Cinta Agusd Si Kucing Tampan

Cinta Agusd Si Kucing Tampan
87. Ya Dong


"Dia lebih parah dari Ridwan yang laki-laki. Ridwan bisa lebih menjaga perasaannya dari wanita itu. Aku ingin tahu apa yang melatarbelakangi wanita itu hingga menjadi se-obsesi itu sama Agust." pikir Archi.


"Apa yang kamu pikirkan?" tanya Agust.


"Nggak. Aku hanya sedang merasakan hangatnya dalam pelukan kamu."


"Ya udah, tidur yuk sekarang. Besok harus kerja lagi kan."


"Ayok. Kamu beneran udah sehat?" tanya Archi.


"Sudah. Insyaallah." jawab Agust.


Di lantai bawah ..


"Tadi ada keributan di sini." kisah Ibu yang sedang mencuci piring sementara Ayah tengah santai menikmati secangkir kopi sambil membaca buku di meja makan.


"Benarkah?" sambut Ayah.


"Iya, Archi menjenggut dan memukul bos Agust."


"Kok bisa?" tanya Ayah.


"Archi bilang, wanita itu mulai memprovokasi dia. Mengatakan akan merebut Agust.


"Kurang ajar sekali dia. Sudah Agust jangan bekerja lagi di sana. Biar ayah beri modal Agust untuk buka resto sendiri."


"Iya, sepertinya itu lebih baik. Semakin dibiarkan takutnya wanita itu lebih berani." sahut Ibu setuju.


"Sembarangan dia mau merebut suami putri ayah!" dongkol ayah. "Ayah akan larang Agust bekerja di sana lagi."


"Iya Ayah. Oh iya, katanya Ayah mau bicara sama Agust tentang kewajiban Agust menafkahi Archi."


"Aduuh, harus ya bu?"


"Iya Ayah, ada kewajiban kita untuk mengingatkan. Karena dalam ajaran kita saja, ada aturannya dalam pemberian nafkah untuk istri. Di Indonesia saja batasnya 3 bulan. Ini sudah lebih 3 bulan."


"Tetapi kalau istrinya ridho kan nggak masalah ibu."


"Ayah!" geram Ayah.


"Iya...iya, besok ayah coba obrolin sama Agust."


Keesokan paginya...


"Agust, benar semalam Archi dan bos kamu bertengkar?" tanya Ayah terlihat marah.


"Eu...iya, Ayah."


"Kalau dia secara terang-terangan mau merebut kamu dari Archi, lebih baik jangan bekerja lagi di sana." tegur Ayah.


"Maaf, Ayah. Bukannya aku nggak mau menurut sama Ayah, tapi biarkan aku bekerja di situ. Aku janji, hubungan aku sama Archi nggak akan bermasalah dengan dia lagi." pinta Agust.


"Walau bagaimana pun aku seorang suami perlu memberikan nafkah kepada Archi." kata Agust.


Ayah melirik Archi kepada Archi yang memberikan kode untuk mengizinkan Agust tetap bekerja.


"Ya sudah kalau begitu. Tetapi ingat jangan mau digoda dengan wanita itu."


"Iya Ayah."


Malamnya, selepas makan malam, Ayah dan Agust menonton bola bersama. Saat jeda menonton,


"Agust," panggil Ayah lembut dan terasa canggung untuk mulai membicarakan hal ini kepada Agust.


"Ya Ayah," jawab Agust.


"Ayah dengar kamu belum pernah memberikan nafkah batin untuk Archi ya?" tanya Ayah pelan-pelan.


"Nafkah batin?" Agust terlihat bingung.


"Sebagai suami ada dua nafkah istri yang perlu dipenuhi suaminya. Satu nafkah lahir yaitu beruba harta, sandang, pangan papan. Untuk itu kami sudah coba memenuhi dengan bekerja. Lalu ada pula yang disebut nafkah batin, nah ini berupa kasih sayang, perhatian dan lain sebagainya." jelas Ayah. Memutus di situ karena merasa canggung untuk melanjutkan kalimatnya.


"Bukankah aku juga sudah memberikan itu ayah,"


"Iya, benar, benar. Kamu sudah memberikan itu tetapi ada satu yang terlewat. Yaitu memenuhi kebutuhan biologis Archi, kebutuhan biologis itu apa? Yaitu memenuhi kebutuhan sek sual istri."


"Ng...itu,"


"Iya, berhubungan suami istri, wajib hukumnya bagi suami dan istri yang telah menikah. Seperti dalam surat An nisa ayat 19, dan bergaulah dengan mereka secara baik dan patut. Apa bisa dipahami Agust?"


"Bisa ayah, jadi itu wajib?" tanya Agust.


