Cinta Agusd Si Kucing Tampan

Cinta Agusd Si Kucing Tampan
48. Pizza Hit


Selesai jam istirahat, Archi mengirimkan contoh desain kepada Bu Ela. Saat keluar dari ruangan Bu Ela, dia berpapasan dengan seorang Kakek.


"Kakek!" seru Archi melihat kakek itu dengan antusias.


"Oh...hohoho...kamu," sahut Kakek itu terlihat senang berjumpa lagi dengan Archi.


"Kamu bekerja di sini?" tanya Kakek itu.


"Iya Kek. Apa kakek juga bekerja di sini?" tanya Archi, bergurau.


"Hahaha...nggak mungkin tua renta ini masih bekerja. Aku ada sedikit urusan di sini," jawb Kakek itu.


"Oh gitu," sahut Archi.


"Siapa namamu, Nak?" tanya Kakek itu.


"Aku Archila, Kek. Panggil aku Archi saja."


"Archi, ya. Baiklah. Kalau ada yang mengganggumu di sini, katakan saja kamu cucu Tuan Ludwig. Dijamin mereka nggak akan berani kepadamu." kata Kakek itu.


"Siap Kek!"


"Baiklah. Aku pulang dulu, ya!"


"Apa perlu aku antar keluar?" tanya Archi.


"Nggak usah. Anak buahku menunggu di depan lift."


"Baiklah Kek. Hati-hati di jalan!" kata Archi membungkuk memberi hormat.


Kakek itu tertawa bahagia sambil berjalan pergi.


Setelah Kakek itu sudah jauh dari Archi.


"Archi!" panggil Ridwan menepuk bahu Archi.


"Apa kamu mengenal Kakek itu?" tanya Ridwan terlihat takjub.


"Bisa dibilang begitu," jawab Archi bangga.


"Jangan macam-macam sama aku. Aku cucu Tuan Ludwig..."


"Wih...ngeri...!"


"Memang kamu mengenal Kakek itu?" tanya Archi.


"Kenalah. Dia kan pemilik perusahaan ini," jawab Ridwan.


"Apa?" pekik Archi.


"Kenapa aku nggak mengenali atasanku sendiri? Memalukan. Mana aku sudah berlaku nggak sopan banget sama kakek itu. SKSD sama beliau." Archi meringis.


"Nggak apa-apalah. Beliau juga nggak keberatan. Malah bilang kamu cucunya dia." jawab Ridwan.


"Tetap saja. Kalau aku tahu dia atasanku, aku kan bisa bersikap lebih baik,"


"Sudah jangan terlalu dipikirkan. Tuan Ludwig juga jarang-jarang ke sini." jawab Ridwan.


...****************...


"Pas aku ke apartemen Pak Ridwan," disaat ada kesempatan Susan, Andini, Icha dan Archi berpura-pura membuat kopi dan ngerumpi di pantry.


"Nggak tahan gue berdua sama dia. Rasanya pengen gue tegrep gitu. Liat body-nya, Ya ampun. Atletis, tangan kirinya tato an. seksi banget tau," kisah Susan.


"Hahha...kenapa nggak kamu terkam aja sekalian. kamu kan buas," kelakar Andini.


"Jaimlah, gue. Lagian emang gue cewek apaan," jawab Susan.


"Kalau lakimu gimana Chi body-nya?" tanya Andini.


"Ya begitu," jawab Archi.


"Kaya Ridwan juga maksud kamu?" timpal Icha.


"Nggaklah." Archi mengingat tubuh Agust yang tidak terlalu berotot, malah ada sedikit donat diperutnya kalau lagi kebanyakan makan.


"Eh...kamu belum cerita sama kita pengalaman malam pertama kamu," cetus Susan.


"Rahasia,"


"Berbagilah. Diantara kita kan cuman kamu doang yang udah merasakan." kata Susan memaksa.


"Huh....memang kamu belum pernah San. Tiap weekend maen di kost an Boby, ngapain emang? Maen catur?" ejek Andini.


Icha dan Archi tertawa dibuatnya sementara yang dibicarakan hanya nyengir kuda.


"Aku masih polos nggak ngerti begituan," jawab Archi.


"Bohong banget lu!" pukul Susan menepak bahu Archi.


"Sama yad*ng nya juga kamu" timpalnya lagi.


"Hahaha....nggak aku nggak pernah begituan sama suami aku. Serius." jawab Archi kelewat jujur.


"Yang bener lo?" Susan dan yang lain terperangah.


"Dah akh...aku udah jawab." Archi melenggang berjalan kembali ke mejanya.


