
"Duh...kalau soal yakin, aku juga yakin Archi bakal gagal. Tapi ya udahlah, mungkin bakal ada keajaiban yang bikin dia bener bisa masak dan nggak menghancurkan dapur ibunya." jawab Andini pasrah.
"Jadi kita deal?" tanya Susan.
"Deal!" Andini bersalaman dengan Susan.
Esok hari yang cerah setelah Agust berangkat kerja. Archi pergi ke dapur dan siap untuk belajar masak.
"Kamu mau ngapain?" tanya Ibu yang baru selesai mencuci piring.
"Aku mau belajar masak," jawab Archi.
"Apa? Kamu mau belajar masak?" pekik Ibu hampir terkena serangan jantung.
"Iya Ibu. Aku udah gede dan mau belajar masak." kata Archi dengan yakin.
"Kamu nggak usah belajar masak ya. Kan kamu sudah punya suami yang pintar masak. Jodoh itu saling melengkapi Archi, kamu nggak bisa masak, alhamdulillah suami kamu jago masak. Jadi kamu nggak perlu memaksakan diri ya?" Ibu memberikan wejangan yang intinya melarang Archi untuk memasak.
Archi menatap ibu tajam.
"Ibu!" tegasnya dengan nada lembut namun menghunus.
"Aku mau belajar masak. Jadi ibu ajari aku memasak untuk hari ini!" pinta Archi.
"Baiklah kalau kamu sudah bertekad." akhirnya Ibu mengalah.
"Kamu mau memasak apa?" tanya Ibu.
"Sayur lodeh!" jawab Archi sambil menaruh catatan resep di atas meja dapur.
"Ya Tuhan!" Ibu menghela nafas sangat panjang.
"Ambil bahan yang sudah kamu catat dari dalam kulkas" kata Ibu.
"Baik Ibu!" Archi tersenyum girang berjalan ke kulkas.
"Wortel, jagung, terong ungu,..." Archi mengambil bahan yang bisa dia temukan di dalam kulkas.
Braaanggg... Bruggh...braaakk!!!!!
Beberapa kotak food preparation yang telah ibu simpan di kulkas jatuh berhamburan tersenggol tangan Archi. Ibu menepuk dahinya sambil mengurut dada.
"Maaf!" Archi nyengir lalu akan merapihkan yang berantakan namun dia malah membuat sayuran yang sudah dia ambil berjatuhan dari pangkuannya.
"Sabar...Sabar!" gumam ibu lalu membantu Archi membereskan yang berantakan.
Setelah bahan di kulkas dia temukan, Archi membawanya ke meja dapur.
"Ambil lengkuas di keranjang bumbu dapur di situ!" tunjuk Ibu kepada rak keranjang kayu kecil di sudut meja dapur.
"Leng-kuas?" yang ada dipikiran Archi kuas melukis.
"Bentuknya seperti jahe," kata Ibu yang tahu Archi lebih mengenal jahe daripada temannya itu.
"Ini?" Archi mengangkat seruas kunyit.
"Bukan, itu kunyit." akhirnya ibu turun tangan sendiri mengambil lengkuas.
"Ini namanya lengkuas," tunjuk Ibu.
"Oh. Nggak ada kuas-kuasnya?" tanya Archi dengan polosnya.
Acara memasak terus berlanjut. Archi mulai dengan mengupas kulit wortel. Saat itu malah jarinya tergores pisau dan harus diplester.
Archi berhasil sampai menumis bumbu, walau ada beberapa insiden lain sebelumnya, seperti minyak yang tumpah. Api terlalu besar membuat gosong wok ibu, jarinya yang teriris pisau lagi dan hal lain yang menguji kesabaran Ibunya.
Masakan sudah setengah jadi. Archi mengaduk sayur dalam panci dan tanpa sengaja mengenai pergelangan tangannya ke panci panas.
"Aduuuh...aduuuh!" rintih Archi.
"Aduuh..kamu tuh Archi. Ini sebabnya ibu nggak mau kamu ke dapur. Kamu bisa aja melukai diri kamu. Lihat tangan kamu, penuh luka begitu. Kamu memasak tapi kaya pergi berperang!" omel Ibu yang telah kehabisan stok sabarnya sambil mengoles luka bakar Archi dengan salep.
"Kamu nggak perlu memaksakan diri untuk bisa masak. Kamu beruntung punya Agust yang jago masak dan bisa diandalkan!" cerocos Ibu tanpa sadar melukai hati putrinya yang sedang berusaha untuk bisa memasak.
"Iya memang! Aku mah nggak bisa diandalkan. Aku nggak bisa ngapa-ngapain dengan benar. Bahkan kerjaan di kantor juga, bisa bertahan karena bantuan Ridwan!" sentak Archi dengan kesal lalu pergi dari dapur.
