
"Ehem..." Archi berdehem memasuki ruang perawatan.
"Eh...Archi. Aku udah makan disuapin Irene," kata Agust dengan sengajanya membuat Archi bertambah jengkel.
Archi tersenyum palsu dengan mata sinis.
"Kayanya jam besuknya sudah selesai Nona. Agust juga udah mau pulang," kata Archi mengambil nampan dari pangkuan Irene.
"Oh oke!" jawab Irene turun dari atas tempat tidur Agust.
"Agust, aku pulang dulu ya," pamit Irene.
"Iya Nona. Hati-hati di jalan Nona!"
"Terimakasih Agust. Mari...!" Irene pamit kepada Archi.
Archi fake smile mengantarkan kepergian Irene.
Archi menutup pintu kamar perawatan Agust. Entah kenapa tiba-tiba ruangan itu berubah beraura mistis dan angker.
Archi berbalik menatap Agust dengan tatapan yang tajam. Agust bergidik takut di atas tempat tidurnya.
"Jadi gitu ya!" sungut Archi bertolak pinggang mendekati Agust.
"Gitu apanya?" kelit Agust gemetar.
"Itu ngapain, suap-suapan sama bos kamu?" oceh Archi membulatka matanya, memasang wajah garang.
"Loh... Nona Irene kan hanya membantu aku buat makan," jawab Agust.
"Nggak bisa gitu nungguin aku? Kenapa harus Irene yang nyuapin?"
"O...O....O..., kamu cemburu, ya?" ledek Agust tersenyum lucu.
Archi membuang muka, menutupi wajahnya yang terasa memerah.
"Nggak kok. Ngapain juga aku cemburu," kelit Archi.
"Bohong. Ngapain marah-marah gitu liat aku suap-suapan sama Irene kalau bukan cemburu namanya," sahut Agust terkekeh.
"Perasaan jengkel kaya aku liat kamu sama Ridwan, dan kamu sebut itu cemburu," sambung Agust keceplosan.
"Kamu juga cemburu aku dekat sama Ridwan."
"Eung...nggak aku nggak ngomong gitu," dalih Agust pura-pura.
"Udah ngaku...hayo!"
"Nggak ih. Kamu tuh yang cemburu sama Irene."
"Ngapain aku cemburu. Aku cuman nggak suka aja,"
"Kalian ini ngapain sih, ribut-ribut gitu sampai kedengaran keluar!" omel Ayah yang tiba-tiba memasuki ruangan.
"Ayah? Katanya Ayah kerja?" tanya Archi terkejut.
"Iya, ayah izin pulang dulu buat nganter Agust pulang," jawab Ayah.
"Padahal aku kan bisa naik taksi online Ayah,"
"Nggak apa-apalah. Hemat uang," jawab Ayah.
Keesokan harinya, di kantor Archi.....
Ridwan memutar-mutar pulpen di antara jari telunjuk dan tengahnya ...
"Hufh...rasanya hampa kalau Archi nggak masuk kerja," keluh Ridwan sambil menengok-nengok ke dinding kaca ruangannya yang menghadap ke meja Archi.
"Untung besok lusa dia udah masuk kerja," sambungnya kembali fokus ke laptop di atas meja kerjanya.
Tiiinng...
Suara notif pesan masuk. Dia bergegas mengambil handphone yang tergeletak di atas meja.
Wajah bosannya berubah sumringah tatkala mendapati nama si pengirim pesan.
...Sweat heartchi❤...
Tulisan di nama pengirim.
^^^"Pak, mohon maaf saya mau nambah izin cuti saya. Apa boleh pak?"^^^
Dalam waktu sekejap ekspresi berubah lagi. Kini terlihat kesal setelah membaca isi pesan Archi.
^^^"Jatah cuti kamu sudah kamu gunakan sebagian kan....."^^^
Ketik Ridwan dengan emosi.
^^^"Peraturan perusahaan mengatakan, bila di semester awal sudah menggunakan separuh cuti, cuti selanjutnya baru bisa digunakan di bulan September."^^^
Balasan pesan selanjutnya dari Ridwan membuat Archi tercengang membacanya.
"Hehehe....nggak bisa cuti lagi kau!" kekeh Ridwan dengan puas.
Panggilan masuk dari
...Sweat heartchi❤...
"Eheum...eheuumm...!" Ridwan berdehem mengatur nada suaranya agar terdengar meyakinkan.
"Kikikiki....!" kikik Ridwan tanpa suara, membentuk tawa geli.
"Halo pak! Apa ada peraturan perusahaan kita yang berbunyi seperti itu?" tanya Archi.
"Ada!" jawab Ridwan dengan suara tegas dibuat-buat.
