Cinta Agusd Si Kucing Tampan

Cinta Agusd Si Kucing Tampan
34. Beach


Senin yang cerah di kantor Archi. Seperti biasa mereka bekerja sesuai job desk mereka masing-masing.


Jerry datang bersama Ridwan selesai meeting. Mereka berjalan bersama menuju ke ruangan Ridwan. Dengan santai dia menepuk pundak Archi, membuat Archi terperanjat kaget.


"Archila...buatin aku minum, ya," pintanya tersenyum manis.


Archi menunjuk diri sendiri dan mengatakan aku tanpa suara kepada Susan dan Icha yang duduk di sebrangnya.


"Kok aku yang disuruh bikinin minum. Itu kan bukan tugas aku?" pikir Archi mulai merasakan firasat kurang baik.


Archi berdiri untuk menuju ke pantry.


"Kamu mau kemana Archi?" tanya Andini.


"Bikin minum kan?" jawab Archi. Susan dan Icha mengibaskan tangannya tanda jangan kepada Andini. Karena menyadari kekacauan yang akan Archi buat bila berurusan dengan dapur.


"Aku aja yang bikinin, nanti kamu yang antar ke dalam," kata Andini menawarkan dengan pengertian.


"Ya sudah." jawab Archi pasrah dan kembali duduk.


"Aku juga nggak bisa bikin kopi kalau bukan pakai kopi instan," gumam Archi menelengkan kepalanya sambil manyun.


Selesai Andini membuat kopi, dia datang membawa cangkir kopi dengan nampan di bawahnya.


"Nih...tapi hati-hati," wanti Andini menyerahkan nampan kepada Archi.


Berjalan pelan-pelan dan hati-hati, Archi membawa nampan Itu menuju ruangan Ridwan.


"Jangan tumpah...jangan tumpah..." ucapnya dalam hati bagaikan baca mantra.


Dengan sigap sekretaris Ridwan membukakan pintu untuk Archi.


"Terimakasih," ucapnya.


Archi melangkah masuk, tubuhnya gemetar mencoba menahan gugupnya. Beberapa langkah berjalan Archi tersandung, tersandung kaki sendiri hingga hampir jatuh, beruntung dia masih bisa bertahan dan mempertahankan nampan tetap lurus walau cairan kopi harus melompat dari dalam cangkir dan tumpah sedikit.


"Adduuuhhh!" keluhnya di dalam hati. Begitupun ketiga temannya diluar.


Jerry tersenyum mengejek sementara Ridwan tersenyum gemas. Archi melanjutkan langkahnya. Setelah dekat dengan meja, Ridwan berdiri dan mengambil alih nampan yang dibawa Archi.


"Maaf...sedikit tumpah," sesal Archi dengan wajah meringis.


"No problem," jawab Jerry.


"Masalah itu kalau cewek berpura-pura alim," gumam Jerry lirih namun baik Archi maupun Ridwan bisa mendengar hal itu.


Archi yang menyadari itu merasa janggal dengan ucapannya akan tetapi dia mencoba mengacuhkannya karena tidak terlalu paham apa maksud pria yang rambutnya bagai landak, runcing-runcing di ujung.


"Aku pakai nampannya juga," kata Ridwan melihat piring kecil yang terkena cairan kopi.


"Baik Pak," jawab Archi. Archi pergi keluar dari ruangan Ridwan.


"Mau gue tonjok lagi loe?" tanya Ridwan menaruh nampan di atas meja.


"Nggak lah bro, sakit," jawab Jerry memegang pipinya.


"Tapi liat aja nanti siapa yang bakal lebih sakit?" batin Jerry sambil menyeringai disela menyeruput kopinya.


...****************...


Di ruang keluarga yang hangat, Ayah, Ibu, Archi, Kenji, Agust dan Kakak sedang duduk bersama di sofa, saling bercengkrama.


"Minggu ini kan long weekend lagi, kita liburan ke pantai lagi bagaimana?" usul Ayah.


"Ayoo ke pantai!" seru Kenji menirukan suara luwi, salah satu pemeran di kartun Tayo.


"Ayo aja!" jawab Archi.


"Aku nggak ikut deh untuk kali ini. Aku ada jadwal siaran." jawab Kakak.


"Padahal kali aja kamu dapat berita lagi kaya liburan terakhir kita," timpal Ayah.


Kakak memasang senyum palsu.


