
Pagi hari selesai shalat shubuh, Agust membantu Ibu di dapur.
"Besok Archi ulang tahun, Agust." Kata Ibu memberitahu Agust yang sedang menyiapkan sayuran untuk membuat capcay.
"Kamu sudah punya hadiah untuk Archi?" tanya Ibu.
"Sudah Ibu Mertua." jawab Agust sambil memotong sayuran.
Sudah dibungkus kado?" tanya Ibu memastikan Agust mengerti hal ini.
"Dibungkus kado?" tanya Agust yang seperti dugaan Ibu, dia tidak mengerti tentang hal ini.
"Iya, dibungkus dengan kertas bergambar yang khusus untuk membungkus hadiah-hadiah."
"Oh..." Agust bisa mengerti maksud ibu saat mengingat kotak hadiah yang pernah dia lihat di televisi.
"Ya sudah, nanti ibu belikan kertasnya, ya." kata Ibu berbaik hati menawarkan.
"Besok kita harus masak yang istimewa. Karena Archi ulang tahun. Kita harus bikin cake ulang tahun juga." rencana Ibu untuk besok.
Sore harinya Ibu memberikan bungkus kado kepada Agust yang tengah bermain dengan Kenji di dalam kamarnya.
"Bagaimana cara bungkus kado?" gumam Agust memandangi bungkus kado bergambar kucing setelah ibu pergi.
"Kakak nggak bisa bungkus kado?" tanya Kenji. Agust menggeleng.
"Aku bisa!" kata Kenji dengan bangganya.
"Ibu pernah mengajari aku membungkus kado. Tapi yang sederhana," kata Kenji.
"Ya udah nggak apa-apa. Kenji tolong bantu kakak!" pinta Agust mengaitkan jemarinya satu sama lain di hadapan wajahnya. Agust meminta sambil bermain peran murid dan guru seperti di film-film.
"Baiklah! Hahahah...." tawa Kenji.
Dengan bantuan Kenji, Agust membungkus hadiah untuk Archi. Agust memperhatikan dan membantu Kenji sebisanya.
"Kamu memang anak yang pintar Kenji!" puji Agust memberikan jempol kepada Kenji. Kenji tersenyum bangga.
"Tapi kira-kira...Kak Archi suka nggak ya hadiah dari Kakak?" tanya Agust.
"Pasti suka dong Kak! Tenang aja," jawab Kenji mengedipkan matanya.
"Imut banget sih adikku ini!" gemes Agust mencubit pipi Kenji.
Ke esokan harinya . ..
Di kantor Archi....
"Chi...selamat ulang tahun!" seru kawan-kawan Archi.
"Terimakasih. Ya Allah....terharu banget, kalian inget ulang tahun aku!" kata Archi berakting terharu dengan pura-pura menangis.
"Mana traktirannya?" pinta Susan.
"Yaah...kalian cuman ngasih ucapan, kado aja nggak ngasih. Malah minta traktiran!" gerutu Archi sekedar bergurau membuat 3 teman Archi tertawa.
"Udah gede juga, nggak usah dikadoin!" kelakar Andini. Archi tertawa bersama yang lain.
Tawa ketiga teman Archi perlahan berhenti dan berganti dengan senyum-senyum memandang ke belakang Archi.
"Traktirannya entar pulang kerja aja kita makan-makan," tiba-tiba suara Ridwan menyela. Archi menoleh melihat ke arah Ridwan yang tersenyum di sisinya.
"Pak Ridwan yang bayar kan?" tuding Susan tersenyum jail.
"Yang ulang tahun dong. Ya nggak Chi?" tanya Ridwan mengedip-ngedipkan matanya ke arah Archi.
"Iya gampang. Cuman kalian..." ucapan Archi terputus karena Ridwan menyelanya lagi.
"Teman-teman...nanti sore pulang kerja jangan pulang dulu Archi mau mentraktir kita makan!" seru Ridwan kepada satu ruangan kerja itu.
"Yeeeaaahh....horeee...makan-makan!" sahut yang lain kegirangan.
Archi melongo, mulutnya menganga, terbuka lebar. Teman-teman Archi sama kaget dan bingungnya dengan Archi.
"Kalau sebanyak ini dari mana uangnya?" batin Archi. "Habis tabunganku!" Archi meringis di dalam hati.
Ridwan berbalik dengan wajah penuh senyum puas sambil tetap memandang Archi yang masih terlihat shock.
"Hayoloh Chi!" kata Andini menakuti.
"Yang sabar ya Chi!" ucap Icha menepuk bahu Archi.
Sore hari sepulang kerja. Dengan berjalan kaki semua teman satu ruangan Archi berjalan mengikuti Ridwan ke sebuah restoran di dekat kantor.
Berjalan paling belakang Archi membuka dan melihat dalam dompetnya yang hanya berisi uang seratus ribu dua lembar.
"Harusnya loe marah aja sama Pak Ridwan. Dia enak banget ngajak makan-makan, loe yang bayar!" kata Susan.
