Cinta Agusd Si Kucing Tampan

Cinta Agusd Si Kucing Tampan
38. Tambang Uang


"Astagfirullah si Kakak....bukannya assalamualaikum, kok malah teriak-teriak manggil Archi!" omel Ibu memegang dadanya yang bergemuruh karena kaget.


"Assalamualaikum....maaf...aku buru-buru!" jawab Kakak seraya mencium tangan Ayah dan Ibu bergantian.


"Archi mana Bu?" tanya Kakak.


"Kenapa sih?" tanya Archi jutek. Berjalan mendekati Kakak.


"Kamu ya!" tunjuk kakak begitu kesal. "Udah aku minta pulang bareng nggak boleh, aku telpon di putus. Sekarang aku bakal bongkar kelakuan kamu, Agust mana?"


"Ada,"


"Jangan bohong kamu. Orang aku tadi liat di mobil nggak ada Agust," celotoh Kakak masih emosi.


"Kenapa sih Kak?" tanya Ibu yang bingung.


"Aku lihat Agust tadi nggak ada di mobil pas dia pulang ke sini bu. Aku yakin ada sesuatu," cerocos kakak.


"Masa?" Ibu menoleh, memandang Archi.


"Aku benar Bu, di mobil cuman ada dia sama supir." jelas kakak lagi. "Aku yakin banget,"


"Ya tapi Agust ada. Kakak aja yang nggak lihat dia." jawab Archi tetap tenang. Padahal hatinya juga berdebar.


"Agust hantu gitu, bisa jadi kasat mata?"


"Ya mungkin pas kakak liat dia lagi nunduk ke bawah, nyari sesuatu di bawah jok. Tetapi yang pasti, Agust ada." timpal Archi.


"Iya, tapi Agust memang ada. Mereka pulang sama-sama tadi," jawab Ibu.


"Yang bener?" Kakak memastikan.


"Iya. Iya kan Yah?" tanya Ibu pada Ayah mencari dukungan.


Ayah mengangguk.


"Lagian kamu itu ngapain mempermasalahkan itu sih Kak?" tanya Ayah.


"Karena Archi mencurigakan!" tatap Kakak ke dalam mata Archi. Menohok Archi dengan rasa curiga Kakaknya.


"Pertama aku itu kesal sama dia. Bisa-bisanya dia diam-diam makan berdua sama Jeremy di belakang aku." ketus Kakak di hadapan Archi.


"Kedua aku tambah kesal karena dia nggak ngizinin aku, pulang satu mobil sama dia dan aku, jelas-jelas tadi nggak liat Agust dalam mobil. Mungkin Archi nggak ngasih aku pulang bareng dia karena memang nggak ada Agust di mobil, dia nggak mau sampai aku tahu, ya kan?" tunjuk Kakak. Archi menggeleng.


"Daaannn...saat aku telepon ingin bicara sama Agust telponnya langsung dia matiin. Itu mencurigakan kan? Pasti ada sesuatu?"


"Apa yang dikatakan Kakak benar Archi?" tanya Ayah menatap menyelidiki dari balik kacamata minusnya.


"Sebagian benar dan sebagian salah," jawab Archi lebih kepada menggumam.


"Terus kenapa kamu nggak ngizinin kakak kamu pulang sama kamu?" tanya Ibu.


"Yaa aku kan udah bilang aku mau ke suatu tempat dulu. Takutnya lama, kakak nanti bosen." jawab Archi.


"Hufh... Ya sudah, ya sudah... Jangan bertengkar lagi," kata Ibu sudah pusing mendengar mereka ribut.


"Sekarang kamu minta maaf aja sama Kakak kamu, Archi. Seharusnya kamu nggak kaya gitu sama kakak kamu. Kasian juga kan dia, jadi pulang sendirian padahal bisa pulang sama kalian," nasihat ayah.


"Iya Ayah," jawab Archi.


"Maafin aku ka," kata Archi mencium tangan kakaknya.


"Aku yakin banget. Ada yang Archi sembunyiin tentang Agust. Tapi apa? Sebaiknya aku mulai cari tahu," gumam hati Kakak.


Kemudian di kamar Kakak....


Tok...toookk...


"Masuk!" sahut Kakak dari luar.


"Kak," Panggil Archi lirih memasuki kamar kakaknya.


"Kenapa?" ketus Kakak.


Archi menyodorkan kotak jam tangan yang dia dapat dari Jeremy ke hadapan kakaknya. Kakak memandang kotak itu.


"Buat apa ini?" tanya Kakak bingung.


