
"Kamu kok belum pulang Archi?" tanya Jeremy dengan wajah cerianya.
"Tadi aku lihat Ayah dan Ibu mu sudah check out,"
"Eu...iya...itu, aku masih ada urusan di sini," jawab Archi, gugup.
"Kamu sama suami kamu?" tanya Jeremy lagi.
"Iya, dia lagi tidur," jawab Archi berbohong lagi.
"Oh ya udah kalau gitu," jawab Jeremy. "Gimana kalau kita makan bareng dulu," ajak Jeremy memberikan idenya.
"Makan bareng?" kata Archi menimbang.
"Iya, yuk!" Jeremy menarik tangan Archi.
"Tapi Kak...aku...,"
"Udah ayo ikut!" paksa Jeremy.
"Haduuuh...kenapa jadi gini sih?" pikir Archi.
Di restoran hotel, mereka makan berdua. Namun Archi terlihat tidak tenang dan tidak bisa menikmati makanannya. Dia masih mengkhawatirkan Agust dan memikirkan cara agar dia bisa pulang.
"Archi...!" panggil Jeremy membuyarkan lamunan Archi.
"Iya, Kak?" sahut Archi.
"Kamu kok kaya nggak tenang gitu? Apa ada sesuatu?" tanya Jeremy menaruh perhatiannya.
"Nggak kok Kak. Aku nggak apa-apa. Oh iya, terimakasih kado ulang tahun nya ya, Kak," kata Archi mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Iya Archi." jawab Jeremy.
Sementara itu dari kejauhan....
"Euuuggghhhh....!" Kakak menggeram dengan tangan terkepal. "Jauh..jauh aku samperin dia ke sini, ternyata dia malah lagi makan bareng Archi...!" kesal Kakak.
Dengan menghentak-hentakan kakinya, Kakak melangkah mendekati mereka.
"Jadi gitu ya kamu!" hardik Kakak kepada Jeremy. Semua yang ada di restoran memandang ke arah mereka.
"Katanya ke sini ada urusan bisnis tapi apa? Malah makan berdua sama Archi di sini,"
"Levi tenang dulu!" pinta Jeremy berdiri dekat Kakak. "Pelankan suaramu, malu dilihat orang-orang," bisik Jeremy.
"Biarin!" ketus Kakak.
"Ya ampun kalau bukan disuruh ayah mengambil rekaman itu sudah aku putusin nih cewek!" batin Jeremy merasa jengah.
"Kalian memang sama aja. Kamu juga Archi, katanya di sini karena Agust sakit."
"Agust memang lagi sakit kok. Dia lagi tidur di kamar." jawab Archi.
"Kalau dia lagi sakit ngapain kamu tinggal-tinggal untuk makan sama dia?" tukas Kakak.
"Aku mau beli obat tapi Jeremy mengajakku makan. Aku udah nolak tapi dia maksa aku," jawab Archi.
"Iya, yang Archi bilang benar. Aku yang maksa dia."
"Kamu itu selalu membela dia. Aku curiga kamu itu suka ya sama Archi?" terka Kakak.
Jeremy begitu frustasi sambil garuk-garuk kepalanya yang nggak gatal.
"Udahlah Kak. Terserah kakak. Aku capek mau ke kamar." kata Archi meninggalkan Jeremy dan Kakaknya.
"Duduk dulu, Levi!" Jeremy menuntun Kakak untuk duduk.
"Tenang ya," pinta Jeremy. "Aku itu cuman kebetulan ketemu Archi. Karena aku belum makan aku minta dia menemani aku makan. Memang aku yang salah nggak nanya dulu kesediaan dia." Jeremy menjelaskan pelan-pelan.
"Tapi kamu benar kan cinta sama Archi?" tanya Kakak.
"Yaa nggak dong sayang. Aku kan cuman cinta sama kamu." jawab Jeremy.
"Hadeeuuh 😒 nggak juga sih," sahut batin Jeremy.
"Aku nganggap Archi itu adik aku, adiknya kamu. Aku kan nggak punya saudara perempuan jadi ya aku nganggap Archi kaya adik sendiri," tambah Jeremy.
"Kamu nggak bohong kan?"
"Nggak dong sayang. Senyum dong biar tambah cantik." Bibir Kakak perlahan terangkat membentuk senyum.