"Sejak kapan."
"Udah lama," jawab Ridwan.
"Masa? Kok saya nggak tahu?"
"Salah kamu kenapa nggak tahu. Pokoknya lusa kamu harus sudah masuk kerja. Kalau kamu nggak masuk saya kasih SP 3." tegas Ridwan lalu menutup teleponnya.
"Hahaha....senengnya jadi atasan Archi bisa ngatur-ngatur Archi seenaknya." ujar Ridwan puas.
Sementara itu di rumah Archi.
"Aku nggak bisa izin kerja lagi. Lusa aku udah harus kerja," kata Archi kepada Agust yang duduk di atas tempat tidur dan bersandar di headboard.
"Loh kenapa?" tanya Agust bingung.
"Nggak di izinin sama atasanku," jawab Archi.
"Pasti si Ridwan itu deh. Kayaknya dia sengaja nggak ngizinin Archi." pikri Agust.
"Aaadduuuhhh..." Agust memegang tangan kirinya dan berpura-pura sakit.
"Hufh...kucing memang begini ya. Kalau lagi sakit manjanya nggak ketulungan!" keluh Archi.
"Masa kamu tega sih Archi mau ninggalin aku lagi sakit gini?" ringis Agust memasang wajah sedih.
"Besok Minggu aku kan masih di rumah. Aku harus kerja seninnya daripada aku di pecat." sungut Archi.
"Iya deh. Iya. Tapi pulangnya on time ya!"
"Pemeriksaan kemarin hasilnya kepala kamu baik-baik saja Agust."
"Terus?"
"Tapi kok aku ngerasa ada yang sengklek sama otakmu,"
"Ya ampun Archi....suamimu loh ini, lagi sakit. Di bilang sengklek masa?"
"Ya biasanya aja kamu nggak begini sama aku. Kenapa tiba-tiba sekarang jadi begini?" omel Archi.
"Aku juga nggak ngerti. Tapi sejak kecelakan itu, saat aku berada di antara hidup dan matiku, yang terlintas dalam pikiranku adalah kamu. Aku jadi maunya ada selalu di dekatmu dan nggak mau berpisah dari kamu," pikir Agust sambil mengingat kembali saat dia kecelakaan.
...****************...
Hari Senin di jam pulang kantor .....
Archi tengah bersiap untuk pulang. Sampai berisik-berisik diantar karyawan mengingatkan sesuatu.
"Ini hari wajib perkumpulan kita kan." kata seseorang.
"Iya gajian buat traktir diri sendiri, makan bareng-bareng teman sekantor."
"Yah patungan limapuluh doang, nggak masalah lah."
"Iya sebulan sekali ini,"
"Haduuuuhh....lupa. Ada acara makan-makan. Gimana bisa pulang On time. Kalau absen tanpa hal urgent nggak bole." inner Archi meringis.
^^^"Agust....maaf aku nggak bisa pulang cepet. Ada acara wajib di kantor jadi nggak bole absen."^^^
Archi segera mengirimkan pesan WhatsApp kepada Agust untuk mengabarinya dan tidak membuat Agust menunggu kehadirannya.
Kalau dia memang menunggu itu juga.
Pesan Archi hanya di read tanpa dibalas. Archi sudah menduga kalau Agust pasti ngambek. Karena sejak sakit sikapnya sedikit berubah.
Archi malam malam dengan perasaan tidak tenang memikirkan Agust. Berkali-kali dia melihat handphone-nya, berharap ada balasan pesan dari Agust. Di saat yang lain bersendagurau, mengobrol Archi hanya termenung dan memakan makanannya tanpa rasa nikmat.
Tuuk...
Ridwan yang duduk di sebelah Archi menyenggol lengan Archi.
"Kenapa bengong aja?" tanya Ridwan.
"Ah...nggak pak." jawab Archi lalu menunduk.
"Saya cuman kepikiran suami saya di rumah. Dia kan lagi sakit. Tapi saya nggak bisa nemenin dia." sambung Archi mencoba jujur.
"Makan malam ini kan sebentar doang Archi. Abis ini kamu juga bisa kembali ke rumah." jawab Ridwan.
"Iya pak."
"Nanti saya antar pulang ke rumah, ya?"
Archi hanya mengangguk.
"Bisa juga Ridwan bijaksana. Biasanya dia emosian kalau soal beginian," sahut batin Archi.
"Archi mikirin suaminya juga. Jangan-jangan perasaan di hatinya mulai berubah? Bagaimana kalau dia menumbuhkan cinta untuk suaminya? Terus aku bagaimana?" kata hati Ridwan ngebatin.
...~ bersambung ~...