
Jerry terkesiap dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh Ridwan. Dia menaikan alisnya penuh tanda tanya dan kebingungan saat menatap Ridwan.
"Kenapa loe nanyain itu?" tanya Jerry.
"Gue cuman mau tahu."
Jerry mengusap sisi dagu dengan jari telunjuk dan jempolnya seolah berpikir.
"Gue sih nggak lihat jelas. Karena posisi gue jauh dari mereka. Kaya yang loe lihat di foto. Itu juga gue zoom biar kelihatan," kata Jerry menjelaskan.
"Gitu ya," sahut Ridwan terlihat kecewa.
"Tapi yang dari gue lihat cowoknya itu berkulit putih pake banget." Jerry mencoba mengingat kembali tentang pria yang bersama Archi.
"Putihnya jelas bukan orang Indo. Gue yakin dia bukan orang Indo. Kaya elu gitulah kali, blasteran. Tinggi badannya sekitar 175 centian lah." Ridwan menerangkan ciri-ciri yang bisa dia lihat.
Ridwan mendengarkan dengan seksama sambil berpikir.
"Apa mungkin pria yang ada di foto waktu itu?" tanya batin Ridwan.
"Sayang banget gue nggak lihat jelas fotonya," sambung batinya.
...****************...
Lewat tengah malam di rumah Archi. Di atas tempat tidurnya Archi menggigil kedinginan walau di dalam selimut.
Agust yang sedang menulis sesuatu di atas meja belajar Archi menyadari hal itu. Dia tampak khawatir, dengan panik Agust mendekat ke arah Archi.
"Archi...kamu nggak apa-apa?" tanya Agust namun Archi tidak merespon. Archi tetap menutup matanya. Agust memegang dahi Archi.
"Archi demam," ujarnya.
"Sebentar aku ambilkan kompres, ya!" kata Agust bergegas pergi ke dapur.
Dia mengisi baskom dengan air hangat lalu mengambil handuk kecil. Setelah itu dia mengambil obat penurun demam di laci kitchen set.
Agust kembali ke kamar Archi. Dengan telaten dia mengompres dahi Archi.
"Archi...bangun dulu, minum obat penurun panas," kata Agust menggoyangkan tangan Archi.
Archi membuka matanya perlahan. Bibirnya bergetar. Agust membantu Archi untuk duduk.
"Dingin...!" ucap Archi gemetar.
"Iya, minum obat dulu," kata Agust memberikan tablet paracetamol dan segelas air. Tangan Archi juga gemetar. Agust membantu Archi untuk minum.
Archi memeluk tubuh Agust dengan erat.
"Jangan tinggalkan aku...aku mohon!" racau Archi dengan mata terpejam.
Agust terdiam, tubuhnya keluj, jantungnya berdetak lebih cepat, dan rona merah meresapi wajahnya.
"Apa dia serius dengan permintaannya ini? Atau ini hanya karena efek demam? Dia tidak sadar dengan yang dia katakan?" batin Agust memeluk Archi.
Ketika Archi telah pulas tidur. Walau masih menggigil, Agust membaringkan Archi di tempat tidur. Perlahan dia mengangkat selimut menutupi tubuh Archi.
Dia kembali ke meja belajar. Waktu menunjukkan pukul 02.45 dini hari. Dia merapihkan kertas-kertas di atas meja dan menyembunyikan kertas di laci meja belajar Archi. Matanya menariknya untuk melihat papan hadiah darinya, foto mereka berdua. Agust memandangi foto itu untuk sesaat.
Agust beranjak ke tempat tidur. Merebahkan badannya di sisi Archi. Kali ini tidak lagi bertolak belakang dengan Archi. Dia berbaring menghadap Archi. Menatap wajah Archi yang pucat dan masih kedinginan. Agust merasa tidak tega melihat Archi seperti itu.
Tangannya terulur ingin rasanya dia memeluk Archi tetapi dia tidak berani tanpa seizin Archi. Dia menarik kembali tangannya.
"Dingin...!" gumam Archi melipat tangannya di atas dadanya, meringkuk kedinginan. "Agust...Dingin...!" gumam Archi lagi.
Agust mendekatkan dirinya, masuk ke dalam selimut Archi. Dia pun mendekap Archi, memeluknya dengan erat. Berharap ini dapat menghangatkan tubuh Archi.
Rasa panas dan dingin bisa di rasakan Agust dari sentuhan kulit mereka.
Mereka tertidur dalam posisi itu hingga pagi menjelang.
