
"Eu...," Agust berpikir apakah akan mengatakan atau tidak kepada Archi.
"Tadi siang aku berubah jadi manusia lagi," sambung Agust nyengir.
"Ya kan, kamu udah bilang. Aku mandi dulu, abis itu kita pulang ke rumah," sahut Archi.
"Oke."
"Hufh..., hampir aja keceplosan. Tapi jujur aku masih penasaran kenapa atasan Archi ke sini?" kata hati Agust.
Esok hari...
"Pantas sumringah lagi, udah baikan toh sama suaminya," sahut Susan ketika sedang istirahat di kantin.
"Iya dong." jawab Archi merasa bangga.
"Tapi Chi," Susan menimbang untuk bicara.
"Kamu beneran nggak ada rasa sama suami kamu?" tanyanya kemudian.
Warna merah tergores di pipi Archi.
"Kamu ngapain nanya itu sih?" tanya Archi salting.
"Ya heran aja kalau kamu bisa nggak ada rasa sama suami tampan gitu. Kalau aku sih aku minta jatah tiap hari," kata Susan.
"Tuh kan kalau ngomong nggak di filter dia tuh!" sahut Andini. Susan ngakak brutal.
"Lagian kamu itu nanya rasa apa sih San? Rasa cinta atau rasa nafsu?" timpal Icha. Andini , Susan dan Archi tertawa mendengar pertanyaan Icha yang sama-sama konyol.
"Ya dua-duanya," jawab Susan. "Rasa cinta, ya nafsu juga,"
"Kamu udah mulai cinta sama Agust Chi?" tanya Andini.
"Aku...," Archi bingung untuk menjawab temannya.
"Nggak tahulah. Aku belum tahu, apa aku udah jatuh cinta atau belum sama dia," jawab Archi jujur.
"Kalau bilang nggak, ya aku ada rasa suka dan takut kehilangan juga sama dia. Kalau bilang cinta, apa perasaan aku itu udah bisa dibilang cinta?" sambung Archi.
"Kalau suami kamu gimana? Dia udah pernah menyatakan perasaannya belum sama kamu?" tanya Icha.
"Agust? Menyatakan cinta?" inner Archi.
Archi menggeleng.
"Coba deh, dipancing, biar tahu perasaan dia gimana," usul Susan.
"Gimana mancingnya?" tanya Archi dengan polos.
"Ya ampun. Kamu ambil cacing, taro di kail terus dipancing deh," jawab Andini jengkel.
"Cari tahu aja sendiri. Bisa tanya mbah google." timpal Susan bangkit dari duduknya.
Setelah istirahat....
Archi mengetik keyword di web pencarian, ' ' ' ' cara mengetahui apakah pasangan mencintai kita atau tidak? '
Archi membaca dengan seksama penjelasan di wikihow. Meskipun hanya sekedar perasaannya, tapi dia merasa ada beberapa bagian dari artikel yang benar dengan sikap Agust kepadanya yang menunjukkan rasa cintanya kepada Archi. Wajah Archi bersemburat merah dibuatnya saat memikirkan sosok Agust.
"Apa benar, kucing itu mencintai aku?" pikir Archi tersipu malu.
"Kalau dia mencintai aku, apa dia akan mengatakannya kepadaku?" Archi di hatinya.
Malam hari sepulang Archi bekerja. Archi mencuri-curi pandang pada Agust yang sedang duduk di kursi meja belajar sambil membaca buku yang dia pinjam dari koleksi buku ayah.
"Yang pertama lihat matanya, bagaimana cara dia memandang kita," kata hati Archi.
"Agust!" panggil Archi.
"Hah?" jawab Agust tanpa melepas pandangannya kepada buku yang tengah dia baca.
"Agust...ih!" panggil Archi sekali lagi.
"Apa sih?" sahut Agust kesal. Matanya berkilat marah. "Aku lagi baca," timpal Agust kemudian.
"Heum..., cinta apa? Dia malah marah." pikir Archi.
"Nggak jadi," sungut Archi ikut kesal.
"Hufh...," Agust kembali dengan bukunya.
"Tuh kan... Kalau diharapkan dia bisa memperlihatkan cintanya dia malah begitu. Bikin orang ragu aja," inner Archi.
Archi bangkit duduk menyingkap selimutnya.
"Agust," panggil Archi lagi.
"Iya Archi," jawab Agust dengan ramah menghadap Archi dengan matanya yang menyorot lembut dan berhasil membuat Archi tersipu.
