
"I...," sesaat sebelum menjawab tubuh Agust menciut dan semakin menciut hingga tubuhnya menghilang, dan bajunya berjatuhan kelantai.
"Agust!!!!" pekik Archi begitu khawatir.
"Meeoong!" kucing putih keluar dari balik tumpukan baju. Berjalan dengan jingkat jingkat karena kaki depannya yang sakit.
"Agust... Kamu jadi kucing lagi?" Archi terheran sambil menggendong Agust kucing.
"Kasian banget, mana kakinya masih belum pulih banget," kata Archi.
"Eh tunggu, kaki depan kucing itu, termasuk kaki atau tangan sih?" tanya Archi.
"Ah...tau. Pokoknya tangan kamu kan masih belum pulih. Padahal udah lama loh kamu nggak berubah sampai aku pikir kamu sudah terbebas dari kutukan kucing. Tapi kok sekarang berubah lagi?"Archi berbicara sendiri memandangi Agust kucing di atas tempat tidurnya.
"Meong!" jawab Agust.
"Kira-kira lama nggak ya, kamu berubahnya? Kalau sampai hari Minggu kita nggak jadi nonton deh,"
"Meeeeng!" Agust mengeluarkan suara kucing marah.
"Hahaha..., ya jangan lama-lama. Aku harus ngomong apa ke keluargaku kalau kamu nggak ada," kata Archi.
Archi tidur bersama kucing di atas tempat tidurnya. Hingga esok pagi Agust belum kembali ke wujudnya. Meski begitu dengan terpaksa Archi harus meninggalkan Agust untuk bekerja.
Saat di tempat kerja,
^^^"Archi..., Agust kok nggak ada di kamar kamu?"^^^
Sebuah pesan muncul dari Ibu.
"Duh...aku lupa kunci pintu lagi," dalam hati Archi sambil mengetik pesan balasan.
^^^"Oh iya, aku lupa bilang. Agust pergi ke tempat kerjanya bu. Di panggil bosnya."^^^
Archi membalas pesan dengan berbohong.
Pulang bekerja Archi bergegas kembali ke rumah. Namun Agust belum juga berubah. Untuk mencegah banyak pertanyaan dan kecurigaan Archi pun menggunakan rencana sebelumnya. Melarikan diri bersama Agust dengan menginap di hotel pet friendly. Seenggaknya di sana dia merasa aman dari pertanyaan.
"Kamu mau kemana dengan koper itu Archi?" tanya Ibu yang memergoki Archi membawa koper akan keluar sebelum jam makan malam di mulai.
"Aku... aku mau menginap di hotel sama Agust," jawab Archi tersenyum palsu.
"Kenapa menginap di hotel?" tanya Ibu memandang curiga. "Ini bahkan bukan weekend," sambung Ibu.
"Nginep di hotel nggak harus weekend kan ibu. Kami baru aja berbaikan setelah bertengkar, jadi kami ingin merayakan ini," dalih Archi
"Oh begitu..., baguslah. Semoga habis ini ibu bisa mendengar kabar baik lainnya setelah kalian menghabiskan waktu berdua saja,"
"Maksud ibu?"
"You know lah Archi, yang Ibu mau," jawab Ibu tersenyum senang. "Selamat bersenang-senang sayang. Di tunggu kabar baiknya," pungkas Ibu dan berjalan pergi.
"Ya ampun Ibu... Ini nggak seperti yang ibu pikirkan." gumam Archi berjalan kembali dengan mendorong kopernya.
"Agust lagi jadi kucing, masa ia nanti aku memberikan ibu anak kucing," pikir Archi.
Di hotel . . .
"Tau nggak..., sejak ada kamu pengeluaranku bertambah untuk hal-hal nggak penting kaya gini," kata Archi kepada Agust kucing yang duduk di atas kasur.
"Meeoong!" sahut Agust kucing.
"Kenapa juga kamu harus bawa aku ke hotel. Di rumah juga kan bisa," batin kucing.
"Kalau di rumah mereka bisa curiga nggak melihat fisik kamu seharian. Mau bilang kamu di rumah saudara, saudara mana? Masa harus pergi ke tempat kerja terus alasannya," timpal Archi.
"Kalau kaya gini kan tenang, Ayah dan ibu taunya kita lagi liburan berdua,"
Esok harinya....
"Aku harus berangkat ke kantor. Kamu di sini aja ya. Jangan buang air sembarang. Di dekat kamar mandi ada liter box, kalau nggak mau di wc aja buang airnya."
