
Malam menjelang ketika Archi pulang ke rumah. Archi berjalan dengan perasaan gamang, menelusuri jalan komplek menuju ke rumahnya.
"Nggak apa-apa deh berhenti kerja. Toh Agust juga udah kerja jadi ada yang buat gantiin aku ngasih uang ke Ibu. Untuk bantu menanggung biaya hidup kami di rumah," kata Archi dalam hatinya.
Lampu mobil terlihat menyorot di aspal, melaju dari belakang Archi.
Mobil berjalan melambat di sisi Archi. Archi berpikir itu orang yang akan menanyakan alamat. Sampai kaca mobil terbuka,
"Archi!" panggil suara pria dari belakang kemudi.
Archi berhenti berjalan sambil menolehkan kepalanya ke arah suara. Ditatapnya orang yang memanggilnya. Archi menatapnya tanpa ekpresi.
"Archi, aku mau ngomong sama kamu." kata pria di belakang kemudi.
Archi kembali berjalan mengacuhkan permintaan pria itu. Pria itu memarkirkan mobilnya di tepi jalan lalu mengejar Archi.
"Chi....!" Ridwan menarik tangan Archi.
"Mau ngapain lagi kamu?" tanya Archi dingin.
"Mau mempermalukan aku lagi? Di sini kan nggak ada rekan kerja," sindir Archi.
"Iya Chi...aku akuin, aku salah. Tapi tolong, aku mau ngomong dulu sama kamu,"
"Nggak perlu. Saya sudah bersuami, nggak pantas ngomong berdua dengan laki-laki lain," Archi kembali berjalan.
Ridwan menarik tangan Archi cukup kencang. Walau dia tidak berniat seperti itu. Hanya saja karena tenaganya yang cukup besar ditambah tubuh Archi yang ringan, jadi itu terasa sangat kencang.
Archi mendarat dalam pelukan Ridwan, bersandar di dada pria tinggi itu. Semburat warna merah memenuhi wajah Archi, detak jantungnya berpacu lebih kencang. Dia bisa mendengar ritme jantung Ridwan dari daun telinganya yang menempel di dada bidang Ridwan.
Keadaan seketika menjadi hening. Hanya degup jantung mereka yang memenuhi udara.
Di kejauhan. Di atas motor milik irene's pizza yang berhenti, Agust membeku melihat Archi dalam pelukan Ridwan.
Dia merasakan perasaan aneh di dalam hatinya. Perasaan yang dia ketahui itu sebagai rasa cemburu namun ternyata lebih sakit dari itu. Hatinya terasa hancur tercabik-cabik.
Dengan perasaan yang tidak dia mengerti, Agust melajukan motornya kembali menuju ke restoran pizza.
Archi mendorong dada Ridwan untuk menjauh.
"Chi...aku mohon, kita ngobrol dulu sebentar," pinta Ridwan terlihat mengiba.
Tidak tega melihat Ridwan Archi mengiyakan.
"Ya udah cepet ngomong di sini," suruh Archi.
"Nggak di sini Chi. Masa di pinggir jalan gini. Kita ke cafe atau apa gitu biar enak ngobrolnya."
"Aku nggak mau kemana-mana. Aku mau buru-buru pulang. Kita ngobrol di mobil kamu aja," kata Archi.
"Ya udah."
Di dalam mobil.
"Sebenarnya pas kamu sakit, Susan datang ke apartemen aku dan ceritain semua."
Saat itu....
"Masuk San," Ridwan yang sudah membuat janji dengan Susan sebelumnya mempersilahkan Susan untuk memasuki apartemennya.
Susan terperangah dan juga terpesona melihat perawakan Ridwan yang atletis. Karena bila di kantor itu tidak nampak terlalu jelas karena tertutup jasnya.
Sedangkan di rumah seperti ini, Ridwan hanya mengenakan kaos putih kebesaran yang memperlihatkan lengan berototnya yang penuh tattoo. Dan bawahannya menggunakan celana panjang santai.
"Duduk!" suruh Ridwan berjalan ke lemari es untuk membawakan tamunya minuman dingin.
Minuman instan, beberapa kotak minuman teh dengan rasa. maklum bujang yang malas repot buat-buat minuman.
"Ada apa kamu mau ketemu sama aku?" tanya Ridwan menaruh minuman di atas meja tamu.
"Begini, Pak." Susan memulai mencetuskan niatnya.
"Di minum dulu, San!" sela Ridwan.
"Iya Pak, terimakasih!" jawab Susan.
"Tadi kamu mau ngomong apa?"
"Iya pak begini. Saya tahu nggak seharusnya saya ikut campur juga dan nggak ada hak saya untuk menjelaskan." pembukaan dari maksud tujuan Susan menemui Ridwan.
"Tetapi sebagai sahabat, saya merasa kasihan kepada Archi dan saya merasa perlu meluruskan,
"sebenarnya Archi menikah itu dijodohkan sama Ayahnya, Pak. Jadi saya rasa Archi nikah juga tanpa cinta. Karena nikah nya juga dadakan dan sangat cepat," cerita Susan dengan perlahan.
