yoongi? Kalau kebenaran terungkap, Agust menemukan masa lalunya sebagai Yoongi, apa itu bisa membuat Agust dan Archi berpisah?" pikir Ridwan menerka-nerka.
"Kalau kemungkinan itu yang terjadi, lebih baik aku mengungkapkan kebenarannya. Benar. Kalau Agust kembali jadi Yoongi..." seringai liciknya muncul.
"Maka Archi akan kehilangan Agust. Dan saat itu aku bisa masuk kembali dalam hidup Archi. Jadi aku harus mengungkapkan ini!" tekad di hati Ridwan membara. Memikirkan dirinya yang akan bisa bersatu dengan Archi bila Archi berpisah dengan Agust.
...~ bersambung ~...