
"Pak....anda mau apa?" tanya Archi suaranya tercekat oleh rasa takut. Napas Archi berubah seiring jantungnya yang berpacu.
"Aku..." Ridwan kehilangan kata-kata tatkala pintu lift terbuka. Dia menjauh dari Archi dengan sekejap mata. Meninggalkan Archi di dinding lift dengan napas yang belum teratur. Rasanya tulang-tulangnya menjadi lunak. Ingin rasanya dia berjongkok dan memeluk kaki namun rasa malunya lebih besar dari itu.
Sepasang kekasih masuk ke dalam lift. Mereka melihat Archi dan Ridwan sekilas lalu tersenyum berdua saat mereka berbalik menghadap pintu lift. Walau tidak tahu pasti tetapi Archi bisa menebak apa yang mereka pikirkan.
Mata Archi yang terasa sembab dan ingin sekali menangis ditahannya. Dia melirik tajam ke arah Ridwan yang seolah tidak terpengaruh. Dia tidak pernah menyangka kalau Ridwan bisa berbuat begitu. Ridwan yang selama ini dikenalnya sebagai pria santun dan pintar.
Ketika lift sampai di lobi hotel dan pintu lift terbuka, mereka berhamburan keluar.
"Archi!" panggil Ridwan. Namun Archi pura-pura tidak mendengar dan terus berjalan menuju pintu keluar.
"Archi...!" Ridwan menarik tangan Archi. "Hey...dengar dulu!" paksanya.
Archi memejamkan matanya, "Archi maafkan aku. Aku nggak bermaksud ngapa-ngapain kamu. Aku cuman mau menyatakan perasaanku," aku Ridwan membuat Archi tertegun menatap wajah Ridwan yang terlihat tulus.
"Benarkah?" tanya Archi dengan wajah polosnya. Ridwan mengangguk seraya tersenyum.
"Maaf sudah membuatmu jadi salah paham," kata Ridwan.
"Iya, ya sudah nggak apa-apa. Aku permisi, pak!" pamit Archi.
"Tapi...Chi...!" Archi terus berjalan keluar pintu hotel. "Tanggapan kamu bagaimana? Kenapa dia malah pergi tanpa memberi jawaban apa-apa?" Sesal Ridwan.
"Tapi nggak apa-apa deh. Seenggaknya dia nggak lagi salah sangka sama gua," gumamnya.
"Loe ngapain? Ditungguin dari tadi malah ngoceh di sini sendirian," kata salah seorang teman Ridwan yang bernama Jerry, menepuk bahu Ridwan.
"Eh...sorry...sorry...ada gebetan gue tadi." jawab Ridwan.
"Hahaha...si Archila di sini juga? Ngapain dia? Open BE O," kelakar Jerry tanpa adab.
BUUUUGGGGGHHHHH.....!!!!!
Bogem mentah dilayangkan kepalan tangan Ridwan di wajah Jerry sampai dia tersungkur. Hasil latihan boxingnya selama ini tidak sia-sia.
Orang-orang yang berada di sana memandang ke arah mereka. Security bersiaga ditempatnya bila mereka masih akan adu tinju. Beberapa terdengar misah misuh membicarakan mereka hingga membuat Jerry merasa malu diperhatikan banyak orang.
"Kok loe nonjok gue?" tanya Jerry sambil memegang pipinya yang sudah memerah dan terasa panas cenat cenut.
"Ngomong pake adab bro!" timpal Ridwan.
"Jangan asal nyablak. Archi itu cewek baik-baik. Nggak kaya cewek yang sering lu tidurin itu. Jadi jangan asal ngomong," bela Ridwan penuh emosi. Ridwan pun berjalan menuju ruang mereka akan mengadakan rapat.
"Siaalll..., tuh orang!" kutuk Jerry menatap tajam ke arah kepergian Ridwan. "Bikin gue malu aja. Mana sakit banget lagi pukulannya," keluhnya dalam hati.
"Awas aja loe....gua balas suatu saat nanti!" tekadnya dalam hati.
Setelah Archi membeli baju dan daleman untuk Agust dia kembali ke kamarnya. Saat Archi menempelkan kartu ke kunci kamarnya, Agust gemetar takut dipojokan sofa. Layaknya kucing yang sedang meringkuk takut.
