
Siapakah si penelepon ini? Suaranya terlalu asing untuk Archi. Tidak ada clue untuk Archi agar bisa menebak siapakah dia. Tetapi apa ini ada hubungannya dengan hilangnya kakak? Pikirannya terus berputar dengan segala kemungkinan yang kesemuanya membuat dirinya bergidik, takut.
"Kakakmu bersamaku sekarang." si penelepon memberitahu.
"Kakak!" batin Archi membuat maniknya membesar.
"Bila kamu ingin kakakmu selamat, datang ke alamat yang akan aku kirimkan. Ingat! Datanglah sendiri dan tidak ada yang boleh tahu. Mengerti?" tanyanya. Archi tak menjawab.
"Kenapa diam? Mengerti tidak?" tanya si penelepon membentak kesal.
"Tadi katanya, jangan bicara, dengarkan saja." sahut Archi tak kalah kesal.
"Ah...sudahlah. Apa kamu mengerti instruksi ku sekarang? Jawab!"
"Iya, aku mengerti." jawab Archi.
"Jangan macam-macam, anak buahku sedang mengawasimu sekarang. Kami akan tahu kalau kamu macam-macam, apalagi kalau sampai lapor polisi. Cepat datang!" titahnya menutup panggilan.
"Aku tidak kenal suara itu. Siapa ya dia." pikir Archi berjalan ke pintu keluar mall bagian belakang. "Aku harus ke sana untuk menyelamatkan kaka." kata Archi memberhentikan taksi dan segera menaikinya .
"Archi!" panggil Agust berlari keluar pintu mall, melihat Archi menaiki taksi. "Mau kemana dia?" tanya Agust khawatir berlari keluar dari area mall mengejar taksi yang di tumpangi Archi.
"Permisi Pak! Saya pinjam motornya!" kata Agust menumpak motor tukang ojol yang di tinggal dengan mesin menyala.
"Woy motor gue!" teriak kang ojol mengejar Agust yang telah melesat dengan motornya.
"Yah apek deh gue hari ini."
"Pak!" ayah tergopoh-gopoh menghampiri kang ojol. "Itu menantu saya sedang mengejar anak saya. Ini KTP saya, datang ke sini untuk mengambil motornya nanti malam ya pak. Dan ini uang, itung-itung biaya sewa motornya."
"Tapi benar motor saya balik kan Pak?" tanya Kang Ojol ketakutan.
"Iya Pak. Boleh saya minta nomor teleponnya, saya kabari kalau motornya sudah ada di rumah."
Mereka pun saling bertukar nomor handphone.
Setelah itu, ayah dan ibu datang ke kediaman Tuan Nicholas yang tidak jauh dari mall elite itu. Dengan berwajah murka dia menghadap Tuan Nicholas.
"Dimana kalian menyembunyikan anak-anakku?" tanya Ayah dengan berteriak.
"Menyembunyikan apa?" tanya Tuan Nicholas berdiri dari duduknya di sofa. Di sebrang Tuan Nicholas seseorang yang membelakangi ayah pun ikut berdiri.
"Ridwan!" ayah dan ibu sedikit terkejut melihat Ridwan di sana.
"Aku tahu, pasti ini ulah anakmu. Jeremy!" Bentak Ayah mengindahkan keterkejutannya.
"Apa yang dilakukan Jeremy?" tanya Ridwan.
"Levi menghilang dan sekarang Archi pun menghilang entah kemana." jelas Ayah.
"Apa?" pekik Tuan Nicholas dan Ridwan bersamaan.
"Aku yakin sekali ini ada hubungannya dengan Jeremy." tuduh Ayah dengan yakin.
Ridwan mengambil gawai miliknya dan menghubungi seseorang sambil berjalan keluar rumah.
"Tolong lacak nomor Jeremy." titah Ridwan saat tersambung dalam panggilan teleponnya. Ridwan menaiki mobilnya dan pergi dari kediaman Tuan Nicholas.
"Jangan menuduh anak saya sembarangan. Untuk apa anak saya menculik anak-anakmu." jawab Tuan Nicholas tidak terima atas tuduhan ayah.
"Lalu siapa lagi? Jeremy bahkan nekat ingin memper kosa putriku di rumah kami. Anak mu itu sudah terlalu terobsesi kepada Archi."
"Heuh....pede sekali kamu. Apa secantik itu putrimu? Hingga anakku akan berbuat gila seperti itu?"
"Kita buktikan setelah mereka ditemukan." tantang ayah.
"Baiklah, dan kamu harus berlutut di hadapanku kalau ternyata tuduhanmu itu salah."
"Oke,"
"Nggak apa-apa!" Ayah menggenggam balik lengan Ibu untuk menenangkannya.
Di tempat lain, di sebuah gudang terbengkalai. Kakak duduk di sebuah kursi dengan mulut, tangan dan kaki terikat. Matanya yang berkaca-kaca karena air mata memandang komplotan penculik dengan sinis tidak jauh dari hadapannya.
