Cinta Agusd Si Kucing Tampan

Cinta Agusd Si Kucing Tampan
43. Daechwita


"Udahlah Archi! Bilang aja kalau kamu memang ngga suka ngeliat aku bisa kerja. Kamu nggak mau aku punya penghasilan," tukas Agust. Membalikkan badannya, membelakangi Archi.


Bahu Archi jatuh kesamping, memiringkan sedikit kepalanya sambil mendengus kasar.


"Bisa-bisanya dia marah sama aku. Harusnya aku yang marah," kata hati Archi terdengar putus asa.


Esok pagi pun tiba. Perang dingin antara Archi dan Agust masih mendingin. Kalau memanas jadinya cair, jadi masih mendingin sampai membeku.


Tidak ada satu katapun mereka ucapkan satu sama lain. Tatapan mereka sama-sama sinis walau jarang ingin bertemu pandang.


Archi berangkat kerja tanpa di temani Agust, tidak seperti biasanya. Dia menoleh ke arah rumahnya, ke depan pagar, tempat di mana biasanya dia melihat Agust berdiri sambil melambai kepadanya saat akan berangkat kerja.


"Kenapa aku harus memikirkan dia?" ketus hatinya. "Dia saja nggak peduli!"


Tanpa Archi sadari pria itu berdiri di balik tembok pagar, mengintip ke arahnya, masih peduli kepadanya walau hatinya masih merasa marah kepada Archi.


Setelah Archi berangkat, Ayah pun berangkat kerja. Sebelum itu beliau mengantar Ibu dan Kenji ke TK Tadinya Mesra. Ups... salah, itu sih TK nya Udin dan Idin, yang benar TK Pertiwi Insani.


Rumah sudah sepi tinggalah Agust yang bersiap untuk berangkat kerja. Agust berangkat menggunakan jaket berwarna hitam, celana hitam dan sepatu. Dia berjalan sampai di restoran yang bernama Irene's Pizza. Kalau di plesetkan, I- Rene Pizza, jadi I ke sini pizza 😹.


Selama menunggu orderan delivery, Agust di training untuk melayani pelanggan yang datang untuk memesan Pizza dan menu lainnya. Dia pun diminta untuk belajar menggunakan peta di aplikasi untuk mengantarkan pesanan.


Dengan tekun dan telaten Agust mencoba yang terbaik di tempat kerja.


Sementara itu di kantor, Archi sama sekali tidak dapat berkonsentrasi karena khawatir memikirkan Agust. Meski matanya menatap layar komputer, namun pikiran Archi tidaklah di sana.


Archi mengambil handphone di bawah komputer nya. Mengecek pesan di aplikasi pesan berwarna hijau. Berharap ada pesan masuk dari Agust.


Wajahnya merengut karena dia tidak melihat Agust berniat mengabarinya tentang hari pertamanya bekerja.


"Kenapa dia harus mengabariku? Dia saja, menyangka aku nggak suka dia kerja." pikirnya menaruh dengan kesal handphone-nya lagi.


Andini terperanjat kaget,


"Kalau udah nggak mau, handphone-nya buat gua aja Chi," bisik Andini.


Archi mendelik sangar, sedetik dan kembali menatap layar komputernya.


Di tempat kerja Agust.


Agust naik ke atas motor yang sudah disediakan restoran untuk mengirimkan pesanan.



Dia mengambil handphone di saku jaketnya. Mengecek alamat dan rute lewat peta aplikasi.


Kemudian tangannya memencet aplikasi pesan bergambar telepon putih dengan bubble berwarna hijau.


"Apa aku kabari Archi, kalau aku sudah mulai bekerja?" tanya hatinya.


^^^"Archi . . Akhirnya aku mendapat orderan pertama yang harus aku kirim."^^^


Ketik Agust. Dia menimbang lalu menghapus pesan itu kembali dan menaruh handphone-nya di saku jaket.


"Dia juga nggak akan peduli." Agust mengenakan helmnya.


"Dia kan nggak suka aku kerja. Buat apa aku mengabari dirinya. Percuma." Agust menyalakan motornya dan melaju ke alamat tujuan.


Di kantor Archi.....


Archi mengambil handphone nya lagi dan mengecek pesan sekali lagi.


"Dia benar-benar nggak mengirimi aku pesan. Sebegitu marahnya kah dia kepadaku?" tanya hatinya.


"Kamu kalau mau melamun di luar sana!" tegur sebuah suara dengan kasar didepan meja Archi.


Archi terkesiap, hampir menjatuhkan handphone nya. Beruntung tangannya berhasil menangkapnya kembali. Archi mendongak.


