
Archi berangkat ke kantor dengan perasaan sedih. Agust nggak mengantarkan Archi sampai gerbang seperti biasa. Tidak seperti sebelumnya, kali ini Agust benar-benar mencoba tidak peduli kepada Archi.
Di kantor, Archi pun nggak bisa konsentrasi. Dia masih kepikiran kata-katanya yang kasar semalam kepada Agust dan membuat Agust jadi marah. Archi jadi lebih pendiam dari biasanya.
"Kamu kenapa? Aku lihat kamu dari tadi kebanyakan diam," tanya Ridwan saat mengantarkan Archi pulang.
"Aku lagi bertengkar sama Agust," jawab Archi sambil menunduk.
"Heum...kok bisa? Tapi ya kan biasa kalau suami istri bertengkar," sahut Ridwan.
"iya, tapi bertengkarnya ini bukan karena hal biasa. Tapi ya nggak mungkin juga jelasin ke kamu," batin Archi.
"Iya kamu benar." jawab Archi.
"Kok aku jadi ngerasa jahat begini, tapi memang ada perasaan senang ngedenger dia berantem sama suaminya," batin Ridwan melirik lirik ke arah Archi.
Setelah Archi di rumah....
Archi melihat Agust kesulitan mengambil baju di dalam lemari.
"Aku bantu, ya," kata Archi.
"Nggak usah. Aku bisa sendiri," kata Agust dengan ketus.
Ibu yang kebetulan lewat dan melihat dari pintu kamarnya yang tidak ditutup merasakan aura pertengkaran diantara mereka.
Saat Archi ke dapur....
"Kamu lagi bertengkar sama Agust?" tanya Ibu sementara Archi meneguk minuman dinginnya.
Archi mengangguk dan duduk di kursi meja makan.
"Yang sabar Archi. Begitulah seninya berumah tangga. Dibicarakan lagi baik-baik. Kita sebagai istri juga terkadang dituntut banyak sabar. Kamu tahukan bagaimana kerasnya Ayahmu. Ibu harus banyak mengalah kalau sama dia," jelas Ibu.
"Iya bu," jawab Archi.
"Kalau dihadapi dengan lemah lembut nanti juga suamimu bisa luluh lagi. Tapi kalau kita sama-sama keras, ya nggak akan bisa selesai masalahnya,"
"Aku berharap Agust bisa luluh lagi. Karena ini memang salah aku, bu." jawab Archi.
"Iya sayang. Dia pasti bisa baik lagi. Apalagi Agust, ibu percaya dia orang yang baik dan sayang sama kamu,"
Pipi Archi semerah tomat matang mendengar ibu mengatakan Agust sayang kepadanya. Apa mungkin Agust memang sayang sama Archi dan dia saja yang nggak bisa membaca itu? Pikir Archi.
"Ngomong-ngomong Agust kan belum boleh mandi. Dia juga belum di lap in dari sejak sakit. Besok pagi kamu sediakan waktu buat lap badan dia dulu ya sebelum ke kantor."
"Aaaapppaaa?" pekik Archi terkejut dengan perintah ibu kali ini.
"Kamu itu, masih aja apa apa. Ngelap badan suami sendiri doang kok," timpal ibu dengan entengnya lalu pergi ke kamarnya.
"Ya ampun...aku lap badan Agust?" Archi meringis.
"Apa lagi dia lagi marah begini. Apa dia mau?" pikirnya lagi.
Kemudian, Archi keluar dapur dan menuju ke tangga. Di sana dia melihat Agust menuruni tangga sambil memeluk selimut dan bantalnya dengan tangan kanannya.
"Kamu mau kemana?" tanya Archi.
"Tidur," jawab Agust ketus.
"Kenapa nggak tidur di kamar?" tanya Archi serasa ada yang bergejolak dihatinya dan membuat matanya terasa panas.
"Nggak, aku mau tidur sambil nonton televisi," jawab Agust acuh sambil terus berjalan.
"Lagian itu kan kamar kamu bukan kamar aku." sambung Agust menampar Archi dengan kata-katanya.
Archi hanya bisa mematung di tempatnya sambil memandangi Agust yang sudah sampai di ruang tamu dan segera merebahkan badannya di sofa tanpa mau melihat Archi sekalipun.
Archi menaiki tangga dengan langkah lesu. Dia menoleh ke arah Agust sebelum benar-benar sampai di lantai atas.
