
"Apa Bu?" suara Archi menampakkan keterkejutannya, matanya membesar dan air wajahnya menampakkan kekhawatiran.
Kawan-kawan Archi menatap Archi dengan khawatir dan penasaran dengan apa yang Archi dengar sampai menunjukkan ekpresi seperti itu. Tak lama Archi menutup panggilannya. Kedua teman Archi itu mengerumuni meja Archi.
"Kenapa?" tanya Andini dengan lirih.
"Susan sakit," jawab Archi.
"Ah masa sakit doang ekpresi kamu sampai pucat begitu," tukas Andini tidak percaya.
"Sakit hati," sambung Archi berbisik muram.
"Sakit hati?"
"Iya. Semalam saat akan mengantarkan kemeja untuk digunakan Boby ke kost an. Dia mergokin Bobby lagi in the hay sama perempuan lain." cerita Archi seperti yang diceritakan Ibu Susan tadi.
"Ya Allah Susan. Kasian banget sih dia." iba Icha.
"Padahal Minggu ini mau tunangan, eh malah digituin cowoknya." sambung Andini.
"Kayanya itu bukan pertama kali dia main di belakang Susan," sahut Archi.
"Iya. Tapi lebih baik begini, sebelum menikah ketahuan belangnya. Daripada pas nikah." Andini menimpali.
"Nanti kita ke rumahnya Susan yuk. Dia pasti lagi down banget sekarang." usul Archi.
"Ya udah ayok!"
Pulang bekerja...
"Kalian mau kemana?" tanya Ridwan yang mencuri dengar saat dia keluar dari ruangannya.
"Mau ke rumah Susan. Mau mengantarkan kami nggak Pak?" tanya Archi tiba-tiba.
"Loh tumben, minta diantar? Biasanya harus aku terus yang menawarkan diri," jawab Ridwan terkekeh.
Archi tersenyum, "biar hemat ongkos Pak. Rumah Susan jauh harus dua kali naik kendaraan umum." sahut Archi malu-malu.
"Hahaha...kamu itu Archi. Polos banget." jawab Ridwan.
"Ayo berangkat!" seru Ridwan.
Mereka pun berangkat ke rumah Susan. Trek yang dijalani lumayan jauh dan berliku. Belum lagi ketika masuk jalan kampungnya, jalanan aspalnya sudah banyak yang berlubang.
"Udah kaya ikut off-road." kata Ridwan bercanda.
"Mobilnya aman, Pak?" tanya Archi yang duduk di sebelah Ridwan yang menyetir.
"Aman. Mobil SUV jagonya jalanan begini." jawab Ridwan.
"Memang Susan kenapa sih? Sakit?" tanya Ridwan. Mereka pun menceritakan apa yang terjadi kepada Ridwan sepanjang sisa perjalanan ini.
Setelah perjalanan panjang, mereka pun sampai di rumah Susan. Mereka mengetuk pintu rumah Susan yang nampak lengang.
Seorang ibu-ibu mengenakan daster dengan rambut cepol belakang membukakan pintu rumah.
"Archi!" sapanya tersenyum ramah melihat Archi terlebih dahulu. "Andini, Icha. Ayo masuk Nak!" ajak Ibu Susan.
"Assalamualaikum!" sapa Archi.
"Wa'alaikumsalam!" Archi dan semua mencium tangan Ibu Susan.
"Susannya di kamar nggak mau keluar dari semalam." kata Ibu Susan terdengar khawatir.
"Mudah-mudahan dengan adanya kalian dia mau keluar." sambung Ibu Susan.
Archi dan yang lainnya duduk di sofa sementara Ibu Susan memanggilkan Susan.
Tidak lama Susan keluar dan nampak berantakan dengan matanya yang sembab setelah banyak menangis.
"Kalian," kata Susan lesu.
"Pak Ridwan!" sapanya kepada atasannya itu. Susan pun ikut duduk di sofa.
"Yang sabar ya San!" kata Andini yang hanya dijawab anggukan sedih oleh Susan.
"Ini, minuman dan makanannya. Seadanya, nggak apa-apa, ya?" kata Ibu Susan menyajikan 5 cangkir teh hangat dan sepiring biskuit yang iklannya Lee Min Hoo.
"Nggak apa-apa Bu. Maaf jadi merepotkan."
"Oh iya lupa. Ini bu sedikit!" kata Ridwan memberikan kantong berisi kotak kue merk terkenal kepada Ibu Susan.
"Wah. Terimakasih. Jadi merepotkan." jawab Ibu Susan.
"Dia Manager kita Bu." jelas Susan.
"Walah....Pak Manager toh. Maaf saya kurang sopan." jawab Ibu Susan.