"Bodoh!" pukul pria tinggi memukul para penculik berbaju hitam bergantian. "Aku menyuruh kalian menculik adiknya, kenapa kalian membawa kakaknya!" Hardiknya.
"Maaf bos Jeremy. Saat itu suara bos kurang terdengar. Saya hanya mendengar menculik pembaca beritanya." sahut seorang berbaju hitam.
"Sudahlah nggak apa-apa, yang penting adiknya pun akan datang." jawab Jeremy memandang Kakak dengan tajam.
"Archi...kakak mohon jangan datang!" batin kakak bersedih.
"Aku sudah muak denganmu!" caci Jeremy mendekat ke hadapan kakak. Membuka ikatan mulut Kakak. "Aku sudah tidak peduli dengan perintah Ayah. Karena bermain-main denganmu, aku kehilangan Archi."
"Kamu gila!"
"Iya, aku memang gila." pekik Jeremy penuh emosi. "Aku tergila-gila kepada adikmu. Aku hampir tak waras saat tahu Archi tiba-tiba menikah. Namun aku masih harus melakukan satu hal, yaitu memanfaatkan mu demi harta warisan. Tetapi itu tetap tidak bisa membuatku mengikhlaskan Archi."
Kakak menitikan air mata mendengar langsung pengakuan menyakitkan dari pria yang dia cintai. Mata dan hatinya yang telah dibutakan cinta membuatnya menyesal karena tidak pernah percaya dengan kata-kata Archi dan keluarganya. Dan tetap mempercayai Jeremy yang ternyata hanya menipunya.
"Kalian berjagalah, aku akan pergi sebentar. Bila gadis itu datang langsung tangkap dan ikat saja dia." perintah Jeremy.
"Baik bos." jawab komplotan itu.
Archi pun sampai di alamat yang dikirimkan kepadanya. Hatinya terasa amat takut ketika melihat gudang tua di hadapannya. Entah kejahatan apa yang akan dia temukan di dalam. Namun dia harus memberanikan diri, demi menyelamatkan kakaknya yang dia sayang.
Dengan langkah mengendap-ngendap Archi berjalan memasuki area gudang yang sepi. Perlahan dia memasuki gudang. Di ruangan di sisinya, dia melihat kawanan penculik yang sedang asyik bermain kartu sambil mabuk.
Tawa mereka menggelegar membuat Archi ciut, namun dia terus melangkah. Sebisa mungkin dia tidak membuat suara agar keberadaannya tidak diketahui kawanan itu. Semakin ke dalam dia melihat kakaknya terikat.
"Kakak!" gumamnya berjalan cepat ke dekat kakaknya dan mencoba membukakan tali tangan Kakak yang terikat kuat.
"Archi..kenapa kamu datang. Ini jebakan untukmu." kata Kakak sementara Archi mencoba membuka ikatannya.
"Jebakan?" Archi bingung namun sebisa mungkin fokus membuka tali.
"Jeremy yang melakukan ini. Dia,"
"Wah....ternyata yang aku tunggu sudah datang!" seru Jeremy yang tiba-tiba muncul mengejutkan Archi dan Kakak.
Kawanan itu datang ketika mendengar suara Jeremy.
"Dasar bodoh! Tangkap wanita itu!" perintah Jeremy. Mereka bergerak mendekat ke arah Archi.
Archi mengibaskan kayu yang dia temukan di bawah. "Jangan mendekat!" Archi melawan namun dia yang hanya seorang wanita dihadang beberapa pria bertubuh besar, dengan mudah dikalahkan.
Seseorang dari mereka mengikat kakak lagi. Dan yang lain menyerahkan Archi yang telah diikat tangannya kepada Jeremy.
"Lepaskan aku dan kakakku!" pinta Archi.
"Heuh...untuk apa aku susah payah menculik kalian kalau hanya untuk aku lepaskan dengan mudah." jawab Jeremy.
"Apa maumu sebenarnya?" tanya Archi.
"Dirimu. Aku menginginkan kamu Archi. Iya, aku sungguh-sungguh menginginkan dirimu. Kenapa kamu tidak pernah menyadari itu?" Jeremy menatap dengan mata polos ke dalam mata Archi.
Sedikit rasa iba terbesit di hati Archi melihat manik Jeremy yang seolah tulus mengatakan perasaannya. Namun itu hanya sesaat karena teringat kejahatan yang sudah Jeremy lakukan.
"Ikut aku!" Jeremy menarik tangan Archi. Archi bertahan di posisinya. Jeremy menoleh kepadanya. "Ikut aku, atau kamu mau melihat Kakakmu mati dihadapanmu." kata Jeremy. Dengan matanya dia menyuruh anak buahnya menodongkan pistol di dahi kakak.
"Aaaa!" jerit Levi ketakutan.
"Kakak!" tubuh Archi gemetar hebat melihat kakaknya dalam bahaya.
...~ bersambung ~...