
Sekitar satu jam kemudian....
Ridwan memasuki sebuah ruangan besar dengan sofa besar berwarna abu. Di sana duduk seorang pria tinggi tengah memainkan handphone-nya. Atensi nya teralihkan tatkala Ridwan masuk.
"Kamu pulang juga. Katanya nggak akan kembali ke rumah ini?" ucap pria itu sinis.
"Aku ke sini hanya karena mendengar kakek sakit. Aku ingin menemui kakek saja," jawab Ridwan santai sambil duduk di sofa besebrangan dengan Jeremy. Ridwan bersandar dengan nyaman dan merentangkan kedua tangannya di sandaran sofa di belakangnya.
"Ray...Rayvin!" seru Tuan Nicholas gembira memasuki ruangan.
"Putra Ayah!" sambungnya menghampiri Ridwan dengan tangan terentang meminta pelukan kepada putranya yang sudah lama tidak pulang ke rumah.
"Jangan memanggilku dengan nama itu lagi, Ayah. Aku sudah lama mengganti namaku," jawab Ridwan berdiri lalu memeluk Tuan Nicholas.
"Oh...baiklah. Apapun maumu anakku." jawab Tuan Nicholas, duduk di single sofa.
"Kamu akan kembali ke rumah ini kan?" tanya Tuan Nicholas.
"Nggak Ayah. Aku sudah memutuskan untuk nggak kembali ke sini kan," jawab Ridwan.
"Kasihanilah Ibumu sayang. Dia jadi sering sakit-sakitan karena kamu pergi dari rumah ini,"
"Aku nggak suka tinggal dengan orang-orang tamak dan jahat seperti kalian. Lebih baik aku menjauh," batin Ridwan.
"Aku nggak bisa Ayah," jawab Ridwan dengan mantap.
"Kalau kamu nggak kembali, kamu nggak akan mendapatkan hak warismu," timpal Jeremy.
"Aku bahkan nggak peduli dengan itu," sahut Ridwan sinis.
"Kalau kamu nggak mendapat hak warismu, seluruh fasilitas yang kamu nikmati sekarang akan kami ambil. Kamu sudah tahu kan?" ujar Tuan Nicholas.
"Ambilah. Aku masih bisa berdiri dengan kakiku sendiri." jawab Ridwan.
"Kami melakukan itu semua juga demi kebaikan dan masa depan kamu Ray," Tuan Nicholas mencoba membujuk Ridwan.
Ridwan melengos jengkel.
"Aku sudah menemui Ibu dan Kakek. Aku akan kembali ke kehidupanku yang tenang," pamit Ridwan berdiri dari duduknya.
"Kamu selalu tahu bahwa kamu selalu di terima di rumah ini kan Ray,"
"Ridwan. Namaku Ridwan." kata Ridwan menegaskan lalu pergi keluar dari rumah besar itu.
"Seenaknya anak itu mengganti nama pemberian orang tuanya," sungut Jeremy.
"Setidaknya dia bisa lebih menggunakan otaknya untuk berpikir," sindir Ayah kepada Jeremy lalu pergi keluar ruangan.
"Dia selalu membandingkan aku dengan Ray, tetapi dia lebih menggunakan diriku untuk memuluskan niatnya merebut hak waris keluarga ini," gerutu Jeremy.
...****************...
Di kantor....
Archi dan kawan-kawan sedang merumpi di pantry. Memanfaatkan situasi karena Ridwan tidak di tempatnya.
"Pak Ridwan ada urusan keluarga? Aneh juga ya. Kirain dia nggak punya keluarga," kata Susan membuka sesi obrolan.
"Ya masa iya orang nggak punya keluarga," timpal Icha.
"Kamu kan dulu satu kampus sama Ridwan, kamu tahu keluarganya?" tanya Andini yang juga penasaran.
Archi menggeleng lesu.
"Deuh... yang masih galau karena belum baikan sama suaminya. Murung terus," goda Susan.
"Dia kan memang orangnya begitu. Kalau lagi ada yang dia pikirin jadi murung." sahut Icha.
"Kalau aku sih ya, mumpung lagi begini mending aku ambil kesempatan buat deket sama Ridwan. Kaya batu loncatan," timpal Susan tersenyum bangga.
"Huuuh...itu mah kamu aja!" sorak Icha dan Andini.