"Iya tau!" dengus batin kucing.
Archi keluar dari kamar hotel dan mengunci pintunya.
^^^"Archi kamu dimana? Aku jemput kamu nih,"^^^
Pesan dari Ridwan diterima handphone Archi.
^^^"Oh aku lagi nginap di hotel waktu itu. Kamu bisa jemput aku di depannya?"^^^
^^^"Oke 👍"^^^
Sementara itu,
"Bagus jendelanya nggak di tutup. Aku bosan kalau seharian di sini. Aku mau keluar dulu." batin kucing menaiki jendela dan melompat ke list tembok yang menempel di gedung. Dia berjalan menelusuri itu, melompat ke balkon kamar lain di bawahnya dan begitu seterusnya hingga dia sampai di paling bawah.
"Kalau jatuh, mati nggak ya aku?" pikir Agust. "Aku kan kucing punya sembilan nyawa. Kalau nggak ada stok nyawa, ya mati." sambungnya merasa bersyukur menemukan pohon untuk dia melompat dari balkon terbawah.
"Heleh...dia bareng atasannya lagi," kucing itu terus melenggang pergi menuju ke Irene's pizza.
"Aku mau lihat, siapa yang menggantikan tempatku saat ini,"
Sementara itu di mobil.
"Ngapain kamu nginep di hotel?" tanya Ridwan.
"Kamarku lagi di renovasi jadi aku nginep dulu di hotel," jawab Archi bohong.
"Oh gitu,"
Kemudian ....
Di kantor Archi....
Ridwan menerima telepon di handphone-nya.
"Kamu sudah tahu di kamar mana Archi menginap?"
"Sudah Tuan. Nomor kamar 202." jawab suara dari panggilan itu.
"Dengan siapa dia menginap di sana?" tanya Ridwan lagi.
"Kalau untuk itu saya nggak bisa mendapatkan informasinya tuan,"
"Ya sudah kalau begitu."
Ridwan mengambil jasnya dan pergi meninggalkan ruangannya dengan terburu-buru.
"Mau kemana dia?" tanya Andini berbisik pada Archi.
"Nggak tahu," jawab Archi cuek lalu melanjutkan pekerjaannya.
Tanpa diketahui Archi, Ridwan ingin pergi ke hotel dan menemui Agust. Ridwan mengendarai mobilnya ke hotel.
Sesampainya di hotel Ridwan menuju ke kamar Archi. Di sana dia memencet bel kamar hotel Archi. Namun nggak mendapatkan jawaban.
"Apa dia nggak sama suaminya?" tanya Ridwan di dalam hati.
Ketika bel dipencet kedua kali,
"Ya siapa?" tanya Agust dari dalam tanpa membuka pintunya.
"Saya dari layanan kamar," jawab Ridwan berbohong.
"Oh maaf, saya nggak bisa buka pintu untuk saat ini." jawab Agust.
"Sial..."
"Apa? Kamu bilang apa?" tanya Agust.
"Oh...maaf. Saya nggak bilang apa-apa. Saya permisi," jawab Ridwan dan pergi menuju lift.
Agust membuka pintu dan melihat ke arah kepergian Ridwan. Dengan yakin Agust tahu itu adalah Ridwan.
"Untuk apa atasan Archi ke sini?" tanya Agust sambil menutup pintu lagi.
"Apa dia lagi memata-matai kami?" sambungnya.
"Terserahlah...tapi aku nggak boleh ngomong sama Archi kalau atasannya ke sini,"
Sore hari, ketika Archi pulang bekerja. Dia sangat terkejut karena Agust sudah kembali menjadi manusia.
"Agust..., akhirnya kamu jadi manusia juga. Kapan kamu berubahnya?" tanya Archi.
"Tadi siang." jawab Agust.
"Oh, bagus deh. Jadi kita nggak perlu terlalu lama di sini," ucap Archi.
"Jadi kita pulang malam ini?" tanya Agust.
"Iyalah, mau ngapain kita di hotel berduaan lama-lama." jawab Agust.
"Kecuali...kita, ya ampun pikiran ini!" Archi memukul kepalanya dengan kesal.
"Kamu kenapa?" tanya Agust.
"Nggak," jawab Archi malu.
"Oh iya tadi...," tiba-tiba Agust keceplosan ingin membicarakan kedatangan Ridwan tadi siang.
"Tadi kenapa?" tanya Archi penasaran.
"Eu....,"
...~ bersambung ~...