Cinta Agusd Si Kucing Tampan

Cinta Agusd Si Kucing Tampan
81. Melting Romantis


Agust mencium kening Archi dengan mesra. Archi tertegun dengan mata membesarnya. Meski hanya baru sampai kening, Archi merasa sangat bahagia dengan kemajuan hubungannya dengan Agust.


Tanpa mereka ketahui, di kejauhan, di belakang kemudi sebuah mobil, seseorang tengah memperhatikan mereka. Wajahnya terlihat marah, terbakar rasa cemburu.


...****************...


Setelah semua berangkat dengan kegiatan masing-masing, Agust pun bersiap berangkat kerja ke Irene's Pizza. Berat langkahnya untuk pergi. Namun dia paksakan untuk tetap bekerja demi bisa memiliki penghasilan.


Agust tidak ingin hanya menjadi beban untuk Archi, menjadi pria pengangguran yang hanya mengurus rumah. Dia ingin menjadi selayaknya suami yang bisa memberikan uang kepada istrinya, meskipun nominal gajinya masih lebih besar Archi dibanding dirinya namun itu tetap memberikan ia kebanggaan pada dirinya sendiri.


Selama masih ada kesempatan bekerja maka dia akan bekerja.


Agust pun sampai di restoran.


"Syukur kamu kerja lagi Agust." kata Vita terlihat sangat senang. Di depan mesin kasir Irene mencuri pandang ke arahnya.


"Kita lagi kurang orang soalnya." jawab Vita.


"Ya udah mulai kerja gih!" kata Vita.


Sebisa mungkin saat bekerja ataupun tidak bekerja Agust mengurangi interaksi dengan Irene. Dia terus menjauhi Irene.


Meski hati Irene sedih tetapi itu tak mengapa daripada harus membiarkan Agust berhenti bekerja.


Di kantor Archi....


Di meja kantin yang biasa Archi cs sedang berkumpul seperti biasa, menikmati makan siang mereka.


"Kamu nggak balikan sama Boby kan San?" tanya Archi.


"Nggak lah Chi. Kaya nggak ada cowok lain aja." jawab Susan.


"Aku cuman sedikit kecewanya tuh, hubungan ini tuh udah lama banget, tapi harus berakhir seperti ini." kata Susan jadi muram.


"Yang sabar San. Mungkin ini yang terbaik untuk kamu biar bisa diganti dengan jodoh yang lebih baik." kata Archi.


"Iya Chi. Terimakasih ya."


Saat hari Sabtu tiba, Saat Archi akan berangkat bekerja, tanpa di-duga Agust berubah menjadi kucing.


"Ya ampun! Kamu berubah jadi kucing Agust. Terus kerjanya gimana?" tanya Archi kepada kucing putih yang duduk di jendela kamarnya.


"Meooong!!!" kucing putih mengeong.


"Aku WA bos Irene aja ya. Izin kerja." Archi mengambil handphone Agust saat dia mengusap handphone Agust untuk menyalakan layar dia dikejutkan dengan wallpaper handphone Agust yang terpampang foto dirinya bersama Agust saat wevie dengan hadiah ulang tahunnya.


"Melting aku melihat sikap Agust yang romantis gini." kata Archi senyum-senyum sendiri.


Dia pun menetik pesan yang berisi permohonan izin tidak masuk kerja. Tidak lama setelah pesan terkirim dan terbaca muncul panggilan masuk. Archi membiarkan panggilan itu. Setelah panggilan berhenti dengan buru-buru Archi mematikan handphone Agust.


"Handphone kamu aku bawa ya. Untuk berjaga-jaga aja." kata Archi meminta izin pada kucing putih.


"Meeoong!!!"


"Aku berangkat kerja dulu. Hati-hati di rumah. Jangan keluyuran jauh-jauh." pesan Archi memasukan handphone Agust ke tasnya.


"Meeoong!"


"Meong meong aja jawabnya." gurau Archi seraya keluar dari kamarnya.


Archi berjalan menurini tangga. Di bawah dia berpapasan dengan Ibu.


"Agustnya mana Archi?" tanya Ibu yang heran tidak melihat Agust mengantar Archi seperti hari-hari kemarin.


"Agust..." Archi berpikir untuk mencari alasan yang bagus.


"Agust udah berangkat pagi-pagi banget bu. Katanya dia mau employee day ke puncak." jawab Archi berbohong.


"Oh restoran ada employee day nya juga."


"Ada dong bu. Aku berangkat kerja dulu ya Bu." pungkas Archi bergegas pergi. Menghindari pertanyaan ibu lainnya.


Sesampainya di kantor, Archi mengambil handphone miliknya. Dia mulai mengutak ngatik handphone-nya. Archi mengganti wallpaper handphone yang masih bergambar 7 cowok tampan yang tergabung dalam grup, BTS.


Tidak mau kalah dengan Agust Archi mengganti wallpaper handphone dengan fotonya dan Agust. Senyum tersungging indah di bibirnya. Hal itu tak luput dari perhatian kawan-kawannya. Mereka saling berkode membicarakan Archi yang tampak bahagia.


Hari Minggu yang cerah bahkan terasa panas. Agust masih belum kembali menjadi manusia.


"Si Agust kemana lagi? Keluyuran terus. Hem. Paling juga bok er deh pasti." pikir Archi kembali ke laptop.


