
Sebuah foto dengan bingkai emas. Foto itu menampilkan Kakek Ludwig tersenyum hangat sambil menggendong seekor kucing putih yang terlihat tidak asing.
Kakek yang menyadari Archi begitu lama, menoleh memeriksa Archi.
"Apa ada sesuatu?" tanya Tuan Ludwig?
"Ah...iya, ini kucing kakek?" tanya Archi sambil berjalan ke dekat Tuan Ludwig dengan membawa foto yang dia lihat.
"Oh ini..., iya. Itu kucing kakek. Tetapi sekarang sudah tidak ada."
"Kenapa?" buru-buru Archi bertanya.
"Dia hilang kabar terakhir yang Kakek dengar dia meninggal tercebur sungai." jawab Kakek berwajah sedih.
"Apa ingatan yang Agust lihat di pabrik ini, ingatannya sebagai kucing? Sama seperti ingatannya saat di mobil?" batin Archi.
"Maaf Kek, mau tanya lagi. Apa kucing kakek sering di bawa ke sini?" tanya Archi yang penasaran.
"Iya, terkadang kekek bawa ke sini." sahut kakek, tersenyum. Seolah mengingat masa indah yang dia lalui bersama kucing itu di sini. "Tetapi, kenapa kamu sangat ingin tahu tentang kucing ini?" tanya Kakek jadi penasaran.
"Ah...nggak apa-apa Kek. Kebetulan aku pecinta kucing." jawab Archi tersipu.
"Terutama kucing bernama Agust." timpal hatinya dengan percaya diri.
"Begitu ya. Kalau saja kucing itu masih ada, kamu pasti akan senang. Kucing itu tergolong kucing yang pintar. Dia bahkan bisa main berhitung denganku." kata Kakek bercerita.
"Oh...begitu, ternyata kucing itu memang pintar. Pantaslah saat jadi manusia dia begitu bertalenta. Aku yang manusia saja kalah." sahut hati Archi jadi insecure.
"Baiklah, Kek. Aku harus kembali bekerja. Saya boleh permisi?" Archi undur diri.
"Tentu Archi. Selamat bekerja." ucap Kakek melambai dengan senyum cerah di wajahnya.
Di ruangan Jeremy, Archi tidak melihat Jeremy di tempatnya. Dengan perasaan lega dan santai Archi duduk malas di kursinya.
"Aku nggak perlu mencari data Agust di database, karena aku sudah tahu Agust itu hanya seekor kucing peliharaan Kakek Ludwig." pikirnya merebahkan kepalanya ke sandaran kursi sambil menatap langit-langit.
"Jadi aku menikahi kucing? Ya ampun, emang sih kucing ini ganteng. Tapi kalau dia jadi kucing lagi bagaimana nasibku?" tambah pikirannya bertambah kacau.
Suara getaran handphone di atas meja mengusik lamunan panjangnya. Archi segera meraih handphone dan melihat si pemanggil. Susan.
"Ngapain nih anak nelpon di jam kerja?" tanyanya sendiri seraya mengusap layar untuk menerima panggilan.
"....ngapain lagi. Ya mau ngobrol memangnya nggak boleh!" oceh Susan marah-marah di sebrang sana.
"Pak Ridwan lagi pergi, jadi santai. Eh...bagaimana hubungan kamu sama suami kamu?" tanya Susan terdengar sangat penasaran.
"Ya begitu." jawab Archi lesu.
"Udah ada perkembangan kah?" timpal Susan tanpa jeda.
"Sudah. Dia meminta jatah malam Jumat." Archi terkekeh.
"Ah...benarkah? Bagus dong. Akhirnya kamu pecah telor. Kalau kita ketemu, nanti kamu harus ceritakan semuanya." ujar Susan dengan nada ancaman.
"Apa? Nggak mau akh. Masa aku buka detail urusan ranjang aku." lontar Archi nggak setuju.
"Eh...teman itu nggak ada rahasia. Hahaha.... Ini biasa dibicarakan di dalam circle pertemanan." sahut Susan membujuk Archi.
"Benarkah? Tetap saja aku malu, membicarakan hal intim bersama kalian." tolak Archi.
Tanpa Archi sadari, sedari tadi, pintu ruangan Jeremy sediki terbuka. Di balik pintu luar, tangan panjang berbalut jas memegang gagang pintu. Punggungnya bersandar di daun pintu dan menajamkan pendengarannya untuk mendengarkan percakapan Archi. Tatapannya sinis, penuhan kilatan api kemarahan.
Dengan kasar dia membuka pintu dan masuk ke dalam ruangannya. Mengejutkan Archi, "Sudah ya, nanti kita teleponan lagi." bisik Archi mengakhiri panggilan.
