Cinta Agusd Si Kucing Tampan

Cinta Agusd Si Kucing Tampan
47. DiSogok


"Aadduuhh...tanganku diinjek gajah," gumam Agust dengan mata terpejam.


"Berat banget ya Allah...!" rintih Agust mengigau dengan mata masih terpejam.


Archi yang mendengar suara, membuka matanya.


"Gajah, turun dari tanganku," pinta Agust merengek.


"Apa!" pekik Archi tercengang mendengarnya. Dengan keras dia menggeser tangan Agust untuk merapat ketubuh Agust.


"Archi...untung kamu nyelamatin aku. Tanganku sakit, di injek gajah," ucap Agust yang terbangun karena gerakan tangannya.


Agust terdiam, menatap Archi yang sedang memasang wajah marah menatapnya dengan mata yang seolah akan meloncat dari kelopak matanya.


"Kamu kenapa? Aku kan berterimakasih sama kamu, kok kamu marah?" tanyanya yang nggak ngerti apa-apa.


"Jadi kamu bilang kepalaku ini kaki gajah, hah?" ketus Archi.


"Maksud kamu?" tanya Agust yang belum mengerti maksud Archi.


"Dari semalam, aku tidur di tangan kamu. Tanganmu jadi bantalan kepala aku, tapi kamu bilang tangan kamu diinjek gajah,"


Agust tercengang, mulutnya yang terbuka ditutup tangannya.


"Maaf Archi. Aku nggak tahu kalau itu kepala kamu. Aku cuman merasa tanganku berat, dan pegal dan di mimpi tanganku lagi diinjek gajah. Aku kan nggak sadar kalau itu tangan kamu."


"Udah...kamu memang keterlaluan. Masa aku dibilang gajah. Aku aja ringan begini." Archi berbalik dan hendak menurunkan kakinya dari tempat tidur.


Dengan refleks dan cepat Agust menarik Archi. Archi tertarik mundur, mendaratkan punggungnya di dada Agust. Wajah Agust berada di sisi wajahnya kini. Begitu dekat.


Degup jantungnya lebih cepat.


"Maaf, aku kan nggak tahu itu kamu. Itu kan hanya di mimpiku," ucap Agust.


Agust menoleh, memiringkan wajahnya. Wajah Archi pun menghadap ke wajah Agust. Archi memandang bibir Agust membuat irama jantungnya semakin tidak karuan. Napasnya terasa berat. Agust semakin mendekatkan wajahnya. Archi memejamkan matanya.


Tanpa Archi kira, Agust memundurkan tubuhnya. Membuat punggung Archi tanpa sandaran dan akhirnya terjatuh di kasur.


"Aguuuussssstttt!" pekik Archi kesal. Membuat Agust yang tidak mengerti mendelik kaget.


"Kenapa sih? Teriak gitu! Aku kan masih di sini," sahut Agust dengan polosnya.


"Masa aku harus ngaku, aku kesal karena mengira dia akan menciumku tetapi ternyata nggak. Mau ditaruh mana wajahku, kalau aku bilang begitu," pikir Archi.


"Kenapa kamu tiba-tiba mundur aku kan jadi jatuh!" gerutu Archi.


"Habis aku ngomong tadi, malah kamu cuekin. Malah merem."


"Tau akh... Nggak peka. Aku mau mandi. Udah mau shubuh," timpal Archi mendengus kesal sambil mengambil handuk mandinya.


"Lagian, aku kok kaya pengen banget di cium dia, ya? Apa beginikah akibat jomblo kelamaan!" curhat Archi lalu mengusap wajahnya dengan kasar karena frustasi.


Agust menatap heran ke arahnya saat Archi membuka kedua matanya.


"Apa lihat-lihat?" ketus Archi sambil berjalan menuju pintu.


"Dia itu sebenarnya kenapa sih?" tanya Agust bingung sendiri menatap punggung Archi yang menghilang bersamaan daun pintu yang menutup.


Setelah sarapan, Archi pun berangkat kerja. Seperti biasa untuk kali ini Agust kembali menemani Archi sampai depan gerbang dan melambai kepadanya.


"Hati-hati ya!" Agust menggerakan bibirnya tanpa suara. Archi bisa mengerti apa yang mau Agust sampaikan.


Dengan jarinya dia membentuk Oke. Wajahnya pun tak luput dari warna merah.


"Agust...Agust...kenapa kamu manis sekali," gumam Archi sambil berjalan menuju ke depan gerbang komplek.


Di depan gerbang komplek, Archi berdiri di halte bis untuk menunggu bis jurusan yang menuju ke kantornya.


Saat tengah menunggu, mobil yang semalam berhenti di depan halte.


"Archi, naik!" panggil suara dari dalam mobil sambil membukakan pintu dari dalam.