Wajah itu begitu serius menatapnya dengan tatapan marah. Matanya tajam.


"Ini tempat kerja, bukan tempat melamun!" ketus Ridwan kembali berjalan ke ruangannya.


Archi melihat sekitar, satu ruangan memperhatikan kepadanya. Tiga teman akrabnya memandangnya khawatir sekaligua sedih.


Dia mulai merasakan matanya terasa panas. Airmata yang terpendam mendorong ingin keluar dari matanya. Ingin rasanya Archi menangis saat ini juga. Tetapi terpaksa dia tahan. Hatinya terasa hancur berantakan.


Ini pertama kali Ridwan memarahinya. Terlebih memarahinya di depan karyawan lain. Tatapan Ridwan pun tidak biasa. Archi merasakan dendam di mata Ridwan.


Waktu terasa berjalan begitu lambat. Jam seolah berhenti berputar bagi Archi. Hatinya dipenuhi kekhawatiran oleh Agust dan Ridwan. Ingin dirinya mengeluarkan mereka berdua dari pikirannya tapi itu usaha yang sia-sia.


Untuk mengalihkan pikirannya, Archi mencari iPod di tas dan lacinya namun dia tidak bisa menemukannya. Dia baru ingat kalau meninggalkan iPod dan airpods nya di meja belajarnya.


"Siaaall!!!" rutuknya.


Jam menunjukkan pukul lima dan Agust sudah pulang ke rumah.


"Sudah pulang Agust?" tanya Ibu saat Agust mencium tangannya saat baru sampai rumah.


"Sudah Ibu Mertua. Hanya 7 jam kerja dan istirahat sejam." jelas Agust.


"Ya sudah. Kamu mandi gih. Abis itu istirahat sambil nunggu makan malam." suruh Ibu.


"Tapi aku kan harus bantu ibu mertua masak," jawab Agust.


"Sudah nggak usah. Kamu sudah capek kerja. Biar ibu aja yang masak." kata Ibu.


"Nggak kok Ibu mertua. Aku mandi abis itu langsung masak." ujar Agust.


"Ya sudah. Terserah kamu saja." Ibu tersenyum.


Agust naik ke lantai dua. Dia hendak mengambil handuk dan baju gantinya di lemari Archi. Saat itu dia melihat iPod dan airpods milik Archi. Dia ingat Archi pernah menggunakannya. Dia mencoba menyalakan iPodnya setelah memasang airpods di telinganya.


Agust terperanjat kaget mendengar suara kencang dari lagu yang di putar di iPod.


"Ya Allah...lagu apa ini?" Agust menurunkan volume suaranya dan mendengar lagunya dengan seksama.


Tanpa dia sadari mulutnya menyanyikan lagu yang terputar di iPod. Sebuah lagu Agust D.


"I’m a king I’m a boss..Da aljana naeireum...Imman san saekkideul..Dangjang nomui mogeul chyeo!... daechwita... daechwita..."


Sebuah dejavu bagi Agust. Perasaan yang tidak asing ketika dia menyanyikan itu.


Agust terkesiap, "perasaan apa ini?" tanyanya.


Larut dalam lantunan lagu Daechwita yang masih terputar di telinganya.


Napasnya memburu. Matanya yang berkilat, membulat sempurna. Jantungnya berdetak dua kali lebih cepat. Waktu terasa berhenti di sekitarnya. Hening.


Matanya melirik ke samping, sesuatu memburunya dari belakang.


"Tapi apa?" pikirnya bergidik ngeri.


Ceklek....


Suara pintu terbuka. Menghancurkan ruang waktu yang Agust ciptakan.


Archi menatapnya aneh. Melihat Agust dengan napas tersengal-sengal dan matanya yang menyorot hampa, terbuka lebih lebar.


"Ada apa sama dia?" tanya Archi dalam hati.


"Baru hari pertama kerja sudah begitu? Atau jangan-jangan dia habis melakukan...," Entah bagaimana, pikiran tentang yang mungkin para pria lakukan saat sedang sendiri terlintas dalam benaknya.


"aish...ada apa dengan pikiranku? Kotor sekali." Archi pergi ke lemarinya dan mengambil baju ganti.


Agust masih mencoba menyelaraskan napasnya, mengatur dalam ritme seharusnya. Menetralisir segalanya. Dia masih shock dengan apa yang baru dia alami. Sesuatu yang belum dia ketahui, belum dia pahami sepenuhnya namun terasa begitu nyata dan menakutkan.


...****************...