Ting Nong . .


Bel rumah berbunyi mengusik konsentrasi bekerja Archi.


"Siapa sih datang gini hari!" dumelnya seraya menuruni tangga.


"Mana nggak ada siapa-siapa lagi di rumah." sambungnya.


"Siapa yang datang?" tanyanya sebelum membuka pintu.


Pintu terbuka memperlihatkan seorang pria tinggi berdiri di depan pintu.


"Kak Jeremy!" serunya terkejut melihat pacar kakaknya itu datang ke rumah di saat kakaknya tidak ada. "Kakaknya sedang kerja," terang Archi.


"Iya aku tahu, tetapi katanya sebentar lagi dia sampai di rumah," jawab Jeremy. "Dan dia menyuruhku menunggu di rumahnya,"


Archi menimbang, "Benarkah?" tanya Archi merasa ragu.


"Iya tadi aku habis teleponan sama dia," jelas Jeremy, menggerakan handphone di genggamannya.


"Tetapi di rumah lagi nggak ada siapa-siapa. Aku nggak bisa bawa kakak masuk," jawab Archi menolak membiarkan Jeremy masuk.


"Kamu ini seperti ke siapa aja." Jeremy tertawa. "Kita kan sudah kenal lama. Dulu aja aku sering main kan ke sini, Lagipula Kakakmu yang menyuruhku menunggu di sini,"


"Kakak boleh menunggu di teras atau di mobil kakak," usul Archi masih merasa berat menyuruh Jeremy masuk karena tidak ada orang lain di rumah.


"Ini terlalu terik Archi. Apa kamu tega?" dia menunjuk teras yang tersorot matahari begitupun mobilnya.


Setelah menimbang dan atas perikemanusiaan, juga karena berpikir kakaknya akan segera datang akhirnya Archi membiarkan Jeremy menunggu di ruang tamu.


"Baiklah, silahkan masuk!" terpaksa Archi membiarkan Jeremy masuk ke dalam.


"Aku tunggu di sini, ya," kata Jeremy menunjuk sofa.


"Iya. Maaf aku nggak bisa nemenin, aku ada kerjaan kantor yang harus diselesaiin," kata Archi.


"Oh iya..., santai aja. Sebentar lagi juga kakak kamu datang," jawab Jeremy menyungging-kan senyum.


Archi naik ke lantai atas dan masuk ke kamarnya. Ketika Archi sudah kembali fokus dengan pekerjaannya.


"Coba aku akan mencari di kamar ayahnya," gumam Jeremy sambil melepas sepatunya.


Pelan-pelan dia menutup pintu utama yang sebelumnya dibiarkan Archi terbuka untuk mencegah terjadinya fitnah. Fitnah antara dirinya dan Jeremy yang hanya berduan di rumah.


Secara mengendap-endap Jeremy berjalan menuju kamar ayah.


Dengan hati-hati dan bergerak sepelan mungkin, Jeremy menggeledah kamar Ayah untuk menemukan memori card rekaman video yang sedang dia cari.


"Sebenarnya dimana Levina menaruh memori card rekamannya? Kenapa memori card itu nggak ada di kamar dia ataupun ayahnya," bisiknya kesal.


"Yang dia serahkan ke stasiun Tv adalah copiannya, berarti harusnya memori card itu ada," tambahnya yang penasaran dengan keberadaan kartu penting baginya itu.


Tanpa membuang waktu, kemudian dia berjinjit untuk menaiki tangga menuju ke lantai dua. Ingin mencari sekali lagi di kamar Levi. Namun pandangannya teralihkan sesampainya dia di atas.


Dia teringat ketika pertama kali ia naik ke lantai dua dan kakak memberi tahu kamar Archi. Dia memandang ke arah kamar Archi. Masih dengan langkah hati-hati, Jeremy berjalan ke depan kamar Archi.


Perlahan dia menekan gagang pintu Archi hingga terbuka sedikit. Dia mengintip ke dalam dan melihat Archi yang tengah sibuk dengan laptopnya di meja belajar. Dia pun melihat Archi mengenakan airpods hingga Archi tidak menyadari keberadaan Jeremy.


Jeremy membuka pintu kamar Archi namun Archi belum juga menyadarinya sampai Jeremy berjalan mendekati mejanya.


"Kak Jeremy!" Archi terkejut, spontan berdiri dari duduknya sambil membuka airpodsnya. "Ada apa Kak?" tanyanya.


"Kakakmu menelepon ingin bicara denganmu," dalihnya memperlihatkan handphonenya yang menyala terbaring di telapak tangannya.


"Tadi aku memanggilmu tetapi kamu nggak denger," bohongnya memegang telinga, mengisyaratkan airpods di telinga Archi sambil terus berjalan mendekati Archi.


"Benarkah?" tanya Archi mendekat ke arah Jeremy untuk meraih handphone Jeremy.


Saat mereka sudah sangat dekat, tanpa diduga, Jeremy meraih kedua lengan Archi dan mendorongnya hingga terpojok di pintu lemari. Kedua tangannya di cengkram kuat di pintu lemari, Jeremy menjepit tubuh Archi ke lemari menggunakan pinggulnya.


"Kak Jeremy..., apa yang kamu lakukan? Lepaskan!" paksa Archi memberontak dan mencoba melepaskan diri.


...~ bersambung ~...