Cinta Agusd Si Kucing Tampan

Cinta Agusd Si Kucing Tampan
95. Mimpi Buruk


Agust yang menyadari Archi terjatuh merasa tak tega membiarkan istrinya itu, tetapi dia menguatkan hatinya dan berusaha tidak peduli. Terus berjalan menjauh dari mereka.


"Maafkan aku Archi. Ini demi kebaikanmu." bisik Agust dengan wajah tertunduk.


Archi tetap bersimpuh di jalanan aspal sambil menangis. Dia bahkan tidak lagi peduli dengan adanya orang-orang yang mungkin memperhatikan dirinya yang menyedihkan dipinggiran jalan tengah menangisi kekasihnya yang kini telah pergi. Seluruh energinya telah habis, terbawa oleh sang suami yang meninggalkannya.


Lama di sana, akhirnya kawan-kawan Archi berhasil membujuk Archi untuk bangkit dan berjalan pulang. Archi yang tampak lemah, dipapah Icha sambil terus menangis.


Sesampainya di rumah,


"Archi kenapa?" tanya Ibu yang melihat putri bungsunya begitu sedih. Archi segera memeluk tubuh kecil ibunya dan menumpah-kan segala kesedihannya.


Ibu memandang kawan-kawan Archi yang terlihat sedih juga, "Ada apa sebenarnya?"


"Mas Agust, pergi meninggalkan Archi." jawab Susan dengan nada lemah, tidak seperti Susan yang biasanya, cempreng dan bersemangat.


"Apa? Agust pergi? Pergi kemana? Tapi dia nggak pamit kepada Ibu." cecar Ibu.


"Dia ingin berpisah denganku Ibu," jawab Archi dalam isak tangisnya.


"Apa? Agust meninggalkanmu dan ingin berpisah denganmu?" pekik Ayah tampak tidak terima.


"Dimana dia? Ayah akan menemuinya dan menghajarnya. Beraninya dia bersikap semena-mena begitu kepada putri ayah."


Archi melepaskan pelukannya, "Nggak. Jangan ayah!" pintanya menggenggam lengan ayahnya lembut.


"Biarkan Agust sendiri dulu. Mungkin dia perlu menenangkan diri untuk saat ini. Bila dia sudah tenang dia pasti akan kembali," lanjut Archi.


"Itu pun kalau dia memang mencintaiku," bisik Archi lirih.


Ayah mengangguk patuh kepada Archi.


"Teman-teman maaf ya, aku mau sendirian untuk sekarang." ungkap Archi memandang teman-temannya.


"Iya Archi tenang saja. Kami mengerti." jawab Andini. Mereka pun berpamitan dan pulang ke rumah masing-masing.


"Sebenarnya ada apa ya? Kok sampai Mas Agust memilih pisah sama Archi?" tanya Susan yang kepo saat mereka berjalan ke depan komplek perumahan.


"Iya, aku juga nggak tahu masalah sebenarnya." sahut Icha.


"Archi kan nggak pernah bercerita terus terang tentang kondisi rumah tangganya kepada kita." kata Andini.


"Iya soalnya itu kan masalah pribadi. Walau kita bersahabat ada batasan juga yang perlu dia jaga." timpal Susan setuju.


Hanya Tuhan, Agust, Archi, Author dan pembaca yang budiman yang mengetahui masalah sebenarnya. Alasan semua ini terjadi.


Kembali ke rumah Archi, di dalam kamarnya. Archi memperhatikan kamarnya yang telah kosong dari barang-barang milik Agust yang biasanya masih terlihat. Seperti jaket Agust yang tergantung digantungan baju belakang pintu, sepatu Agust di bawah meja belajar berdampingan dengan sepatunya. Handuknya yang disampirkan di gantungan handuk dekat dengan handuknya dan lainnya kini tak nampak lagi. Hanya tinggalah foto di atas meja belajar dan handphone Agust yang tersisa di kamar itu.


"Dia bahkan nggak membawa handphone nya. Bagaimana aku bisa menghubunginya sekarang?" tanya Archi kembali menangis.


"Kenapa kamu memilih berpisah denganku Agust? Apa salahku? Apa karena aku menolakmu semalam? Aku nggak benar-benar tahu kalau kamu menginginkan itu. Aku pikir kamu terpaksa hanya demi memenuhi kewajibanmu. Seandainya aku nggak menolakmu semalan." pikirnya begitu menyesal, lalu kembali menitikan air mata, dan jatuh terduduk di kursi meja belajar.


"Di sini kamu biasa menghabiskan malammu sebelum istirahat," Archi mengusap meja belajarnya dengan pipi berbaring di atas meja.


"Mata perhatianmu yang menoleh ke arahku saat aku tertidur duluan di atas tempat tidur." pikiran Archi terbayang kembali saat-saat itu. Air matanya berlomba jatuh dari pelupuk matanya.


