Cinta Agusd Si Kucing Tampan

Cinta Agusd Si Kucing Tampan
28. Badai


Sore hari berubah menjadi kelabu. Mendung yang tidak seperti biasanya. Langit gelap dengan awan-awan hitam bergelayut suram di atas sana.


"Langitnya gelap banget Chi!" Andini berbisik kepada Archi yang tengah bekerja dengan komputer di mejanya. Kebetulan meja kerja mereka bersebelahan.


"Iya, anginnya juga kencang," timpal Archi memandang keluar jendela.


"Kayanya mau ada badai," lontar Andini merinding.


"Jangan atuh. Kata Ayah ngomong tuh nggak boleh sembarangan, nanti kejadian loh!" Sahut Archi memperingatkan halus. Padahal dirinya sendiri takut ada kemungkinan itu melihat langit yang tidak seperti biasanya.


"Kalau hujan lebat, gimana pulangnya?" gumam Archi memandang layar komputernya yang berisi desain gambar yang harus dia buat untuk suatu produk.


"Mana aku bawa laptop lagi," tambahnya melihat tas laptop berwarna hitam di bawah mejanya.


Sementara itu di sebuah Kedai Kopi terkenal di dalam mall.


"Langitnya gelap sekali," kata Jeremy memandang keluar melalui dinding kaca di sebelahnya.


"Iya, nggak kaya biasanya segelap ini. Biasanya kalau mau hujan hanya mendung saja," sahut Kakak. "Apa kita pulang saja sekarang?" tanya Kakak khawatir.


"Jangan...!" sergah Jeremy buru-buru. "Kita di sini aja dulu. Kalaupun hujan deras kan kita aman di dalam mall. Kita bisa belanja dulu. Biar aku yang belikan," bujuk Jeremy yang tahu kelemahan wanita adalah belanja gratis.


Senyum Kakak begitu lebar mendengar Jeremy akan mentraktirnya belanja. Meskipun dia bisa berbelanja dengan uang gajinya sendiri yang cukup besar namun dia akan lebih senang kalau bisa berbelanja tanpa mengeluarkan uang.


"Oh iya, kamu kan news anchor. Tapi, kamu pernah nggak meliput secara langsung beritanya?" tanya Jeremy.


"Pernah. Saat kerusuhan demo karyawan tempat pariwisata pantai tempo lalu," jawab Kakak.


"Kamu menggunakan kamera dari perusahaan?" tanya Jeremy lagi.


"Nggak. Karena waktu itu kejadiannya mendadak, kan. Jadi aku memang pas nggak bawa persiapan meliput." kata Kakak menjelaskan kronologinya.


"Lalu kamu merekamnya menggunakan apa? Handphone kamu?" Jeremy terus memancing Kakak untuk bicara.


"Kebetulan saat itu aku sedang liburan bersama keluargaku jadi kami membawa camcorder."


"Oh gitu. Camcorder itu punya kamu?"


"Bukan. Punya ayahku." Mata Kakak menyipit dengan tatapan menyelidik ke arah Jeremy.


"Mengapa kamu bertanya tentang itu?" Tanya Kakak menaruh curiga.


"Nggak. Aku hanya ingin tahu. Kalau reporter seperti kalian apa meliput juga diluar jam kerja kalian," kelit Jeremy.


"Pasti dong. Dimana ada bahan berita pasti kami liput. Itu kan termasuk kerjaan kami." jawab Kakak.


"Jadi itu camcorder ayahnya. Bukan milik dia. Kemungkinan kaset asli rekaman itu, ayahnya yang menyimpannya." batin Jeremy. "Tetapi di rumah itu nggak ada. Di mana pria tua itu menyimpannya?"


"Kamu mikirin apa sih? Kok kaya serius banget?" tanya Kakak memperhatikan air muka Jeremy sedari tadi.


"Oh, iya." Jeremy terkesiap. "Aku lupa, aku ada meeting. Jadi kayanya kita harus pulang deh sekarang." secara sepihak Jeremy membatalkan belanjanya dan membuat Kakak kecewa.


"Kok jadi cemberut?" tanya Jeremy.


"Yaa katanya mau ajak aku belanja."


"Oh, iya. Tapi ini meeting penting. Lain kali ya aku traktir belanjanya," kata Jeremy. Dia menggenggam tangan Kakak dan meminta dengan isyarat untuk segera berdiri dan pergi dari sana.


Setelah mengantar Kakak pulang, Jeremy pun pulang ke rumahnya. Dia segera menemui ayahnya di ruang kerjanya.


