Cinta Agusd Si Kucing Tampan

Cinta Agusd Si Kucing Tampan
96. Hampa


Dia berjalan menghampiri Ridwan, "Selamat, apa yang kamu harapkan terjadi." Aku berpisah dengan suamiku. Pernikahan kami tidak untuk selamanya." nada suara Archi tenang namun menusuk.


"Kamu puas sekarang!" pekik Archi kepada Ridwan. Memukul-mukul dada Ridwan dengan kepalan tangannya sambil menangis.


"Archi...sadar non, malah bengong!" kata Susan menggoyangkan pundak Archi yang tengah melamun menatap Ridwan.


Ternyata kejadian tadi hanyalah bayangan Archi semata. Archi kembali ke alam sadarnya. Seperti orang kikuk dia pelanga pelongo menatap sekitar.


"Kalau kamu merasa kurang sehat, kamu istirahat aja di rumah Archi," kata Ridwan dengan lembut.


"Nggak Pak. Saya baik-baik saja." jawab Archi kembali melihat komputernya.


Ridwan masuk ke dalam ruangannya dan duduk di kursi kerjanya. Dengan pandangan kosong dia menatap keluar jendela di belakang kursi kerjanya. Melihat pemandangan kota yang tampak lengang di tengah jam kerja.


"Kamu mengharapkan aku berpisah dengan suamiku? Iya?" cecar Archi.


"Bukan mengharapkan. Hanya saja, ini feeling orang yang mencintai kamu Archi. Aku memiliki keyakinan kalian nggak akan bisa bersama selamanya," ucap Ridwan dengan serius dan begitu yakin.


Dia pun kepikiran ucapannya waktu itu dengan rasa menyesal.


"Kenapa aku mengatakan itu? Padahal aku mengatakan itu dengan keyakinan, karena firasatku. Tetapi aku nggak pernah menyangka ini akan jadi kenyataan. Dan aku menyesal pernah terpikirkan hal itu bila ini hanya membuat Archi merasa bersedih dan putus asa." gumamnya.


Saat istirahat Archi hanya melamun sambil memainkan makannya yang tak dia suap ke dalam mulut.


"Apa Agust memikirkan aku? Apa dia sama sedihnya dengan diriku!" pikir Archi.


"Di makan Archi!" pinta Ridwan menyendokkan makanan Archi dengan sendok lain dan menyodorkannya ke depan mulut Archi.


"Nggak Pak. Terimakasih." jawab Archi lalu bangkit dari duduknya.


"Kasihan Archi. Nggak nyangka kalau orang yang positif vibes, dan ceria kaya dia bisa sepatah hati, sampai kaya gitu."


"Itu menandakan cintanya sama Agust sangat besar walau mereka baru beberapa bulan menikah."


"Bisa juga tuh anak mencintai sampai sebegitunya. Eh...maaf pak!" kata Andini yang jadi merasa tidak enak kepada Ridwan.


"Nggak apa-apa. Memang itu kenyataannya, kan?" Ridwan tersenyum miris. "Udah, ayo kita balik ke kantor." ajak Ridwan.


Di restoran....


"Mas Agust...colanya luber!" pekik Vita menaikan keran mesin cola.


"Oh...,maaf!"


"Ya ampun Mas Agust...kamu kenapa sih? Kalau lagi kerja fokus dong!" omel Vita kesal.


"Iya maafkan aku." kata Agust lagi membungkuk dengan sangat menyesal.


"Kenapa?" tanya Irene.


"Ini Nona, Mas Agust, colanya sudah luber dari gelas dianya malah melamun." jelas Vita.


"Oh ya sudah. Dirapikan saja." titah Irene.


"Biar aku yang rapikan." kata Agust mengambil lap dan alat pel lantai.


"Giliran Agust aja yang buat kesalahan dimaklumin. Coba yang lain, udah mencak-mencak kaya ayam minta kawin." gerutu Vita di dalam hati.


"Kamu sedang bertengkar dengan Archi ya?" tanya Irene di jam istirahat. Agust hanya tersenyum tanpa menjawabnya.


"Saya permisi, Nona Irene. Mau cari makan dulu." pamit Agust.


"Aku juga mau cari makan. Boleh bareng?" tanya Irene meminta izin. Agust tersenyum.


Sore harinya,


"Aku ingin menemui Agust sekali lagi. Mungkin aku bisa membujuknya." batin Archi ketika turun dari bis dan berjalan menuju restoran Irene's pizza.


Archi menaruh handphone-nya ke dalam tas ketika sudah hampir dekat dengan restoran. Saat dia selesai menaruh handphone, dia memandang ke depan. Betapa sakit hatinya, dengan yang dapat ditangkap maniknya saat itu.


