Cinta Agusd Si Kucing Tampan

Cinta Agusd Si Kucing Tampan
46. Seven


"Dia sama siapa?" tanya hati Archi.


"Itu..., kenapa hatiku seperti teriris melihatnya bersama cewek lain?" sambung hati Archi.


"Kamu kenapa Chi?" tanya Ridwan. Menyadarkan Archi dari lamunannya.


"Nggak...nggak kenapa-kenapa Pak," jawab Archi dengan suara serak.


"Kamu jadinya, mau langsung aku antar pulang atau mau aku ajak jalan-jalan dulu? Makan dulu gitu," tanya Ridwan menawari Archi beberapa opsi.


"Kita jalan-jalan dulu, Pak. Kalau bapak nggak keberatan."


"Kok kamu manggil aku bapak terus Chi?"


"Oh iya, lupa. Kebiasaan di kantor," Archi tersenyum dengan giginya terlihat.


"Jadinya berubah pikiran nih. Mau aku ajak jalan dulu nggak langsung pulang," Ridwan terkekeh menoleh ke arah Archi sambil menyalakan mesin mobilnya.


"Aku malas pulang karena lihat Agust sama cewek lain," dengus Archi dalam hatinya.


"Iya Pak. Aku perlu mencari udara segar." jawab Archi.


"Nafasku juga segar," gurau Ridwan sambil tangannya menyalakan pemutar musik di dashboard mobilnya. Sebuah lagu terbaru dari golden maknae BTS Jungkook - Seven.


"Apa sih Pak." Wajah Archi yang tertunduk bersemu merah.


"Bercanda Chi," sahut Ridwan tertawa kecil dan kembali fokus menyetir.


Bagian chorus, terputar.


"Monday, Tuesday,....." Suara Jungkook menyanyikan bagian chorus.


Ridwan mencuri pandang kepada Archi. Mereka bertemu tatap.


"I’ll be lovin’ you right...Seven days a week" bagian lain chorus, Ridwan tersenyum dan kembali melihat ke depan.


Archi kembali tersipu malu, tertunduk sambil memainkan tali tas sling bagnya.


"Seandainya aku menikahimu, aku akan memutar lagu ini dengan yang explicit version untukmu Chi," kata Ridwan berpikiran nakal sambil menaikan sudut bibirnya.


*Army pasti tahu lirik lagu Seven Jungkook versi explicit version isinya apa 😹


Berbeda dengan yang ada di pikiran Ridwan. Kali ini Archi sedang terpirkan,


"Kenapa aku harus marah melihat Agust bersama yang lain sementara aku saja bisa berteman dengan Ridwan. Lagipula aku harus sadar diri, walau status kami suami dan istri, tetapi belum tentu hati Agust pun menganggapnya seperti itu," batin Archi.


Akhirnya mereka sampai di sebuah restoran dengan tema pinggir danau. Ridwan keluar untuk membukakan pintu Archi. Archi keluar. Ridwan menaruh lengannya dipinggang dan meminta Archi menyampirkan lengannya di sana.


"Bukan mahram, Pak!" tolak Archi secara halus.


"Pak...lagi!"


Ridwan mendengus kasar, dan lemas menjatuhkan lengan di pinggir tubuhnya.


Archi terkekeh berjalan di belakang pria tinggi itu.


Di rumah Archi....


Agust membuka pintu utama rumah dan melihat Ayah, Ibu dan Kenji tengah menonton televisi di ruang tamu.


"Assalamualaikum!" ucap Agust berjalan menghampiri kedua mertuanya dan mencium tangan mereka. Kenji pun ikut mencium tangan Agust.


Agust duduk di single sofa yang berada di depan jendela yang menghadap ke depan rumah.


"Kok baru pulang, Gust?" tanya Ayah.


"Lembur Yah. Anak delivery shift sore nggak masuk kerja. Jadi aku yang menggantikannya," jawab Agust.


"Oh, tapi tumben Archi juga belum pulang," kata Ayah melongok jam dinding di atas kepala Agust.


"Archi belum pulang? Satu jam yang lalu aku lihat dia di jalan depan komplek lagi ber...," jawab Agust segera menutup mulutnya yang keceplosan.


"Jadi Archi sudah pulang?" tanya Ibu sedikit terkejut karena Archi belum sampai rumah kalau dia memang sudah di depan komplek.


"Eh...tapi nggak tahu juga sih Ibu Mertua. Mungkin aku salah lihat," sela Agust kemudian, berbohong.


"Tapi aku memang nggak salah lihat. Aku memang melihat Archi pelukan sama pria yang waktu itu," sahut hati Agust merasa kecewa.


"Mungkin mereka jalan-jalan dulu. Harusnya aku jangan terlalu berharap banyak dari pernikahan ini. Archi menikahi aku saja terpaksa. Hak dialah, kalau dia mau sama pria lain juga." sambung hatinya mencoba tegar.


