Cinta Agusd Si Kucing Tampan

Cinta Agusd Si Kucing Tampan
85. Digoyang


"Heuh..., elegan katanya!" guman Jeremy dengan sinis menatap nyalang ke arah Ridwan.


"Mungkin aku gagal kali ini. Tetapi aku pastikan di kesempatan selanjutnya aku akan bisa menikmati tubuh Archi, " pikir Jeremy.


...****************...


Sore harinya tanpa terduga, sahabat-sahabat Archi ditambah Ridwan datang ke rumah Archi untuk menengok Archi.


"Kalian jadi repot-repot ke sini," kata Archi saat mereka telah duduk di sofa.


"Nggak repot kok. Kan ada Pak Ridwan yang siap mengantarkan," jawab Susan nyengir menatap Ridwan.


"Aku doang jadinya yang repot Chi," sahut Ridwan disambut gelak tawa semua.


"Suami kamu mana?" tanya Andini.


Ridwan memicingkan daun telinganya karena rasa penasaran. Sebab dari awal datang pertanyaan itu pula yang menggantung dalam pikirannya.


Dia sudah menantikan saat ini, saat memiliki kesempatan untuk bisa bertemu suami Archi. Dan saat ini pun tiba.


"Oh Mas Agust, dia lagi tidur. Semalaman dia ngejagain aku yang belum bisa tidur tenang karena terbayang kejadian buruk kemarin," jelas Archi terdengar muram.


"Terus dia juga lagi sakit, tulang rusuknya ada yang retak." jawab Archi.


"Kok bisa?" seru Susan terlihat khawatir. Begitupun teman Archi lainnya.


Hanya Ridwan yang tengah menatap tajam ke arah author sambil ngedumel dalam hati, "Ni author sengaja ya bikin gue penasaran setengah mati! Dari chapter sebelumnya nggak dikasih ketemu terus!" 😹


"Dia jatuh, rusuknya kebentur." jawab Archi.


"Waduuh, kasian banget sih kalian. Ada aja ujiannya." sahut Susan.


"Ya namanya juga orang hidup San. Ya ada aja ujiannya." timpal Andini.


"Padahal pengen ketemu lagi sama Mas Agust." lontar Susan sambil nyengir. "Kangen," gurau Susan tertawa ngakak.


"Huh...kamu San!"


"Hem...apalagi aku pengen banget ketemu suami kamu, Chi. Pengen tahu seperti apa jodoh kamu, apa lebih ganteng dari aku yang kece badai gini?" inner Ridwan.


"Kemarin gimana ceritanya? Kok bisa pacar kakakmu nekat kaya gitu?" tanya Susan.


"Jadi kemarin itu di rumah nggak ada orang," Archi pun bercerita dengan berat hati.


Dalam duduknya Ridwan tampak resah. Secara nggak langsung dia merasa bersalah kepada Archi, karena walau bagaimanapun Jeremy adalah kakaknya.


Ingin rasanya dia meminta maaf atas nama kakak nya namun dia pun belum siap mengungkap identitas dirinya yang sebenar-nya. Dia lebih nyaman dikenal sebagai Ridwan daripada harus mengungkap-kan dirinya sebagai Rayvin, putra bungsu Tuan Nicholas Selim yang terhormat.


"Aku ke mobil dulu ya semua. Handphone aku ketinggalan." dalih Ridwan agar bisa keluar rumah untuk menenangkan diri.


Ridwan pergi keluar dari rumah Archi.


"Tapi, Pak Ridwan juga nampak aneh pas tahu kamu dilecehkan Jeremy." cepu Icha.


"Aneh gimana?"


"Iya, awalnya dia kelihatan marah banget pas tahu itu. Tapi terus, sambil kaya marah, dia pergi dari kantor, nggak tahu kemana." sambung Andini.


"Sampai sore mau pulang jam kantor baru balik lagi dia ke kantor. Dan ngikut deh pas tahu kita mau ke sini." samber Susan.


"Mungkin dia ada urusan aja kali." jawab Archi selalu berusaha positif.


Yang dibicarakan masuk ke dalam rumah Archi sambil menenteng handphone ditangannya.


"Hayo..., ngomongin aku ya!" canda Ridwan sambil duduk di sofa.


"Iya katanya Archi kangen sama Pak Ridwan padahal baru nggak masuk sehari." jawab Susan asal.


"Ngomong!" Archi memukul lengan Susan dan Susannya malah tertawa melihat Archi kesal.


"Kedengaran laki aku nanti dia ngambek lagi!" omel Archi menatap ke lantai atas.


"Hahaha...suami kamu suka cemburu juga Archi?" tanya Ridwan.