"Iya, kecuali istri ridho dan ikhlas. Tetapi meskipun begitu, walau Archi ridho dan ikhlas kamu belum menggauli nya namun ada baiknya sebagai suami yang baik menuntaskan kewajiban itu tanpa dia minta. Karena itu pun ada pahala nya loh."


"Oh gitu ayah. Baiklah ayah." jawab Agust.


Hahaha, kita lihat apa yang akan dilakukan Agust kepada Archi 😆


"Jadi aku harus menuntaskan kewajibanku. Tapi gimana caranya?" pikir Agust masuk ke dalam kamar Archi sambil melamun.


"Agust, kamu kenapa melamun?" tanya Archi.


"Ah...nggak, nggak kenapa-kenapa." jawab Agust terlihat salah tingkah.


"Aku tidur duluan ya." pamit Archi.


"Iya Archi, silahkan." jawab Agust.


"Archi," panggil Agust lagi namun dengan ragu.


"Ya Agust."


"Nggak, nggak jadi." Archi merasa bingung namun dia lebih memutuskan untuk berbaring dan tidur daripada merasa pusing dengan tingkah Agust.


Esok harinya....


Archi merubah posisinya menjadi duduk di tepi tempat tidur saat Agust mengambil baju ganti untuk dibawa ke kamar mandi. Matanya tetap fokus dalam bacaannya.


Agust berjalan ke arah pintu. Walau mengendap-ngendap dia kembali dan berdiri di belakang Archi. Dengan seksama Agust membaca yang Archi tengah baca


"Sugarbaby nya Suga +." hati Agust membaca judul yang tertulis kecil di pojok atas layar. Lalu membaca isi bacaannya.


"Whoaaaa!" pekik Agust di belakang Archi.


Tanpa sepengetahuan Archi yang tengah fokus membaca, diam-diam Agust mengintip membaca apa yang tengah di baca istrinya.


"Whoaaaa!!!!" jerit Archi yang tidak kalah kaget mengetahui Agust ikut membaca. Dengan segera dia menutup handphone-nya.


"Bacaan apa itu Archi? Suga mendes sah menggoyang-kan pinggulnya maju mundur...ya ampun!"


"Nggak sopan, baca bacaanku diam-diam!" sungut Archi yang terlanjur malu ketangkap basah Agust.


"Aku pikir kamu fokus baca apa. Taunya."


"Kenapa memangnya? Aku udah dewasa." dalih Archi.


"Lagian aku baca ini kalau lagi bulanan doang. Kalau lagi nggak datang bulan aku juga nggak berani." tambahnya.


"Tetap saja. Ck...ya-dong!"


"Argggh..., udah sana mandi saja!" usir Archi mendorong Agust pelan.


"Melihat orang ciuman aja takut. Tapi bacaannya seperti itu," gerutu Agust sambil berjalan keluar kamar.


Malam-malam berikutnya terus berlalu. Minggu malam yang tenang di rumah Archi.


"Archi," bisik Ibu saat Archi sedang serius menemani Kenji nonton pororo.


"Hem," jawab Archi singkat.


"Kapan?" bisik ibu lagi.


"Hah?" Archi menyipitkan sebelah matanya. Menatap bingung ke arah Ibunya yang bersikap aneh.


"Ibu mau cucu." Ibu pun to do point, tanpa mengeraskan suaranya agar Kenji tidak curi dengar.


"Suruh kakak aja cepet nikah sama Jeremy." sahut Archi.


"Kamu yang udah nikah, kenapa harus nungguin kakak kamu lagi. Apa susahnya sih bikinin ibu cucu. Kalian kan sudah saling sayang," bisik Ibu memukul lengan Archi.


"Aku nggak tau caranya bikinin ibu cucu," jawab Archi ngasal.


Plaaakkk!!!


Ibu memukul kepala Archi.


"Aduuh sakit ibu!"


"Jangan pura-pura polos. Ibu tahu kamu nggak sepolos itu," sarkas ibu.


Archi terkekeh mengingat kebiasaannya yang suka membaca novel online rating dua puluh satu saat sedang menstruasi.


"Agustnya yang polos Ibu. Dia kan amnesia." jawab Archi.


"Itu naluriah. Walau amnesia kalau kamu pancing dia juga bakal tahu sendiri!" Archi tertawa ngakak mendengar kata-kata Ibunya dan menarik perhatian Kenji yang segera menengok ke arah mereka. Namun kembali fokus pada tontonannya.


"Masa aku suruh mulai duluan ibu. Ya malu aku nya. Kesannya kegatelan banget." jawab Archi dengan wajah merah padam.


"Terserah kamu maunya gimana. Ibu mau dapat kabar baik dari kamu pokoknya."


"Haduuuh... Bingung deh!" batin Archi.


...~ bersambung ~...