
Di tengah Acara masak, Ridwan dikejutkan dengan lingkaran lengan di pinggang dari arah belakangnya. Ridwan tersenyum girang.
"Ini harum banget!" kata Archi mengulurkan kepalanya ke sisi depan Ridwan sambil tersenyum, mendongakkan kepalanya menatap wajah Ridwan.
"Kamu kenapa senyum lebar gitu?" tanya Archi menyadarkan Ridwan dari lamunannya.
"Eu...?!" Ridwan linglung.
"Nggak..., nggak kenapa-kenapa." jawab Ridwan melanjutkan memasaknya.
"Ternyata cuman khayalan aku." hati Ridwan nelangsa menghadapi kenyataan.
Tak pakai lama, masakan Ridwan pun jadi. Tumis dada ayam dengan saus gochujang.
"Waw...keliatannya enak banget!" seru Archi mupeng menatap masakan Ridwan.
"Makan pakai nasi hangat. Nikmat." Ridwan menaruh dua mangkuk nasi di meja.
"Kamu harus mengajarkan aku masakan ini. Ini kelihatannya sederhana dan mudah. Aku pasti bisa membuatnya," kata Archi menyendok potongan dada ayam ke mangkuk nasinya.
"Boleh. Apa aja boleh untukmu," jawab Ridwan menyuap nasi dengan sumpit.
"Oh yeah...I see!" jawab Archi sok Inggris.
"Nggak usah pakai bahasa Inggris segala. Aku tahu berapa nilai bahasa Inggris kamu," ledek Ridwan bergurau.
"Nggak usah bongkar aib juga kali. Padahal nilai kita kan sama," jawab Archi tertawa.
Selesai makan Archi dan Ridwan duduk di sofa.
"Kenyang." kata Archi memegang perutnya yang sedikit menonjol.
"Hihihi...gemesin perutnya. Apalagi kalau di dalamnya ada baby Ridwan." wajah Ridwan bersemu merah dengan ekspresi mupengnya.
"Mikirin apa kamu?" tanya Archi curiga.
"Nggak. Bagaimana kalau kita karaoke-an dulu?" usul Ridwan.
"Aku? karaoke?" tunjuk Archi di hidungnya.
"Iya." Ridwan menyetel player musiknya dan memberikan mic kepada Archi. Mereka berdua karaoke bersama dengan riang.
"Udah jam delapan aja sih," kata Archi menengok jam dinding.
"Kamu nggak bawa hape ya?" tanya Ridwan.
"Nggak. Orang aku kabur gitu aja dari rumah. Habisnya kesel." timpal Archi.
"Kamu ke sini nya, jalan kaki?" Ridwan terperangah.
"Nggak lah. Aku bawa uang tapi cuman buat ongkos ke sini." Archi nyengir.
"Jadi kamu nggak bisa pulang dong? Kan nggak ada ongkos pulang." tanya Ridwan tersenyum nakal.
"Anterin!" rajuk Archi manyun.
"Kalau nggak mau?" ledek Ridwan.
"Ya aku jalan kaki aja." timpal Archi.
"Ngineplah!" gurau Ridwan.
"Stttt!!!!" Archi menaruh telunjuknya di bibirnya. "Nggak boleh!" sambung Archi membuat Ridwan tertawa.
"Ayo anter aku pulang!" Archi berdiri.
"Siap!" jawab Ridwan bangkit dan dengan enggan mengambil kunci mobilnya.
"Ini kejutan paling menyenangkan pakai banget, kamu mampir di apartemen aku." kata Ridwan sambil membukakan pintu apartemen nya.
"Dan seneng banget bisa menghabiskan sisa Minggu ini having fun sama kamu," tambahnya.
"Aku juga senang. Jadi bisa membuatku lupa sama kekesalan aku." jawab Archi.
Ridwan mengantarkan Archi sampai di depan rumahnya. Setelah saling berpamitan Archi masuk ke dalam rumah. Dengan merengut dia berjalan ke dalam.
"Wah...jadi ini masakan Archi!" seru Ayah dari dapur dengan sengaja membesarkan volume suaranya agar terdengar oleh Archi.
Archi menghentikan langkahnya.
"Enak. Nggak nyangka Archi bisa masak." sahut Kakak, melirik-lirik matanya ke pintu dapur.
"Iya. Aku suka banget sama masakan Archi ini. Baru pertama masak tapi hasilnya nggak mengecewakan." sambung suara Agust.
"Eh...ini Archi nya pulang!" seru Ibu menghampiri Archi karena nggak kunjung masuk dapur meski mendengarkan mereka.
"Ayo makan bersama!" ajak Ibu.
"Archi," Agust pun menghampiri Archi.