"Iya Pak. Cemburunya besar." jawab Archi.


"Kalau cemburunya besar berarti cintanya juga besar." sahut Icha.


"Heuh...besaran siapa sama aku?" sungut hati Ridwan. "Boleh diadu," sambung hatinya menyombong.


Eh Ridwan...yg jelas ngomongin besaran nya! Author jadi traveling ni mikirnya. 😹


Setelah puas mengobrol, mereka berempat pun pamit pulang kepada Ibu Archi. Archi mengantarkan mereka sampai naik ke mobil. Saat mobil melaju dan lumayan jauh, Agust menghampiri Archi.


"Teman kamu udah pulang? Baru aku mau menemui mereka." kata Agust merangkul pundak Archi.


Mereka berbalik dan memasuki gerbang, dari kaca spionnya Ridwan melihat Agust tetapi hanya bagian samping belakangnya saja. Tepatnya hanya rambut gondrongnya saja yang terlihat olehnya.


"Iya, itu Mas Agust." jawab mereka serempak.


"Ayo balik lagi, aku mau lihat suaminya Archi." kata Pak Ridwan.


"Nggak usah malu-maluin deh Pak. Ngapain coba balik lagi cuman mau liat suaminya Archi." kata Susan.


"Aku penasaran sama dia. Gantengan mana sama aku?" tanya Ridwan.


"Kalian sama-sama ganteng Pak." sahut Icha.


"Ah...nggak spesifik nih."


Di rumah Archi...


"Kamu nggak bangunin aku aja sih tadi pas ada teman-teman kamu. Aku kan jadi enak nggak bisa nemuin mereka." kata Agust.


"Aku kasihan sama kamu, kurang tidur semalam. Jadi pas kamu tidur aku nggak berani bangunin kamu. Lagian mereka pasti ngerti kok." jawab Archi seraya memasukkan baju yang telah disetrika dan dilipat kedalam lemari.


"Gimana rusukmu apa masih sakit?" tanya Archi.


"Masih. Tapi nggak senyeri kemarin." jawab Agust.


Tok...tok...


Pintu kamar Archi terketuk. Agust pun membukakan pintunya.


"Agust, ada yang nyariin kamu tuh. Katanya bos kamu." ujar Ibu memberitahu.


"Irene," bisik Agust menoleh ke arah Archi.


"Ayo, kita turun!" kata Archi penuh semangat.


"Kamu mau ngapain?" tanya Agust curiga.


"Menunjukkan kepadanya, kalau kamu itu udah punya istri." jawab Archi merangkul lengan Agust.


"Hadeuuuh!" gumam Agust dengan menggeleng.


Agust dan Archi turun sambil be rangkulan tangan. Wajah Irene nampak tidak senang.


"Nona Irene!" sapa Agust. Irene menutupi rasa kesalny dengan wajah tersenyum.


"Apa kabar Agust. Aku dengar kamu sakit dari hari Sabtu. Jadi aku inisiatif untuk menengokmu." kata Irene lalu duduk di sofa.


"Iya Nona. Saya mohon maaf karena belum bisa kembali bekerja karena kondisi kesehatan saya." jawab Agust dengan nada menyesal.


"Aku kebelakang dulu, ambilin minum." bisik Archi karena dilambai Ibu dari dapur.


Di dapur...


"Dia bosnya Agust?" bisik Ibu.


"Iya," jawab Archi mengambil nampan minum yang sudah berisi gelas minuman yang ibu buat.


"Cantik juga." celetuk Ibu.


Archi geram mendengarnya, "Ibu!"


"Eh...nggak maksudnya. Kamu juga nggak kalah cantik sama dia." kata Ibu sambil tersenyum memperlihatkan giginya.


"Huh. Dia itu pelakor."


"Hah? Yang benar?"


"Iya, dia mau ngerebut Agust dari aku." ujar Archi.


"Tapi Agustnya mau sama dia?" tanya Ibu.


"Ya mudah-mudahan sih nggak mau." jawab Archi.


"Mudah-mudahan. Karena pasti sulit menolak godaan cewek secantik itu."


Archi memicingkan matanya, menatap sinis dari sudut matanya.


"Iya...iya maaf. Makanya cepet digoyang suamimu. Buat dia kelepek-kelepek sama kamu."


"Ih...ibu...parno. Males aku." Archi berjalan.


"Heh...Archi. Ibu serius!" kata Ibu sebelum Archi meninggalkan dapur.


"Dasar anak itu. Sudah dewasa tapi masih kayak anak-anak." Ibu menggeleng.


...~ bersambung ~...