Ekspresi Jeremy keras, berjalan cepat ke kursi kerjanya dan duduk di sana. Archi tertunduk takut. Pandangannya tak berani diangkat untuk melihat Jeremy yang hanya diam.
Malam harinya, di rumah Archi...
"Apa aku harus bilang sama Agust kalau dia itu sebenarnya kucing?" Archi menimbang dalam pikirannya.
"Tapi...kalau nanti dia kecewa, mendapati kenyataan dirinya bukan manusia, bagaimana?" hatinya sangat resah memandang Agust yang fokus mendengarkan Agust D dari handphone yang dia loudspeaker.
Agust menoleh, pandangan mereka bertemu. Rona merah dengan cepat memenuhi wajah Archi. Dia menunduk malu.
"Kamu lagi memikirkan sesuatu ya?" terka Agust seraya berjalan mendekat ke arah Archi.
"Terus kenapa melamun aja dari tadi?"
"Ng....!"
"Oh tau, minta jatah lagi. Besok kan kamu libur." Agust merangkul Archi.
Archi mendorong Agust kuat, "Idiiih...bukan!"
"Ya terus apa? Jawab dong." pinta Agust lembut seraya menyandarkan kepala Archi di dadanya.
"Tetapi kamu jangan sedih,"
"Hmm...kalau udah gini, perasaan aku mulai nggak enak nih." ujar Agust.
Archi duduk dengan tegap, "Aku sudah tahu siapa kamu."
"Benarkah?" Agust berubah penasaran. "Siapa aku?"
"Kamu kucing Tuan Ludwig."
"Hah?"
"Tuan Ludwig, kakek yang aku ceritakan di pantai itu."
"Masa aku kucing?" Agust merengut.
"Ya itu yang aku temukan. Nih!" Archi menunjukkan foto di handphone-nya. Foto dalam bingkai yang diambil di kantor Tuan Ludwig.
"Iya, ini mirip aku." wajah kecewa memenuhi wajah Agust kini. Tatapannya sendu menatap layar handphone.
Archi mengusap punggung Agust, "Yang sabar ya Agust. Kata kakek Ludwig, kucing itu termasuk kucing yang pintar."
"Walau kucing itu pintar, tetap saja dia hanya seekor kucing."
"Apa salahnya dengan kucing?"
"Salah lah." Suara Agust meninggi. Menyentak Archi. "Kalau aku berubah jadi kucing lagi, apa kita masih bisa bersama? Kita berbeda, walau bersama kita bukan lagi suami istri. Tetapi aku hanya akan jadi hewan peliharaanmu!" kilauan air mata di manik Agust yang memandang Archi dengan sayu.
Archi memeluk Agust dengan erat, "Aku mengerti keresahan mu dan apa yang ada dipikiranmu. Tetapi bersedih sekarang pun nggak akan ada gunanya. Sebaiknya kita menikmati saat ini, sambil terus berdoa bahwa kemungkinan terburuk itu tak akan terjadi." ungkap Archi, setetes airmata mengalir di pipinya.
"Archi!" Agust memeluk Archi begitu erat.
Mereka memberikan jarak di antara tubuh mereka. Kita harus menikmati saat ini, kan?" Agust memegang dagu Archi, menatap lembut ke dalam mata Archi.
Senyum terangkat di bibirnya, "Kucing nakal!" goda Archi.
"Nakal, nakal tetap suka kan?" tanya Agust mengeratkan pelukan tangannya di pinggang Archi.
Archi tersipu malu. Dalam hitungan detik, bibir mereka saling bertaut lembut dan mesra.
Adzan shubuh berkumandang indah. Archi membuka mata mengantuknya yang terasa begitu berat. Akhir dari malam itu Archi berada dalam pelukan Agust, berbungkus selimut yang menyelimuti mereka berdua.
Archi ndusel di dada Agust, memegang dada itu lembut dan bermanja di sana.
"Ujungnya pasti begini," gumam Archi.
"Ujung kenikmatan." timpal Agust dengan mata terpejam.
Plaaakkk!!!
Archi memukul dada Agust, "Sakit Archi!" keluh Agust mengusap bawah bahunya, yang tanpa penutup, terasa panas dipukul Archi.
"Aku jadi kepikiran sesuatu." kata Archi.
"Apa?" tanya Agust memaksa membuka mata sipitnya.
"Kamu kan kucing," Archi menjeda ucapannya, terasa ragu.
"Terus?" Agust mengangkat kepalanya yang ditopangkan di lengannya.
"Kalau aku hamil, yang aku kandung apa?" tanya Archi. Agust tercengang mendengar pertanyaan Archi.
...~ bersambung ~...