"Tapi mengapa hatiku terasa perih gini ya? Menghadapi kenyataan ini." tanyanya.


"Nggak apa-apa, Yah. Aku ke kamar dulu ya, Ayah, Ibu." pamit Agust.


"Oke," jawab Ayah. "Selamat istirahat!"


"Dadah Kak Agust!" Kenji melambai saat Agust lewat di depannya.


"Dah...Kenji!"


Di kamar...


Agust membanting tubuhnya ke atas tempat tidur. Berbaring di sana dengan tangan dan kaki yang ia rentangkan lebar-lebar. Merasakan lembut dan empuknya kasur di belakang tubuhnya yang terasa pegal.


Kemudian......


Archi turun dari dalam mobil Ridwan setelah Ridwan membukakan pintu untuknya. Mereka berbincang sebentar di sana sebelum akhirnya Ridwan pamit pulang.


Wajah Archi terlihat cerah dengan senyum yang enggan memudar dari wajahnya. Dia membuka pintu, dan melonjak kaget saat itu juga.


"Ayah!" seru Archi mengusap dadanya yang bergemuruh hebat di dalam.


Memasang wajah sangarnya, Ayah bertolak pinggang dengan tatapan tajam di hadapan Archi.


"Sedang apa Ayah di situ? Mengangetkan aku saja," keluh Archi sambil menutup pintu kembali.


"Berapa kali harus ayah ingatkan tentang berjalan berdua dengan yang bukan mahramnya?" dengus Ayah.


"Ya ampun Yah...itu kan atasan Archi , Yah!" sahut Archi.


"Tetap saja tidak boleh!" tegas Ayah menunjukkan telunjuknya.


"Kamu sekarang sudah punya suami, harus bisa menjaga perasaan nya. Coba bayangkan apa yang akan suamimu pikirkan saat melihatmu berduaan dengan pria lain," sambung Ayah.


"Huh...dia saja boncengan mesra sama cewek lain. Kenapa aku harus jaga-jaga perasaan dia," ketus hati Archi.


"Archi... Ayah sedang bicara denganmu!" panggil Ayah. Mengembalikan Archi ke alam sadarnya.


"Iya, Ayah. Maaf!" jawab Archi sedikit menggumam.


"Lagian aku sama Agust aja nikahnya terpaksa, Yah. Kenapa aku nggak boleh, kalau deket sama cowok lain,"


"Astagfirullah si Archi...!" Ayah terguncang mendengar ucapan Archi.


"Jangan bilang kamu suka sama atasan kamu itu, ya?" terka Ayah.


"Nggak... Aku cuman heran aja, kenapa aku harus membatasi pergaulanku di saat pernikahan ini saja karena terpaksa."


"Dengar Ayah, Archi! Apa nabi kita pacaran dulu ketika menikah? Proses ta'aruf, apa mereka pacaran dulu sebelum memutuskan menikah?


"Sama saja dengan kasus pernikahan kamu ini. Dari yang hanya sebatas kenal atau bahkan belum kenal sama sekali, mereka menikah dan menjalani pernikahan mereka dengan sebaik mungkin. Hanya karena mengharap ridho Allah.


"Tidak ada cinta-cintaan seperti anak muda zaman sekarang. Pernikahan itu bukan untuk main-main Archi, selama kalian sudah berjanji kepada Allah untuk hidup bersama lewat ijab qabul, kalian wajib menjalankan pernikahan kalian dengan baik, tanpa paksaan. Hanya mengharap ridho Allah. Mengerti Archi?" pungkas Ayah menyudahi ceramahnya.


"Iya Ayah, mengerti." jawab Archi menyesali kata-katanya sebelumnya.


"Tetap hormati suamimu, ada ataupun tidak ada cinta di hatimu. Karena itu sudah menjadi kewajibanmu," kata Ayah.


"Baik, Ayah."


Ceramah Ayah seolah menjawab pemikiran dirinya sebelum ini tentang status Archi dan Agust yang menikah tanpa ada cinta. Semacam kebetulan yang membukakan pintu hati Archi untuk bagaimana seharusnya menjalani pernikahan ini.


Archi naik ke lantai dua menuju ke kamarnya. Dilihatnya Agust yang sudah tertidur pulas dengan tangan dan kaki terbentang memenuhi kasur single miliknya.


"Dia tidur?" Archi melongok ke wajah Agust dengan mata terpejam dan mulutnya yang terbuka sedikit.


"Kalau gini, aku tidur di mana coba?" kata Archi lagi sambil membawa perlengkapan mandinya keluar kamar.


Setelah mandi,


"Kalau aku geser, takut menggangu tidur dia. Kasihan, sepertinya dia lelah banget.


Archi merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur dan menjadikan lengan Agust bantalannya. Archi memandang langit-langit kamar, berkelana dengan pikirannya sendiri.


Archi menolehkan wajahnya, menatap wajah Agust yang tertidur,


"Suamiku!" bisik Archi.


...****************...