"Aku udah kenyang. Udah makan." jawab Archi berpura-pura masih marah.
"Padahal enak loh masakan kamu. kamu cicipi masakan kamu aja, nggak usah pakai nasi." Agust menarik tangan Archi.
"Masakan aku darimana sih? Aku aja belum menyelesaikan masakan ku." sungut Archi.
"Ya kan sama aja. Kamu yang membuat itu juga." sahut Ibu.
"Kalian makan aja. Aku kenyang mau ke kamar." kata Archi berjalan ke kamarnya.
"Nggak apa-apa. Aku akan menemani Archi." Agust mencoba menenangkan Ibu lalu mengejar Archi ke kamarnya.
Archi duduk di tepi tempat tidurnya saat Agust masuk ke kamar sambil menutup pintunya.
"Kamu darimana aja? Handphone nggak dibawa aku jadi susah menghubungi kamu." tanya Agust.
"Ke tempat di mana seseorang selalu bisa meratukan aku dan bisa menerima aku apa adanya," inner Archi menjawab.
"Jalan-jalan menghilangkan kesal." jawab Archi ketus.
"Maaf, ya!" ucap Agust jongkok di hadapan Archi. Archi terkejut dengan sikap Agust ini.
"Kami bikin kamu kesal." sambung Agust menatap Archi dengan tatapan lembutnya.
Archi menatap manik Agust. Dia nampak canggung tetapi juga terharu dengan perlakuan manis Agust yang nggak pernah terpikirkan olehnya ini.
"Apalagi aku, nggak seharusnya aku menyinggung kamu dengan memuji bos aku depan kamu,"
"Aku nggak tersinggung kok!" sela Archi merengut.
"Ngapain aku tersinggung kamu ngomong gitu." sambung Archi berbohong.
"Iya kamu nggak tersinggung. Kalau gitu kamu maafin aku kan?" tanya Agust.
"Iya. Aku maafin." jawab Archi tersenyum malu. Agust bangkit dan duduk di sebelah Archi.
"Kamu jadi luka-luka begini." Agust memegang tangan Archi.
"Nanti kalau mau belajar masak lagi, sama aku aja ya. Aku pastikan kamu bisa masak dengan aman dan nyaman," kata Agust.
"Aku sudah nggak minat masak. Kalau kamu mau istri pintar masak nikahin aja tuh si Irene jangan aku!" ketus Archi blak-blakan.
"Aku nggak mau punya istri yang pintar masak. Yang penting untukku, istriku bahagia dengan dirinya apa adanya," jawab Agust membuat wajah Archi merona merah.
"Kamu nggak mau sama si Irene?" tanya Archi memancing dalam air keruh.
"Nggak. Orang aku nikahnya sama kamu. Udah terikat sama kamu. Ngapain mau sama orang lain lagi. Tapi nggak tahu deh kalau aku masih single," jawab Agust bergurau.
"Huh...jahat!" Archi memukul Agust dengan bantalnya.
"Kayanya terpaksa banget nikah sama aku!" Rajuk Archi mendorong Agust berkali-kali sebelum akhirnya beringsut pergi keluar kamar.
"Archi!!!...yah dia ngambek lagi!" kata Agust sambil terkekeh.
Keesokan paginya di kantor . .
"Nggak tahu kenapa kalau lagi bahagia banget, aku pengennya traktir kalian!" seru Ridwan bersama dua orang yang membawakan banyak coffe cup ternama dan roti manis.
Archi menepuk dahinya dan bersembunyi di depan komputernya. Teman-teman Archi yang menyadari hal itu melihat ke arah Archi sambil senyum-senyum.
"Abis ngapain si Archi sama Pak Ridwan? Sampai Pak Ridwan senang begitu?" tanya Icha kepada Susan.
Welin yang sedang berada di dekat mereka mencuri dengar pembicaraan Susan dan Icha.
"Jangan-jangan, Archi sama Pak Ridwan udah?" tebak Susan mulai ngaco.
"Ih...apaan sih kamu! Udah deh jangan bikin fitnah baru." tegur Icha dengan kesal.
"Lihat aja tuh tingkah mereka berdua. Pak Ridwan bilang dia bahagia banget, terus si Archi malu-malu ngumpet gitu. Yang bisa bikin Pak Ridwan bahagia kan cuman Archi. Pasti mereka abis ngapa-ngapain." kata Susan tetap dengan pemikirannya.
Welin yang mendengarkannya terlihat muram, sedih dan juga marah. Dia berlari dengan kencang menahan air matanya menuju ke kamar mandi.
"Si Welin kenapa itu?" tanya Susan bingung melihatnya.
...~ bersambung ~...