
Ridwan menekan tombol darurat lagi.
"Kenapa lama sekali?" tanya Ridwan kepada petugas yang tersambung.
"Sedang kami usahakan Pak."
"Ada orang sakit di sini cepatlah!" pekik Ridwan emosi.
"Iya pak!"
"Bila terjadi sesuatu pada Archi aku tuntut hotel ini. Tapi, masa aku nuntut hotel aku sendiri?" pikir Ridwan kembali menghampiri Archi.
"Archi!" bibir Archi terlihat semakin pucat dan ungu. Suhu tubuh Archi turun secara drastis.
"Ya Tuhan Archi...bagaimana ini? Aku takut kamu kena hipotermia. Apa yang mereka lakukan? Kenapa liftnya belum berfungsi?" kesal Ridwan sambil memeluk Archi.
"Baju Archi basah. Bila kelamaan memakai baju ini, kondisinya bisa semakin parah. Tapi, masa aku harus membuka bajunya di sini?" pikir Ridwan terlihat bimbang.
"Agust....Agust....!" Archi mulai mengigau.
"Saat seperti ini nama orang itu yang dia sebut," gumam Ridwan.
"Archi...bertahanlah!"
Sejam lebih namun lift belum juga terbuka. Kondisi Archi semakin mengkhawatirkan dengan suhu tubuhnya yang terus turun.
"Archi benar-benar kena hipotermia. Aku harus menanggalkan baju basahnya agar nggak semakin parah." kata Ridwan akan membuka baju Archi.
Beruntung lift kembali berfungsi dan pintu terbuka. Para teknisi berada di depan pintu untuk berjaga. Kawan-kawan Archi pun ada di sana.
"Syukurlah." kata Ridwan segera membopong Archi keluar dari lift dan menuju klinik hotel.
"Dia kena hipotermia cepat lakukan tindakan!" perintah Ridwan menidurkan Archi di tempat tidur pasien.
"Baik Tuan, silahkan tunggu di luar!" kata suster jaga.
"Kalian ambilkan baju dan perlengkapan Archi yang lain." perintah Ridwan kepada Andini, Susan dan Icha.
Ridwan menunggu dengan cemas di luar klinik. Sementara menunggu Ridwan pergi ke kamarnya dan berganti baju.
Ridwan pun kembali ke klinik berbarengan dengan Susan, Andini dan Icha.
"Kondisi pasien sudah semakin membaik Tuan. Tetapi untuk berjaga-jaga kita perlu membawanya ke rumah sakit besar." kata Dokter yang menangani Archi.
"Baiklah kalau begitu." kata Ridwan.
"Kalian tetap di sini dan hubungi keluarga Archi ya. Aku akan menemani Archi ke rumah sakit." kata Ridwan.
"Baik Pak." jawab Andini.
Di rumah sakit. Setelah melakukan screening, Archi dipindahkan ke ruang perawatan.
"Syukurlah kamu baik-baik saja Archi!" ucap Ridwan duduk di kursi di sebelah tempat tidur Archi. Dia pun mengirimkan pesan kepada teman Archi nama dan nomor ruangan perawatan Archi.
Sebelumnya keluarga Archi telah dihubungi Archi dibawa ke rumah sakit umum daerah dekat sana. Sehingga mereka langsung berangkat ke sana.
Handphone Ridwan bergetar,
"Halo...kenapa?.... Aku belum bisa ke sana. Nanti kalau," kata Ridwan di telepon.
"Ridwan, bagaimana keadaan Archi?" tanya Ayah sudah datang.
"Dia sudah baik-baik saja Om." jawab Ridwan.
"Alhamdulillah ya Allah."
"Karena Om sudah di sini, saya izin pamit ya Om. Ada urusan mendadak yang harus saya tangani," kata Ridwan.
"Oh...iya Nak Ridwan. Terimakasih atas bantuan dan pertolongannya." ucap Ayah.
"Iya Om sama-sama." jawab Ridwan.