Suaminya, Agust yang sedang duduk di atas motor berbincang santai hingga tertawa bersama Irene. Dengan lembut tangan Agust menyampirkan rambut Irene ke balik telinga Irene. Membuat gadis itu menunduk malu dan tampak tersipu dengan perlakuan manis Agust.


Mata Agust menatap ke spion motor yang memantulkan gambaran Archi di dalamnya. Tanpa diketahui Archi dan Irene, sesungguhnya Agust sudah tahu Archi berjalan menuju ke restoran dari kaca spion motornya.


Archi memalingkan wajahnya, sebelum akhirnya berbalik dan mengurungkan niatnya bertemu dengan Agust. Dengan hati hancurnya, Archi berjalan menuju ke rumahnya.


"Ternyata ini salah satu sebabnya dia ingin berpisah, agar dia bisa bersama Irene." pikir Archi sepanjang perjalanannya.


"Maafin aku Archi. Aku cuman ingin kamu membenciku dan nggak akan terluka lagi karena aku." kata Agust di dalam hatinya.


Tanpa terasa seminggu sudah berlalu. Meski Archi berusaha untuk tidak lagi mengingat dan mengharapkan Agust namun hatinya tetap melakukan itu. Jiwa Archi bagaikan kosong tanpa penghuni.


Dia tidak lagi ceria, wajahnya selalu di tekuk dan irit bicara. Dia tidak lagi sering menangis, hanya menangis dalam doanya selesai shalat tahajud.


Perubahan sikap Archi membuat orang-orang terdekatnya khawatir. Terutama karena hilangnya nafsu makan Archi yang signifikan. Dia jarang menyentuh makanannya dan hanya makan sedikit bila di paksa.


"Jangan begini sayang. Ibu Mohon. Walau apapun yang terjadi kamu harus menjaga diri dan kesehatanmu." kata Ibu sambil mengusap rambut panjang putrinya dengan lembut. Ibu tidak bisa menutupi rasa prihatinnya. Satu bulir lolos dari kelopak matanya.


"Kalau kamu begini biarkan Ayah menemui Agust. Mungkin ayah bisa menasehatinya." kata Ayah yang sedikit jengkel dengan larangan Archi untuk tidak menemui Agust.


"Lagian kamu tuh aneh. Kamu menikah aja sama dia tanpa cinta, saat harus berpisah kenapa harus seperti ini? Sampai hilang semangat hidup." omel Kakak bersidekap.


"Lupain aja dia. Life must go on." sambung Kakak.


Archi bergeming, dia berdiri dari duduknya. "Seandainya aku bisa seperti itu." ucap Archi dingin. "Tetapi ini pernikahan bukan masa pacaran saat SMA." Archi berjalan menuju ke lantai dua, ke kamarnya.


Di dalam kamar, Archi menghempaskan tubuhnya tertelungkup di atas tempat tidur. Sambil memeluk bantal Agust dia mulai menangis kembali.


"Kenapa kamu tega melakukan ini kepadaku Agust. Aku mencintaimu, memberikan seluruh hatiku kepadamu. Membuatku terikat denganmu. Tetapi dengan kejamnya kamu pergi meninggalkan aku, nggak peduli perasaanku." kata Archi sambil terisak dalam tangisnya.


Keesokan harinya....


Di kontrakannya Agust berubah menjadi kucing putih. Beruntung hari ini adalah jatah liburnya.


"Aku berubah jadi kucing lagi." batin si kucing. "Saat jadi kucing begini aku jadi semakin merindukan Archi. Ahaa....aku tahu. Dengan tubuh seperti ini aku malah bisa leluasa melihat Archi dari kejauhan." sahut batinnya riang.


Kucing putih memanjat tirai jendela dan melompat ke atas lubang angin di atas jendela kamar kontrakannya. Lalu mulai berjalan ke rumah Archi.


Di rumahnya, Archi pulang dari kantor. Masih dengan perasaan yang sama. Ketika ia memasuki kamar dan menutup pintu, tiba-tiba kepalanya terasa pusing, badannya pun lemas hingga dia kehilangan kontrol akan tubuhnya yang langsung lunglai, jatuh ke lantai dengan mata terpejam.


Tap....


Secara bersamaan kucing putih telah sampai di atas jendela kamar Archi dan melihat Archi jatuh pingsan ke lantai. Kucing putih turun dari jendela dengan perasaan khawatir.


"Meeoong!!!!" bunyi kucing putih menyundulkan kepalanya ke lengan atas Archi agar dia merespon.


"Archi...sadarlah! Ini aku. Agust!" batin kucing putih terus menyundul, dan mengusapkan kepalanya ke lengan dan wajah Archi.


Kucing putih menjilat pipi Archi, "Agust...!" lirih Archi dengan mata sedikit terbuka memandang kucing sebelum akhirnya benar-benar hilang kesadarannya sepenuhnya.


"Archi!!!" panggil batin kucing putih


...~ bersambung ~...