"Ini untuk Kakak. Aku rasa kakak lebih berhak untuk ini," jawab Archi.


"Heem...paling ini kotaknya doang. Jamnya udah kamu ambil, kan?" Kakak curiga karena Archi yang terkadang suka menjahilinya.


Kakak mentautkan kedua alisnya.


"Menagapa kamu berikan sama Kakak jamnya? Itu kan untukmu dari Jeremy," tanya Kakak masih belum mengerti.


"Aku ngerasa nggak pantas aja dapat ini. Kakak yang pacarnya lebih berhak buat ini." jawab Archi.


"Lagian aku kan belum ngasih uang pelangkah buat kakak. Anggap aja ini uang pelangkahnya." Archi tersenyum.


"Heeemmm... Mentang-mentang nikah duluan," gurau kakak menerima kotak dari tangan Archi.


"Tapi kan nggak enak sama Jeremy. Gimana kalau dia tahu, kamu ngasih ini ke aku. Dia bisa marah sama kamu dan kakak," kata Kakak.


"Jangan sampai dia tahu," sahut Archi terkekeh.


"Terimakasih, ya!" ucap Kakak.


"Sama-sama, Kak. Kakak jangan marah lagi sama aku, ya Kak." pinta Archi dengan nadanya yang lembut.


Kakak memeluk Archi, "Iya," Rasa haru dan kasih menyelusup di hati mereka.


Bagaimana mereka teringat masa kecil mereka yang dihabiskan bersama. Walau terkadang sering terjadi pertengkaran namun mereka adalah kakak dan adik yang bisa saling menyayangi.


...****************...


Keesokan harinya di kantor Archi....


"Jadi kamu abis liburan ke pantai?" seru Susan.


Archi mengangguk senang.


"Kok nggak ngajak kita-kita sih?" tanya Andini merajuk.


"Iya, kita kan jadi bisa ikut liburan sama suami kamu yang tampan itu!" timpal Susan terpesona membayangkan wajah Agust.


"Heugh...!" Archi memutar bola matanya, sebal.


"Itu kan suami aku. Mau kalian embat juga?" tanya Archi.


Mereka tertawa mendengarnya.


"Tukeran deh sama Ridwan," kelakar Andini.


"Ya Allah...udah kaya barang dituker-tuker," keluh Archi.


"Duh...masi pagi neng. Udah bergosip aja!" sahut Ridwan yang baru datang.


"Bawa-bawa nama aku lagi," timpalnya jadi ge er.


"Hahaha...nggak kok pak. Kita lagi ngomongin kebaikan bapak," Susan berdalih. Mengganti topik pembicaraan agar Ridwan tidak curiga.


"Iya dong, aku kan baik. Apalagi sama Archi. Iya nggak Chi?" tanya Ridwan berkedip ke arah Archi.


Membuat wajah Archi berubah warna jadi merah dan juga terasa panas. Jantungnya pun berdentum kencang.


"Inget suami di rumah!" bisik hati kecil Archi. Membuatnya meringis.


"Kapan-kapan, kita liburan ya ramai-ramai!" ajak Ridwan.


"Di traktir juga kan Pak?" tanya Susan bukan basa-basi.


"Iyalah...aku yang traktir. Mau kemana? Raja Ampat, Maldives?" tanyanya lebih terdengar menyombong.


"Banyak duit euy si Pak Manager," sahut Andini.


"Banyak dong. Aku kerja di sini aja cuman sampingan." jawabnya dengan enteng sambil meregangkan tubuhnya.


Mereka berempat menatapnya heran. Dalam hati mereka memiliki pertanyaan yang sama. Apa maksud Pak Ridwan hanya sampingan? Apa dia memiliki tambang uang lainnya?


"Sama biar bisa kerja dekat-dekat sama Archi," tambah Ridwan terlalu berterus terang.


Di lihat dari gaya dan sikapnya, Ridwan memang tidak terlihat seperti manager biasa. Terutama kalau di lihat dari seringnya dia mengeluarkan uang untuk membuat Archi senang. Walau Archi berteman dengannya sejak lama, tetapi Archi pun tidak tahu latar belakang keluarga Ridwan. Dia sangat tertutup untuk itu.


"Mungkin Pak Ridwan suka ngepet atau punya tuyul!" bisik Archi terdengar sangat polos. Membuat teman-temannya menepuk dahi.


Ridwan terkekeh mendengarnya.


Lalu Apakah ada yang disembunyikan Ridwan? Apakah dia benar memiliki tambang uang lain?


...****************...