Archi membuka matanya perlahan. Dia merasa ruang geraknya sempit. Dia menyadari wajahnya berada di pelukan dada Agust. Pria itu memeluknya sangat erat.
Dia tidak bisa mengingat apa yang terjadi semalam. Dia juga tidak tahu alasan Agust memeluknya begitu. Tetapi Archi mengakui dalam hatinya, entah bagaimana dia bisa merasakan kenyamanan dalam dekapan Agust.
Namun suasana itu terusik tatkala sesuatu menyundul di pahanya.
"Aaa...!" pekik Archi mendorong tubuh Agust untuk menjauh. Agust membuka matanya.
"Kenapa sih Archi?" tanya Agust dengan matanya yang berat untuk terbuka.
Dia merasakan kepalanya terasa pusing. Badannya pun terasa tidak enak.
"Jangan bangun dulu!" sergah Agust memegang bahu Archi.
"Kamu baru sembuh demam. Semalaman kamu demam dan menggigil. Istirahat dulu hari ini," kata Agust meminta Archi berbaring lagi.
Bagai anak kecil setelah diberi permen, Archi menurutinya dengan mudah.
"Jadi aku demam semalam?" tanya Archi tidur menyamping.
"Iya," jawab Agust singkat lalu berbaring lagi di kasur dan kembali tidur.
"Ih...kenapa dia malah baringan lagi!" gerutu Archi lirih.
"Apa dia semalaman menjagaku?" tanya Archi memandangi wajah Agust yang tenang ketika tidur.
Archi mengambil handphone untuk mengabari Andini kalau dia tidak bisa masuk kerja karena sakit. Archi minta untuk memintakan izin kepada atasannya. Walau begitu, besok saat dia masuk bekerja, Archi harus membawa surat keterangan dokter.
Tok...tokkk
Seseorang mengetuk pintu dari luar.
"Masuk!" seru Archi.
Ibu membuka pintu kamar dan masuk perlahan. Dia melihat Archi dan Agust yang masih rebahan di atas kasur dan juga melihat baskom air dan handuk bekas mengompres Archi semalam.
"Agust sakit?" tanya Ibu dengan berbisik.
"Aku yang sakit ibu. Dia menjaga aku semalaman." Jawab Archi duduk di atas tempat tidur.
"Oh gitu. Tapi kamu sudah mendingan?" tanya Ibu mengangkat baskom bekas kompres.
"Sedikit. Aku masih pusing dan nggak enak badan aja," jawab Archi.
"Tapi aku bukan hamil Ibu!" tukas Archi buru-buru agar Ibunya tidak salah paham lagi.
Apalagi saat ini Ibu memang sedang menanti kehadiran cucu di perut Archi.
"Iya," jawab Ibu menutupi rasa kecewanya.
"Nanti Ibu antar sarapan untuk kalian, ya," kata Ibu sambil keluar dari kamar Archi lalu menutup pintunya lagi.
Ibu datang membawa sarapan untuk Archi dan Agust. Archi membangunkan Agust untuk makan. Walau berat Agust mencoba bangun.
"Kamu mau aku suapin?" tanya Agust.
"Nggak, aku bisa makan sendiri," jawab Archi. Malu sendiri untuk hal--hal manis seperti itu.
"Kamu udah baikan?" tanyanya mengambil piring nasi untuknya.
"Masih sedikit pusing," jawab Archi. Agust memegang dahi Archi.
"Kamu masih demam ini," kata Agust yang masih merasakan suhu tubuh Archi masih tinggi.
Sore hari. Di kantor Archi...
"Jadi kan kita nengok Archi?" tanya Susan kepada Andini dan Icha, di jam pulang kerja.
"Jadi. Tapi bawain apa ya?" tanya Icha.
"Buah aja yang gampang," jawab Andini.
"Duuh...dah nggak zaman bawa buah. Holand kek, atau harvest gitu," sahut Susan.
"Udahlah, apa aja. Ayo buruan! Keburu malam," ajak Icha.
"Kalian mau kemana?" tanya Ridwan yang baru keluar dari ruang kerjanya.
"Nengok Archi Pak," jawab Susan.
"Oh," jawab Ridwan begitu dingin dan datar. Dia seolah acuh mendengar Archi sakit.
Ridwan nampak sangat patah hati menerima kenyataan Archi telah menikah dengan orang lain. Bahkan dari raut wajahnya dia lebih terlihat marah dan kecewa.