
"Mana file itu? Katanya kamu memberikannya kepadaku?" tanya Tuan Nicholas menemui Ayah Archi untuk kesekian kalinya.
"Levi bilang, kalau memory card asli video itu sudah dia serahkan ke stasiun televisi. Dan mengenai pengeditan, kemungkinan pihak televisi yang melakukannya."
"Pihak televisi mengaku mereka tidak mengedit itu, dan saat mereka dapatkan video itu sudah begitu."
"Dan anda percaya kepada mereka?" tanya Ayah. "Dalam bisnis ini semua mengenai perang kepentingan, bisa saja mereka menginginkan sesuatu dan mengelabui anda Tuan." provokasi Ayah membuat Tuan Nicholas menjadi ragu.
"Tetapi bisa saja kamu yang melakukannya?" tuduh Tuan Nicholas.
"Aku sudah mengatakan kalau aku tidak melakukannya. Aku tidak memegang recorder itu setelah Levi menggunakannya dan mengirim memori cardnya ke stasiun televisi." sanggah ayah dengan alibi.
"Baiklah, biar aku menyeledikinya dulu." kata Tuan Nicholas.
"Silahkan, saya permisi!"
Sementara itu di ruangan Jeremy. Archi berada di ruangan sendiri, sementara Jeremy akan menemui Tuan Nicholas.
Archi mulai memasukan password yang diminta saat membuka file data karyawan.
"A-r-C-h-1-21-06, yang benar saja dia menggunakan namaku dan tanggal lahirku untuk password. Apa dia menggunakan ini sudah lama, atau sejak aku bekerja di sini ya? Tetapi kalau dari lama, bukankah ini menakutkan?" pikirnya.
"Haduuuh....banyak sekali orang dalam data ini. Bagaimana aku bisa mencari Agust diantara semua ini? Aku bahkan nggak tahu nama dia yang terdaftar di sini, tanggal lahir atau data lainnya. Bagaimana cara menyortirnya?" pikir Archi memandangi ribuan data di dalam data base.
"Tampilkan dalam bentuk foto," Archi menekan pilihan untuk menampilkan data. "Kalau aku memeriksa seperti ini, sama saja membutuhkan waktu."
Pendengaran Archi bisa mendengar seseorang akan datang ke ruangan Jeremy dengan cepat Archi menutup aplikasi database karyawannya dan segera kembali ke mejanya.
"Ayah kan sudah bilang, untuk memproses itu segera!" omel Tuan Nicholas memasuki ruangan Jeremy diikuti Jeremy di belakangnya.
Tuan Nicholas menoleh, melihat ke arah Archi di kursinya.
"Oh...ini asisten barumu." ucap Tuan Nicholas tersenyum ramah menghampirinya Archi.
Archi berdiri dan sedikit membungkuk, "Siang Tuan!" sapa Archi dengan hormat.
"Siang, kamu berarti anak kedua Handoko, ya?" tanyanya.
"Iya Ayah, betul."
"Pantas Jeremy mengejar-ngejar gadis ini," gumam Tuan Nicholas memandangi Archi dari atas sampai bawah. "Dibanding Kakaknya yang rata, dia lebih menarik." sambung batinnya.
"Jadi bagaimana sekarang?" tanya Jeremy membuyarkan lamunan Tuan Nicholas.
"Oh, ya sudah. Kamu kerjakan saja sesuai yang ayah katakan." jawab Tuan Nicholas.
"Archi, selamat bekerja ya!" ucap Tuan Nicholas dengan senyum bersahabatnya.
"Terimakasih Tuan!"
"Sama-sama. Ayah pergi dulu." kata Tuan Nicholas pergi.
Pulang kerja.....
Archi berdiri dipinggir jalan menunggu transportasi umum yang lewat di depan pabrik bersama karyawan lainnya. Sampai sebuah mobil berhenti di depannya.
Tin...tin...
Klakson dibunyikan dari dalam. Kaca jendela di sisi kursi pengemudi terbuka.
"Archi!!!!" seru Susan dengan riang seraya keluar dari dalam mobil.
"Hay....kalian!!" sapa Archi kegirangan melihat sahabat-sahabatnya lagi setelah sekian lama tak bertemu.
"Apa kabar? Ya Allah, kangen banget sama kalian!"
"Baik Archi, kamu juga kan?"
"Ngobrolnya nanti lagi yuk!" dari balik kemudi Ridwan memberi usul. "Kita nyari cafe buat nongkrong juga."
"Iya Pak. Ayo Archi!"
"Kamu di depan. Itu kan yang paling kangen sama kamu." goda Susan menunjuk Ridwan.
Sesampainya di cafe....
"Gimana kamu betah di kantor baru?" tanya Susan penasaran.
"Ya betah nggak betah. Nggak enak nggak ada kalian." jawab Archi.
"Iya dong, nggak ada kita kan nggak rame." sahut Andini.
"Kalian tahu di situ aku kerja sama siapa?" tanya Archi.
