Cinta Agusd Si Kucing Tampan

Cinta Agusd Si Kucing Tampan
94. Nasib Kita


"Kenapa jawaban ini yang aku dapat?" tanya diri Agust. "Bila kamu menolakku, berarti kamu menginginkan kita berpisah. Itu keputusan yang aku pikirkan. Dan kenyataan ini yang aku dapatkan!" sambung hatinya mencengkram kuat rambut gondrongnya.


"SHI BAL!" Jerit hatinya menangkupkan telapak tangannya ke wajah.


Esok hari...


Di mejanya Archi melamun mengingat kejadian semalam.


"Kenapa Agust memaksaku begitu ya?" tanya hati Archi yang diliputi rasa penasaran. "Apa dia benar-benar lagi pengen atau hanya karena terpaksa." sambungnya.


"Hah...harusnya aku mau aja ya. Tapi kalau dia maksa gitu aku juga nggak suka, kayak ... ih, males inget orang itu." sambung pikirannya.


"Tapi apapun itu, sebagai istri memang seharusnya aku nggak nolak kan? Aduuuh!!!! Nanti aku minta maaf aja deh sama dia." tandas pikirannya.


"Woy!" Susan menggebrak meja Archi pelan.


"Ih...ngagetin aja sih!" gerutu Archi seraya memegang dadanya yang berdegup kencang.


"Ya pagi-pagi udah bengong aja. Mikirin apa sih?" tanya Susan melipat tangan di atas perutnya.


"Tau nih Archi. Mikir mesum jangan-jangan." sahut Andini tertawa kecil bersama Icha dan Susan. Wajah Archi memerah.


"Apa sih? kalian tuh mesum!" sungut Archi.


"Duh apa nih pagi-pagi ngomongin mesum mesum?" tiba-tiba Ridwan yang baru datang menimpali.


"Archi Pak pagi-pagi udah melamun aja." jelas Icha.


"Bener kamu melamun tentang yang mesum mesum?" tanya Ridwan menyeriusi perkataan sahabat Archi.


"Nggak...!" jawab Archi malu.


"Terus kamu ngapain bengong?" tanya Susan yang masih penasaran.


"Nggak melamunin apa-apa. Dah akh, pada kepo kalian." lontar Archi menyalakan komputer kerjanya.


"Hahaha...dia ngambek." gurau Susan berjalan kembali ke mejanya.


Sementara itu di restoran, Agust menemui Irene yang baru datang di ruangannya.


"Boleh saya masuk Nona?" tanya Agust di mulut pintu.


"Agust, ayo silahkan masuk. Ada apa?" tanya Irene dengan penasaran.


"Apa saya bisa kasbon Nona Irene?" tanya Agust.


"Kasbon?" tanya Irene menyipitkan matanya.


"Iya Nona. Saya perlu uang untuk membayar kontrakan." jawab Agust.


"Kontrakan? Apa dia dan Archi akan tinggal di kontrakan." pikir Irene.


"Untuk kontrakan ya, apa ini mendesak?" tanya Irene.


"Iya Nona. Saya nggak pegang uang lagi."


"Baiklah." jawab Irene.


Agust pulang lebih awal hari ini. Sebelum pulang dia mencari kontrakan termurah di kampung dekat komplek rumah Archi. Setelah menemukannya dan deal dengan harganya Agust pun ke rumah Archi.


Sesampainya Agust di rumah kemudian dia mandi. Selepas mandi lalu dia mengemas baju-bajunya ke dalam tas. Di sela mengemas bajunya, Agust berhenti sejenak dan melihat sekeliling kamar Archi.


Rasa panas tertahan dia rasa di balik kelopak matanya. Kenangan-kenangan yang pernah dia alami selama tinggal di sana terbayang di dalam pikirannya. Dari awal saat dia bertemu Archi untuk pertama kalinya setelah berubah jadi manusia. Saat dia bertengkar dengan Archi karena memegang pusakanya.


Agust tertawa kecil mengingat itu. Dan kenangan-kenangan lain yang mereka alami berdua. Tawa, sedih, dan marah. Semua perasaan yang mereka bagi bersama.


Selesai berkemas Agust mengambil papan yang dia buat untuk hadiah ulang tahun Archi. Dia memandang foto ceria Archi di sana.


"Aku hanya ingin kamu bahagia Archi. Bukan bersedih apalagi terbebani karena aku. Semoga setelah ini kamu akan menemukan kebahagianmu." Agust menaruh kembali papan di tempat semula.