"Archi!" Ibu pun menjadi sedih menyesali ucapannya.
Dengan kesal Archi pergi keluar rumah dan entah pergi kemana.
"Ini masakan Archi?" tanya Kakak mencicipi sayur lodeh yang tadi Archi sudah buat.
"Iya. Dia masak setengah jadi," jawab ibu mengurut dahinya.
"Tapi ini enak," puji kakak.
"Ibu menyetingnya ulang. Dia bahkan nggak bisa membedakan mana gula dan garam. Tetapi ibu kurang sabar mengajarinya. Nggak seharusnya juga ibu marah sama dia." sesal Ibu.
"Ibu marah sama dia sebenarnya bukan karena kekacauan yang dia buat tetapi karena melihat dia terluka." kata Ibu menambahkan.
Agust yang baru kembali dari bekerja mendengarkan kakak dan Ibu dari luar dapur.
"Sekarang Archinya kemana?" tanya Kakak.
"Nggak tahu ibu juga. Dia pergi keluar," jawab Ibu.
Sementara itu....
Ting Nong....
Bel di sebuah unit apartemen berbunyi. Pria kekar dengan dada yang membusung karena ototnya itu membukakan pintu.
Senyum menawan mengembang di wajahnya yang tampan.
"Archi!" serunya tak percaya, orang yang baru memencet bel rumahnya adalah wanita idamannya.
"Sore Pak!" sapa Archi lesu.
"Sore. Ayo masuk Archi!" kata Ridwan mempersilakan Archi masuk.
Archi masuk ke dalam apartemen Ridwan. Senyum belum luntur dari wajah Ridwan saat dia menutup pintu dan memandang gadisnya dari belakang.
"Mimpi apa ya aku semalam? Archi ada di apartemen aku sekarang?" pikir Ridwan sumringah.
"Ayo silahkan duduk!" suruh Ridwan.
"Terimakasih Pak." Archi masih lemas, duduk di atas sofa.
"Pak...pak terus kamu tuh. Panggil nama aja sih!" protes Ridwan duduk di sebelah Archi.
"Kenapa tiba-tiba kamu datang ke sini Archi?" tanya Ridwan penasaran angin apa yang membawa Archi sampai di depan pintu rumahnya.
"Aku juga nggak tahu. Aku lagi kesal terus berjalan tanpa tujuan terus kepikiran buat ke sini." jawab Archi dengan bibir sedikit manyun.
"Kamu kesal kenapa? Wo....kenapa tangan kamu luka-luka gini?" tanya Ridwan seraya memegang tangan Archi yang hampir penuh plester dan luka.
"Kena rupa-rupa lah pokoknya." jawab Archi malas.
"Terus kamu kesal kenapa?" lanjut Ridwan bertanya.
"Aku kesal soalnya aku mau belajar masak, dan malah kena omelan Ibu karena membuat banyak kekacauan." sahut Archi.
Ridwan terkekeh mendengarnya.
"Kamu sama aja kaya yang lain. Aku pulang aja!" ancam Archi berdiri.
"Eh...iya...iya...nggak." tahan Ridwan.
"Maaf." ucap Ridwan membuat Archi kembali duduk.
"Aku itu cuman pengen bisa masak, luka luka dikit kan nggak apa-apa namanya juga proses, belajar."
"Tapi itu lukanya nggak sedikit," inner Ridwan menanggapi.
Krucuk...Krucuk.....
Tiba-tiba terdengar lagu sumbang dari perut Archi yang baru diisi oleh sarapan tadi pagi saja.
"Kamu lapar?" tanya Ridwan.
"Sebentar aku akan memasakkan kamu sesuatu," kata Ridwan.
"Kamu juga bisa masak?" tanya Archi.
"Sedikit," jawab Ridwan merendah.
"Apa kamu mau ikut ke dapur?" tanya Ridwan.
"Boleh.., aku mau lihat kamu memasak."
"Kamu mau ikut masak juga boleh. Aku yang ajarin," sahut Ridwan.
"Nggak deh aku kapok masak. Yang penting aku bisa makan aja sekarang."
"Siap bos!" jawab Ridwan.
Sesampainya mereka di dapur apartemen Ridwan. Ridwan mulai mempersiapkan bahan yang akan dia gunakan untuk memasak.
Sementara Archi duduk di kursi tinggi di depan meja dapur, memperhatikan Ridwan memasak.
Dengan lihai dan cekatan Ridwan menunjuk-kan kebolehannya memasak. Archi memandangnya kagum.
Di tengah Acara masak, Ridwan dikejutkan dengan lingkaran lengan di pinggang dari arah belakangnya. Ridwan tersenyum girang.
"Ini harum banget!" kata Archi mengulurkan kepalanya ke sisi depan Ridwan sambil tersenyum, mendongakkan kepalanya menatap wajah Ridwan.
...~ bersambung ~...