Cinta Agusd Si Kucing Tampan

Cinta Agusd Si Kucing Tampan
73. Bunga Tidur


"Apa?" kawan-kawan Archi yang mendengarnya semua terperangah. Mereka nggak menyanyka Archi akan menjawab seperti itu.


Ridwan yang baru keluar dari ruangannya setelah mendengar keributan lebih terkejut dari semuanya. Meski shock, hatinya tetap bisa merasakan kebahagian dengan pengakuan Archi yang tiba-tiba. Dia tersenyum dengan cerahnya.


"Nggak tahu diri banget sih lu Welin. Kalau bukan permintaan Archi mungkin lu udah di keluarin dari kantor. Baru kemarin diselamatkan, sekarang menginjak-nginjak Archi lagi." bela Susan.


"Biarin aja mereka San. Suka-suka mereka mau ngomong apa. Aku udah nggak peduli." kata Archi seraya berbalik lalu berjalan ke mejanya lagi.


"Aku duluan ya, Susan, Andini, Icha." kata Archi mengambil tas dan berjalan menuju lift.


Ridwan berjalan cepat menyusul Archi.


"Makan tuh!" kata Susan yang melihat Welin terbakar cemburu melihat Ridwan mengejar Archi.


"Tapi aku syok! Apa iya, Archi cinta sama Pak Ridwan?" bisik Andini dengan manik bersarnya.


"Iya, aku juga. Dia udah jatuh cinta kan sama suaminya. Tapi dia ngomong dia cinta sama Pak Ridwan." timpal Icha dengan wajah herannya.


"Kalau kata aku, Archi nggak benar-benar ngomong gitu. Dia cuman emosi dan mau balas si Welin nggak tahu diri itu." simpul Susan mencoba mengerti Archi.


Sementara itu di depan lift.


"Archi!" Ridwan menarik tangan Archi.


Langkah Archi terhenti dan terkesiap, memandang Ridwan.


"Aku anter ya!" kata Ridwan.


Pintu lift terbuka. Mereka pun masuk ke dalam lift bersama. Wajah Archi masih menunjukkan kejengkelan dan kemarahannya. Dia hanya terdiam memandang ke depan. Sinar matanya tajam.


Ridwan tidak berani bersuara melihat Archi seperti itu. Sepanjang perjalanan mereka hanya diam. Sesekali Ridwan melirik dan menimbang untuk mengajak Archi berbicara. Lagi-lagi dia selalu mengurungkan niatnya agar Archi bisa tenang dulu.


"Sebenarnya aku penasaran, ingin tahu, apa yang Archi katakan tadi itu memang benar? Tetapi, sebaiknya aku diam dulu. Aku mengerti perasaan dirinya sekarang." kata hati Ridwan sambil fokus menyetir.


Sesampainya di rumah Archi. Archi mencoba bersikap biasa, melupakan segala kekesalannya hatinya sejak kemarin.


"Kamu udah nggak marah, soal masakan itu?" tanya Ibu saat Archi menunggu makan malam di meja makan.


"Nggak." jawab Archi.


"Kamu masih mau belajar masak?" tanya Ibu lagi.


"Nggak. Aku udah nggak tertarik sama masak memasak." jawab Archi.


Ayah yang menggendong Kenji dan Agust datang memasuki ruang makan.


"Kakak lagi ada siaran malam bu?" tanya Ayah mendudukan Kenji di kursi meja makan.


"Iya. Tapi udah ibu bawakan bekal." jawab Ibu.


"Dia bawa mobil sendiri?" tanya Ayah lagi.


"Iya." Ibu mengambilkan makanan ke piring Anggota keluarganya.


Archi memperhatikan Agust yang biasa ceriwis dan tersenyum khasnya, sekarang hanya menunduk dan diam dengan wajah murungnya.


"Ada apa sama dia? Kenapa dia murung begitu?" tanya Archi melihat Agust dari sudut matanya.


Selesai makan malam, Archi dan Agust pergi ke kamar mereka. Di dalam kamar Agust masih lesu duduk di kursi meja belajar memegangi pena yang tidak menggores kertas sedikitpun sedari tadi.


"Apakah benang merah jodohku nggak terikat sama Archi?" tanya Agust di dalam hatinya.


"Tetapi hatiku begitu senang memiliki dirinya sebagai istriku." sambung pikirannya.


"Bila benang jodohku bukan dengannya, bagaimana? Selama ini aku merasa hanya merepotkan dirinya tetapi nggak pernah menjadi sesuatu yang berguna untuknya. Berbeda dengan orang lain, yang selalu bisa membuat Archi merasa berarti." semakin dalam pikiran Agust berkelana.


"Aah..!" gumamnya tertahan tanpa suara ketika tengkuk dan punggungnya terasa sakit lagi.


