
"Kalau Archi nggak ketolong waktu itu gimana coba. Kamu bisa dituntut atas pembunuhan berencana. Sekarang juga kamu bisa saya tuntut."
"Jangan pak. Saya mohon jangan!" pinta Welin menangis.
"Ini masalah besar dan bertambah besar karena kamu melakukannya saat acara perusahaan. Dimana itu bisa mencoreng nama baik perusahaan. Jadi kami harus menindak tegas perbuatan kamu yang tidak bertanggung jawab itu!" tegas Ridwan lagi.
Tok...tok...tok....
Seseorang mengetuk pintu dari luar.
"Masuk!" sahut Ridwan.
"Permisi Pak!" kata Archi membuka pintunya.
"Archi... Iya masuk Archi!" suruh Ridwan berubah manis.
"Ada perlu apa Archi."
"Begini Pak. Saya tahu kalau ini kewenangan perusahaan untuk menjatuhkan sanksi bagi Welin. Tapi karena ini menyangkut saya juga, kalau saya boleh meminta untuk meringan-kan hukuman apapun yang perusahaan berikan kepada Welin." pinta Archi dengan hati-hati. Welin memandang Archi dengan haru.
"Saya ingin menyampaikan itu saja pak," kata Archi.
"Ya sudah. Nanti kami jadikan bahan pertimbangan." jawab Ridwan.
"Saya permisi Pak!" pamit Archi keluar dari ruangan Ridwan.
"Kamu boleh pergi. Nanti saya panggil lagi." kata Ridwan kepada Welin.
"Baik Pak. Terimakasih." Welin pun ikut keluar dari ruangan Pak Ridwan.
"Archi!" panggil Welin. Archi berbalik. Dengan segera Welin menubruk dan memeluk Archi.
"Archi...terimakasih ya. Kamu masih mau membelaku. Mohon maaf aku hampir mencelakakan kamu." kata Welin dalam tangisnya.
"Iya Welin. Nggak apa-apa. Yang penting sekarang aku sudah sehat lagi. Setelah ini aku harap kamu akan lebih hati-hati dalam bersikap dan bertindak." kata Archi.
"Iya Archi. Sekali lagi terimakasih, ya!"
"Iya Welin." Archi mengusap punggung Welin dengan lembut.
"Selama ini aku selalu berbuat jahat dan menghina kamu. Tapi ternyata kamu memiliki hati yang baik dan tulus." batin Welin.
Sehabis Maghrib, Agust baru saja pulang kerja. Dia berjalan menelusuri jalan utama komplek menuju ke rumah Archi sambil berkirim pesan dengan Archi. Hingga dia melewati jalan masuk sebuah gang di sebelah kirinya.
"Eh...jangan diambil!" suara seorang wanita terdengar di dalam gang kecil itu.
Agust menoleh ke dalam gang, dan melihat seorang wanita tengah di desak dua orang pria berjaket hitam. Seorang pria mengacak-ngacak isi dalam tas wanita itu.
"Hoy...ngapain loe!" teriak Agust berlari ke arah mereka.
"Irene!" kata Agust saat tahu wanita itu adalah Irene.
"Mau ape loe!" gas seorang pria berkumis.
"Kembaliin tas cewek ini!" perintah Agust.
"Berani loe!" seorang pria melayangkan tinjunya ke arah Agust. Dengan sigap Agust mengelak.
Dari arah lain pria satunya meninju Agust namun beruntung Agust berhasil menangkap tinjuan orang tersebut. Baku hantam antar mereka pun tidak terelakan. Beberapa kali Agust pun terkena pukulan para preman itu. Dengan telak Agust bisa membalas mereka. Hingga akhirnya Agust berhasil memukul mundur para preman yang sudah babak belur itu.
"Agust...!" Irene berlari menghampiri Agust yang mengalami sedikit luka di sudut bibirnya dan juga beberapa lebam di wajah.
"Kamu nggak apa-apa?" tanya Irene mengelap darah di sudut bibir Agust dengan tissue yang dia bawa di tasnya.
"Nggak apa-apa, Nona." jawab Agust mengambil alih tissue yang dilapkan tangan Irene. Dan sedikit menjaga jarak dengan Irene. Ada hati yang harus mas Agust jaga...prikitiw...😹
"Terimakasih Agust. Untung kamu menolong-ku. Aku nggak tahu bagaimana para preman itu bisa masuk ke dalam komplek ini." kata Irene.
"Iya Nona. Kebetulan saya lewat. Ayo saya antar Nona pulang dulu." kata Agust yang masih mengkhawatirkan keselamatan Agust.
"Tapi kamu terluka. Kamu pulang saja. Aku pulang sendiri."
"Nggak apa-apa Nona. Nanti mereka kalau balik lagi, bahaya. Biar saya antar Nona pulang dulu." kata Agust.
"Ya sudah kalau mau kamu begitu."
Irene dan Agust berjalan bersama ke rumah Irene.