"Iya, padahal aku mau traktir kalian bertiga sama Pak Ridwan doang, bukan satu ruangan gini!" jawab Archi begitu getir. Ingin rasanya dia menangis, berjongkok dijalanan ini.
Mereka pun memasuki restoran yang mengusung tema prasmanan itu. Suara alunan musik sunda terdengar merdu sejak memasuki restoran.
"Sebelum kita mulai makan. Kita duduk dulu, baca doa sama-sama untuk yang ulang tahun hari ini," jelas Ridwan dari pengeras suara yang sudah disediakan pihak resto.
Semua karyawan duduk di kursi dengan meja yang sudah disusun memanjang.
"Pak Sholeh...mohon pimpin doanya pak!" pinta Ridwan mempersilahkan. Pak sholeh yang dikenal alim dan pintar agama maju dengan mantap.
"Untuk teman kita yang berulang tahun hari ini Archila, mari kita mendoakan sama-sama agar selalu diberikan berkah panjang umur......," bacaan doa berlanjut hingga pembacaan doa berbahasa Arab dipanjatkan oleh beliau yang diaminkan semua dari tempatnya masing-masing.
Setelah pembacaan doa selesai.
"Sama-sama kita ucapkan terimakasih untuk Archila atas traktirannya ini!"
"Terimakasih Archila!" seru semua yang disambut riuh tepuk tangan membuat Archi tersipu malu dan juga sangat senang.
Mereka pun menyendok makanan masing-masing dan menikmati makanan mereka.
Sementara itu Archi menghampiri Ridwan yang berdiri tidak jauh dari ujung meja prasmanan.
"Pak Ridwan," kata Archi. Ridwan yang tinggi membungkuk sedikit untuk mendekatkan telinganya ke wajah Archi karena berisik musik dan suara orang-orang yang menghalangi pendengarannya.
"Kenapa Archi?" tanyanya.
"Dimana aku harus membayar semua ini?" tanya Archi. "Aku mau tanya berapa yang perlu aku bayar?"
"Oh..." jawab Ridwan singkat dan kembali menegakkan badannya. Seperti anak kecil Archi menarik-narik lengan jas Ridwan.
"Pak!" panggilnya frustasi.
Ridwan tertawa mengejek,
"Hahaha...kalau kamu mau bayar, bayarnya ke aku," jawab Ridwan.
"Kok ke Pak Ridwan?" tanya Archi bingung.
"Karena ini sudah aku bayar. Aku yang sewa untuk ulang tahun kamu!" jawabnya dengan entengnya.
Archi terperangah dengan kejutan ini. Rasanya dia melemas, seolah beban yang menggantung dihatinya tertarik keluar. Namun dia pun merasa jadi tidak enak hati, untuk merayakan ulangtahunnya Ridwan harus mengeluarkan uang pribadinya yang dipastikan jumlahnya tidaklah sedikit.
"Jangan gini Pak. Saya jadi nggak enak. Bapak sebutin aja nominalnya nanti saya bayar, kalau besar saya cicil," jawab Archi yang sudah kembali ke alam sadarnya.
"Nggak usah Archi. Yang ngajakin mereka kan tadi aku, masa iya kamu yang bayar." timpalnya.
"Tapi pak..."
"Udah...nggak apa-apa, ayo kita makan!" ajaknya menaruh tangannya dipundak Archi dan mengarahkannya ke meja prasmanan.
"Ya Allah...aku jadi nggak enak gini. Dia sampai ngeluarin uang banyak buat ulang tahun aku. Ya walaupun bukan aku yang minta. Tapi tetap aja...padahal aku aja udah bohongin dia. gimana kalau dia tahu aku udah nikah, dia pasti kecewa berat." Archi mengambil makanan dengan tatapan kosong. Wajahnya meringis kemudian.
Setelah acara makan-makan selesai, mereka pun pulang ke rumah masing-masing. Ridwan mengantar Archi pulang ke rumah dengan mobilnya.
"Pak, terimakasih banyak ya atas perayaan ulang tahun nya," ucap Archi saat di mobil.
Ridwan tersenyum, "my pleasure," jawabnya hangat. Membuat batin Archi makin meronta sedih.
"Saya akan cicil ya pak biaya makan-makannya," pinta Archi.
"Nggak usah Archi. Jangan panggil Pak, udah nggak ada rekan-rekan kerja kok,"
Setelah berpikir dan menimbang di dalam hati dan pikirannya akhirnya Archi mencoba memberanikan untuk mengungkapkan statusnya yang kini sudah menikah. Archi tidak ingin terus-terusan di hantui rasa bersalah karena merasa telah membohongi Ridwan yang terus bersikap sangat baik kepadanya.
Dengan hati berdebar dan takut, Archi pun coba mengungkapkannya,
"Iya. Ridwan sebenarnya...,"
Mampukah Archi mengucapkan kebenarannya? Lalu bagaimana Ridwan akan menerimanya? Apakah yang akan terjadi di episode selanjutnya?
...****************...