Agust mendongak melihat ke arah tangga setelah Archi benar-benar menghilang di lantai atas.
Mereka pun berbaring di tempat terpisah. Namun dengan pemikiran yang sama. Mereka saling memikirkan satu sama lain. Dengan perasaan tidak tenang membuat mereka sulit memejamkan mata.
Keesokan paginya, Agust pergi ke kamar Archi untuk melaksanakan shalat shubuh. Setelah selesai shalat dia melihat Archi sudah menunggunya dengan duduk di tepi tempat tidur. Agust pun melihat baskom berisi air hangat dan handuk kecil.
"Ibu bilang kamu belum mandi. Aku...," Archi berbicara dengan gugup dan wajahnya memerah
"Nggak usah!" ketus Agust.
"Nanti aja kalau aku udah bisa sendiri," sambungnya akan berjalan.
Archi menarik tangannya.
"Jangan gitu! Ini kan disuruh ibu. Kamu mau ngebantah kata Ibu?" bujuk Archi.
"Oh, jadi ini karena di suruh Ibu." Dengan kasarnya Agust duduk di tepi tempat tidur.
Dia mencoba membuka bajunya dengan tangan satu dan tampak kesulitan.
"Ya bukan gitu maksudku. Aku bilang gitu biar kamu mau nurut," jawab Archi membantu Agust meloloskan satu lengannya dari baju.
"Kalau nggak disuruh Ibu juga, kamu mana peduli. Mau aku udah mandi atau belum," pikir Agust.
Kini Agust membelakangi Archi dengan punggung putihnya yang shirtless.
"Ini beneran aku harus melap tubuh Agust?" pikir Archi duduk dibelakang punggung Agust yang terbuka. Wajahnya sudah bagaikan kepiting rebus.
Archi mengambil handuk kecil dan memerasnya. Dengan lembut dia melap punggung atas Agust.
"Ya ampun kenapa rasanya deg-degan gini!" inner Archi lalu menelan salivanya.
Rasa yang sama tengah Agust rasakan dihatinya. Sentuhan lembut Archi di belakang punggungnya memunculkan rasa lain di dalam hatinya.
"Aku jadi tegang gini sih?" tanya Agust pada dirinya sendiri.
"Desiran aneh apa yang meremang di tubuhku ini?" pikirnya lagi.
"Udah...aku nggak mau di lap lagi!" Agust segera berdiri dan menyembunyikan wajahnya yang memerah dari pandangan Archi.
"Kenapa? Baru separuh punggung yang di lap."
"Aku bilang nggak mau, ya nggak mau!" tegas Agust.
"Ya sudah kalau begitu!" Archi berdiri dan mengambil baju ganti Agust.
Dengan hati-hati dia membantu Agust memakaikan bajunya.
Selesai memakai bajunya, Agust buru-buru ke kamar mandi.
"Untung dia nggak menyadari ada yang bangun," batin Agust melihat ke celananya yang menyembul.
Ketika Archi merapihakn bekas mandinya.
"Agust mau di lap?" tanya Ibu.
"Nggak. Baru separuh punggung dia bilang udah nggak mau di lap lagi," jawab Archi.
"Kenapa?" tanya Ibu bingung.
"Nggak tahu." jawab Archi dengan polosnya.
"Ya sudah. Nanti lagi saja," jawab Ibu.
Di dekat situ....
"Tumben dia nggak lihat. Biasanya matanya paling cepat menangkap sinyal yang berdiri," kata Agust di dalam hatinya.
"Nggak apa-apa lah. Malu juga dong, lagi ngambek tapi ketangkap basah pusakanya lagi berdiri."
"Kamu lagi ngapain disitu?" tanya Archi yang sudah siap berangkat kerja dengan tas sling bag di bahu dan sepatu kerjanya melihat Agust di dekat tembok.
Agust mencoba bersikap acuh dengan wajah merahnya. Dia mendahului Archi menuruni tangga.
Archi menghembuskan napasnya dengan keras memandangi punggung Agust berjalan di hadapannya. Bayangan punggung Agust shirtless tadi tergambar kembali di ingatannya.
**Blussh**..
Semburat warna merah memenuhi wajahnya.
"Astagfirullah pagi-pagi pikiran udah kemana-mana!" ucap Archi di dalam hati sambil menggeleng.
...~ bersambung ~...