"Ketika keyakinanku akan cintamu begitu besar, kenapa kenyataan pahit ini yang harus aku hadapi?" pikirnya.


Hayo...ada yang samaan sama Authornya nggak di sini yang nangis pas baca part ini 😭 😹belum tentu juga sih kalau authornya kan memang melankolis, alias gampang nangis 😆


Setelah membersihkan diri, Archi melaksanakan shalat isya. Di penghujung doanya dia memohon untuk diberikan jalan keluar yang terbaik untuk apa yang dia hadapi kini. Walau terdengar lebih memaksa dia memohon kepada Allah agar membuat hati Agust terbuka dan melunak untuk mau kembali kepadanya.


Setelah puas berdoa dalam linangan air mata, Archi berbaring di atas tempat tidurnya. Dia menukar bantal miliknya dengan milik Agust. Dia hirup aroma wangi rambut Agust yang masih tertinggal di sana. Tanpa dia sadari air mata yang tidak permisi kembali jatuh membasahi bantal Agust.


"Apa aku benar-benar akan berpisah denganmu Agust? Masihkah ada kesempatan untukku bisa kembali bersamamu?" tanya hatinya.


Lelah menangis, kelopak manik Archi menutup dan membawanya ke alam mimpi. Mimpi yang sama tidak berpihaknya kepada diri nya.


Archi berdiri di ujung jurang menggunakan gaun model klasik berwarna putih gading. Kakinya yang tanpa alas kaki, begitu dekat dengan bibir jurang yang sangat dalam. Dia bahkan tidak dapat melihat dasarnya, kabut awan menutupi lembah nya.


Tek...


Suara patahan ranting terdengar dari sebrang dia berdiri. Di ujung bibir jurang lainnya, beberapa meter dari hadapannya, Agust berdiri dengan tampannya menggunakan kemeja putih gading dan celana putih. Tanpa senyum, atau ekpresi menatap ke arah Archi.


"Agust!" suaranya yang tercekat memanggil sang suami. Tapi Agust tak menghiraukannya. Dia berbalik memunggungi Archi.


"Agust kembalilah!" panggil Archi sambil menangis.


Kakinya bergeser sedikit ke depan sebelum dia menyadari jurang di bawah kakinya.


"Agust...aku mohon!" punggung itu semakin menjauh dan hilang di balik cakrawala membawa Archi kedalam kesedihan abadi.


Dengan keberanian dan tak pikir panjang, Archi melangkah kembali untuk mengejar Agust. Namun tubuhnya menarik ke bawah dan jatuh ke dalam jurang yang seolah tanpa ujung.


"Agust!" Archi terperanjat dari tidurnya. Nafasnya memburu. Air mata dia rasakan membasahi pipinya. "Agust!" Archi menangkupkan telapak tangan di wajahnya seraya menangis.


"Aku berharap ini mimpi buruk, memang mimpi buruk. Dan saat esok pagi menjelang, aku mengharapkan dirimu kembali." tangisnya bersedih.


Cemas memikirkan Agust dan harapannya untuk membuat Agust kembali membuat Archi terjaga sampai pagi. Semua mimpi itu ternyata nyata, Agust tidak kembali. Dia nggak lagi bisa melihat Agust di pagi harinya ataupun di sepanjang harinya.


Meski masih bersedih, Archi tetap pergi ke kantor. Bayangan Agust menemaninya sampai gerbang masih terasa dalam ingatannya.


"Aku ingin ini terulang lagi, aku mau diantar lagi olehmu." batinnya memandang ke depan gerbang. Tempat Agust biasa berdiri mengantar kepergiannya. Mata Archi berkaca-kaca.


Sesampainya di kantor, Archi hanya membenamkan wajahnya ke dalam lipatan lengannya di atas meja. Meski teman-teman nya mengajaknya berbicara dia tidak peduli. Dia hanya ingin bersama kesedihannya dan kenangannya akan Agust.


"Archi kenapa?" tanya Ridwan kepada Andini dengan berbisik. "Apa dia sakit?" tanyanya lagi.


Andini mendekat dan membisikan yang terjadi kepada Archi di telinga atasannya itu. Ridwan terperangah, terkejut dengan yang baru saja dia dengar. Sekaligus dia tidak percaya itu benar.


Archi menegakkan wajahnya, berdiri sambil memandang sinis ke arah Ridwan.


Dia berjalan menghampiri Ridwan, "Selamat, apa yang kamu harapkan terjadi." Aku berpisah dengan suamiku. Pernikahan kami tidak untuk selamanya." nada suara Archi tenang namun menusuk.


"Kamu puas sekarang!" pekik Archi kepada Ridwan memukul-mukul dada Ridwan dengan kepalan tangannya sambil menangis.


...~ bersambung ~...