"Aku ada tebak-tebakan,"
"Tebak-tebakkan apa?" tanya Agust mengernyitkan dahi, memandang curiga.
"Buah, buah apa yang receh?" tanya Archi.
"Buah, buah tangan?"
"Salah," jawab Archi.
"Terus?"
"Buah hahahaha!" tawa Archi terbahak-bahak.
Agust menimpali dengan ikut tertawa.
"Hahaha... Nggak bisa berkata-kata. Leluconnya boleh juga." jawab Agust setelah puas tertawa.
"Dia tertawa," Archi terpana dan mengingat salah satu isi artikel yang dia baca,"
Jika Anda mengatakan sesuatu yang tidak begitu lucu tetapi dia tertawa keras, maka dia mungkin sedang mabuk cinta.
"Ini baru sebagian. Aku harus membuktikan yang lainnya juga," pikir Archi.
Hari Minggu pun tiba. Hari yang dijanjikan Archi untuk pergi menonton. Agust bersiap dan dengan semangat Agust menggunakan kemeja Agust D yang diberikan Archi untuknya.
Archi sangat senang melihat Agust memakai pakaian yang dia berikan. Salah satu bagian yang menjadi tanda kalau Agust memang memiliki perasaan kepadanya.
"Ini pertama kalinya aku ke bioskop," bisik Agust saat mereka memasuki lobi bioskop.
"Tenang saja, kan ada aku," jawab Archi lalu merangkul lengan Agust tanpa canggung. Agust terkesiap, matanya yang membesar menatap takjub ke tangan Archi yang melingkari lengannya. Tiba-tiba saja ritme jantungnya berdegup kencang.
Archi membeli tiket dan memilih film horor untuk kencan pertamanya dengan Agust.
Nulis bagian ini bukan cuma Archi, tapi author bisa merasakan ada kupu-kupu di perut author yang ngebayangin beneran bisa kencan romantis sama mas Agust D Hahay 😹
Dari yang Archi baca di internet menonton film horor dengan pasangan akan membangkitkan romantisme diantara mereka ketika melihat sang wanita ketakutan.
Setelah membeli cemilan dan minuman mereka pun memasuki theater bioskop. Mereka menonton awal film dengan khusyuk. Hingga berjalan terus dan ketika ada adegan jump scare dari film,
"Whoaaaa!" pekik Agust ketakutan bersembunyi di lengan Archi.
"Ya ampun. Harusnya kan aku yang takut dan dia peluk. Kenapa jadi kebalikan gini sih?" batin Archi.
Belum setengah film Agust mengaku menyerah oleh ketakutannya dan ingin keluar. Dengan terpaksa Archi dan Agust keluar.
Tidak ingin hari ini sia-sia, Archi kembali memesan tiket untuk film romantis. Namun film yang berbeda dari yang dia tonton bersama Ridwan.
Di selingan film, ada adegan kissing romantis antara female lead dan male lead, Archi yang malu sendiri melihatnya bersembunyi di lengan kemeja Agust.
Agust terkekeh melihat tingkah polos istrinya. Dia merangkul kepala istrinya dan mengusap rambutnya.
"Adegan kissing lebih menakutkan ya bagimu daripada film horor," bisik Agust dalam kekehannya. Memperlihatkan gummy smile nya yang mengemaskan.
"Iyalah, kalau adegan kissing, bahaya. Kalau mau ikutan kissing, sama siapa coba? Kalau hantu belum tentu juga bisa ngeliat hantu," bisik hati Archi.
Kembali ke tonton, Archi hendak menoleh ke samping pojoknya, dengan telapak tangan kekarnya Agust menutup mata Archi dan membawa pandangannya kembali ke film.
"Ada live action adegan kissing. Nanti kamu takut lagi," bisik Agust.
Deg....
Senyum merekah di wajah Archi. Ternyata Agust begitu perhatian dan pengertian kepada Archi bahkan untuk hal tak terduga seperti ini.
Archi menatap wajah Agust yang sedang menikmati tontonannya sambil makan popcorn miliknya.
"Kenapa ngeliatin aku? Ada film di wajah aku?" tanya Agust lirih tanpa memalingkan pandangannya dari layar bioskop.
Archi merangkul lengan Agust dan bersandar di lengan Agust sambil menonton film. Agust menyuapi popcorn dari tangannya kepada Archi.
"Apakah ini yang namanya cinta? Aku mencintai Agust? Dan apakah ini berarti Agust juga mencintai aku?" pikir Archi lagi tersenyum bahagia.
...~ bersambung ~...