Archi yang tahu itu adalah Ridwan segera memasuki mobil karena tidak ingin menghalangi bis yang mungkin akan berhenti di sana untuk menaikan penumpang.


"Kok kamu jemput aku?" tanya Archi saat mobil sudah melaju.


"Mau aja. Memang nggak boleh, ya?" tanya Ridwan.


"Boleh aja kalau nggak ngerepotin." jawab Archi.


"Mana ada ngerepotin. Untuk Archi mah aku selalu siap sedia." jawab Ridwan.


"Heum..., kemarin aja ngambek sama aku kok," sindir Archi.


"Hahaha...iya bawel." sahut Ridwan terkekeh.


"Kamu udah sarapan?" tanya Ridwan.


"Udah. Setiap pagi pasti kami sarapan barengan sekeluarga."


"Kamu dong yang masak?" sindir Ridwan.


"Nggak boleh, lah. Daripada dapurnya yang kebakaran," jawab Ridwan.


"Eh....!"


Plaaaak!


Tegur Archi seraya menepuk lengan atas Ridwan dengan kencang.


"Sakit Archi!" rintih Ridwan.


"Hehe...maaf..maaf." kata Archi.


"Terus yang masak siapa? Ibu dan kakakmu?" tanya Ridwan.


"Kakak lagi masak. Kalau ada Ibu dia mana mau masak. Ibu dan Agust yang masak,"


"A-gust?"


"Iya. Dia suamiku." jawab Archi dengan sengaja menekan katanya.


"Oh...suami mu bisa masak."


"Bisa. Dia jago masak." jawab Archi.


"Beruntung dong kamu, punya suami pandai masak untuk mengisi kekurangan kamu yang nggak bisa masak,"


"Kamu maksudnya memuji suamiku tapi mengejekku, ya?" tanya Archi memicingkan matanya sinis.


"Hahaa...nggak Archi." kelakar Ridwan.


"Jadi nama suaminya Agust. Aku mau lihat tampangnya seperti apa," batin Ridwan sambil fokus menyetir.


Sesampainya di kantor....


Melihat Ridwan dan Archi datang bersama-sama membuat desas desus berhembus di kantor. Mereka kaum pendengki, membuat berita buruk yang menjelekkan mereka.


Hanya tiga orang yang senang dengan kedatangan Archi bareng Ridwan di kantor itu yaitu Susan, Andini dan Icha. Dan merekapun nggak berpikiran macam-macam seperti orang-orang di kantor lainnya.


Jam istirahat tiba. Ridwan, Archi dan teman lainnya pergi ke kantin.


Saat tengah makan, mereka mendengar samar-samar genk tukang gosip sedang membicarakan Archi.


"Katanya si Archi mau mengundurkan diri, eh malah lengket lagi sama Pak Ridwan," kata seorang dari mereka.w


"Iya aneh, nggak sih? Kemarin udah dibentak-bentak, eh sekarang malah lebih deket dari sebelumnya."


"Curiga gue. Jangan-jangan nyogok Pak Ridwan biar baik lagi," suara mereka bertambah lirih mencoba agar suara mereka tidak terdengar Archi and the genk.


"Nyogok gimana? Masa Pak Ridwan bisa disogok?" tanya satunya.


Ridwan yang mendengarnya mulai kesal. Tangannya mengepal kuat. Saat dia hendak berdiri, Archi menahannya.


"Udah jangan!" kata Archi.


"Tapi Chi...,"


"Biarin aja," sergah Archi.


"Ya, kalau Archi nggak mungkin nyogok. Bisa aja kan dia yang minta 'disogok' Pak Ridwan, yang penting posisi dia aman."


Braaakkk!


"Bisa nggak kalian kalau ngomongin orang tuh yang baik-baik. Seenggaknya jangan depan orangnya juga!" kata Ridwan dengan nada yang tenang tapi tajam.


"Mau kalian, saya kasih SP?" tanya Ridwan dengan tegas.


"Ngga pak. Maaf!" sahut mereka.


"Awas kalian masih ngomongin kami yang jelek-jelek."


Sementara itu di Irene's Pizza.


"Kamu udah punya pacar Agust?" tanya Vita sambil mempersiapkan buka resto.


"Saya udah punya istri," jawab Agust dengan nada bangga.


"Wah...udah punya istri. Saya nggak punya kesempatan dong," gurau Vita.


"Kesempatan apa?" tanya Agust bingung.


"Hahaha...nggak Gust. Bercanda. Udah berapa lama nikah?"


"Baru dua bulan ini," jawab Agust.


"Walah....pengantin baru," sahut Vita.


"Jadi dia udah punya istri," batin Irene dengan nada sedih, diam-diam dia mendengarkan percakapan Agust.


...****************...