Cinta Agusd Si Kucing Tampan

Cinta Agusd Si Kucing Tampan
59. Menciut


Di dalam mobil, Archi masih merasa canggung karena menonton film romantis bersama Ridwan. Sepanjang perjalanan dia hanya menunduk diam. Sementara teman-temannya naik ojek mobil untuk pulang.


Ridwan menatap wajah Archi. Ada desiran aneh dalam dirinya. Sambil menyetir dia mencuri pandang menatap bibir kecil Archi. Sesekali dia pun menatap tubuh Archi. Dia menelan salivanya.


"Hufh...!" Ridwan membuang napas kasar.


"Konsentrasi Ridwan... Konsentrasi!" ucapnya di dalam hati seperti membaca mantra.


"Kenapa Archi terlihat begitu menggoda?" tanyanya menjadi resah.


Ridwan memberhentikan mobilnya di tepi jalan yang sepi.


"Kenapa kita berhenti di sini?" tanya Archi melihat ke arah luar jendela.


"I..itu...," ucap Ridwan gelisah.


Archi merasakan gelagat aneh dari ridwan. Dia pun mulai bersikap waspada.


"Itu apa?" tanya Archi.


"Akh!" geram Ridwan.


"Kamu kenapa?" tanya Archi bingung.


"Nggak...aku nggak kenapa-kenapa." jawab Ridwan menenangkan dirinya.


"Aku nggak mau ngerusak kamu Archi. Kalau sampai aku melakukan itu, kamu pasti akan marah banget sama aku. Dan kita nggak akan jadi teman lagi. Lebih baik aku sabar," ujar Ridwan di hatinya.


"Aku cuman ngerasa pegal," kata Ridwan meregangkan tangannya.


Dia pun menyalakan mesin mobilnya dan menjalankan mobilnya menuju ke rumah Archi.


Archi turun dari mobil setelah sampai depan rumahnya.


"Dadah Archi! Sampai jumpa besok!" kata Ridwan sambil berjalan ke pintu kemudi.


"Dah...Ridwan. Oke!" kata Archi tersenyum bahagia.


Tanpa dia sadari, Agust sedang memata-matai dirinya dari balik jendela ruang tamu.


"Heuh...begitu kelakuannya saat sudah ketahuan isi hatinya yang sebenarnya," gerutu Agust kesal menutup tirai jendela berwarna coklat itu dengan kasar.


Archi memasuki rumah. Dengan menghentak kaki Agust berjalan di depannya menuju ke tangga. Archi berjalan di belakang Agust.


Sesampainya di kamar,


"Aku tahu kamu juga nggak peduli. Tetapi aku cuman mau bilang, maaf aku pulang terlambat. Karena tadi aku nonton sama teman-temanku," kata Archi dengan lembut.


"Heum.." jawab Agust.


"Kalau hari Minggu ini kita juga nonton berdua, gimana?" tanya Archi.


"What....Archi ngajak aku nonton? Apa ini kencan?" pikir Agust dengan senangnya. Dia ingin tersenyum namun dia tahan karena masih pura-pura marah.


"Buat apa? Boros. Kamu kan sudah nonton hari ini," jawab Agust ketus.


"Nggak apa-apa. kan biar kamu bisa refreshing, nggak bosan. Aku juga ikut nonton biar pikiran aku fresh. Dan aku pikir, kamu juga perlu itu," jawab Archi.


"Mungkin itu juga bisa memperbaiki hubungan kita lagi," sambung Archi.


"Archi....," ucap Agust terharu di dalam hatinya.


"Tapi..., ya udah kalau kamu nggak mau. Aku nggak bisa maksa," imbuh Archi kemudian, melihat Agust tidak menanggapi dirinya.


Agust bernapas kasar, "nggak bisa maksa atau memang nggak niat ngajak?"


"Aku niat ngajak kok. Tapi kan kamu diam aja, walau dari tadi aku ngomong," sahut Archi.


"Ya kan bisa dibujuk!"


"Oh...jadi mau dibujuk." jawab Archi dengan polosnya.


