Cinta Agusd Si Kucing Tampan

Cinta Agusd Si Kucing Tampan
102. Orang Penting


Di ruangannya....


"Melepas itu berat, tapi berharap itu lebih berat. Biar semua mengalir. Karena waktu yang akan menentukan akhirnya." kata Ridwan menatap foto Archi di galeri fotonya.


Sepulang Archi bekerja.


"Archi!" panggil Agust yang baru pulang bekerja juga. "Apa di internet kita bisa melihat gedung perusahaan?"


"Gedung perusahaan?"


"Iya." Angguk Agust semangat.


"Bisa aja." jawab Archi.


"Samar-samar aku bisa melihat gedung itu. Barangkali kita bisa melihat yang cocok dengan yang ada dalam ingatanku." kata Agust.


"Mungkin. Agar lebih jelas aku akan menggunakan laptopku." kata Archi membuka laptopnya di atas tempat tidur.


"Kita mulai dengan Kimia Farma." Archi mengetika keyword di mesin pencari.


Sejumlah gambar gedung perusahaan yang berkaitan dengan Kimia Farma muncul.


"Hem...bukan aku rasa." jawab Agust.


"Yang kedua, Indo Farma." Archi mengetik keyword baru. Gambar-gambarnya berganti.


"Wah gedung perusahaannya asri. Menyejukan mata." kata Archi. "Bagaimana? Yang ini bukan?"


"Bukan juga." jawab Agust.


"Oke, selanjutnya!" Archi mengetik keyword Genilab Farma.


Gambar-gambar gedung berubah menjadi gedung Genilab Farma.



"Itu...itu...aku yakin itu gedung yang sama, dalam ingatanku!" seru Agust dengan bola mata membesar.


Archi mengernyit, "Kamu yakin?"


"Iya, aku yakin!" sahutnya mantap.


"Ini gedung kantor perusahaan, tempat ayah bekerja." kata Archi merasa nggak habis pikir.


"Apa?" pekik Agust tidak percaya.


"Iya. Ayah kan sudah bilang nggak ada orang seperti kamu di sana."


"Mungkin ayahmu melewatkan sesuatu atau lupa." kata Agust.


"Bisa jadi. Karena di satu perusahaan dan pabrik orangnya bisa beribu-ribu bahkan berpuluh ribu. Bagaimana ayah bisa mengingat semua dengan jelas. Iya kan?" jawab Archi.


"Nah itu maksudku. Lalu bagaimana aku tahu kalau aku memang bekerja di perusahaan itu?" tanya Agust.


"Satu-satunya cara ya masuk ke dalam perusahaan itu dan mencari tahu." usul Archi.


"Bagaimana caranya? Minta bantuan ayahmu?" tanya Agust.


"Nggak, jangan. Nanti ayah bisa curiga. Kemarin saja dia sudah penasaran dengan kenapa aku bertanya tentang kamu ada di pabriknya."


"Terus bagaimana?" Agust harap-harap cemas.


"Aku tahu." Angguk Archi setelah memasang ekpresi berpikir.


" Bagaimana?"


"Lihat saja nanti. Semua akan beres. Tenang saja." jawab Archi merasa yakin. Sementara Agust menatapnya bingung.


Keesokan paginya di kantor. Archi menemui Ridwan di ruangannya.


"Permisi Pak?" kata Archi setelah dipersilahkan masuk oleh Ridwan.


"Duduk Archi, ada apa?" tanya Ridwan.


"Pak, boleh bertanya?" tanya Archi. Ridwan menyipitkan matanya dengan tajam menatap Archi curiga.


"Nanya apa Archi?" tanya Ridwan.


"Bisa kasih saya informasi tentang Tuan Ludwig?" tanya Archi.


"Tuan Ludwig?" mata Ridwan semakin sipit, heran dengan keinginan Archi yang tiba-tiba.


"Ada perlu apa kamu sama Tuan Ludwig."


"Saya nggak bisa bilang sekarang, tetapi saya perlu informasi mengenai dimana biasanya beliau berada?" kata Archi.


"Kamu mau PDKT sama Tuan Ludwig?"


"Idih...nggak bukan. Dia udah aku anggap kakek ku sendiri. Aku doang sih yang nganggap, dia belum tentu juga. Udah cepet bilang, dia ada dimana biasanya?" tuntut Archi kesal.


"Eh...saya atasan kamu loh!" kata Ridwan menyombong.


"Eh iya lupa." Archi nyengir. "Abis kamu lama." sahut Archi lagi.


"Tuan Ludwig itu kalau jam kerja biasanya berada di perusahaan intinya, Genilab Farma. Kalau nggak ada di sana. Ya dia di rumah." jawab Ridwan.


"Gitu ya. Kamu punya nomor telepon Tuan Ludwig?" tanya Archi lagi.


"Bisa tolong mintakan untukku?" tanya Archi mengedip cepat.


"Ya ampun, buat apaan sih?" tanya Ridwan yang semakin penasaran.


"Ada deh. Nanti juga kamu tahu kalau aku udah bisa ketemu beliau." jawab Archi.