"Tapi itu mengerikan juga," jawab Kakak. "Aku sampai merinding saat merekamnya."


"Iya, demo karyawan tapi bisa seanarkis itu," sahut Ibu teringat kejadian tempo lalu.


"Itu pasti ada yang memprovokasi makanya bisa sampai seperti itu," ujar Ayah.


"Aku nggak lihat. Karena aku menggendong Kenji kembali ke kamar hotel," jawab Archi.


Hari kamis malam sepulang Archi bekerja, mereka berangkat bersama ke pantai di pinggiran kota. Butuh waktu kurang lebih dua jam untuk sampai di sana karena di hari libur begini jalanan menjadi lebih macet.


Di mobil Ibu duduk di kursi penumpang, di sebelah Ayah yang mengemudi. Di bangku belakang ada Archi dan Agust yang dipisahkan oleh Kenji di tengah-tengah mereka.


Setelah perjalanan panjang mereka pun sampai di hotel tepi pantai tempat mereka akan menginap. Hotel yang sama tempat mereka selalu menginap ketika liburan di sini. Hotel yang juga menjadi tempat demo waktu itu.


Ayah sudah memesan dua kamar dari jauh-jauh hari agar tidak kehabisan. Satu kamar untuk dirinya, Ibu dan Kenji dan satu kamar lagi untuk Archi dan Agust.


"Aku tidur sama kalian aja ya?" ujar Archi kepada ayah dan ibu.


"Loh kenapa?" tanya Ibu bingung.


"Nanti kaya di hotel waktu itu lagi," batin Archi mengingat saat terakhir dia menginap dengan Agust.


"Yaa..biasanya juga Ayah mesen kamarnya untuk yang ramai-ramai." jawab Archi.


"Ya beda dong. Sekarang kamu kan sudah menikah, jadi harus privasi dengan suamimu," jawab Ayah.


"Kesempatan bagus loh ini," bisik Ibu kepada Archi. "Kamar tepi pantai, pemandangannya, anginnya, suasananya mendukung banget buat kalian eheem eheem," Ibu mengaitkan dua jari telunjuknya, memberi isyarat tentang hal-hal yang suami istri lakukan. Wajah Archi memerah.


Dengan gerakan slow motion dia menoleh ke arah Agust yang sedang memandangi sekeliling hotel sambil menggendong Kenji. Membuat wajahnya semakin matang oleh rona merah.


Wajah Archi meringis, "Kenapa ibu mengingatkan hal-hal beginian lagi!" batin Archi.


Mereka pun menuju kamar masing-masing.


Di kamar....


"Bagus banget pemandangannya!" seru Agust memandangi keluar jendela yang menampilkan pemandangan pantai dan laut luas dari lantai sepuluh kamar hotel mereka. Suara deru ombak laut terdengar dari sana. Di tambah angin sejuk yang menerpa sepoi-sepoi.


"Kalau siang pasti lebih kelihatan indah," timpal Archi merapihkan baju-baju yang mereka bawa di koper.


"Aku berharap saat di sini kamu nggak akan berubah jadi kucing," harap Archi.


"Aku juga, karena aku ingin bermain terus di pantai. Sepertinya mengasyikkan," sahut Agust tersenyum. Membuat Archi merona merah.


Keesokan paginya....


Mereka bermain di tepi laut setelah sarapan pagi. Mula-mula Kenji mengajak Agust bermain air, lalu membangun istana pasir. Kemudian mereka berlima bermain volley pantai.


Ketika tengah bermain Ayah menepak bola terlalu kencang hingga bola harus terlempar jauh.


"Biar aku yang ambil," kata Archi mengejar bola tersebut hingga ke dekat bebatuan karang.


Saat tengah mengambil bola, matanya menangkap sesuatu dari atas tebing batuan karang. Seorang pria tua, kakek-kakek, dengan tongkat kayu di tangannya, berada di tepi jurang. Menggunakan pakaian santai berupa kemeja pantai biru dan celana pendek selutut berwarna putih, diatas kepalanya sebuah topi Panama menutupi rambut berubannya.


Mata Archi membulat, dia membeku untuk sesaat, jantungnya berdegup lebih cepat karena takut pria tua itu ingin melompat ke laut. Di tambah ekpresi kakek itu memang nampak sedih dan putus asa.


"Kakek!" teriaknya panik pada kakek yang bahkan tidak dikenalinya itu.


...****************...