
"Hasil testnya telah keluar. Mari kita lihat bersama-sama!" kata Tuan Ludwig. Dengan tangan gemetar khas orang tua dia membuka amplop dengan kop salah rumah sakit di kota ini.
"Hasilnya menunjukkan, ketidak cocokan antara DNA Yoongi dan Agust. Itu membuktikan kalau Agust bukanlah Yoongi." Kata Tuan Ludwig setelah membaca hasil test yang tertera di atas kertas.
"YESSS!!!" seru Tuan Nicholas dengan suara pelan terlihat sangat senang.
Archi dan Agust memandang terkejut sekaligus bingung dengan hasilnya.
"Bagaimana mereka bisa berbeda, bila Agust memiliki ingatan Yoongi?" tampik Archi tiba-tiba menyuarakan pendapatnya.
"Ingatan Yoongi?"Tuan Ludwig merasa bingung.
"Iya. Agust memiliki ingatan masa lalu Yoongi. Dia sering melihat masa lalu Yoongi dalam pandangannya." jelas Archi.
"Sebutkan salah satu ingatan Yoongi dan hanya Yoongi yang tahu tentang itu." suruh Tuan Nicholas, menantang.
"Irene, dia tahu ingatan itu. Hanya mereka berdua yang tahu tentang itu dan Agust mengetahui nya. Benarkan Irene?" tanya Archi menatap Irene.
"Ingatan yang mana maksudmu?" tanya Irene berpura-pura tidak tahu maksud Archi.
"Saat Yoongi menolak tidur denganmu." Tanpa filter mulut Archi mengucapkan nya tanpa sadar.
"Sialaan... kenapa dia mengatakan itu dengan lantang di depan orang-orang." batin Irene mendengus kesal. Ridwan terkekeh mendengar itu.
"Ingatan lainnya coba katakan!" pinta Tuan Ludwig masih sabar menunggu.
Agust tidak dapat menjawab. Karena potongan ingatan masa lalu yang tidak pernah lengkap memasuki alam bawah sadarnya, terlalu pendek untuk bisa dimengerti.
"Dia sudah tidak bisa mengarang ya." ejek Tuan Nicholas.
Tuan Ludwig membuang nafasnya, "Sudah tidak apa-apa. Sekarang semua sudah jelas. Agust bukanlah Yoongi. Dia hanya mirip dan mungkin potongan bayangan dilihat Agust hanya sebuah kebetulan. Kita sudahi saja perdebatan tentang ini." kata Tuan Ludwig.
"Jangan bersedih ya Agust." pinta Archi mengusap pipi Agust.
"Aku bukan sedih karena itu Archi. Aku hanya belum mendapatkan kepastian tentang jati diriku. Bila aku juga bukan Yoongi lalu aku siapa? Kucing putih milik Yoongi?" celetuk Agust terdengar masuk akal di telinga Archi.
"Itu bisa saja. Kamu melihat kejadiannya sebagai kucing dan membawanya ke alam bawa sadar kamu." kata Archi menyetujui. "Benarkan?"
"Itu bisa saja. Jadi aku ini benar-benar kucing? Bukan manusia?" tanya Agust sedikit kecewa.
"Yah... mungkin. Apapun itu kamu manusia kan sekarang."
"Nggak mungkin!" tukas Tuan Ludwig dengan mata terbelalak di ambang pintu memandangi layar handphonenya.
Semua melihat ke arah Tuan Ludwig berada dengan perasaan bingung dan bertanya-tanya. Ridwan mendekat.
"Kenapa Kek?" tanyanya penasaran.
"Sambungkan ini ke proyektor dan setel ulang videonya." pinta Tuan Ludwig kepada Ridwan.
"Baiklah Kek." Ridwan segera melaksanakan perintah kakeknya.
Sementara dibatinnya dia bertanya, "Video apa lagi ini?" tanya Ridwan sambil sibuk menyambungkan handphone kakek ke proyektor. Ridwan melihat nomor si pengirim video, nomor yang ternyata sama dengan yang mengiriminya video.
Ridwan memulai ulang video dari awal.
"Masih bagus kami tidak benar-benar membunuhmu keponakanku." kata Tuan Nicholas tersenyum licik dalam video. "Kamu hanya akan terkurung dalam raga kucing imut selamanya." sambung Tuan Nicholas.
"Video itu? Darimana video itu? Siapa yang merekam video itu?" tanya Tuan Nicholas saat ini di dalam batinnya yang merasa kesal.
video masih berlanjut dan memperlihatkan Yoongi di sana...
"Samchon...apa yang kamu lakukan?" teriak Yoongi yang kedua tangannya dipegang kuat oleh dua orang bodyguard Tuan Nicholas.
Yoongi tercekat. Dia meringkuk dilantai dengan ekspresi kesakitan. "To..long..!" ucapnya dengan lemah.