"Ya nanti kalau aku ketemu Direktur aku tanyain." kata Ridwan. "Tapi janji abis itu langsung kasih tahu aku, ada apa nya ya?"


"Oke! Terimakasih Ridwan. Kamu memang selalu bisa aku andalkan." kata Archi mengerling nakal.


"Kalau bukan istri orang udah aku terkam kamu Archi." gumam Ridwan gemas.


"Apa kamu bilang?" tanya Archi.


"Nggak. Eh, saya atasan kamu Archi, manggil kamu lagi." jawab Ridwan pura-pura marah.


"Hehehe...ya sudah. Saya permisi Pak Ridwan, yang tampan." kata Archi.


Ridwan menggeleng sambil tersenyum memperhatikan Archi yang keluar dari ruangan kerjanya.


Kemudian...


Ridwan datang dari arah ruangan CEO.


"Ini yang kamu pinta." kata Ridwan menunjukkan layar handphone nya yang menampilkan nama kontak, Tuan Ludwig (Dirut) beserta nomor handphonenya.


Archi tersenyum lebar kepada Ridwan, "Terimakasih Pak!" kata Archi.


"Aku kirim lewat pesan ya." kata Ridwan mengirim nomor Tuan Ludwig melalui pesan WA.


"Baik Pak! Terimakasih. Maaf merepotkan!" kata Archi.


Setelah mendapatkan nomor Tuan Ludwig Archi pergi ke kamar mandi untuk menelepon Tuan Ludwig. Karena menurutnya sangat tidak sopan bila hanya mengirimkan pesan teks kepada orang penting seperti Tuan Ludwig.


"Selamat siang... Kakek!" seru Archi yang terlalu senang. "Maksud saya Tuan Ludwig." susul Archi meralat ucapannya.


"Iya selamat siang. Dengan siapa ya ini?" tanya suara kakek itu.


"Aku Archi Tuan. Yang bertemu Tuan di tebing waktu itu." kata Archi mencoba mengingatkan.


"Oh...Archi. Iya Archi ada apa?" Tuan Ludwig pun terdengar senang.


"Tuan Ludwig sibuka tidak? Boleh saya membuat janji temu dengan Tuan?" tanya Archi lagi.


"Oh tentu boleh. Kapan kamu mau bertemu? Apa mau hari ini? Hari ini kebetulan aku ada di kantor." kata Tuan Ludwig tanpa menunggu Archi menjawab.


"Apa boleh hari ini?" tanya Archi.


"Tentu. Kalau besok, belum tentu saya datang ke kantor. Saya jarang-jarang bisa ke kantor. Tergantung kondisi kesehatan saya." kata Tuan Ludwig.


"Baiklah. Saya akan ke sana sekarang, Tuan. Terimakasih atas waktunya Tuan."


"Sama-sama Archi." jawab Tuan Ludwig.


Archi pun menemui Ridwan di ruangannya untuk meminta izin keluar sebentar.


"Uhuk....uhuk...!" Ridwan yang sedang minum tersedak mendengar Archi meminta izin untuk keluar.


"Kamu dari kemarin izin terus Archi. Walau aku sahabat kamu, tetap aja kita harus profesional." kata Ridwan.


"Iya saya tahu, tetapi ini penting. Tuan Ludwig menunggu saya di kantornya." kata Archi.


"Apa?" pekik Ridwan terkejut.


"Kalau nggak percaya saya telepon beliau sekarang ya pak?" kata Archi.


"Ya sudah. Jangan. Pergilah! Tapi secepatnya kembali ya."


"Iya Pak. Siap! Terimakasih Pak Ridwan." kata Archi lalu pamit pergi.


"Kamu mau kemana Archi?" tanya Andini memperhatikan Archi yang mengambi tas sling nya seraya memasukan handphone ke dalam tas.


"Aku ada urusan bisnis penting." jawab Archi berbohong.


"Oh, disuruh Pak Ridwan ya?" tanya Andini.


"Iya, bertemu klien." jawab Archi berbohong.


"Tumben ketemu klien semangat. Biasanya paling males dan minta diwakilin." kata Andini.


Archi hanya nyengir lalu pergi ke perusahaan tempat Tuan Ludwig berada.


Sesampainya di depan gedung kantor Genilab Farma, "Semoga aku nggak bertemu ayah di sini." harapnya dalam hati melihat berkeliling memastikan nggak ada sosok Ayahnya berada di sekitar situ.


"Kalau bertemu bisa kacau, nanti dia bertanya, sedang apa di sini? Ada perlu apa? Kenapa bolos bekerja." kata hatinya lagi melangkah masuk ke lobi gedung kantor dengan perasaan berdebar.


Tanpa dia sadari, tidak jauh dari sana, ayahnya yang tengah berbicara serius dengan seorang pria berjas, melangkah ke depan lift.


"Itu ayah!" gumam Archi terbelalak ketika menyadari keberadaan ayahnya.


Beringsutan dia mencari tempat untuk bersembunyi. Di waktu bersamaan Ayahnya akan menoleh ke arah dirinya berada.


...~ bersambung ~...