"Laki lu normal kan Chi?" Susan masih membahas dalam perjalanan mereka.


"Iya, masa bininya nggak pernah dipegang-pegang?" sahut Andini.


"Jadi Archi nggak pernah disentuh suaminya." batin seseorang yang sedari tadi curi dengar di balik tembok.


"Apa itu karena Archi nggak mencintai suaminya? Sedangkan pria yang disukai dia kata Susan adalah aku." Ridwan tersenyum penuh misteri.


Di Irene's Pizza....


"Kamu nggak makan?" tanya Irene.


"Nggak Nona."


"Ini, kebetulan aku beli bento kebanyakan. Untukmu saja satunya," Irene menyodorkan kotak berisi makanan Jepang ke arah Agust.


"Untuk saya?" tanya Agust.


"Iya," Irene mengangguk semangat.


"Terimakasih, Nona."


"Sama-sama. Aku masuk ke dalam ya," kata Irene pamit.


"Iya Nona. Terimakasih,"


Irene masuk ke dalam resto dan berjalan ke ruang kerjanya.


"Kayanya, Nona Irene suka deh sama Agust," kata karyawan lain berbisik kepada Vita.


"Bisa jadi. Padahal kan Agust udah punya istri." jawab Vita.


"Orderan Online Vit!" seru karyawan lain yang khusus melayani orderan online.


"Oke," Vita mengambil orderan online untuk diberikan kepada Agust.


Vita berjalan ke depan resto.


"Agust, istirahat nya sudah selesai, kan?" tanya Vita.


"Sudah, sudah jam 1."


"Nih, anterin," Kata Vita memberikan bungkusan pizza.


"Oke!" kata Agust.


Dengan motornya Agust pun mengantarkan pesanan pizza sesuai aplikasi.


Di kantor Archi...


"Chi...pesanan pizza aku udah mau sampai. Kamu yang ambilkan, ya," kata Susan menghampiri meja Archi.


"Aku lagi sibuk," sambung Susan.


"Lagian kalau kamu kan nggak bakal kena tegor sama Pak Ridwan, oke!" bisik Susan lalu mengedipkan matanya kepada Archi.


Archi merengket geli melihatnya. Dia pun berdiri dan menuju ke bawah.


"Pesanan pizza untuk nona Susan," seorang kurir pizza memberikan pesanan Pizza punya Susan di pelataran kantor.


"Iya, terimakasih bang," kata Archi. Saat itu dia melihat Agust yang sudah memakai helm batoknya keluar dari pintu masuk gedung, baru selesai mengirimkan pesanan pizza untuk karyawan kantor ini juga.


"Agust!" seru Archi terkejut melihat Agust.


"Archi! Jadi ini kantor tempat kamu kerja?" kata Agust antusias.


"Iya. Ada orderan ke sini?" tanya Archi.


"Iya."


"Kebetulan banget, ya." kata Archi tersenyum senang.


Di kejauhan...


"Archi sama siapa itu?" tanya Ridwan.


"Itu seperti orang yang ada di handphone Archi. Apa dia suaminya Archi?" tanya Ridwan yang hanya bisa melihat Agust dari sisi samping.


Ridwan melihat kresek pizza Archi yang bertuliskan nama merk Pizza Hit dan alamatnya.


"Dia kerja di restoran pizza itu, ya." pikir Ridwan.


"Biar aku cari tahu," kata Ridwan lagi.


Agust pamit kepada Archi.


"Selamat bekerja. Hati-hati di jalan Agust!" kata Archi melambai pada Agust yang sekarang membelakangi Ridwan.


"Sial... Aku nggak bisa lihat muka dia," umpat Ridwan kesal.


Setelah Archi kembali ke atas. Ridwan pergi keluar kantor dan menuju parkiran mengambil mobilnya. Dia segera melaju ke restoran Pizza yang sesuai namanya dengan kresek yang di bawa Archi.


Di restoran Pizza Hit.


"Permisi!" kata Ridwan kepada seorang karyawan.


"Iya Tuan, saya boleh bertanya sesuatu?" tanya Ridwan.


"Boleh,"


"Apa di sini ada pegawai bernama Agust?" tanya Ridwan.


"Ada, tuan. Apa dia di bagian delivery?"


"Iya betul. Boleh saya ketemu?" tanya Ridwan.


"Oh, sebentar saya panggilkan," kata pegawai itu.


"Baik terimakasih." jawab Ridwan.


Setelah menunggu cukup lama, pegawai tadi datang bersama seseorang di belakang punggungnya.


...****************...