Pintu pun terbuka, Archi muncul kemudian. Senyum lebar mengembang di wajah Agust.
"Kamu kenapa?" tanya Archi terkekeh melihat Agust yang menggemaskan.
"Aku takut tadi, saat ada yang memencet bel berkali-kali. Makanya aku pikir orang lain yang membuka kunci pintunya." jelas Agust duduk dengan normal lagi.
"Tadi Ridwan. Manager aku. Yang pernah kamu lihat tempo lalu." jawab Archi.
"Dia bilang sih dia salah kamar." sahut Archi.
"Apa mungkin bisa sekebetulan itu? Dia memencet bel yang salah, dengan kamar yang kamu tempati?"
"Bener juga sih. Tapi..., udahlah. Kamu nih kebanyakan nonton drakor sama Ibu jadi gitu deh,"
"Drakor seru loh. Aku suka Pororo dan Drakor," jawab Agust.
"Iya..iya. Ini bajumu. Pakai deh!" pinta Archi.
"Oke!" sahut Agust berdiri mengambil paperbag bajunya.
Dia mengeluarkan seluruh isi paperbagnya. Dengan enteng nya dia ingin memakainya di situ juga. Agust mengambil ****** *****, membungkuk hendak memasukan ****** ***** ke kakinya.
"Eee....ngapain kamu?" tanya Archi menutup wajahnya dengan telapak tangannya. Padahal satu kelingkingnya dibuka agar matanya bisa melihat ke arah Agust.
"Pakai bajulah!" timpalnya. "Tadi kamu yang nyuruh, kan."
"Yaa jangan di sini juga atuh Agust!" protes Archi geleng-geleng. "Di kamar mandi sana!" usirnya.
Agust pun pergi ke kamar mandi dan memakai baju di sana.
"Tadi untung kamu datang. Kalau nggak hampir aja aku bukakan pintu." kata Agust sementara Archi telah merebahkan diri di kasurnya.
"Aku tadi kepikiran kamu, perasaanku nggak enak jadi aku pikir buat kunci pintu aja. Ternyata bener, Ridwan udah ada di sana." jawab Archi menaruh bantal dan guling di tengah-tengah tempat tidur untuk pembatas.
"Kalau tahu kamu sebentar jadi kucingnya aku pasti pilih kamar yang ada dua tempat tidurnya," gerutu Archi.
"Ya Seenggaknya kasur di sini lebih lega dari tempat tidur kamu di rumah. Aku sakit badan nggak bisa banyak gerak di kasur kamu. Mana nggak boleh deket-deket kamu, makin nggak leluasa bergerak," cerocos Agust.
Archi menaikan sudut bibirnya yang manyun.
"Jadi kamu ngeluh?"
"Nggak." Agust nyengir. "Enak kok di kasur kamu. Jadi hangat," kilah Agust sambil duduk diatas tempat tidur lalu menepuk-nepuknya sambil nyengir.
...****************...
Keesokan harinya. Sekitar pukul dua siang Archi dan Agust check out dari hotel. Mereka berjalan bersama menuju ke pintu utama hotel.
"Itu kan si Archila!" gumam Jerry, rekan Ridwan yang kemarin ditonjok oleh Ridwan.
Berbeda dengan kemarin yang berstyle rapih berjas, kali ini dia mengenakan pakaian casual. Polo shirt berwarna biru langit, ditambah celana pendek selutut berwarna putih dengan gesper coklat melingkar dipinggangnya dan kacamata hitam.
Dia kembali ke hotel karena ada beberapa barang miliknya yang tertinggal di hotel.
Rekan Ridwan itu mengambil handphone dari saku celananya dan memotret Archi bersama Agust dari arah belakang. Kebetulan Archi yang mengobrol dengan Agust menoleh ke arah Agust di sisinya, hingga wajah sampingnya terpotret dengan jelas.
"Kita lihat, apa kamu masih bisa membela Archila, Ridwan!" bisiknya menyeringai jahat melihat foto-foto di handphone-nya.
"Heuuh..., katanya dia berbeda. Buktinya dia keluar hotel bersama seorang cowok. Ngapain di hotel sama cowok? Main kartu?" gumamnya terkekeh puas.
"Ridwan...Ridwan...hari gini masih aja bisa dikibulin cewek!" dia memasukan handphone ke dalam saku celananya sambil menyeringai jahat.
...****************...