"Tapi kan daritadi aku juga udah bujukin kamu," sambung Archi.


"Aku aja belum jawab, kamu udah bilang aku nggak maksa,"


"Iya maaf. Jadi kamu mau nonton sama aku?" tanya Archi.


"Eum....!"


"Iya...mau. Aku mau nonton sama kamu,"


Archi tersenyum senang.


"Oke deh. Hari Minggu nanti ya," kata Archi lalu pergi ke kamar mandi.


Selepas mandi....


"Aku mau menanyakan sesuatu kepadamu," kata Agust yang tengah duduk di atas kursi meja belajar tanpa menengok ke arah Archi.


Archi merasakan aura-aura mencekam dari tubuh Agust. Hatinya berdebar, menebak apa yang sekiranya akan Agust tanyakan.


"A...apa?" tanya Archi begitu gugup.


"Apa kamu sebenarnya menyukai atasan kamu?" tanya Agust memutar duduknya menghadap Archi.


Deg...


Archi terhenyak, dia terkejut dengan pertanyaan yang Agust lontarkan.


"Ke...kenapa kamu menanyakan itu?" tanya Archi tiba-tiba menjadi gagap.


"Aku hanya ingin tahu. Karena kemarin kamu bilang, sebelum menikah kamu juga masa lalu,"


"Yah..., wanita normal manapun pasti akan menyukai Ridwan kan. Dia tampan, tinggi, body nya atletis, gagah, dan juga cerdas. Yah aku juga pernah suka sama dia," jelas Archi.


"Pernah..., apa itu berarti, rasa itu sudah berlalu?" pikir Agust. Wajahnya sedikit memerah ketika memikirkannya.


"Tetapi ya, sekarang untuk apa aku menyukai laki-laki lain? Aku sudah terikat denganmu dalam pernikahan. Dan ayah bilang, menikah itu sama saja seperti kita berjanji kepada Allah dan aku nggak mau melanggar janjiku sama Tuhan ku."


Mata Agust berbinar terang, air sedikit menggenangi kornea matanya. Betapa terharunya dia mendengar kata-kata Archi. Dia pun menjadi luluh dan tidak tega untuk bersikap acuh kepada Archi. Sedikit rasa bersalah menggantung di hatinya karena telah menuduh Archi hanya karena emosi sesaat.


"Apa kamu benar-benar dengan ucapanmu?" tanya Agust.


"Iya. Buat apa aku bohong."


"Jadi apa itu berarti kamu udah nggak memiliki rasa sama atasanmu itu?" tanya Agust.


"Kalau rasa sih, gimana ya?" goda Archi.


Wajah Agust merengut kesal lagi.


"Namanya juga cinta pertama yah....," jawab Archi dengan jujur.


"Tapi kenapa sih kamu pengen tau banget perasaan aku sama Ridwan?" memutus jawaban dan menggantinya dengan pertanyaan.


"Nggak kenapa-kenapa." jawab Agust jadi salah tingkah.


"Ayo bilang kenapa?" cecar Archi menuntut jawaban Agust.


"Aku udah jujur sama kamu ya," kata Archi.


"Sekarang kamu harus jujur sama aku. Ayo jawab. Kenapa kamu pengen tahu banget begitu?" sambung Archi.


"Dibilang nggak kenapa-kenapa juga," jawab Agust menyembunyikan wajahnya yang memerah dari pandangan Archi.


"Heum...,"


"Aku cuman pengen tau aja kok. Bener deh!" sambung Agust.


"Jangan-jangan kamu sebenarnya cemburu ya sama Ridwan?" tebak Archi dengan jitu.


Wajah Agust semakin matang oleh warna merah.


"Nggak..., ih ngada-ngada kamu," kelit Agust memutar lidah.


"Yang benar, hayo ngaku!" goda Archi lagi.


"Aku...,"


"Kamu cemburu kan,"


"I...," sesaat sebelum menjawab tubuh Agust menciut dan semakin menciut hingga tubuhnya menghilang, dan bajunya berjatuhan kelantai.


"Agust!!!!" pekik Archi begitu khawatir.


...~ bersambung ~...