Ridwan pun bergegas keluar sambil tetap menelepon dengan handphonenya. Dia menanti lift. Pintu lift terbuka, orang dari dalam berhambur keluar. Ridwan masuk ke dalam lift.
"Agust... Ke sini!" panggil Ibu yang keluar dari lift bersamaan dengan orang-orang yang keluar tadi.
Mendengar nama itu, perhatian Ridwan teralihkan. Dia menatap ke depan dan mencari pemilik nama itu berada. Namun pintu lift segera tertutup hanya memperlihatkan tubuh belakang seorang pria.
Tidak lama kemudian. Archi sadar dari tidur panjangnya.
"Archi...syukurlah kamu sudah sadar Nak!" ucap Ibu sambil menitikan airmata.
"Ibu..." ucap Archi lemas.
"Aku kenapa bu?" tanyanya.
"Kamu terkena hipotermia,Archi." jawab Ayah.
"Beruntung kamu cepat mendapat pertolongan. Ridwan yang menolongmu." jawab Ayah.
"Oh...," Archi mencoba duduk.
"Apa kamu sudah baik-baik saja Archi" tanya Agust membantu Archi duduk.
"Sudah aku rasa." jawab Archi.
"Aku mau pulang aja ibu." kata Archi.
"Nggak bisa sekarang Archi. Besok baru boleh pulang." jawab Ayah.
"Untuk malam ini kamu menginap dulu di sini. Nanti kamu sama Agust. Kami harus pulang dulu. Besok kami ke sini lagi untuk jemput kamu, ya." sambung Ayah.
"Iya Ayah."
Panggilan video di handphone Archi. Archi menerima panggilan videonya.
"Woy.... Archi udah sadar kamu!" kata Susan. Di belakangnya ada Icha dan Andini.
"Udah," jawab Archi tersenyum malu.
"Maaf ya nggak bisa jenguk. Kita masih ketahan di sini sehari lagi." kata Andini meringis.
"Iya nggak apa-apa. Kalian seneng-seneng aja di sana." sahut Archi.
"Seneng dari mana. Malesin tahu di sini." timpal Susan.
"Archi dah mau mulai lagi acaranya. Selamat istirahat ya Archi. Cepat sembuh!"
"Iya aamiin. Dah semua!"
Panggilan video pun terputus.
Keesokan harinya....
Sarapan pagi diantarkan oleh suster.
"Selamat pagi! Sarapannya Nona!" sapa suster dengan senyum manisnya.
"Iya sus," jawab Archi.
Suster menaruh nampah sarapannya di meja tinggi sebelah tempat tidur lalu pergi keluar.
"Sarapannya Archi. Mau aku suapin?" tanya Agust mengambil nampan makanan dan ditaruh dipangkuannya yang duduk di tepi tempat tidur.
"Iya dong. Aku kan lagi sakit," jawab Archi dengan bibir manyun.
"Hadeuuuh....gantian manja nih ceritanya lagi sakit," ledek Agust.
"Iya dong. Kamu jadinya nggak kerja hari ini?" tanya Archi.
"Aku udah izin lewat WA ke Nona Irene." jawab Agust menyuapkan makanan di sendok ke mulut Archi.
Belum separuh sarapan Archi habis, handphone Agust bergetar. Agust melihat layar handphone yang menyala dan panggilan masuk dari Irene.
"Nona Irene," bisik Agust.
"Angkat aja!" suruh Archi.
"Tapi,"
"Udah angkat dulu!" Agust pun mengikuti keinginan Archi meski perasaannya sudah nggak enak.
"Halo...iya Nona. Tapi istri saya lagi sakit. Lagi di rumah sakit," jawab Agust di telepon. Archi hanya bisa menyimak ekpresi Agust yang tertekan menerima panggilan dari Irene.
Panggilan terputus. Agust kembali duduk dan memangku nampan makanannya lagi.
"Kenapa?" tanya Archi.
"Nggak pentinglah." jawab Agust malas.
"Kenapa ih?" paksa Archi memegang lengan Agust.