"Nggak. kamu kan nggak pernah cerita soal itu." timpal Icha.
"Memangnya siapa?" tanya Ridwan penasaran.
Archi menjulurkan kepalanya ke tengah meja, "Jeremy." jawab Archi berbisik.
"Iya Archi, kamu nggak takut kalau dia macam-macam lagi sama kamu?" sambung Icha.
"Takut sih. Tapi dilihat-lihat, sekarang aja dia nggak macam-macam kan." jawab Archi.
"Mudah-mudahan saja. Kalau dia berani macam-macam, dia akan berurusan sama aku." ujar Ridwan.
"Kalian pindah kerja dong, ke situ juga. Biar aku ada temannya lagi."
"Boleh tuh, kalau ada lowongan kita ke situ." jawab Andini.
"Kalau Pak Ridwan?" tanya Susan.
Ridwan tersenyum bangga, "Sudah proses taruh lamaran. Tinggal nunggu panggilan." jawab Ridwan.
"Ih si Pak Ridwan lebih gercep dari kita." sahut mereka bertiga.
"Iya dong. Kemanapun Archi pergi, aku ikut." kata Ridwan terang-terangan.
"Nanti kalau keterima, usahain kita bisa kerja di sana juga ya Pak." pinta Icha.
"Gampang itu sih. Tenang aja." jawab Ridwan.
"Biar bisa kumpul lagi kita." kata Susan mengedip cepat.
Malam harinya setelah Archi pulang ke rumah dan bersih-bersih diri.
"Bagaimana Archi, sudah dapat pencerahan tentang identitas aku?" tanya Agust.
"Belum. Ternyata ini lebih sulit dari yang Aku bayangkan. Coba aja aku harus nyari kamu diantara ribuan karyawan yang aku nggak tahu caranya buat nyortir. Aku nggak tahu nama kamu, tanggal lahir kamu atau sesuatu yang bisa jadi clue di kolom pencarian." jelas Archi.
"Terus bagaimana? Sia-sia dong kamu kerja di sana." ucap Agust dengan lesu.
"Jangan menyerah Agust. Aku yakin aku pasti bisa menemukan sesuatu di sana. Jangan khawatir ya?"
"Oke deh Archi."
Hari berganti, Archi kembali bekerja. Dia kembali mengambil kesempatan saat Jeremy tak ada untuk mengecek database karyawan dan mencari keberadaan Agust.
Seusai jam istirahat,
Tok...tok....
"Masuk!" sahut Jeremy.
"Permisi Pak, saya ingin mengatakan kepada Archi...kalau Tuan Ludwig ingin bertemu dengannya." kata Maia.
"Oh begitu, baiklah. Archi kamu bisa ke ruangan Tuan Ludwig." titah Jeremy.
"Baik Pak." sahut Archi.
"Sepertinya, kamu dekat dengan Tuan Ludwig?" tanya Jeremy curiga.
"Eu...iya," jawab Archi singkat dan bergegas keluar untuk menghindari pertanyaan lainnya dari Jeremy.
"Bagaimana Archi bisa dekat dengan Kakek? Dan kapan mereka bertemu. Sepertinya benar dunia ini sempit." pikir Jeremy.
Di ruangan Tuan Ludwig...
"Permisi...Kakek ingin bertemu saya?" tanya Archi melongok ke dalam ruangan Tuan Ludwig.
"Oh...benar. Masuk Archi!" suruh Kakek yang sedang menikmati secangkir kopi di atas sofa. "Duduklah...duduk!" katanya mempersilakan.
"Terimakasih Kakek." jawab Archi.
"Bagaimana, dengan pekerjaanmu? Apa kamu suka?" tanya Tuan Ludwig perhatian.
"Iya Kakek. Walau kalau bisa aku ingin pindah bagian saja."
"Kenapa? Ada apa dengan Jeremy? Apa dia bersikap tidak baik kepadamu?"
"Eumm...nggak sih Kek. Dia baik tetapi aku ingin bekerja sesuai keahlianku." jawab Archi.
"Oh...kalau itu nggak masalah Archi. Lama-lama kamu pun akan jadi ahli dengan posisi ini nantinya."
"Begitu ya Kek."
"Iya. Bisa kamu tolong ambilkan, sendal kakek di bawah meja?" tanya Tuan Ludwig.
"Kakek, nggak betah harus menggunakan sepatu berlama-lama." titah Tuan Ludwig meminta tolong.
Archi pun berjalan ke meja kerja Tuan Ludwig. Dia membungkuk mengambil sandal berwarna putih di bawah meja. Saat ia menegakan badannya, maniknya menangkap sesuatu yang menarik untuk dilihat di atas meja Kakek Ludwig. Sebuah foto dengan bingkai emas. Foto itu menampilkan Kakek Ludwig tersenyum hangat sambil menggendong seekor kucing putih yang terlihat tidak asing.
Kakek yang menyadari Archi begitu lama, menoleh memeriksa Archi.
...~ bersambung ~...