Yoongi merasakan tubuhnya menggeliat hebat. sel-sel tubuhnya merenggang dan menciut dalam waktu bersamaan secara cepat. Menimbulkan kesakitan yang teramat pedih dalam dirinya. Perlahan dia melihat sedikit perubahan pada kakinya layaknya kaki kucing berbulu putih. Kesadaran Yoongi perlahan menghilang.
"Setelah ini dia tidak akan bisa mengingat apapun." kata Tuan Nicholas.
Baju yang dikenakan Yoongi ditinggalkan raganya. Jeremy membuka tumpukan baju Yoongi dan mendapati kucing putih meringkuk disana tidak sadar.
"Haaah!!!!" semua yang melihat video terkesiap dengan hal menakjubkan dan mustahil yang ditampilkan dalam video.
"Apa dia mati?" tanya Tuan Nicholas dalam video.
"Nggak, dia masih bernafas." jawab Jeremy setelah memeriksa perut kucing itu masih turun naik yang menandakan dia masih bernafas.
"Kita singkirkan kucing ini. Buang kucing ini ke sungai di pintu air itu." suruh Tuan Nicholas.
"Baik ayah." jawab Jeremy.
"Darimana video konyol itu? Itu pasti editan!" pekik Tuan Nicholas masih mencoba untuk mengelak.
"Nicholas...jangan mengelak lagi. Video ini sudah tidak bisa terbantahkan. Ini video, tidak mungkin editan. Ini nyata saat Yoongi selesai menyelam. Katakan Nicholas!" cecar Tuan Ludwig berurai air mata.
Tuan Nicholas menjadi kelu. Tak dapat berkata-kata lagi.
"Aku hanya tahu Ayah dan Kak Jeremy akan melenyapkan Kak Yoongi. Karena itu aku yang tidak setuju pun pergi dari rumah. Akan tetapi aku tidak pernah menyangka kalau kalian memang benar melakukannya." sesal Ridwan makin menyudutkan ayahnya.
"Iya....aku melenyapkan nya. Aku ingin menyingkirkan Yoongi. Cucu kesayangan ayah. Seandainya ayah bisa adil mungkin ini tidak akan pernah terjadi." tutur Tuan Nicholas melakukan pembelaan diri.
"Apapun alasanmu, sungguh tega dirimu menyingkirkan keponakan mu sendiri Nicholas!" pekik Tuan Ludwig. Kedua matanya yang berkaca-kaca menatap Agust.
"Jadi ternyata benar...Agust adalah Yoongi." dengan tubuh gemetar Kakek mendekati Agust. Mengusap pipi halus Agust.
"Yoongi cucuku!" tangis Tuan Ludwig memeluk Agust penuh rasa haru.
Mata Irene berkaca-kaca dan ikut senang mendapatkan konfirmasi jelas bahwa Agust adalah Yoongi.
Archi sedikit senang. Sedikit, karena ada ketakutan dalam dirinya bahwa Agust akan menjauh dari hidupnya setelah ini. Perasaan kuatnya terus membisikan hal itu. Bahwa dia akan kehilangan Agust dengan kembalinya identitas Agust sebagai Yoongi.
Air mata Archi mengalir. Air mata haru dan juga sedih. Agust memandang Archi dan tersenyum kepadanya. Archi membalas senyuman itu walau terasa berat baginya.
"Yoongi Hyung!" seru Ridwan memeluk ala laki-laki saling menepuk belakang punggungnya.
"Senang bisa bertemu denganmu lagi Hyung." ucap Ridwan.
"Aku belum terlalu mengingatmu. Tetapi ya aku pun senang." jawab Agust dengan jujur.
"Kamu akan ditangkap dan menerima hukumanmu Nicholas." kata Tuan Ludwig.
"Nggak....jangan lakukan itu!" sergah Nicholas ketakutan.
"Kalian nggak bisa menghukumku." elak Tuan Nicholas lagi.
"Kamu telah melakukan kejahatan jadi kamu harus ditangkap."
"Aku nggak terima bila dihukum sendiri. Bila kalian menangkapku. Tangkap juga kaki tanganku. Orang yang membuat cairan perubahan kucing itu." lontar Tuan Nicholas. "Dia pun perlu ditangkap."
"Siapa kaki tanganmu? Siapa yang membuat obat itu?" tanya Tuan Ludwig dengan penasaran. Begitupun semua yang hadir di sana.
Tatapan Nicholas tertuju kepada Archi. Sorot matanya mengintimidasi. Dia mendekat ke arah Archi. Membuat Archi bergidik ngeri. Semua mata ikut memandang ke arah Archi. Agust merangkul Archi menempatkan nya di belakang tubuhnya. Menghindari Tuan Nicholas yang semakin mendekat.
...~ bersambung ~...