Dia mengambil kertas tulisan-tulisannya di lemari meja belajar Archi. Dia pun menaruh handphone pemberian Ayah di atas meja belajar Archi.


Agust menendang kerikil yang dia lihat dalam perjalanannya. Saat itu,


"Iya emang kaya gitu," kata Andini tertawa, bercanda sambil berjalan dengan Archi, Susan dan Icha. Kebetulan mereka akan ke rumah Archi untuk main.


"Eh...Chi, itu Agust!" tunjuk Icha ke sebrang jalan. Mereka semua menoleh ke arah tunjuk Icha.


"Iya. Mau kemana dia bawa tas penuh gitu?" tanya Archi bingung. "Aku ke sana dulu." pamit Archi menyebrang jalan.


"Agust!" panggil Archi setengah berlari menghampiri Agust.


"Duuh!" Agust memasang wajah meringis. Berpura-pura tidak mendengar panggilan Archi dan terus berjalan.


"Agust!" pekik Archi memegang lengan Agust. Agust berhenti berjalan dan menghadapkan badannya kepada Archi.


"Kamu mau kemana?" tanya Archi. Agust hanya menunduk, begitu berat untuknya menjawab.


"Nanti aku akan mencicil semua pakaian yang kalian belikan." jawab Agust lirih.


"Apa? Untuk apa?" tanya Archi bertambah bingung. "Agust...kamu mau kemana?" tanya Archi sedikit kesal karena Agust yang bertele-tele.


"Aku mau pergi. Aku akan membebaskanmu dari aku."


"Agust!" pekik Archi dengan maniknya yang telah dipenuhi airmata. "Jaga ucapanmu. Jangan begitu. Apa kamu tahu artinya kamu bicara begitu? Kamu akan menjatuhkan aku talak cerai."


"Bila harus seperti itu. Aku nggak mau kamu nggak bahagia karena aku."


"Siapa yang bilang aku nggak bahagia karena kamu?"


"Kamu. Kamu yang mengatakannya, kalau seharusnya dari awal kita nggak menikah. Karena aku hanya menjadi beban untukmu." suara Agust sedikit meninggi, menyentak Archi.


"Aku nggak sungguh-sungguh mengatakan itu Agust. Aku...aku hanya sedang emosi. Agust...ayo kita kembali!" ajak Archi menarik tangan Agust dengan linangan air mata yang sudah jatuh membasahi matanya.


"Aku nggak bisa. Maafkan aku Archi." jawab Agust melepaskan tangan Archi.


"Agust?" bisik Archi menatap Agust yang berbayang air matanya.


"Kamu lebih pantas bahagia Archi. Dengan Ridwan atau siapapun itu, tetapi sepertinya bukan dengan diriku."


"Aku mohon jangan bicara begitu! Kamu adalah kebahagiaan untukku."


Teman-teman Archi yang menyadari pertengkaran mereka, berjalan menghampiri mereka namun tetap memberikan jarak.


"Kita sudah berusaha sejauh ini dengan pernikahan terpaksa ini, tetapi sepertinya nggak ada harapan untuk kita. Mungkin ini berat untuk awalnya, tetapi aku yakin kita pasti bisa." kata Agust yang berusaha sekuat tenaga menahan air matanya yang mendesak terus untuk keluar.


"Nggak!" pekik Archi. Namun Agust tidak menghiraukannya dan berbalik, kembali melanjutkan perjalanannnya.


"Agust!" Archi mengejar Agust namun dia terjatuh.


"Agust....kembali, aku mohon!" tangis Archi yang bersimpuh dijalanan aspal.


"Archi," Icha yang ikut bersedih, merangkul Archi.


Agust yang menyadari Archi terjatuh merasa tak tega membiarkan istrinya itu tetapi dia menguatkan hatinya dan berusaha tidak peduli. Terus berjalan menjauh dari mereka.


"Maafkan aku Archi. Ini demi kebaikanmu." bisik Agust dengan wajah tertunduk.


...~ bersambung ~...


...Gadis kita bernasib sial dan tidak bisa melarikan diri...


...Kami dikutuk dan hanya bisa menunggu...


...Saat ini, sudah sangat terlambat...


...Untuk menyelamatkan kita dari nasib kita...


^^^Cr. Star-crossed As h^^^