
Warning 21 + bertebaran.
Mohon maaf demi alur cerita akan ada adegan-adegan nyerempet.
......................
"Masa aku suruh mulai duluan ibu. Ya malu aku nya. Kesannya kegatelan banget." jawab Archi dengan wajah merah padam.
"Terserah kamu maunya gimana. Ibu mau dapat kabar baik dari kamu pokoknya."
"Haduuuh... Bingung deh!" batin Archi.
Agust pun kembali dari bekerja dan langsung ke atas untuk membersihkan diri dan salat maghrib.
Setelah makan malam, mereka kembali ke kamar masing-masing. Menyisakan ibu, ayah dan Kenji di ruang tamu yang menonton televisi.
Archi mencuri pandang pada Agust yang duduk merenggangkkan kedua kakinya di kursi meja belajar.
contohnya seperti ini 😹
"Emang boleh ya semenggoda itu?" batin Archi melihat paha mulus Agust yang tidak tertutup karena celana pendek yang dia gunakan. Celana pendek hitam yang kontras dengan warna kulitnya yang putih banget.
"Kamu ngapain ngeliatin ke bawah terus?" tanya Agust.
"Ah? Nggak kok!" Archi tersenyum malu.
"Aku mau tidur. Aku tidur duluan ya Agust!" kata Archi merebahkan dirinya di atas kasur dan menutup wajahnya dengan selimut.
"Gara-gara Ibu pikiran aku jadi kemana-mana! Hufh..." Archi pun menghela napas panjang dan membaca doa sebelum tidur.
Archi pun tertidur dengan lelapnya. Matanya yang terpejam tiba-tiba terusik ketika tubuhnya terasa bergoyang. Saat matanya terbuka dia melihat Agust sudah berada di atasnya. Archi tetap dalam polisi terlentang, memerhatikan Agust di membungkuk di atasnya tanpa bicara.
"Agust, kamu ngapain?" tanyanya tanpa jawaban. Archi melihat ekpresi Agust yang terpejam seraya menggigit bibir bawahnya.
kemudian Archi merasakan sesuatu menyusupi dibawah tubuhnya yang ternyata tak memakai apa-apa. Rasa berkedut dirasakan inti tubuhnya. Rasa penuh dan menusuk nikmat dia rasakan dalam lubang kenikmatannya.
Tanpa terasa Archi memejamkan matanya, menahan rasa nikmat yang diberikan Agust saat dia bergerak maju dan mundur memasuki dirinya.
"Agust...aaah...!"
Secepat kilat Archi membuka matanya. Archi terbangun dari tidurnya dengan nafas berat tersendat-sendat dan keringat bercucuran. Dia yang tidur miring, melihat Agust tidur nyenyak dengan posisi miring di sebelahnya dengan wajah menghadap ke arahnya.
Archi melihat kakinya yang memeluk kaki Agust. Saat itu dia menyadari, kebetulan lutut Agust menempel di bagian tengah dirinya. Mungkin tekanan di sana membuat Archi membuat Archi bermimpi seperti itu. 😹
"Astagfirullah..., mimpinya!" ucap Archi mengganti posisi tidurnya.
"Tapi kok nikmatnya kaya kerasa beneran?" pikirnya sambil merasakan celana segitiga nya terasa basah.
"Ya ampun...ya ampun... Seumur-umur baru mimpi basah begini. Untung mimpiinnya sama suami sendiri. Coba sama Ridwan aduuh... Perkara itu." dumel Archi turun dari tempat tidur dan mengambil handuk dan baju kerjanya.
"Ibu sih, nih ah...pakai acara ngomongin kaya gituan semalam. Jadi kebawa mimpi kan. Haduuuh!" gerutu Archi
"Baru juga mandi wajib abis haid, udah mandi lagi aja. Keramas maning, keramas maning!" gumamnya memasuki kamar mandi.
Setelah mandi dan shalat shubuh
"Apa sebaiknya aku ngomong aja ya sama Agust soal keinginan Ibu?" pikir Archi. "Kalau aku ngomong gitu kan, nggak kelihatan aku yang ngebet pengen begituan."
"Archi!" panggil Agust selesai salat shubuh.
"Hm?" sahut Archi.
"Ada yang mau aku omongin," kata Agust tampak malu.
"Aku juga, ada yang mau aku bicarakan sama kamu. Tapi kamu aja dulu," kata Archi.
"Ayah ada ngomong soal kewajiban suami menggauli istrinya,"
Blush....
Sekonyong-konyong wajah Archi memerah mendengar apa yang Agust bicarakan.
"Haduuuh...sampai si Ayah turun tangan nasihatin si Agust. Ampun deh Ibu dan Ayah aku!" inner Archi.