"Nggak kok Bu. Biasa aja." jawab Ridwan jadi merasa nggak enak.
"Dia pacarnya Archi."
"Heh...jangan mulai gosip." tukas Archi. Mereka tertawa.
"Nak Archi sudah nikah, ya?"
"Iya Bu." jawab Archi tersenyum.
"Lain kali ajak main ke sini, Ibu mau kenal." kata Ibu Susan.
"Iya bu nanti kapan-kapan saya ajak ke sini." jawab Archi malu-malu.
"Ibu ke dalam dulu." Pamit Ibu Susan masuk ke dalam lalu disahut iya oleh semuanya.
"Gimana ceritanya San?" tanya Andini.
"Tau akh. Kesel banget gua sama si Boby." sungut Susan kesal.
"Aku udah setia-setia. Waktu hari mendekati pernikahan dianya ketahuan selingkuh." tambah Susan dengan sedih.
"Tapi kan untungnya ketahuan sebelum nikah San. Kalau udah Nikah coba, lebih parah kan." kata Icha.
"Iya, aku juga mikirnya gitu. Nggak nyangkanya dia selingkuh sama teman dekat dia sendiri. Adik Kakak an, taek lah. Adik kakak ha ha hi hi di kasur!"
"Dia tadinya nggak tahu kamu mau ke kostan dia?" tanya Archi.
"Nggak, emang nggak ada rencana. Cuman abis beliin dia kemeja aku inisiatif ke kostan dia kan, nganterin. Eh tahu tahunya,"
"Terus dianya gimana sekarang?" Andini bertanya.
"Dia bilang dia nyesel, dia cuman khilaf. Minta maaf, minta kasih kesempatan. Gua tinggalin aja!"
"Iya Bagus. Jangan kasih kesempatan cowok kaya gitu." sahut Ridwan. Mereka di sana memandang ke arah Ridwan.
"Kenapa? Aku salah?" tanya Ridwan bingung.
"Kamu kan laki-laki, biasanya laki bela laki."
"Nggak lah. Kalau salah ya salah. Selingkuh sampai tidur di kasur dibilang khilaf, gimana khilafnya coba." jawab Ridwan.
"Iya betul."
"Mudah-mudahan Allah cepat mengganti dengan jodoh yang terbaik ya San." Doa Archi.
"Iya Chi. Kasih keberuntungan kamu atuh buat aku." kata Susan.
"Keberuntungan apa?"
"Itu, jodoh kamu baik-baik. Nggak ada drama kaya aku."
"Itu semua kan Allah juga yang nentuin San. Banyakin doa aja," jawab Archi.
"Lagian, kalau Archi kan nggak macam-macam orangnya, jadi dia dapat jodoh juga yang nggak macam-macam. Beda sama kamu," sahut Andini. Archi dan yang lain tertawa.
"E...eee..apa maksudnya aku macam-macam!" kata Susan menahan tawanya sementara yang lain tertawa.
Meninggalkan Archi dan kawan-kawannya menghibur Susan yang bersedih. Di jalanan komplek yang sunyi dan mulai gelap, langkah lesu Agust menapaki jalanan aspal nan mulus. Kakinya menendang-nendang kerikil yang dia temui menghalangi langkahnya.
Pikirannya masih tak tenang, memikirkan Archi dan cintanya yang bertepuk sebelah tangan. Hingga getaran handphone di saku jaketnya membuyarkan semuanya. Buru-buru dia merogoh saku jaketnya dan melihat nama si pemanggil. Besar harapan dia, Archi lah yang menghubunginya. Bahkan panggilan telepon pun senang mengecewakannya.
Bos Irene. Nama yang tertera di sana. Berat untuknya mengangkat panggilan masuk itu. Agust memasukan lagi handphone dalam sakunya. Mencoba nggak peduli. Ini sudah bukan jam kerjanya, sudah habis tanggung jawabnya untuk mentaati bosnya.
Namun panggilan yang terhenti kembali memanggilnya. Dengan kesal Agust menekan tombol telepon berwarna hijau. Dari sebrang sana suara Irene terdengar bergetar, dia seperti sedang ketakutan.
"Halo....!" sahut Agust.
"Tolong aku Agust! Aku rasa ada yang memasuki rumah ku." katanya. Agust memasang mode waspada.
"Siapa?" tanya Agust.
"Aku nggak tahu. Mereka di lantai bawah. Dan aku di lantai dua. Bersembunyi di kamarku." jelasnya dengan berbisik.
"Aku akan segera ke sana!" Dengan berlari Agust memutar arah menuju ke rumah Irene.
...~ bersambung ~...