Ridwan yang mendengarkan dengan seksama terlihat terkejut dengan penjelasan Susan.
"Bukan. Archi lagi punya pacar, Pak. Dia kan sukanya juga cuman sama Bapak. Ups..." Susan membungkam mulutnya yang sering kelepasan bicara.
Ridwan tersenyum, tersipu mendengar pengakuan dari Susan tentang Archi. Dia tidak menyangka kalau ternyata Archi juga memiliki rasa kepadanya.
"Archi nggak mengenal sama sekali calon suaminya Pak. Ketemu aja ya pas udah menentukan hari pernikahan,"
"Yah...jadi saya sebagai wanita mengerti, alasan kenapa Archi nggak mau bilang kalau dia udah nikah. Karena nikah dadakan dengan orang yang bahkan nggak dikenalnya pasti jadi beban tersendiri."
Ridwan selesai dengan kisah tentang Susan menceritakan segalanya kepadanya. Archi hanya bisa menunduk ketika mendengarkan. Ada perasaan sedikit malu karena pengakuan Susan yang membuka rahasianya.
"Setelah aku tahu alasan kamu menikah, aku jadi bisa ngerti dirimu." Ridwan mengakuinya.
"Dan ada perasaan senang juga mengetahui kalau kamu menikah tanpa didasari cinta. Jadi... Mungkin aku masih punya kesempatan untuk memperjuangkan kamu." batin ridwan
"Kalau udah tahu alasannya dan bisa ngerti. Kenapa kamu masih memperlihatkan kebencian sama aku?" tanya Archi menuntut jawaban karena telah memperlakukannya dengan tidak adil.
"Itu sebenarnya karena... aku cuman nggak tahu harus bersikap bagaimana sama kamu. Jadi aku cuman melakukan apa yang ada dipikiran ku." jawab Ridwan.
"Maafin aku ya, yang udah bersikap kasar sama kamu," mohon Ridwan dengan menatap ke dalam mata Archi.
"Tapi aku kan jadi malu sama semua orang kantor. Aku jadi merasa orang paling buruk di sana,"
"Iya. Aku salah."
Sementara itu,
Di Irene's Pizza...
"Agust..., belum pulang?" tanya Irene menepuk bahu Agust yang sedang duduk termenung di atas motor.
"Belum Nona. Takut masih ada orderan," jawab Agust berbohong.
"Tapi kan jam kerja kamu udah selesai. Ini saja kamu jadi lembur karena anak freelance itu nggak datang," ujar Irene.
"Iya nggak apa-apa Nona."
"Nanti kamu bilang aja ya sama Vita kamu selesai jam berapa. Biar nanti di hitung uang lemburnya."
"Iya Nona." jawab Agust jadi sumringah mendengar kata uang.
Setelah beranjak dari dekat Agust, Nona Irene hanya mondar mandir tidak jauh dari Aguat.
"Kenapa Nona?" tanya Agust.
"Aku udah pesan ojek online. Tapi driver nya belum datang-datang. Di chat juga nggak di balas. Biar aku order baru aja deh."
"Rumahnya kemana Nona? Biar saya antar pakai motor ini," kata Agust menawarkan.
"Di perumahan ini sih. Nggak jauh ke dalam," tunjuk Irene ke dalam komplek perumahan Archi.
"Ya udah, saya antar aja Nona. Kalau mau."
"Ya udah deh. Daripada semakin malam." jawab Irene.
Agust menurunkan box untuk menaruh pizza dari belakang motor agar Irene bisa naik.
Irene naik ke atas motor, duduk di belakang Agust.
Kembali ke Archi dan Ridwan di dalam mobil ....
"Kalau boleh tahu," Ridwan menjeda pertanyaannya seolah menimbang dan ragu untuk bertanya.
"Apa kamu punya perasaan sama suami kamu?" tanya Ridwan dengan cepat.
"Perasaan?"
"Iya.. maksudnya, apa kamu cinta sama suami kamu?" Ridwan memperjelas pertanyaannya.
Archi termenung memikirkan jawabannya. Tepatnya bertanya kepada diri sendiri mengenai perasaannya sendiri kepada Agust.
Archi mengangkat bahunya,
"Saya juga nggak tahu, Pak. Baru beberapa bulan kita nikah. Saya masih merasa asing sama dia. Jadi saya juga belum tahu bagaimana perasaan saya sebenarnya." jawab Archi.
Saat itu dirinya melihat Agust membonceng Irene sambil mengobrol dan tertawa di motor. Irene duduk begitu rapat dengan Agust di motor agar bisa mendengar ucapan Agust yang lirih karena deruan angin motor yang melaju.
Mata Archi yang membulat mengikuti pergerakan motor Agust yang terus melaju jauh.
"Dia sama siapa?" tanya hati Archi.
"Itu..., kenapa hatiku seperti teriris melihatnya bersama cewek lain?" sambung hati Archi.
...****************...