"Aku jadi kepikiran, karena aku belum memberikan kamu nafkah itu. Kalau menurut kamu bagaimana?" tanya Agust.
"Iya, itu juga yang mau aku omongin sama kamu. Ibu juga ngedorong-dorong aku buat itu." jawab Archi.
Agust menarik tangan Archi dan menyuruh nya duduk kembali.
"Kita kan belum selesai ngomong Archi," timpal Agust.
"Tadi kan udah aku jawab. Nggak usah memberatkan kalau kamu nggak bisa dan nggak mau." jawab Archi.
"Kalau kita coba aja giman?" tanya Agust membuat wajah Archi semakin memerah.
"Nggak, nggak perlu dicoba-coba. Bahaya kalau dicoba-coba." Archi nyengir.
"Ya, kita lakuin aja kalau kamu nggak mau coba-coba." tandas Agust.
"Masih pagi loh ini Agust, udah ngomongin kaya gitu aja." sahut Archi.
"Kenapa? Kamu nggak mau ya aku menggauli kamu?"
"Eh...bukan gitu, aku nurut aja deh keinginan kamu bagaimana."
"Ya udah, kalau kamu juga setuju. Jadi aku nggak beban kalau kamu juga sama-sama mau," jawab Agust.
"Hufh...benaran deh ini pembicaraan bikin aku panas dingin. Ya ampun, akhirnya dia kepikiran juga buat begituan. Aku harus berterima kasih sama Ayah, jadi nggak bikin aku malu karena minta duluan." pikir Archi.
Malam harinya...
Archi baru pulang bekerja.
"Kamu udah pulang kerja Agust?" tanya Archi kepada Agust yang tengah menulis di meja belajar.
"Udah dari sore." jawab Agust. Sementara Archi mengambil handuk baju ganti di lemari.
"Apa-apaan ini?" gumam Archi melihat ke seluruh ruang di lemarinya. "kaos dan celana panjang aku pada kemana?" tanya Archi yang hanya melihat baju kerja, tank top dan hot pants yang tersisa di dalam lemarinya.
"Memang nggak ada di lemari?" tanya Agust seraya menoleh.
"Nggak ada," jawab Archi kesal.
"Ini pasti ulah Ibu!" innernya.
"Ibu!" teriak Archi lalu berlari ke lantai bawah.
"Ada apa sih Archi? Teriak teriak begitu?" tanya Ayah.
"Ibu taruh mana baju sama celana aladin aku?" tanya Archi kepada Ibunya.
"Ya semua ibu taruh di lemari, Archi." jawab Ibu dengan santai nya.
"Nggak ada Ibu. Kembaliin bajuku Bu!" pinta Archi.
"Kalau nggak ada di lemari berarti kotor semua Archi. Karena ibu juga belum sempat nyuci." dalih Ibu.
"Ah...ibu jangan begitu. Siniin baju aku bu. Aku nggak mau pakai itu pas tidur." rengek Archi.
"Memang kenapa sih Archi? Biasanya juga dulu kamu suka tidur pakai itu." jawab Ibu.
"Iya, sebelum nikah sama Agust. Pas ke gap sama Agust di kamar aja kamu pakai tank top dan hot pants doang." sahut kakak menimpali.
"Akh...pasti ini sudah rencanakan! Nyebelin kalian!" gerutu Archi kembali ke kamarnya dengan perasaan kesal kembali ke dalam kamar.
"Ketemu?" tanya Agust.
"Nggak, aku pinjam kaos kamu ya!" kata Archi.
"Tapi baju aku di lemari juga tinggal yang aku pakai ini. Kata Ibu, ibu belum sempat nyuci. Kita juga belum nyuci kan." kata Agust.
"Haduuuh...aku harus pakai tank top depan Agust!" ringis Archi. "Mana kalau selesai haid tuh gairahku suka on," sambungnya.
Hari semakin larut,
Archi tiduran menelengkup di atas tempat tidurnya sambil membaca novel.
"Ciri sekunder yang nampak berlaku untuk ras asia cowok yang nafsunya tinggi adalah, cenderung berkulit terang, tubuhnya mulus tanpa bulu sekunder, seperti bulu kaki, suaranya tennor antara bass dan treble, walau kumisan tapi nggak punya bulu kaki," Archi membaca percakapan antara pemeran dalam novel.
"Walah, apa Agust termasuk ya?" pikirnya.
Saat itu Agust masuk ke kamar setelah dari kamar mandi. Agust mendekati tempat tidur dan dengan segera menindih Archi.
"Agust!" pekik Archi terkejut. "Kamu ngapain sih?" tanya Archi dan Agust masih berada di atas punggungnya.