Archi mendengarkan lagu Agust D dari handphone-nya sambil mengerjakan pekerjaan kantor di laptop. Sesekali dia melirik ke arah Agust yang masih termenung.


"Kamu kenapa?" tanya Archi tiba-tiba mengejutkan Agust.


"A..a-apa?" Agust gelagapan.


"Kamu kenapa? Aku perhatikan dari tadi kamu diam saja. Ada apa? Apa ada yang mengganggu pikiran kamu?" tanya Archi.


"Nggak ada. Aku hanya capek aja."


"Nggak ada. Bener deh." kilah Agust.


"Aku boleh tidur duluan nggak? Aku ngantu?" izin Agust.


"Boleh." jawab Archi lagi.


Agust merebahkan badannya dengan posisi miring membelakangi Archi.


"Aku ingin tahu apa Archi sebenarnya mencintai aku apa nggak?" tanya hati Agust memejamkan matanya.


Sementara Agust berbaring dan tertidur di atas tempat tidurnya. Archi masih berkutat dengan pekerjaannya hingga lewat tengah malam. Beberapa kali Archi memergoki Agust merintih dalam tidurnya sambil memegang tengkuknya.


Archi memandang Agust, "Agust kenapa ya? Apa dia sakit?" tanya Archi khawatir.


Agust terbangun karena rasa sakit yang tak tertahankan. Dia terkejut karena Archi belum tidur dan sedang melihat ke arahnya.


"Ada apa Agust? Apa kamu sedang sakit?" tanya Archi.


"Nggak," jawab Agust beringsut turun dari tempat tidur.


Archi menarik tangan Agust. "Katakan kenapa? Kamu menganggap aku istrimu bukan?" tanya Archi dengan tatapan menusuk.


Agust pun mengalah, "iya. Tengkuk dan punggung aku sakit akibat tertimpa kardus saos di resto." jawab Agust duduk di tepi tempat tidur.


Archi menurunkan kerah belakang kaos Agust.


"Iya, ungu." Archi meringis melihat lebam di punggung atas Agust, di bawah tengkuk lehernya.


"Harusnya kamu bilang dari tadi. Kan bisa ke dokter." omel Archi menaruh dan menutup laptopnya.


"Nggak usah ke Dokter." jawab Agust memperhatikan Archi turun dari tempat tidur dan mengambil minyak gosok di laci nakas.


"Kan bisa manggil tukang urut." timpal Archi duduk di belakang Agust.


"Buka bajunya!" suruh Archi. Agust menoleh dengan mata nyalang.


"Mau ngapain?"


"Sementara aku gosok dan urut sedikit." jawab Archi membuka minyak gosoknya.


"Tapi...," pikiran Agust melayang saat Archi mengelap punggungnya.


"Nanti bangun lagi nggak ya?" tanya Agust menatap adiknya yang masih pulas.


"Buruan! Mikirin apa sih?" tanya Archi.


"Iya...iya!" Agust membuka kaosnya.


Sama dengan Agust Archi pun memikirkan saat pagi dia menggosok punggung Agust. Buru-buru dia menggeleng dan mengeyahkan pikirannya yang akan menjurus.


Archi mulai menggosok dan mengurut tengkuk dan punggung Agust. Dia merasakan nyeri saat Archi melakukannya. Wajahnya meringis.


"Kok bisa begini? Kenapa?" tanya Archi penasaran.


"kardus saos di gudang berjatuhan terkena aku." jawab Agust tanpa menyebutkan seluruh ceritanya.


Setelah selesai mengurut Agust. Archi dan Agust pun tertidur lagi. Dalam tidurnya, di bawah alam sadarnya Agust bermimpi,


"Archi!" panggil Agust mengejar Archi di padang rumput lapang. Serasa syuting film india.


Archi terus berlari hingga sampai disebuah sungai jernih. Agust berhenti dua meter di belakang Archi. Dia membungkuk dan menopangkan tangannya di lutut sambil terengah-engah.


"Archi kenapa terus berlari? Aku lelah ngejar kamu!" ujar Agust dengan tersendat.


Archi tidak menoleh ataupun meresponnnya. Dia jongkok di tepian, menyerokkan tangannya untuk minum. Saat itu, dua telapak tangan besar yang disatukan berisi air di tengahnya memberikan Archi minum. Archi meminum air dari tangan itu.


Agust melihat si pemilik tangan dengan tato dipunggung tangan kanannya itu, Ridwan.


"Terimakasih!" ucap Archi lalu memeluk Ridwan. "Aku mencintaimu Ridwan." ungkap Archi dalam pelukan Ridwan.


Agust tertegun menatap nanar keduanya, "Archi...!" Agust merasakan ada yang patah di hatinya.


...****************...