Sementara di kamar Archi,
"Aku udah pesan taksi online. Sementara sambil kita keluar menuju mobil, kamu aku taruh dalam koper dulu, ya. Ingat, jangan bersuara dan banyak gerak." kata Archi memberi tahu kucing putih.
Kemudian Archi menaruh Kucing Putih di dalam koper.
Di pelataran hotel, sebuah mobil jenis suv terparkir menunggu Archi. Melihat Archi keluar dari pintu hotel, sang supir taksi onlibe itu keluar dan membuka bagasinya.
"Kopernya sama saya aja pak," Kata Archi membuka pintu mobil bagian penumpang, belakang.
"Oh baik Non," jawab si bapak taksi online.
Saat Archi memasukan koper ke dalam mobil,
"Archi!" panggil suara familiar mendekat ke arahnya. Archi menoleh dan benar kakaknya berada di hadapannya sekarang.
"Aku pulangnya bareng kamu aja, ya?" kata Kakak.
Sementara di dalam koper Kucing putih aka Agust merasa sesak terlalu lama berada di ruangan sempit dan gelap.
"Archi...cepet dong! Mati nih aku lama-lama," batin kucing.
"Nggak!" jawab Archi.
"Kok nggak?" pekik Kakak.
"Kakak pulang sama Jeremy aja. Aku masih harus mampir ke suatu tempat," dalih Archi mencegah Kakak satu mobil dengannya.
"Tapi...."
Dengar luwes dan terburu-buru sampai kepalanya terantuk pintu mobil Archi masuk ke dalam mobil dan segera menutupnya.
"Anak ini!" geram kakak di luar mobil.
"Jalan Pak!" suruh Archi kepada sang supir.
Mobil melaju meninggalkan Kakak.
"Kok Kakaknya nggak boleh ikut bareng Non?" tanya Pak Supir bingung.
"Itu bukan kakak saya Pak. Kenal juga nggak," kelit Archi.
"Tapi bisa mirip ya mukanya," kata Pak Supir lagi.
"Masa? Perasaan cantikan kakak deh," sahut hati Archi memegang pipinya dan memandang diri di kaca spion atas mobil. Dia pun melupakan Agust alias kucing yang hampir pingsan di dalam koper.
"Tapi ya cantikan Kakak tadi Non," ungkap si Bapak Supir sangat jujur.
"Iya Pak...saya tahu." dengus Archi kesal.
"Saya minta potongan harga pak. Bapak dah bilang saya kurang cantik," ketus Archi.
"Oh...maaf Non. Iya Non cantik kok. Lebih cantik dari kakak yang tadi," dalih Pak supir agar Archi tidak dapat potongan harga.
"Ya ampun!" pekik Archi membuat pak supir kaget.
Buru-buru Archi membuka kopernya dan benar saja kucing putih di dalam sudah nggak berdaya kehabisan oksigen.
"Ya ampun...Agust...maafin aku. Aku lupa!" kata Archi begitu menyesal. Agust kembali bernapas normal.
"Loh...Non bawa kucing?" pekik bapak itu tidak kalah terkejut.
"Iya Pak. Maaf, terpaksa." jawab Archi.
"Jangan sampai kucingnya buang air di sini ya Non!" bapak supir memperingatkan.
"Iya pak, dia pintar kok. Buang airnya di WC." jawab Archi.
"Tapi kok bisa kucing masuk hote itu?" tanya si bapa jadi penasaran.
"Awalnya juga orang yang masuk. Tapi berubah jadi kucing,"
..."Saya nemu kucing ini di pantai . Dia lucu terus saya sembunyikan di kamar." Archi mengarang lagi....
"Ya ampun si Enon. Kaya nggak ada kucing aja di tempat tinggal Enon."
"Ya ada sih. Tapi nggak ada yang segemoy ini," jawah Archi gemas mencubit kedua pipi kucing. Membuat muka kucing berubah marah.
"Meeeeooong!" bunyi kucing terdengar ketus.
Archi menjulurkan lidah untuk mengejek Agust.
Sementara itu kembali ke hotel,
"Tunggu...!" ucap Kakak teringat sesuatu.
"Tadi di mobil, aku nggak lihat Agust ada di dalam mobil? Kok Archi pulang sendirian?" gumam Kakak merasa bingung dan heran.
...****************...