"Bagaimana kalau luka mu aku obati dulu di rumahku?" tanya Irene menawarkan untuk membantu.
"Terimakasih Nona. Saya obati di rumah saja." jawab Agust.
Saat di perempatan jalan, Archi yang berjalan lurus melihat penampakan dari belakang, Irene dan Agust berjalan bersama di jalan yang berbeda.
Di depan rumah Irene yang besar.
"Kamu beneran nggak mau aku obatin dulu?" tanya Irene ingin menyentuh luka di sudut bibir Agust. Namun dengan beringsut Agust mundur mencegah itu.
"Iya Nona. Nanti di rumah aja." jawab Agust tersenyum.
"Sekali lagi terimakasih ya Agust" ucap Irene.
"Iya Nona. Permisi!" Agust berbalik dan berjalan pulang menuju rumah Archi.
Di rumah Archi. Setelah sampai Agust langsung pergi ke kamar agar orang rumah nggak melihat lukanya dan akan merasa khawatir.
Sesampainya di kamar, Agust terkejut karena Archi sudah ada di dalam kamar.
"Archi, kamu sudah pulang?" tanya Agust sambil menutup pintu dan menunduk menutupi lukanya.
"Agust, kamu kenapa? Kok bisa luka gini?" tanya Archi mendekati Agust dan mengangkat wajah Agust untuk melihat lukanya.
"Duduklah!" suruh Archi membimbing Agust untuk duduk di tepi tempat tidur. Dia pun mengambil kotak p3k nya di lemari nakas.
"Sini, aku obati." kata Archi duduk di sebelah Agust dan mengobati luka Agust.
Archi membersihkan darah sisa di sudut bibir Agust.
Ketika jemari lembut Archi mengobati luka di sudut bibir Agust, detak jantung keduanya tiba-tiba memompa cepat darah ke seluruh tubuhnya. Kedekatan diri mereka seperti ini membuat debaran di hati mereka.
"Duh kok deg-degan gini megang bibir dia doang?" tanya hati Archi mencoba tetap waras diantara gempuran hasratnya.
"Baru begini aja hati aku udah nggak karu-karuan," pikir Agust memikirkan hal yang sama.
"Kok bisa lebam dan bibirnya bisa luka gini?" tanya Archi memecah keheningan mereka dan mengalihkan pikiran mereka.
"Itu...tadi." Agust terbata dalam menjawab.
"Aku menolong cewek di palak preman." jawab Agust mencoba sedikit jujur.
"Cewek? Kamu kenal ceweknya?" tanya Archi memancing jawaban Agust.
"Ng...nggak." jawab Agust menggeleng.
"Kenapa dia berbohong? Dia kan bisa jawab dia habis nolongin Irene. Kenapa Agust harus menyembunyikannya dari aku? Udah jelas-jelas aku lihat mereka bareng tadi," pikir Archi sambil mengobati luka Agust.
"Aku nggak berani jujur sama Archi kalau aku nolongin Irene. Takut nanti Archi mikirnya macam-macam." batin Agust.
"Selama dia nggak tahu siapa yang aku tolong. Semua akan baik-baik saja." pikir Agust yang mengira Archi nggak tahu orang yang dia tolong.
"Aw...sakit!" keluh Agust saat Archi terlalu kencang menekan lukanya saat memberikan salep luka.
"Maaf." kata Archi mengusap luka Agust perlahan.
Setelah mengobati Agust, Archi pergi ke bawah untuk mengambilkan Agust minum di dapur.
Dengan sedikit memanyunkan bibirnya Archi mengambil gelas dan ke dispenser air.
"Padahal kalau aku sama Ridwan aja selalu mencoba untuk jujur dan kasih tahu dia. Tetapi kenapa dia menyembunyikan kedekatan dia sama Irene?" pikir Archi sambil menekan tombol dispenser.
"Archi!...ya ampun itu penuh!" pekik Ibu mengejutkan Archi.
"Ya ampun!" Archi segera melepaskan tombol dispensernya.
"Maaf Ibu. Jadi becek."
"Ya ampun kamu itu! Kamu kenapa sih? Mikirin apa?" tanya Ibu mengambil lap pel.
"Nggak mikirin apa-apa." kilah Archi.
"Nggak mikirin apa-apa, tapi melamun. Ada masalah lagi sama Agust?" tanya Ibu.
Agust yang berada di tangga mendengarkan percakapan Ibu dan Archi.
"Nggak kok bu." jawab Archi berbohong.
"Udah ya bu. Aku anter minum ini dulu buat Agust," pamit Archi menghindari pertanyaan Ibu lainnya.
Agust berlari dengan langkah berjingjit agar tidak menimbulkan suara menuju ke kamar Archi.
"Archi mikirin apa ya? Apa benar dia lagi ada masalah?" tanya Agust di hatinya.
"Apa aku tanya langsung sama Archi, ada apa?" tanyanya lagi menimbang.
...~ bersambung ~...