"Bos Irene nyuruh masuk kerja. Kalau nggak masuk dia bakal mecat aku." jawab Agust.
"Ya terus,"
"Terus apaan. Ya aku nggak mau masuk."
"Jangan gitu. Udah kamu masuk kerja aja. Daripada di pecat hayo."
"Ya biarin. Aku lebih nggak tega ninggalin kamu daripada dipecat bos Irene. Apalagi Ayah sama Ibu aja belum datang."
"Udah aku nggak apa-apa. Kamu berangkat kerja aja ya." bujuk Archi.
"Tapi Archi,"
"Aku aja disuruh Ridwan kerja akhirnya berangkat kerja juga kan. Kamu juga, kerja aja. Daripada di pecat. Aku beneran deh nggak apa-apa. Aku udah mendingan kok. Sebentar lagi Ayah sama Ibu pasti datang." jawab Archi.
"Aku nggak keberatan kok di pecat."
"Jangan Agust. Udah kamu berangkat kerja aja." Archi bersikeras.
"Aku pesenin taksi online ya," Agust mengangguk dengan tawaran Archi.
Karena permintaan Archi, walau enggan akhirnya Agust mengalah dan berangkat kerja.
"Hati-hati di jalan ya Agust!" Archi melambaikan tangan saat Agust akan berangkat.
Agust tersenyum berat melangkahkan kaki dan membalas lambaian tangan Archi.
"Padahal aku nggak masalah kalaupun dipecat. Tapi Archi maunya aku tetap bekerja." bisik hati Agust merasa murung.
"Aku tahu pekerjaan ini sangat berarti buat kamu. Sulit buat kamu mendapat pekerjaan itu. Akan sulit bagimu kalau kamu sampai nggak bekerja lagi," pikir Archi.
Langkah kaki terdengar mendekati kamar perawatan Archi. Archi mengira itu adalah Agust yang kembali. Pintu kamar pun terbuka.
"Pagi Archi!" sapa suara itu memperlihatkan kepalanya dari balik pintu dengan senyum mengembang cerah.
"Pak Ridwan!" seru Archi.
Ridwan masuk ke dalam kamar perawatan Archi dengan membawa kotak berisi donat dari merk ternama.
"Belum ada yang buka sepagi ini. Nemu ini doang!" kata Ridwan memberikan plastik kotak donat kepada Archi.
"Iya pak. Terimakasih. Jadi merepotkan." jawab Archi.
"Nggak repot kok." Ridwan menarik kursi ke dekat tempat tidur Archi.
"Kamu kok sendirian?" tanyanya melihat sekeliling.
"Agust kerja, ayah sama ibu belum datang." jawab Archi.
"Oh. Ini sarapan kamu belum dihabisin?" tanya Ridwan duduk di tepi tempat tidur.
"Aku suapin ya?" kata nya lagi menawarkan diri.
"Boleh. Aku lapar soalnya," jawab Archi sambil nyengir.
"Terimakasih ya Pak atas pertolongannya kemarin."
"Biasalah Archi, aku senang kok bisa nolongin kamu." jawab Ridwan sambil nyuapin Archi makan.
"Kamu nggak ikut acara gathering?" tanya Archi.
"Nggak, aku udah izin atasan untuk absen acara pagi hari ini. Siang baru ke sana."
"Hem..., enak ya jadi atasan bisa izin izin dengan mudah. Nggak kaya kami harus takut ancaman surat peringatan," sindir Archi.
Ridwan tertawa lepas.
Satu jam kemudian. Ridwan dan Archi mengobrol santai di atas tempat tidur sambil bercanda-canda.
"Loh...Agustnya kok berubah?" gurau Ibu saat memasuki ruangan bersama Ayah dan Kakak.
"Eh...ada mantan calon adik ipar....ups.... keceplosan!" kata Kakak dengan mata membesar sambil menutup mulutnya dengan tangan. Membuat semuanya menjadi canggung.
...~ bersambung ~...