"Kamu gampang ngomong gitu karena kamu kan baru pacaran, ini dia udah suami istri loh. Apalagi Archi yang salah." kata Icha.
"Nggak peduli suami atau pacaran. Kalau kita udah minta maaf dia masih begitu ya cuekin aja. Jalanin hidup jangan dibikin susah. Kaya yang cowok cuman dia doang aja."
"Udahlah. Aku mau lanjut kerja aja." kata Archi berjalan sambil membawa cangkir kopinya.
"Kamu tega banget sih San. Ngomong gitu di depan Archi. Jangan samain dia sama kamulah. Ya beda." kata Andini.
"Aku ngomong gitu biar mata hati Archi terbuka. Apalagi dari awal mereka memang nggak saling cinta. Biar cowok itu juga tau, kalau kita masih bisa jalan tanpa dia."
"Kalau Archi kaya gitu, sama aja di nunjukin kalau memang dia nggak pernah cinta sama suaminya. Dan nggak ada keseriusan Archi buat mempertahankan rumah tangganya."
"Tau nih si Susan."
"Itu lebih baik daripada memaksa dipertahankan juga tapi nggak bahagia. Buat apa?" keukeuh Susan dengan argumennya.
Jam pulang kantor pun tiba.
"Archi...," Panggil Ridwan menghampiri meja Archi.
Archi berdiri dan menyampirkan tali tas sling bag di bahunya.
"Ya Pak!" jawab Archi.
"Daripada bete, bagaimana kalau kita nonton?" ajak Ridwan.
Archi melihat ke arah Susan yang mengangguk-angguk bagaikan beo sambil tersenyum antusias.
Archi pun teringat kata-kata Susan saat di pantry. Setelah menimbang akhirnya Archi pun memutuskan.
"Aku mau sih nonton. Tapi kalau perginya cuman berdua saya nggak boleh." kata Archi.
Memahami maksud Archi,
"Kalian mau ikut nonton juga?" ajak Ridwan menoleh ke arah teman-teman Archi yang lain.
Mereka berhambur mendekat sambil tersenyum lebar.
"Mau Pak!"
"Hufh...!" keluh Ridwan.
"Kalau rame-rame,gimana bisa jadi romantis?" pikir Ridwan.
Di dalam bioskop, Ridwan sengaja memesan kursi yang berbeda dengan tiga sahabat Archi dengan alasan kursi lain penuh. Awalnya Archi menolak namun karena teman-temannya Archi pun jadi duduk bersebelahan dengan Ridwan dan jauh dari sahabat-sahabatnya.
Ketika sedang menonton, karena yang mereka tonton adalah film romantis luar negeri dan tidak luput dari adegan kissing dan hal sejenis.
Archi menengokkan wajahnya ke samping agar tidak melihat adegan itu. Sementara Ridwan tersenyum-senyum melihat Archi yang salah tingkah karena melihat adegan itu.
"Kenapa milih filmnya kaya gini sih. Kan ada film animasi juga yang sekarang tayang." keluh Archi.
Sementara itu di rumah Archi. Agust menatap jam dinding yang sudah beranjak dari angka sepuluh dan Archi belum juga pulang tanpa kabar.
"Sepertinya dia sangat menikmati hidupnya setelah omongan aku semalam." gumam Agust merasa kesal.
"Dia pasti lagi sama atasannya itu. Harusnya aku nggak kesel karena dari awal aku tahu alasan Archi nikah sama aku. Tapi hatiku ini... Nggak bisa diajak kompromi!" gerutu Agust menatap keluar jendela.
Di dalam mobil, Archi masih merasa canggung karena menonton film romantis bersama Ridwan. Sepanjang perjalanan dia hanya menunduk diam. Sementara teman-temannya naik ojek mobil untuk pulang.
Ridwan menatap wajah Archi. Ada desiran aneh dalam dirinya. Sambil menyetir dia mencuri pandang menatap bibir kecil Archi. Sesekali dia pun menatap tubuh Archi. Dia menelan salivanya.
"Hufh...!" Ridwan membuang napas kasar.
"Konsentrasi Ridwan... Konsentrasi!" ucapnya di dalam hati seperti membaca mantra.
"Kenapa Archi terlihat begitu menggoda?" tanyanya menjadi resah.
...~ bersambung ~...