
"Kamu yang jangan seperti itu!" Agust membentak Archi cukup keras hingga Archi tersentak kaget. "Kamu pikir aku nggak tahu niatmu?" Agust berbicara pelan namun terdengar keras di muka Archi. Archi menundukkan wajahnya tak berani menatap Agust.
Archi merasakan aura lain dalam diri Agust. Archi tak mengerti kenapa, namun kali ini nada suara dan tatapan Agust berbeda dengan Agust yang selama ini Archi kenal.
"Setelah kamu mendengar ceritaku semalam, kamu jadi penasaran, kan? Kamu ingin mencari tahu ke sana, kan?"
Archi mengangkat wajahnya dan dengan yakin menjawab, "Iya. Aku kesana karena ingin mencari tahu segalanya."
"Menyesal aku menceritakan itu kepadamu." Agust melengos kesal.
"Tinggal sedikit lagi Agust, kita akan menemukan masa lalu kamu." ujar lembut, archi menggenggam tangan Agust.
"Bisakah kamu memikirkan dirimu sendiri sebelum berbuat untuk orang lain?" tanya Agust. "Kamu baru sembuh dari traumamu, dan kamu mau mempertaruhkan keselamatanmu lagi demi aku? Udah cukup Archi."
"Maaf Agust, aku akan tetap pergi dengan atau tanpa izin darimu. Di sana ada ayah dan Kakek Ludwig, aku yakin mereka akan menjagaku."
"Seberapa percaya kamu dengan Kakek tua itu?"
"Sangat percaya. Dia orang baik aku bisa melihatnya."
Agust menghela nafas panjang, "Kamu janji harus berhati-hati dan menjauhi bahaya. Apa bisa?" tanya Agust.
"Tentu."
"Baiklah." Agust pun pasrah.
Dengan riang Archi memeluk Agust, "Terimakasih Agust!"
Di Apartemen Ridwan....
Ridwan menerima panggilan telepon, "Benarkah!" Ridwan bangun dari rebahannya di dalam selimut di atas kasur. "Baiklah kalau begitu." sahutnya berhambur turun dari tempat tidur dan pergi ke kamar mandi.
Kembali ke rumah Archi...
"Kamu benar akan bekerja lagi Archi?" tanya Ayah menunjukkan ketidak setuju dalam nada suaranya.
"Iya Ayah."
"Kenapa kamu mengizinkannya, Agust?" tuntut Ayah.
"Itu..."
"Aku yang memaksanya. Agust sudah melarangnya tapi aku bersikeras." sambung Archi menyela Agust.
"Ayah kaya nggak kenal Archi aja." sahut Ibu menyiapkan meja makan.
"Tapi itu akan berbahaya bagimu kan Archi?" Ayah meringis takut.
"Nggak ayah. Jeremy sudah nggak ada di sana." Jawab Archi.
"Tetapi ayahnya masih ada di sana." timpal Ayah.
"Apa yang akan dia lakukan di kantor? Banyak orang di sana."
"Tetapi tetaplah berhati-hati ya."
"Iya ayah."
"Kita berangkat bareng saja." ajak Ayah.
Archi pun berangkat ke kantor bersama Ayah. Sesampainya di kantor ada pemandangan berbeda. Hampir semua orang memandang ke arahnya dengan tatapan tak biasa. Ada sedikit yang melihat dengan sorot kasihan namun selebihnya sorot mereka menghakimi.
"Ini pasti karena kasus dengan Jeremy. Aku harus sabar demi Agust." tekad batin Archi lalu membuang nafasnya perlahan.
"Archi!" seru Maia. "Sudah kembali bekerja?" tanyanya.
Archi tersenyum, "Iya."
"Apa kamu sudah baik-baik saja. Aku turut prihatin dengan yang terjadi padamu." kata Maia dengan berbisik.
"Terimakasih. Oh iya, apa aku masih kerja dibagian ini atau dipindah bagian ya?" tanya Archi.
"Sementara di tempat kamu dulu saja. Menunggu perintah atasan." jawab Maia.
"Baiklah. Aku masuk ya." kata Archi berjalan ke depan pintu ruangan kerja Jeremy dulu.
Langkah Archi terhenti di hadapan daun pintu yang masih menutup. Dengan gerak lambat, tangannya gemetar untuk meraih gagang pintu. Detak jantungnya mulai tak karuan. Ada perasaan takut yang menghinggapinya. Membuat bahunya terasa berat.
Archi mengerjapkan matanya dua kali dan menguatkan dirinya untuk membuka pintu ruangan tersebut. Gagang pintu di tekan ke bawah dan pintu pun terbuka. Mata Archi terpejam, tak kuasa untuk menatap ke dalam ruangan.
"Ada apa Archi?" tanya Maia.
Archi pun membuka matanya, menoleh ke arah Maia seraya tersenyum, "Akh...nggak apa-apa." jawabnya sambil masuk lalu menutup pintu kembali.
Matanya yang terbuka melihat sosok Jeremy duduk di kursi nya. mengaitkan jari jemarinya yang terangkat di depan mulutnya. Mulutnya membentuk seringai.