"Jadi informasi apa yang kamu dapat dari kekasihmu itu?" tanya Ayah Jeremy, Tuan Nicholas. Wajahnya penuh harap untuk mendapatkan kabar baik.


"Camcorder itu milik ayahnya bukan milik Levi. Jadi kemungkinan file asli itu ayahnya yang menyimpan," jelas Jeremy.


"Kamu sudah tahu dimana ayahnya menyimpan kaset itu?" tanya Ayah Jeremy.


"Kenapa nggak kamu cari tahu sekalian?" Bentak Ayah Jeremy mengepalkan jemarinya di atas sandaran samping sofa yang dia duduki.


"Belum sempat aku bertanya, Levi sudah mencurigai aku karena bertanya tentang hal itu," jawab Jeremy.


"Cepat cari tahu! Kembali ke rumahnya, obrak abrik sampai kamu mendapatkan file asli rekaman itu," titah Ayah Jeremy menuntut dalam suara kasarnya.


"Kembali ke rumah itu?" sahut Jeremy, tiba-tiba merinding.


"Kenapa?" tuding Ayah Jeremy.


"Nggak, nggak kenapa-kenapa."


"Ayah nggak mau tahu. Cari file itu sampai dapat. Ini juga demi kebaikanmu," pesannya.


"Nggak mungkin aku kembali ke sana. Aku takut hantu itu muncul lagi," tiba-tiba Jeremy merasa merinding, bulu kuduknya meremang dan terasa dingin.


Dengan wajah kaku dan pucat Jeremy menengok ke belakang, kiri dan kanan takut hantu itu tiba-tiba muncul.


Di rumah Archi...


"Iya Bu, di sini juga hujannya deres banget. Nggak mungkin untuk berkendara di cuaca begini," suara Ayah terdengar dari dalam handphone Ibu. Ibu terlihat resah memegangi handphone di telinganya.


Ibu menghubungi ayah yang saat ini berada di pabrik untuk bekerja.


"Iya tapi, Ibu khawatir Archi pulang sendiri," jelas Ibu suaranya panik.


"Kalau Levi sudah pulang?" tanya Ayah di telepon.


"Kakak sudah di rumah. Archi belum. Ibu hubungi nomornya juga nggak aktif. Biasanya Archi mode pesawat kalau hujan petir begini," kata Ibu lagi.


"Ayah coba keluar. Tapi ayah nggak bisa cepat-cepat karena harus menyetir lambat dengan cuaca begini. Bahaya. Kalau sudah reda baru ayah bisa bergegas," kata Ayah.


"Iya Ayah," jawab Ibu yang mulai tenang mendengar jawaban dari Ayah. Ibu menutup panggilannya dengan ayah.


"Hujannya deras banget, anginnya juga kencang ditambah petirnya. Nggak seperti biasanya. Ya Allah lindungilah kami semua dari badai ini," doa Ibu.


"Beberapa wilayah dilanda angin ****** beliung ibu," kata Kakak yang mendapatkan info dari rekannya di stasiun televisi.


"Ya Allah...Archi. Ibu jadi semakin khawatir." Ibu memeluk Kenji.


"Nggak usah khawatir Bu. Archi palingan masih di kantor. Nggak mungkin hujan deras begini dia keluar." Kakak mencoba menenangkan Ibunya.


"Tapi, kadang dia kalau hujan suka pulang aja. Ini yang buat ibu resah." sahut Ibu sangat mengenal kebiasaan anaknya yang satu itu.


Tiba-tiba Agust datang dari dalam dengan terburu-buru membawa dua buah payung di tangannya. Dua buah payung berwarna biru muda dan hijau muda.


"Kamu mau kemana Agust?" tanya Ibu berdiri menghadap Agust yang berjalan ke pintu.


"Aku mau jemput Archi Ibu Mertua," jawab Agust.


"Jangan Agust! Hujannya deras. Kamu tunggu di rumah aja," cegah Ibu.


"Lagian kamu mau jemput kemana? Memang kamu tahu kantor Archi? Nanti kamu malah tersesat bagaimana?" sindir Kakak.


"Jangan khawatir. Aku hanya akan jemput di depan komplek," jawab Agust.


"Tapi, Agust!" belum selesai Ibu bicara Agust bergegas keluar dan menerobos hujan dengan payungnya yang terbuka lebar di atas kepala.


"Agust...!" panggil Ibu di depan pintu namun Agust terus berjalan keluar pagar tidak mendengar panggilan Ibu di bawah guyuran hujan.


...****************...