Archi tercekat, matanya terbelalak. Nafasnya terasa berat untuk sesaat. Dan bayangan itu menghilang meninggalkan kursi Jeremy yang kini kosong.
"Ini nggak mudah bagiku, Agust." ucap Archi di dalam hati. Dengan tangan gemetar merogoh ke dalam tasnya sekuat tenaga mencari handphone nya.
Ceklek.....
tiba-tiba pintu terbuka. Archi yang terkejut menjatuhkan tas hingga isi di dalamnya berhamburan keluar.
Archi merunduk memungut isi tasnya di lantai. Seseorang yang membuka pintu berjalan cepat ke depan meja Archi dan membantu mengambilkan beberapa barang yang tercecer ke sana.
Orang itu berdiri tegap. Archi perlahan mengangkat wajahnya dan melihat sosok itu mengulurkan tangan ke hadapannya. Menyerahkan barang yang dia kutip.
"Kamu...!" Archi terkejut melihat orang itu yang tengah tersenyum canggung kepada Archi.
"Hai Archi!" Sapanya.
"Pagi Pak Ridwan!" Maia memasuki ruangan. "Ini beberapa berkas yang harus ditandatangani segera." Archi melongo melihat Maia menyerahkan dokumen kepada Ridwan.
Tanda tanya muncul dalam pikirannya, "Apa Ridwan bekerja juga di sini?"
"Oh iya...perkenalkan Archi, dia Manager yang baru di sini. Dia atasanmu sekarang." Maia memperkenalkan.
"Salam kenal Archi. Semoga kita bisa bekerja sama dengan baik." ucap Ridwan tersenyum lebar.
"Ya Tuhan! Kenapa aku harus terhubung dengan adik kakak ini?" tanya batinnya meringis.
Siang harinya Saat Tuan Ludwig datang ke kantor dengan sengaja Archi menemuinya di ruangannya.
"Kakek Ludwig!" Archi melongokkan kepalanya ke dalam.
Kakek Ludwig yang sedang menyandarkan kepalanya di sandaran kepala kursi kerjanya sambil memejamkan mata, menoleh ke arah pintu.
"Archi! Kamu sudah baik-baik saja, Nak?" tanya Kakek Ludwig terlihat bahagia. Bahagia yang tulus.
Archi mendekati meja kerja Tuan Ludwig, "Alhamdulillah baik kakek."
"Kakek pikir kamu akan marah kepada kakek dan berhenti bekerja di sini." Kakek Ludwig terdengar murung.
"Nggak Kakek. Aku hanya marah kepada yang bersalah. Tetapi Kakek nggak bersalah."
"Kakek bersalah karena dia cucu kakek. Kakek malu sekali dibuatnya."
Archi nyengir, "Maaf kakek, tapi kita jangan membicarakan dia lagi ya kek."
"Oh...Iya Archi. Maafkan kakek. Kakek senang bisa melihatmu lagi."
"Iya Kakek."
"Kakek baru tahu kalau kamu sudah menikah. Kakek pikir kamu anak baru lulus kemarin."
"Akh Kakek bisa saja. Apa aku terlihat semuda itu?" gurau Archi dengan wajah bersemu merah.
"Iya, kakek nggak bohong. Kamu imut seperti anak baru gede."
"Hahaha...Kakek ini membuatku jadi malu. Oh iya Kakek, kata suamiku, kakek memanggilnya Yoongi saat di rumah sakit."
"Akh...itu. Iya benar. Karena kakek lihat dia mirip sekali dengan yoongi."
"Yoongi itu siapa? Kucing kakek?"
"Apa? Hahaha...masa kucing kakek mirip manusia."
"Eh...maksudku,"
"Yoongi itu cucu kakek. Dia memang pemilik kucing putih yang ada di foto itu."
"Oh, jadi Yoongi cucu kakek mirip suami aku?"
"Iya. Begitulah."
"Lalu dimana cucu kakek itu sekarang?"
"Cucu kakek itu sudah meninggal karena tenggelam di laut." kisah Kakek dengan tatapan hampa.
"Benarkah? Jadi cucu yang kakek ceritakan saat di tebing karang itu, Yoongi?" tanya Archi.
"Iya. Makanya kakek sangat terkejut melihat suamimu yang begitu mirip dengan Yoongi." Sahut Kakek.
"Saat tenggelam apakah jasadnya ditemukan kek?" tanya Archi.
"Beruntungnya iya. Jadi kami bisa memakamkan nya secara layak."
"Kalau begitu, lalu apa hubungannya Yoongi dan Agust? Bila jasadnya ditemukan dan dimakamkan, bagaimana sekarang bisa menjadi Agust? Tetapi Agust memiliki sedikit ingatan Yoongi. Apa bangkit dari kubur? Nggak mungkin nggak mungkin. Atau..., jangan jangan Agust adalah...," batin archi mencari kesimpulan yang memungkinkan antara Agust dan Yoongi cucu Kakek Ludwig.
...~ bersambung ~...